
Rasanya canggung sekali berhadapan dengan om Surya lagi sore ini. Terutama mengingat kata-kata dokter Ahmad semalam 'yah, paling bagus enam bulan lagi, bisa lebih cepat, bisa lebih lambat.' cuma bisa narik napas dan embuskan pelan-pelan mikirinnya.
Om Surya sudah dibolehin pulang. Semua alat rumah sakit lengkap didalam kamarnya. Juga ada seorang suster yang merawat. Sedangkan dokter Ahmad jika ingin memeriksa baru beliau kemari. Horang kaya mah, apa aja bisa.
Asisten rumah tangga masuk kamar, Dengan senyum memberikan cemilan sore. semangkuk bubur sumsum yang menerbitkan liur. Om Surya meminta agar di letakkan saja di nakas sebelah ranjang. Selanjutnya milih lebih fokus ngajakin ngobrol. Padahal bersuara aja masih aja masih susah payah.
"Gimana? Udah siap? Dua hari lagi, kan?" Tanyanya putus-putus seperti sinyal di ujung hutan.
"Siap gak siap, om." Asal aja jawabnya.
Males banget ngomongin soal nikahan. gimana pun, ini bukan pernikahan yang sesungguhnya. Jadi buat aku, gak ada gregetnya.
Selanjutnya berusaha ngalihin pembicaraan. "Gak dimakan buburnya, om?"
"buat kamu aja." Dengan suara serak om Surya menjawab.
"Ini kan buat om Surya," Aku ambil mangkuk plus sendok-nya.
"Om Surya butuh banyak protein buat pemulihan pasca operasi, tapi protein gak bisa kerja gak ada energi. Makanya dikasih bubur sumsum yang full karbohidrat biar bisa jadi bahan bakar protein buat memperbaiki sel-sel."
Sumpah aku sotoy banget ngomongnya.
Si om baru mau buka mulut buat ngejawab, tapi langsung mingkem lagi karena keburu disuapin sesendok penuh bubur sumsum. Dia mengulum bibir sambil senyum-senyum kesal aku kerjain.
"Sebenarnya saya mau ngasih tahu Nesya om. Tapi gak boleh sama dokter Ahmad." Sebelum om Surya sempet jawab, mulutnya langsung aku sumpel lagi sama bubur. Keliatan banget dia buru-buru nelen sambil geleng-geleng. "Tapi menurut saya, bagaimana pun, Nesya wajib tahu kondisi ayahnya..." Aku nyodorin sesendok penuh bubur lagi tapi langsung ditahan om Surya.
"Jangan!" sergahnya cepat.
Aku juga balas gak kalah cepat, "saya saham, om sayang banget sama Nesya sampe gak mau dia ikut ngerasain sakit yang om rasakan. Tapi..."
"Dia benci sama saya." Tukas om Surya menghentikan omongan.
Terjeda sejenak, otak aku langsung ganti topik. "Gak mungkin. Saya tahu Nesya pasti sayang sama om."
"Apa yang kamu tahu?" Potong om Surya lagi.
__ADS_1
Gak bisa jawab. Yang aku tahu. Nesya menikah demi melepaskan diri dari ayahnya. Mungkin dia ngerasa punya orang tua yang terlalu mengekang. Jiwa pemberontak-nya menggeliat ingin lepas. Tapi bagaimana pun, tak mungkin karena benci. Yakin, gak ada anak yang bener-bener membenci orang tuanya.
Langit Jakarta terlihat suram dari balik jendela. Matahari tepat di tengah bingkai, seperti koin tembaga membakar angkasa.
"Waktu cepat berlalu." Kata om Surya melempar pandang melewati kaca.
"Yang saya ingat terakhir kali adalah mengantarkannya berangkat ke TK di hari pertama sekolah." Pundak om Surya agak terguncang karena dengus yang terdengar seperti tawa. "Dia kesal karena kami gak mau memberikannya berangkat sendiri," Katanya lagi di tingkahi gelak sesak.
Aku membayangkan bibir manyun Nesya menyertai muka keselnya.
"TK-nya itu cuma lima menit jalan kaki dari rumah, jadi dia mau pergi sendiri." Om Surya terputus-putus dalam tawa.
Aku berusaha ikut ketawa. Tentunya ini adalah kenangan yang lucu meski terdengar sedih disini.
Om Surya menoleh, menantang aku tepat di mata. "Itu yang terakhir. Setelah itu, saya gak tahu kapan dia lulus SD. Kemana dia masuk SMP, SMA apa yang dipilihnya." om Surya ketawa lagi. Miris.
Si om melarikan pandangan kembali ke jendela. Sekilas, matanya keliatan berkaca-kaca. "Mungkin kalau sekarang saya gak sakit, saya gak tahu dimana dia kuliahnya." Punggung telunjuknya mengusap ujung matanya dengan buru-buru.
Gak tahu musti ngomong apa. Akhirnya aku diem saja. Menyimak cerita om Surya.
Selesai mengusap kedua ujung matanya, om Surya noleh lagi ke arahku. "Kamu tahu, apa yang paling mengkhawatirkan nabi yakub sebelum dia meninggal?" Tanya om Surya serius.
Om Surya narik napas berat. "apa yang bakal disembah anak-anaknya setelah beliau meninggal," Lanjutnya.
Spontan sendok di tangan terlepas. Suara dentingan-nya menghantam tepian mangkuk, nyaring melengking ke seantero ruangan. Jantung di dalam dadaku segera memacu lebih cepat. Otakku merespon dengan menyiapkan berbagai kemungkinan arah pembicaraan.
"Itu juga yang jadi kekawatiran saya." Bahu om Surya agak terguncang. Dua jarinya menekan pangkal mata. Menyembunyikan Isak yang tertahan.
Buru-buru aku taruh mangkuk di atas nakas. Air mata om Surya bakal meningkatkan lendir di hidungnya. Itu akan mempersulit proses pernapasan beliau yang sudah sangat sulit.
Aku pindah di samping om Surya, berusaha menenangkannya dengan mengusap punggungnya berkali-kali. Lalu setelah beberapa detik, om Surya keliatan lebih tenang.
"Saya gak bisa mengembalikan waktu yang sudah terlewat. Tapi seenggaknya, sebelum mati, saya bisa melaksanakan tugas terakhir sebagai seorang ayah." Dia menepuk pundakku pelan-pelan. "Saya sudah berhasil memilihkan seorang imam untuk memandu perjalanan hidup Nesya."
Refleks aku berdiri mendengar kalimat om Surya. Sumpah, tiba-tiba jadi takut setengah mati.
__ADS_1
Jadi imam? jelas aku sama sekali gak qualified buat peran itu. Di kepalaku mulai ngitungin dosa satu persatu. Udah lama gak sholat. Puasa juga gak ingat lagi kapan bener-bener full. Kayaknya pas jaman masih sekolah SMA.
Zakat juga cuman zakat fitrah doang, itupun gara-gara di tagihin Mulu sama mama tiap malam takbiran. Pacarin anak orang beberapa kali. Nidurin anak orang, biar pun cuma dua, dosa tetap aja dosa. Pendosa kaya gini mana pantas jadi imam. Bukannya bawa ke surga, jangan-jangan malah bikin makmumnya balik ke neraka.
"Ng... saya gak yakin cukup baik buat jadi seorang imam buat Nesya..." Ucapku berhenti sampai disitu.
Gak tega buat ngelanjutin begitu ngeliat ekspresi om Surya yang gak bisa di eskripsikan antara bingung dan heran. Untungnya om Surya malah ketawa.
"Seorang yang rendah hati selalu merasa bahwa dirinya tidak cukup pantas."
Aku ikutan ketawa, tapi rasanya pahit. rendah hati? Jelas yang aku ucapkan bukan alasan rendah hati tapi emang kenyataan...
"Kalau nunggu sempurna, kapan nikahnya?" Om Surya tergelak lagi. Tawaku makin pahit. Gak nikah juga gak apa-apa sebenarnya. Bukankah itu hanya pernikahan sementara? "Jadi tolong.." Tatapan matanya begitu tegas meski susah payah di dera kelemahan. "Jaga Nesya baik-baik." Om Surya menuntaskan bicaranya dengan susah payah.
Aaargh! pengen teriak langsung di muka om Surya. 'ini cuma pernikahan main-main! pernikahan sementara! pernikahan pecintraan! kami hanya saling memanfaatkan!' Tapi bibir ini terkunci. Lidah sama sekali gak berani bergerak.
"Om Surya berlebihan." Akhirnya aku berusaha mengalihkan pembicaraan, "Nesya udah dewasa. Dia bisa jaga dirinya sendiri," Lanjutku seraya mengambil mangkuk bubur sumsum yang masih baru dimakan dua suap.
"Abisin dulu buburnya om," Ucapku selembut mungkin dan sesendok penuh bubur aku sodorkan lagi, tapi cepat di tahan om Surya dengan tangan.
"Kamu harus janji akan jaga Nesya?" ucapnya penuh penekanan
Damned! pernikahan ini cuma sementara. sekarang aku musti bikin janji sama orang yang lagi menghadapi kematian?
"Jaga dirinya, hatinya, juga agamanya. itu tugas kamu sebagai imamnya." Astaga! Agama? aku saja menjalankan syariat agamaku sekarang masih gak jelas.
Apa iya-in aja, biar cepat? mulai pegel, nih pegangin sendok, mana om Surya keliatan serius banget lagi
"Zian?" om Surya nunggu jawaban.
Hadeh! aku tarik lagi sendok ke mangkuk bubur. "Dua hari lagi saya menikahi Nesya. apa itu tidak cukup?" Balasku tanpa penekanan.
om Surya tersenyum Manggut-manggut. "Akad nikah sendiri adalah sebuah janji," katanya kemudian dengan suara yang sangat kalem.
Aku mendadak tersentak. otakku dibangunkan oleh kata-kata tentang janji, tentang kematian.
__ADS_1
oh my God! diantara semuanya, kata-kata yang mana yang bakal jadi peganganku?
pemirsa, ada yang mau kasih saran? kalau gak kasih saran, ya seenggaknya kasih like aja ya, biar semangat gue.