
Hanya beberapa menit saja, kami sudah sampai di rumah sakit. Setengah berlari kami memburu evelator. Nesya kelihatan bersemangat banget. Semua persediannya kaya gakbl bisa berhenti gerak. Di depan lift, aku rangkul pundaknya biar dia sedikit tenang. Nesya mengambil nafas dan tersenyum.
"Aku gak sabar ingin ketemu ayah," ujarnya. Iya, tahu itu dan aku segera berikan dia senyum dan sedikit usapan di kepalanya.
Dokter Ahmad menyambut kami di depan kamar ICU. "Satu orang aja yang masuk, meminimalisir risiko infeksi," Ucapnya tenang.
Gak pake nanya ataubl ijin, Nesya langsung masuk ke kamar Om Surya, meninggalkan aku dan dokter Ahmad yang kelihatan lelah sekaligus lega.
"Makasih, dok!" Ucapku sambil mengulurkan tangan untuk menyalaminya dan dia menyambutnya dengan gembira.
"Yeah, makasih kamarnya. Saya sempet tidur dulu tadi." Dokter Ahmad menganggukkan kepala tanda senang.
"Yeah, itu idenya Nesya," Balasku sambil tersenyum juga.
Debuah panggilan masuk ke dalam ponselku ketika dokter Ahmad pamit untuk shalat Maghrib. Panggilan dari Sodik, dia mungkin sedang menikmati malamnya sekarang di Bali.
"Hai, dik. udah nyampe Bali?" Tanyaku saat ponsel kami telah terhubung.
"Yeah!" terdengar suara lelah di sana, "ini lagi makan santai di pantai."
"Hahaha! enjoy, bro!"
"Ini file aslinya udah di gua. Entar aja gue kasih pas kita ketemuan. Lu kapan balik ke Jakarta? Katanya mertua lu dirawat di Banyuwangi, ya?"
"Ya, beliau kemarin koma. Untung sekarang udah sadar."
"Alhamdulillah. Eh, lu gak bilang kan, kalau bini lu lesbong?" Hhh! kepalaku langsung puyeng lagi. Paling kesel kalau ingat soal ini.
"Ya.. Gitulah," Jawabku lemes. Bakal panjang nih kayaknya obrolan dengan Sodik. Sepertinya aku juga harus duduk dulu. Hmmm, pas banget ada bangku panjang di depan mata dan kosong lagi.
"Lu tahu sejak awal, kan yan?" Sodik terdengar shock dan kaget banget, suaranya telah menunjukkan itu.
"Gak lah! gila aja. Kalau tahu sebelum nikah, mana mau gua kawin sama dia. Rugi bandar." Sergahku sedikit nyolot. Soal dia punya pacar aku tahu. Aku pikir cowoknya itu cowok yang penampilan kaya cewek. ternyata cewek beneran.
"Terus, sekarang gimana?"
__ADS_1
"Gak tahu, dah." Aku menyenderkan kepala ke dinding. Rasanya berat banget buat mikir. "Menurut lu, gua mesti gimana, bro?"
"Cerai aja, gak keren banget sih lu merit sama lesbi."
"Ya. Itu juga yang lagi gua pikirkan.." Andai bisa segampang itu.
"Mending secepatnya, bro. Kalau lu cerai sekarang, dan bisa buktiin kalau dia belum diapa-apain, maharnya bisa balik tuh. Mayan, emas batangan seperempat kilo," Sodik ngomong panjang nyaris satu napas.
"Hahaha! Udah gua apa-apain, bro."
"Hah? Serius?"
"Yes, udah gua marahin, gua ajak nyebur ke laut, gua ajak lari-larian, hahaha."
"Yee! kirain udah diperawanian, hahaha."
Bodoh amat-lah soal mahar. Ada yang lebih penting dari seperempat kilo emas. Tapi Kata-kata Sodik ada benarnya. Apa semua ini keren? Apa pantes ngorbanin kebahagiaanku sendiri demi kebahagiaan orang lain? Meski yang disebut orang lain itungannya banyak banget.
Kalau aku bersikap egois sekarang, apa keren juga? Menghalangi jalan kebahagiaan ribuan orang demi kewarasan diri sendiri?
"Eh, pak Zian?" Suara seorang bapak-bapak mengejutkan aku. Aku segera menoleh dan ternyata si bapak yang tadi bingung soal biaya lahiran istrinya. "Ketemu lagi." Dia ngulurin tangan buat salaman.
"Abis sholat juga, pak?" Eh? baru nyadar, ternyata aku duduk di bangku panjang di depan musholla buat jama'ah yang bisa di pake duduk buat make sepatu. Jadi terpaksa senyumin aja.
"Gimana bayinya, pak?" Aku mengalihkan pembicaraan, malu aku nggak sholat.
"Alhamdulillah!" Wajahnya cerah seketika. "Akhirnya saya punya anak laki-laki."
"Selamat, ya pak."
"Pak Zian mau lihat anak saya? Fia ganteng banget, pak."
"Hahaha. Pasti ganteng lah." Mana ada orang tua bilang anaknya jelek, iya gak?
* * * * *
__ADS_1
Ternyata bayi ini benar-benar ganteng. Pipinya merah, bibirnya mungil. Hidungnya bahkan tenggelam oleh gembil dua pipi di kiri dan kanan. Ngelihat bayi ini, jadi ngerti kenapa Nesya tiba-tiba pengen banget punya bayi.
"Mau coba gendong, pak?" Si bapak menawarkan.
"Eaduh jangan pak! Saya gak bisa gendong bayi," Cegahku takut-takut. Seriusan, aku ngeri kalau gendong bayi, takut salah pegang. Gimana kalau nanti bayinya keseleo, kan malah berabe.
Si bapak mengangkat bayi ganteng itu dari samping ibunya, dia terlihat sangat mahir sekali. "Gini caranya, pak," Ucap si bapak sambil menyodorkan mahkluk imut itu ke tanganku. Seketika aku auto gelagapan. Tangan gemeter secara tiba-tiba. Gak usah ditanya lagi kaya gimana deg-degannya jantungku. Berantakan!
"Nah, gitu, pak. Rileks aja." instruksi si bapak, menyadari kegelagapanku.
Bayi dalam gendonganku menggeliat dalam bedongannya. Makin ngegemesin dilihatnya. Aku cium, baunya enak, ya? Pipinya lembut banget, bikin pengen nyiumin lagi. Dan bibirnya monyong-monyong kaya pengen ngebales ciumanku.
Ah! Gila! Jadi pengen punya bayi. Asik kayanya kalau bisa ngelihat ginian tiap hari.
"Kalau berkenan, kami akan sangat bahagia jika pak Zian bersedia memberikan nama untuk bayi kami ini."
"Oh, nama?" aku tertegun sejenak dan aku lirik bayi yang pipinya kemerahan dan makin kelihatan menggemaskan. aku kembali menciuminya.
"Fatih?" ucapku setengah bertanya sambil menatap si bapak dan istrinya secara bergantian.
Si bapak terkejut tapi wajahnya seketika sumringah dan istrinya pun demikian. keduanya tampak bahagia.
"Maasyaa Allah. Artinya pemimpin atau penakluk. Fatih! nama yang sangat bagus. terimakasih pak Zian."
Wow! aku kini yang kaget sendiri. Kok aku bisa refleks kepikiran gitu ya? Ternyata masih ada sisa-sisa belajar di penjara suci yang Alhamdulillah sampai bertahun-tahun.
"Gimana, kita tambahin Muhammad di depan namanya pak?" Tanya si istrinya si bapak. Aku langsung ngangguk setuju.
"Boleh potoin saya, pak?" Aku meminta beliau untuk memotretku yang sedang menggendong Fatih. Momen pertama kali menggendong bayi, wajib di abadikan.
Aku baru nyadar. Mendekap bayi bener-bener menghangatkan hati. Bikin beban di kepala terangkat seketika.
Hmmm, coba si Nesya gak belok, aku ajakin dia bikin bayi sekarang juga. Sayangnya dia suka makan kue serabi, cuih!
Dan sekarang aku jadi kepikiran, kapan ya, aku bisa memiliki mahluk kecil seperti ini? Sedangkan sekarang statusku udah jadi suami. Suami yang gak bisa, untuk membuat bayi. Karena sang istri bermasalah dengan orientasi seksualnya. Menunggu cerai? lalu cari calon istri lagi? butuh proses panjang. Apalagi aku sudah sedikit trauma dengan perempuan.
__ADS_1
huh! salah aku apa, ya? gini amat nasibku.
TBC...