Istriku salah arah

Istriku salah arah
Namanya Nikita?


__ADS_3

"Emang kamu ngapain disana?" Nesya nanya masih sambil manyun ngegemesin.


"Mau berantem sama cowok jadi-jadian yang udah merebut istri aku. Dia nggak terima udah gue bikin KO dua kali." Nesya langsung ngakak maksimal.


"Ya, iyalah." katanya. "kemarin itu kamu nyerangnya pas dia lagi nggak siap, wajar aja kalah."


"Halah! paling kali ini juga kalah." Nesya malah makin ngakak.


"Ya kali kamu mau menang sama pemenang mendali emas POMNAS."


What? POMNAS?


"Emang dia masuk cabang apa?"


"Tinju." Nesya menjawab santai.


Glek! Aku lihat cowok jadi-jadian itu latihan kombinasi tendang dan tinju di iringi teriakan si bapak buncit, "Jab, Hook, Kick!" Gerakannya cepat dan mantap mengeluarkan suara bak buk yang membuat nyali ciut.


"Nggak mungkin, emang beratnya cukup buat ikutan tinju? Gak ada cabang tinju putri, kan?"


"Beratnya cukup tuh, buktinya bisa mendapatkan mendali emas," Nesya menjelaskan sambil mencibir dan itu teramat mengesalkan.


Cowok jadi-jadian ninju dan nendang dengan kecepatan yang lumayan banget. Dia mungkin diuntungkan dengan badan yang kecil, jadi bisa bergerak lebih cepat. tapi kalau beratnya cukup buat ikut pertandingan tinju, berarti massa ototnya lumayan juga. makin jiper aku.


"Heh! Bengong!" Nesya berseru dari layar. "Ngeliatin apa, sih? Pasti jiper liatin niko, ya. Hahaha!"


Sialan, kok dia bisa baca pikian aku mulu?


"Dikit. Tapi bidang olahraga kita beda, nggak bisa dibandingkan."


Dia ngakak lagi. "Tetap aja Niko menang banyak. Masih muda, terus skill-nya juga lebih bagus." Nesya ngeremehin aku lagi.


"Tapi, massa ototku lebih banyak." Bantahku gak mau kalah, dia sendiri yang bilang kalau lenganku lebi gede hahaha. "Kalau main di power, aku pasti menang."


"Beuh! Gak peraya! walau bagaimana pun Niko lebih baik dari pria mana pun."


Eh! Kalimat ini lagi, Tadi bapaknya ngomong kalimat ini, sekarang ceweknya. Jadi kaya lagi dicuci otak, dengar kalimat yang sama terus menerus.


"Huh! Lebih baik dari cowok manapun kecuali, Zian. Lihat aja nanti kalau gak percaya!"


"Gak ah! Aku sudah tau siapa yang menang. Latian dulu, gih. Biar nanti memarnya gak terlalu banyak, hahaha"


Sialan!


"Sungguh, doa istri sholehah pasti diijabah"


Maksudnya ngomong sarkas. Tapi jadi percuma ketika yang di ajak ngomong gak paham.


"Diijabah apaan sih?" tanya Nesya serius.

__ADS_1


"Di kabulkan, tuan putri."


Nesya ngakak keras setelah paham. "Amiin." Lalu menutup telepon.


Kupingku terasa berdenging kehilangan suara imut Nesya. Ngelihatin cowok jadi-jadian emang bikin jiper. Punchpad yang di pegang bapaknya kayanya udah tipis banget kena tonjok dan tendang bertubi-tubi tanpa sempat kembali ke bentuk semula.


Sekarang aku butuh obat penenang beneran. Siapa tahu bisa jadi dopping buat ngadepin cowok jadi-jadian super kaleng itu.


"Assalamu'alaikum," Nah, ini dia suara yabg bisa membuat siapapun yang mendengarnya adem sampai ke hati. Apalagi sambil lihat wajahnya yang super ayu.


"Wa'alaikumsalam." Aku bicara denan gaya yang di faseh-fasehkan. Di hadapan akhwat, pecintraan mesti diperhatikan.


"Gimana? Udah siap buay presentasi?"


"Insha allah siap, pak."


"Baguslah. Terimakasih ya, udah mau menggantikan saya. Nanti saya traktir makan siang deh."


"Sama-sama, pak. Ga usah repot-repot, nanti panitia juga menyediakan makan siang, kok, pak." Halus banget dia nolaknya.


Tapi aku keukeuh.


"Ya udah, nanti saya traktir ngemil aja pulang kantor."


Dia tertawa kecil. Duh, manis bener dengernya. Ketawa terus aja kaya gini."


"Gak, usah pak. Saya harus cepat pulang, kasian ibu saya jika kelamaan nunggu," Aisya tetep keukeuh nolak.


Aisyah ketawa nanis. "Saya belum nikah, pak."


Uhuy!


"Single and available, dong?"


Bukanya jawab. Dia malah mengalihkan pembicaraan.


"Udah, dulu ya pak. Saya harus berangkat sekarang supaya gak terlambat sampai UI."


"Oya, kamu di jemput supir kantor, kan?"


"Gak, pak. Saya naik kereta aja," Jawabnya manis dan halus.


"Loh, kamu kan mewakili presdir grup. Berarti bawa imejnya om Surya, masa naik kereta?"


Aisyah tertawa tergelak geli. "Bukannya pak presdir yang baru juga gitu, biar penghasilan ratusan juta, tapi tetep aja naik motor kemana-mana."


"Eh? kok tau?"


Dia berdehem dua kali kemudia gelagapan menjawab.

__ADS_1


"Udah dulu, ya pak. Saya harus berangkat sekarang biar gak telat. Assalamu'alaikum." Panggilan diputuskan dan tinggallah aku yang bengong.


Darimana aisyah tahu penghasilanku? Nesya aja dijamin gak tau apa-apa soal berapa duit yang suaminya ini punya. Si lindar juga cuma dapat kartu kredit unlimited doang tanpa tahu berapa penghasilan yang jadi jaminannya.


Terus, darimana aisyah tahu? Apa dia ngintip rekeningku? Kok bisa?


Cowok jadi-jadian tiba-tiba sudah di depan mata. Nyodorin peralatan keamanan. Ada pelindung kepala, pelindung dada dan sarung tinju.


"Nih! Biar luka lu gak parah," Ledeknya dengan muka sialan dan nyatanya paling ****.


Okeh! First thing first.


Sekarang waktunya fokus duel sama pemegang mendali emas POMNAS. Biar dulu aku cuma sampai semi-final di POMNAS, bodo amat.


it's finished when it's finished!


Ada lagi yang datang waktu lagi masang pelindung dada. Perempuan, kayanya sebaya mama. Senyumannya jadi inget pesan yang belum di bales.


Mama ngabarin kalau udah sampai di rumah dan ada paket dari Nesya.


"Cie cie, yang penganten baru," Gitu katanya yang membuat ilfil. Penganten baru dari hongkong?


"Udah sarapan, mas?" Dia menyapa basa-basi.


"Belum sempet, bu," Basa-basi aku lebih basi.


Dia berhenti, nyodorin sesuatu yang baru diambil dalam tasnya. "Ini madu, lumayan buat tambah tenaga sebelum tanding,"


Wajar, kan kalo curiga. Tiba-tiba ada orang ngasih sesuatu buat diminum pula.


Perempuan itu tertawa kecil, mungkin sadar kalau aku ragu buat nerima.


"Saya ibunya Nikita. Ambil aja, kalau nggak mau nggak usah diminum."


Hampir muncrat ketawa aku. jadi nama asli cowok jadi-jadian itu, Nikita? Hahaha, manis banget, kaya orangya.


Aku ambil satu sachet madu dari tangannya. Karena dia satu-satunya yang waras disini. nyebut cewek, sebagai cewek.


"Makasih, bu." Ibu si cowok jadi-jadian kaleng ngasih senyum lagi, membuat aku janji dalam hati, abis ini wajib telepon nama.


Madunya langsung diminum. Mayan buat nambah energi. Biar pun tadi udah ngemut gula merah, hasil ngerampok di rumah sodik.


Pas lagi masang sarung tinju, tiba-tiba cowok jadi-jadian datang lagi ngelemparin benda pkastik di muka aku. Ternyata gum shield, barang kecil yang sering lupa bawa kalau pertandngan. Biasanya mama yang selalu ngingetin buat bawa pelindung gigi ini.


"Aku pinjemin," kata si cowok jadi-jadian. "Tenang aja, udah di steril."


"Thanks," aku pasang, sebelum make sarung tinju.


Di atas ring, cowok jadi-jadian udah nunggu, sambil lemesin otot-otot kaki, tangan, juga leher. Baoaknya ikut berdiri disana bersedekap.

__ADS_1


"Gak ada ronde-rondean disini," kata si bapak. "Kalian akan bertarung sampai salah satu jatuh dan nggak bisa bangun dalam sepuluh hitungan."


Gila, ini bukan pertandingan, tapi perkelahian. Serah, dah! Nothing to lose.


__ADS_2