
Suara getar hape adalah yang pertama masuk dalam kesadaran. Lalu harum rambut Neysa membangunkan dalam kehangatan yang lembut. Kemudian getar ponsel mengambil alih perhatian. Jadi ingat belum menghubungi dokter Ahmad untuk ngabarin bahwa ada kamar kosong tersedia buatnya.
Melek akhirnya. Yang pertama masuk dalam penglihatan adalah ubun-ubun Nesya yang merangkul dibawah lengan. Dia kelihatan nyaman banget aku ketekin. Hhh, pemandangan macam apa ini?
Lagi-lagi getar ponsel mengambil paksa perhatian. Aku jangkau hape di atas nakas. Telpon dari dokter Ahmad. Pas banget, emang pengen di telpon.
"Halo, dok."
"assalamualaikum." lupa aku. Dokter Ahmad kan selevel ustadz.
"Waa'laikumsalam. Sorry dok. Tadi ketiduran."
Dia malah ketawa. "biasa, namanya pengantin baru." et dah! "lagi dimana?" dia ngalihin topik obrolan.
"Oh, ini di hotel. Nggak mungkin bisa istirahat kalau di rumah sakit. nanti paling balik ke rumah sakit lagi. Dokter nginep dimana?"
"gampang-lah," pak dokter menjawab santai, "ini ada pengacaranya pak Surya pengen ketemu. apa saya suruh ke hotel aja?"
"Pengacara?"
* * * * *
Berhubung Nesya pules banget bobonya, jadi aku suruh si pengacara ke hotel aja. Ada cafe yang lumayan cozy di lantai dasar hotel ini. Sekalian ngasihin kunci kamar juga buat dokter Ahmad, biar dia bisa istirahat lebih optimal.
Sebelum turun ke cafe, aku udah mandi dan pamit sama Nesya. Gak bisa dibilang pamit sebenarnya dia masih tidur, jadi cuman dibisikin aja di kupingnya, "Aku mau ke cafe di bawah sebentar. Kalau udah bangun, nanti telpon, ya." Dan dia cuma nge-respon dengan hmm-hmm. Mungkin lagi mimpi enak-enak sama ceweknya. Bomatlah. Pesan yang sama aku selipkan di layar televisi. Semoga dia baca pas bangun nanti.
Pengacara om Surya segera datang dari Jakarta begitu dapat kabar dari dokter Ahmad bahwa Presdir angkasa group itu mengalami koma. Dia merasa harus buru-buru karena menganggap ini situasi genting. Apalagi dua pemegang saham sedang mengajukan RUPS luar biasa untuk Membahas kesehatan presiden direktur.
Ada selentingan yang menyebutkan bahwa mereka ingin mengambil alih kekuasaan. "Karenanya saya harus menyerahkan surat kuasa ini pada mas Zian," Begitu katanya mengakhiri cerita.
__ADS_1
Surat kuasa itu tentang menguasakan seluruh saham dan jabatan strategis om Surya dalam angkasa group ke tangan Zian Prasetyo. Gosh! itu mengerikan!
Kalau begini konsultan punya gue sendiri, gak keurus. Gimana gak keurus coba, harus mengurus perusahaan sebesar angkasa group.
"Kalau saya gak mau terima?"
Pak Iwan, pengacara itu, menghela napas dalam sambil berkata lirih, "Saham dan jabatan pak Surya akan di bekukan hingga RUPS luar biasa berhasil dilaksanakan."
Hadeh! ngeri-ngeri sedap ini. Berarti pak reno atau pak Bima bisa jadi maju mengambil posisi presiden direktur. Jumlah saham mereka jika di total akan jadi empat puluh persen. Sementara saham aku cuma dua puluh lima persen.
Kalau narik Neysa ikut ngasih suara ke aku, berarti totalnya baru tiga puluh lima persen. Masih kalah tipis. dan kalau mereka menang, jelas yang pertama akan kena imbasnya adalah program CSR angkasa group.
Langsung kebayang klinik bersalin yang pasti butuh dana. Sekolah-sekolah yang akan kesulitan biaya operasional. Para pengajar, para dokter, para perawat, semua akan kena imbasnya. Yang paling parah, jelas target CSR kita, anak-anak, para penerus bangsa ini.
Sebuah telpon masuk dari Nesya. "dimana?" Katanya
"Di cafe, lantai dasar. Udah baca pesenku di televisi?"
"Gak usah. Udah selesai. Aku mau ke atas sekarang." Lalu telpon ditutup. Aku balik lagi berhadapan sama pak iwan. "Oke, saya terima." Pak pengacara itu terlihat segitu lega.
"Alhamdulillah." Ucapnya tulus. "Tugas saya selesai." Iya, sekarang semua beban ada di aku. Puas? Puas?!
Sesampai di kamar, aku musti nongkrong beberapa saat dulu di depan pintu sampai dibukain sama Nesya. Begitu dibuka, aku nyaris jantungan. Dia buka pintu kamar cuma pakai handuk doang. "Astaga, Nesya! kamu buka pintu kamar telanjang begitu?" seruku.
"Telanjang gimana? Pakai handuk gini," malah dianya yang sewot, "Lagian yang lihat juga cuma kamu."
Cuma katanya? Dikiranya aku apa, dah?
"Kamu gak takut di perkosa, santai banget cuma pakai handuk gitu?"
__ADS_1
"Heh! diperkosa tuh bukan urusan apa yang dipakai, ya. Catet itu!" Nesya makin sewot. "Kalau pemicu pemerkosaan cuma apa yang dipakai, harusnya dari kemarin juga aku udah diperkosa, ya kan?" mukanya menantang, "Kenapa kamu gak perkosa aku? Padahal kemarin malah aku gak pakai apa-apa?"
Huh? Jadi minta diperkosa? "Karena memperkosa itu lebih rendah dari binatang," Sergahku. Dahi Nesya mendadak mengernyit. "Di kingdom animalia, pejantan dari berbagai spesies selalu merayu betinanya. Bukan dengan memaksa yang sampai melukai si betina, tapi dengan membuatkan rumah, menyediakan makanan, menunjukkan kehebatan. Kalau ada yang terluka, biasanya malah sesama pejantan yang rebutan betina. Jadi kalau ada laki-laki yang memerkosa lawan jenisnya, dia pasti lebih rendah dari binatang."
Nesya masih mematung beberapa saat. "Pakai baju sana! Keburu dingin sandwich sama espressonya." Aku taruh dua jenis belanjaan itu di meja bawah TV sekalian ngidupin layar itu pakai remote yang tergeletak disana.
Acara TV kabel gak ada yang terlalu menarik. Satu saluran nayangin cerita tentang bakteri yang membunuh manusia diam-diam. Saluran lain tentang bayi koala yang di awal kehidupannya menyusu kotoran induknya.
Hoek! ibu macam apa yang ngasih kotorannya sendiri sebagai makanan buat anak. Tapi ternyata, makanan menjijikkan itu justru adalah makanan terbaik untuk mempersiapkan perut si bayi memakan makanan sesungguhnya, daun eucalyptus yang beracun.
Gila emang pengaturan alam. Kok bisa, ya si koala tahu kalau makanan terbaik buat anaknya adalah kotorannya sendiri? Kaya gimana proses evolusinya Ampe dapet solusi seperti itu?
"Makasih sandwich-nya." Nesya menghempaskan bokong tepat di sampingku, bikin ranjang bergejolak. Selanjutnya dia menggigit sandwich dengan senang. "Hm, tunanya lembut banget. Rasanya nyatu sama mayonesnya. enak banget ini. Musti beli lagi ini," Celotehnya di sela-sela kunyahan. "Kok kamu cuma beli satu, sih?"
Aku balas dengan angkat bahu. Mana aku tahu seenak itu. "Nih cobain." Dia nyodorin sandwich yang udah di gigitnya ke depan mulutku.
Emang bener, enak banget sandwich ini. Nyesel tadi cuma beli satu. Mustinya beli dua biar aku juga ikut makan. Kenapa tadi gak kepikiran begitu, ya?
"Entar kalau mau beli lagi, beli dua gitu, biar kamunjuga bisa ikutan makan."
Uhuk! apa pikiran kita udah mulai hmmmm syncrhonized? "Gak ah. Kalau beli dua entar gak ada yang nyuapin," Balasku modus. hahaha! pinter banget, dah aku ngelesnya.
Nesya tertawa sembari nutup mulut supaya roti campur tuna itu gak lompat keluar. "Kalau dua, kan bisa suap-suapan," Katanya lagi sengaja di manja-manjain.
Hhh! berhadapan sama Nesya sekarang, aku bener-bener ngerasa kaya jadi bapak yang lagi ngasuh anak kecil. Segala kemanjaannya, logika berpikirnya, bahkan kelakuannya, bener-bener kaya anak kurang bapak!
Nesya gak anggap aku teman, apalagi pacar, boro-boro suami. Dia benar-benar anggap aku bapaknya. Waw sadis, ini!
Ya, tapi ibarat kata pepatah, a father ia her daughter's first love. Berarti aku juga bisa jadi pengganti cinta pertamanya, hahaha, haluuu teroooss!
__ADS_1
Nesya nyodorin gigitan terakhir sandwich ke mulutku. Sekali hap, semua masuk, termasuk ujung jarinya. Dia ketawa kegelian karena seujung jarinya sempat kegigit sama aku.