
Aku putusin buat ketemu calon menantu idaman mama dua hari setelah mengobrol dengan mama. Setelah tadi malamnya kami chat singkat buat kenalan, langsung lanjut ngedate di gerai donat di salah satu mall di Jakarta. Malas sebenarnya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan di akhir pekan gini. Macetnya itu bikin puyeng kepanasan.
Untung gak ada mall yang gak pake pendingin ruangan. Lumayan bisa ngadem setelah berpanas-panasan di jalanan. Sialnya, dia malah nungguin di area teras mall, sambil ngerokok pula.
Shith!!
Aku paling nggak suka orang yang ngerokok, apalagi perempuan. Mama pasti bakal blingsatan kalau tahu calon mantu idamannya ngerokok.
Soal rokok, bukannya aku gak pernah ngerokok. Semua juga tahu, anak desain hampir semua pasti perokok berat. gak munafik, aku juga dulu bisa ngabisin sebungkus sehari. apalagi kalau lagi di kejar deadline, mungkin bisa habis dua bungkus.
Tapi sejak ada teman yang kena kanker paru-paru, aku mati-matian berusaha berhenti. untung dia masih hidup. Cuma kasihan istrinya jadi harus banting tulang demi bayar pengobatan. Apalagi kalau ingat anaknya yang masih bayi, begitu dipaksa siap-siap kehilangan bapak. Asli bikin gak tega.
Sekarang, cewek yang di plot nikah sama aku ternyata gak sayang sama paru-parunya sendiri. Ini ngurangin poin Ampe nyungsep ke selokan.
"Hai, Nesya?" Dia ngeliat aku dan buka kacamata itemnya.
"Hai, Zian?" Dia ngebales dengan senyum yang lebih tepatnya di sebut seringai.
"Duduk," katanya nunjuk bangku yang aku pegang aja sandarannya.
Aku diem aja. Asli gak rela ngeliat bakal istri ngejepit batang rokok pake dua jari lentiknya. "Kita ngobrol di dalam aja, panas disini."
Dia ngeliat sekeliling. "Ah, adem kok. Anginnya lumayan."
"Di dalam lebih adem. Ayok masuk." Aku ambil sepiring donat dan esspreso yang kayaknya belum di minum. Tangannya spontan nahan aku. Kulitnya kerasa halus banget nyentuh punggung tanganku. Aku seketika bengong. Ya Tuhan, ternyata kulit selembut mentega itu beneran ada?
"Emang kenapa sih kalo disini?" Protesnya tak terima.
Aku taro lagi piring sama cangkir di meja. "Terlalu banyak polusi. Aku masih sayang paru-paru."
Dia mendecak sedikit. Ngeliat sekeliling terus bilang "Oke," Dia masukin bungkus rokok kedalam tas lalu langsung melangkah ke dalam. Terpaksa piring isi donat dan cangkirnya aku yang bawa.
"Oke," Katanya setelah menyesap sedikit espresso di cangkir. "Apa yang mesti aku persiapkan? Mumpung masih disini, besok aku udah harus balik ke Surabaya." Aku hanya melongo. Kalimat pertama langsung banget ngomong soal pernikahan, padahal niatku disini hanya buat pengenalan.
"Emang kamu beneran udah siap nikah?"
Umurnya aja masih dua puluh tahun. Kuliah belum lulus. Pasti banyak yang pengen dia kerjain di dunia ini. Apa nggak sayang semuda itu langsung nikah?
Dia ngembusin napas pelan, tatapannya ke atas meja. Jarinya mainin kuping cangkir espresso. "Aku tahu, kita nikah bulan karena cinta." Katanya lalu melanjutkan. "Aku gak tahu apa alasan kamu. Mungkin lebih baik kali aku gak tahu. Aku harap kamu juga nggak nyari tahu kenapa aku mau nikah sama kamu."
Di omongin kayak gitu, malah bikin aku kepo maksimal.
__ADS_1
Nesya narik napas lagi. "Dan aku yakin, **** itu paling enak kalau dilandasi dengan cinta. Setuju?"
Sekarang aku bisa ngerti kemana arah pembicaraannya. Sebenarnya dia terpaksa dengan semua ini. Lebih tepatnya dipaksa orang tuanya. Tebakkan aku pasti dia ingin pernikahan ini hanya sandiwara. Membuat aku semakin tertantang menaklukkannya.
"oke setuju." kataku yakin,
"Sip, clear! cuma itu yang aku butuhkan." Dia menghabiskan sisa espressonya sekaligus.
"Cuma itu?" Tanyaku, dia ngangguk.
Pramusaji datang. Meletakkan secangkir cappucino pesanan aku lalu pergi lagi.
"Oke, aku janji **** hanya akan dilakukan dengan cinta. cinta kedua belah pihak maksudnya kan?"
"Iya,"
"Kalau hanya salah satu?"
"Lakuin aja sendiri." Jawabnya dengan nada mengejek.
"Hahaha! smart!" aku minum cappuccino hangat. Sungguh merasa tertantang.
Tapi imajinasiku ambyar banget ingat asap yang keluar dari mulut **** itu. "Aku boleh minta satu hal?"
"Hmm?" Sialan! gumamannya kenapa bikin darah berdesir?
"Tolong jangan ngerokok di sekitarku. Kalau kamu mau ngerokok, pastikan jarak kita minimal lima puluh meter." Dia nyaris tersedak karena tertawa. Tanpa permisi dia mengambil cangkir cappucinoku untuk di minum isinya.
"Lima puluh meter?" Katanya di sela gelak. Aku ngangguk pasti.
"Itu jarak minimal, supaya asap rokokmu gak berpengaruh sama aku." Dia terdiam.
"Kamu gak ngerokok?"
"Aku berusaha berhenti. Baru lima atau enam bulan ini, seratus persen gak nyentuh rokok."
"Oke gak masalah," Katanya "Aku gak akan merokok jika lagi bersamamu."
"Oke good. Oya satu lagi, kalau kamu habis ngerokok di luar. Begitu masuk rumah, langsung mandi dan sikat gigi, juga kumur-kumur."
Calon menantu idaman mama itu tergelak lagi. "oke, no problem," Katanya.
__ADS_1
"Dan kalau nanti kamu hamil, kamu harus berhenti ngerokok selama hamil." Dia makin terbahak.
"Itu kita omongin kalau udah ada cinta, ya. Gak ada cinta, gak ada ****, gak ada yang hamil, deal?"
Aku terpaksa ikut tertawa jadinya. Lagian visioner banget aku udah ngomongin hamil. Cinta aja masih belum kelihatan hilalnya. Tapi yakin, dia bakal jatuh cinta habis sama aku, setelah ini. Meski aku sendiri, gak yakin bisa Nerima cewek lagi.
Sayangnya, belum apa-apa dia udah ngunci segala topik soal kita Nerima pernikahan ini. Padahal aku kepo maksimal Ampe ke ubun-ubun.
Lagian, kalau dia tahu alasanku, terus mutusin buat gak jadi nikah, gak masalah. Yang penting happy. Gimanapun nikah gak nikah bukan urusan utama dalam hidupku saat ini.
Aku lirik cangkir cappucino yang sekarang ada jejak bibirnya disana. Kalau aku minum dari situ, apa bisa di bilang indirect kiss?
Hahaha! jadi ngerasa konyol sendiri. Biasanya juga langsung hajar. Yakin dia bakal ketagihan sekali ngerasain. Dia belum tahu aja i'm a great kisser.
Selesai urusan kesepakatan pra-nikah, aku langsung ngajak dia fitting baju pengantin. Kebetulan butiknya ada di mall ini juga, jadi kita gak perlu menghadang kemacetan demi ngepasin baju doang.
Ukuran bodynya sebenarnya gak jauh beda sana lindar (lintah darat). Jadi baju pengantinnya cuma perlu penyesuaian di bagian dada dan bokong. Di dua bagian itu, Nesya memang kalah besar. mungkin karena masih gadis kali ya, beda sama lindar yang sudah sering aku jajahi. Udah pasti bukan sama gue doang kayaknya. Tapi di tinggi badan, Nesya menang. Kain putih itu agak gantung di badannya.
"Sekalian di pendekin aja, gimana tan?" katanya kepada Tante Ely pemilik butik.
Tante Ely ngeliat bagian bawah gaun dengan teliti. "Bisa aja," Katanya sambil manggut-manggut.
"Dibikin segini aja Tan, biar gak usah juga buat di pake jalan," Kata Nesya menyingkap roknya sampe setengah betis.
Astaga! betisnya mulus banget. Bikin aku pengen berselancar disana. Kayaknya Nesya bukan perokok berat. Gak mungkin perokok berat kulitnya bisa sebagus ini. Kecuali dia emang rajin banget pake skincare kelas atas.
Selesai ngepasin baju, dia balik dan duduk di sebelahku. "Udah? ada lagi yang perlu aku siapin?" Tanyanya setelah ganti baju.
"Hmm,," Dia wangi banget. Gak kayak si lindar yang wanginya agak tajam. Parfum yang di pake Nesya lebih segar. Seperti paduan bau jeruk dengan entah buah apa.
"Kalo nggak ada lagi, aku langsung pulang aja."
"Mau milih undangan?"
"Oh, undangannya belum ada?"
"Udah, cuma desain yang kemarin kan kamu gak terlibat. Kalo kamu mau ganti desain, masih bisa."
"Hmm, soal desain, aku percaya sama kamu. Kamu kan desainer." Katanya sambil membuka tutup botol air mineral lalu meminumnya, ya ampun itu leher mulus banget, pengen rasanya ngasih stempel disana.
"Oke deh kalo gitu, udah nggak ada lagi. Aku antar kamu pulang sekarang?" Dia ngangguk menyetujui. Kami pun langsung keluar dari mall. Setelah berpamitan pada Tante Ely.
__ADS_1