Istriku salah arah

Istriku salah arah
pencitraan doang


__ADS_3

Pagi hari aku sudah bersiap. Tadinya mau datang lebih awal supaya bisa ngobrol-ngobrol yang ngeganjel. Tapi gara-gara macet, perjalanan yang harusnya cuma setengah jam jadi molor satu jam lebih.


Si Nesya nelpon waktu mobil udah masuk perumahannya. "Heh, kata ayah, kamu mau nganter aku ke bandara?"


"Iya." Aku belum selesai ngomong langsung dipotong,


"Gak usah, bawaanku banyak, loh. Gak akan muat pake motor."


"Aku jemput pake mobil."


"Hah, emang kamu punya mobil?" Wah! meremehkan banget dia, "Paling punya bokap lu kan?" Lanjutnya.


"Nggak lah,"


"Terus punya siapa?"


"Nyokap, hahaha," Secara teknis ini emang punya mama. Tetapi aku yang beliin waktu ulang tahunnya tahun lalu. Sebenarnya juga udah niat mau beliin si lindar mobil juga buat hadiah pernikahan. Tapi dia keburu selingkuh. Ralat, keburu ketahuan punya cowok lain. Sialan!


Begitu nyampe, dia udah nunggu di teras. Gak pake pamit sama bapaknya, langsung aja masukin ransel ke mobil. Jadi aku aja yang salaman sama om Surya dan pamit.


"Udah? cuma satu, ransel?" Tanyaku.


"Ngapain banyak-banyak!" Jawabnya dengan bibir yang mengerucut kaya cumi-cumi pengen kabur.


Gak habis pikir aku. "Lah, kan tadi kamu yang bilang kalo bawaannya banyak."


"Itu kan biar kamu gak usah datang aja. Mana aku tahu kamu ternyata punya mobil. Eh ralat, mama kamu punya mobil." Senyumin aja. Orang-orang ngukur kesuksesan dengan mobil atau rumah. Benar-benar standar yang aneh. Harusnya tiap orang di biarkan punya standar sukses masing-masing. Buat aku, sukses adalah berhasil ngebahagiain orang-orang tersayang.


Makanya aku beli mobil buat mama karena kasian kalau harus berangkat pengajian atau arisan panas-panasan naik motor. Mobil emang ada, tapi udah dipake papa buat ngantor seharian. Cuma hari weekend aja beliau bisa nganterin mama kemana-mana.


"Kenapa kamu gak mau aku anterin ke bandara?"


"Gak apa-apa," Aku lirik, bibirnya masih manyun. Jarinya sibuk toel-toel layar hape penuh emosi. Kayanya lagi bete banget, ini anak.


Gak enak di mobil berdua rasa sendiri. Aku nyalain playlist dari ponsel yang sudah tersambung ke speaker mobil melalui bluetooth. "Kamu suka lagu apa?"


"Terserah." Dasar cewek.


"Suka lagu apa sayang? Bukan mau denger lagu apa?"


"Hmm? Lagu apa aja." Bercanda ni anak. Gak ada yang suka semua lagu.


Karena aku sukanya lagu slow rock, lagian di hape rata-rata lagu genre itu semua. Lumayan, gak perlu ngabisin kuota untuk buka YouTube. Jadi aku putar aja lagu bon Jovi. Serah dia suka apa nggak. bukan urusan aku.


Intronya langsung menguasain kabin. Sadar gak sadar langsung headbanging ngikut bet music. Bahkan Nesya pun ikutan ngangguk-ngangguk. Hahaha! gotcha!


"Lagu apaan, nih?" Dia mulai kepo, gue ketawain aja.


"it's my life bon Jovi." Masa sih dia gak tau lagu ini? Oh iya aku lupa, dia kan anak kelahiran dua ribuan. Pas lagu ini juga baru pertama kali dirilis, di tahun itu.


"Mayan," Katanya. Dia bahkan ikutan menepuk-nepuk dasboard sesuai ritme lagu. Dan setelah dua kali chorus, Nesya pun ikut bernyanyi.


It's my life


And it's now or never


'Cause I ain't gonna live forever

__ADS_1


I just want to live while I'm alive


(It's my life)


My heart is like an open highway


Like Frankie said, "I did it my way"


I just want to live while I'm alive


Kami pun konser di dalam mobil. Berteriak-teriak, mengetuk-ngetuk, dan lepas dalam tawa di akhir lagu. Aku suka banget denger suaranya. Berkat bon Jovi. Jadi tahu apa yang bisa bikin dia ketawa.


"Gila! musiknya nagih!" Seru Nesya sambil merapikan rambutnya yang berantakan karena terlalu semangat headbanging.


Musik selanjutnya diputar, come as you are dari Nirvana. Mulanya Nesya masih mengetuk-ngetukkan jari dan mengangguk-anggukkan kepala. Tak berapa lama kemudian diam.


"Kenapa? Tiba-tiba diem?" Aku gak bisa liat kaya gimana ekspresinya, tapi suasana yang tadi hangat sekarang berasa agak dingin.


Gak ada jawaban. Aku masih fokus ngeliatin jalan tol biar roda mobil gak melenceng.


"Kenapa lagu ini rasanya nyesek banget?" Akhirnya dia angkat bicara.


"Kenapa emang?"


"come as you are, as you were," Nesya mengembuskan nafas, kedengaran berat banget.


"i swear that i don't have a gun," Dia mendengus sinis. Aku nelen ludah. Kayaknya bakal berat, nih.


"Orang-orang nyuruh kita jujur, tampil apa adanya. tapi begitu dia tahu kaya gimana kita sebenarnya, dia malah ngancurin kita. apanya yang i don't have a gun?"


Glek! Ni anak ngomong apaan, dah?


Tiba-tiba ingatanku melayang ke si lindar. Waktu mergokin dia making out sama cowoknya di pojokan taman. Gak tahu mesti Nnyesal apa beruntung jalan-jalan ke situ. Padahal niatnya cuma nyari toilet umum yang biasa ada di taman, malah jadi nonton prolog b**ep.


Selanjutnya Nesya bicara menggebu-gebu.


"Bukan soal bagaimana menjalani hidup. tapi kalau kita nuntut orang untuk tampil sebagaimana dirinya sendiri, maka kita juga harus mau menerima konsekuensinya. Tiap orang punya sisi gelap dalam dirinya. Kalau kita menerima seseorang seutuhnya, harusnya kita juga menerima sisi gelapnya, segelap apa pun itu."


"Segelap apa pun?"


Damned!


Ni anak nyindir atau gimana? Gimana kalau kegelapannya itu menelan kita?


Aku banting setir ke kiri. Mobil-mobil di belakang langsung riuh berebut membunyikan klakson. Di bahu jalan, segera aku injak rem seketika.


"Kenapa, sih?" Nesya berseru kesal karena nyaris kepentok dasboard.


Aku keluar dari mobil sambil banting pintu. Mau cari angin walau udara di pinggir jalan tol aslinya penuh polusi menyesakkan. Tapi di dalam mobil terus jauh lebih sesak.


Dibpinggir jalan, sekeping kerikil kena tendanganku. Kesalahannya sang krikil cuma satu, dia nangkring dekat sepatuku. Sorry, hidup kadang emang gitu, kil. Udah melipir seminggir-minggirnya, tetap aja di tendang tanpa salah apa-apa.


Nesya ikut keluar mobil setelah aku berhasil menghirup dan menghembuskan nafas beberapa kali. Angin menerbangkan rambut sebahunya hingga sembarangan menampar pipi mulusnya. Nesya merapikan semua rambutnya dengan sabar, mengembalikan tiap helai ke belakang telinganya.


Dia bersedekap dan memandang semak-semak tempat krikil tadi aku tendang bersemayam. "Kira-kira kemana perginya krikil itu, ya? Tanyanya pelan.


"Bomat!" Aku menjawab tak acuh.

__ADS_1


"Hmm, mungkin dia akan berterima kasih sama kamu, suatu saat nanti," Ucapannya yang sukses membuatku menoleh ke arahnya.


'Cih, ngomong apalagi nih anak?' Umpatku dalam hati.


"Kalau disini, bisa jadi dia bakal hanyut kena banjir. Kamu tendang kesitu, siapa tahu dia malah jadi kunci penyelamat banjir," Ucapnya enteng.


Hah! ini cewek yang tadi marah-marah soal kejujuran? makan apa barusan? tiba-tiba jadi sok bijak begini.


"Sebenarnya aku kesal banget disuruh nikah sama kamu," Katanya lagi dan dia masih ngeliatin semak-semak rendah di sisi jalan tol. "Tapi setelah ngobrol-ngobrol semalam." Dia berhenti bicara dan kini ngeliatin aku yang juga nunggu lanjutan ucapannya.


Nesya membuang udara lewat mulutnya. "Ya, mungkin ini bisa jadi jalan buatku terbebas dari ayah."


What? aku nggak ngerti maksudnya. Tapi sekarang jadi jelas. Dia manfaatkan perjodohan ini buat kepentingan pribadinya. Damned!


Hah! dasar cewek! no love no s**s? itu akal-akalan dia aja. "Kalau gitu aku juga mau manfaatkan kamu," Balasku.


"Apa?" dia beralih lebih serius.


"Aku mau manfaatin kamu buat balas dendam sama si lintah darat!" Tegasku. Dia ketawa geli.


"Lintah darat?" Tanyanya kemudian.


"Kita harus bikin pencitraan kalau kita saling mencintai. Biar si lindar buluk itu tahu kalau cewek di dunia ini gak cuma dia, biar dia juga tahu bahwa aku sudah bisa move on dari dia secepat ini."


"Hahaha! lindar? Lintah darat itu mantanmu?" Nesya tertawa ngakak dan aku gak ikut tertawa. Ini serius. Gak ada yang lagi becanda disini.


Dia berdehem sekali. "Cuma pecintraan?" Tanyanya memastikan.


"Yes, cuma pecintraan!" Aku menjawab yakin.


"Oke," Dia ketawa tengil. "Begitu ijab kabul, pecintraan dimulai. Berapa lama? sebulan, dua bulan?" Tanyanya.


"Terserah kamu, kapan kamu mau mengakhiri pernikahan itu?" Aku kembalikan pertanyaannya.


Dia terdiam sejenak, "Mmm,, sampe aku lulus kuliah gimana?"


Tanpa ba bi bu be bo aku menjawab "Oke, setuju. Setelah itu kita cerai diam-diam," jawabku enteng. Nesya tertawa terpingkal-pingkal.


"Oke, deal!" Dia menyodorkan tangan denganku. Tanpa ragu sedikitpun aku menyambutnya.


"Deal!" Kami sama-sama tersenyum.


"Berarti lama juga kita pecintraan hanya untuk mantanmu ya," Katanya setelah jabatan tangan terlepas. "Aku lulusnya aja, sekitar setahun lebih lagi. Itupun kalo gak ada halangan."


"Yah, mau bagaimana lagi. Kan bukan ke dia aja kita pecintraannya." Jawabku sambil jalan kearah pintu mobil.


"Hah? Berapa banyak mantan kamu?"


Hah! dasar ni cewek kumat lagi oon nya. Aku langsung aja masuk ke mobil tanpa menjawab pertanyaannya.


"Heh, emang berapa mantanmu?" Tanyanya lagi setelah kami sama-sama masuk kedalam mobil.


Ku urungkan niat buat nyalain mobil. Aku beralih menatap wajahnya. "Eh aku tanya ke kamu ya, emang kamu mau bokap lu tahu kalo kita nikahnya cuma sandiwara?" Nesya mengerjapkan matanya, lalu geleng-geleng kepala. "bukan ke mantan gue doang, ke bokap lu kita bakalan melakukan pecintraan juga kan?" Dia jadi cengengesan, garuk-garuk kepala belakangnya.


"Hehehe, iya iya aku udah paham sekarang." Jawabnya pelan.


"Dan satu lagi. Bukan ke bokap lu aja. Kedua orang tua gue juga. Kerabat dan teman gue juga."

__ADS_1


"Iya iya bawel, gue udah tau." Jawabnya kesal. "Udah jalan sekarang, entar gue telat." Lanjutnya.


__ADS_2