
Setelah adu mulut soal venue wedding party, gak ada lagi komunikasi sama Nesya. Hidup jadi lebih tenang. Urusan pernikahan sama sekali gak perlu ikut-ikutan. Semua udah di urus sama anak buah om Surya.
Semua pekerjaan sudah hampir selesai, tinggal menyiapkan untuk presentasi. Dan sudah tidak ngambil pekerjaan lagi. Aku serahkan semua pada teman-teman dikantor. Mengingat bakalan cuti beberapa hari kedepan. Untuk pernikahan dan juga honeymoon. Yeah! honeymoon-honeymoonan.
Seminggu sebelum hari H di hubungi buat ngecek lokasi, menyinkronkan imajinasi wedding orang dengan harapanku. Mama keliatan banget berusaha bersikap biasa-biasa saja. Padahal dalam hati terkejut-kejut dengan mewahnya pernikahan ini nanti.
Sampai di lokasi baru semua tersalurkan. "Waaaw! Zian! Mimpi apa kamu bakal nikah di kapal pesiar! Ya Allah! Terimakasih telah engkau perlihatkan wajah asli si salsa. Kalau gak, Zian gak akan mungkin bisa dapet mertua kaya gini baiknya. Ya Allah, Alhamdulillah." Mama berbinar-binar bahagia.
Gimana gak baik. Tamu-tamu bakal diajak keliling pesisir Indonesia, dari Bali, lalu ke Bunaken, terus ke raja Ampat. Yeah! Sultan mah bebas.
Sementara, aku sama Nesya di bebasin pake yacht berdua aja. Ketawa miris banget tahu dapat kado ginian dari calon mertua. Ngapain aja nanti di tengah laut berdua? No love no s**s, paling cuma foto-foto buat pecintraan.
Gak tahu gimana perasaan mama kalau tahu ini semua hanyalah kebohongan. Segala kemewahan dan kemegahan ini hanya sampul untuk satu kepura-puraan besar.
Tak ada yang namanya pernikahan. Ini hanya satu transaksi yang memuaskan.
Tiga hari menjelang pernikahan. Aku pake baju batik lengan panjang dan datang ke acara gala dinner. Malam ini penganugrahan sustainability award dan perusahaan om Surya menang sebagai best projects based CSR.
Biasanya paling males di ajakin ke acara ginian. Tapi kali ini gak enak nolak ajakan om Surya. Padahal masih ada sedikit lagi bahan presentasi yang musti disiapin buat besok.
Mungkin Nesya benar. Aku mulai kehilangan kemerdekaan. Mulai bisa di atur-atur orang lain.
"Lihat itu." Om Surya narik perhatian ke layar besar yang terpampang di panggung, " Itu yang kita kerjakan selama ini." Layar menampilkan profit proyek CSR yang dilakukan oleh perusahaan om Surya. Aku baru tahu perusahaan ini concern sekali di bidang pendidikan anak. Mereka mendirikan di lima titik pedalaman Papua. Bukan hanya bangunan fisiknya, namun juga membiayai guru-guru yang menjadi pengajarnya.
__ADS_1
"Saya bilang, sekolahnya harus menyatu dengan alam. Harus bikin mereka sadar betapa kaya potensi alam di sekeliling mereka," Nada suara om Surya penuh semangat, "Kamu tahu, mereka punya sagu, punya ubi, tapi mereka wajib jalan berkilo-kilo meter naik turun gunung buat menjual hasil alam supaya bisa ditukar sama beras dan mie instan. Percaya nggak?"
Wow! Takjub liat api semangat di mata om Surya. Disini mungkin passion beliau yang sebenarnya. Sesuatu yang membuat jiwa dalam dirinya hidup dan bergerak.
"Kenapa mereka harus menjual karbohidrat demi karbohidrat lain? Aneh, kan?" Aku hanya manggut-manggut. "Makanya butuh pendidikan yang selaras dengan alam. Bukan pendidikan yang mencabut mereka dari akar kearifan mereka sendiri. Supaya mereka bisa berjaya, tegak di tanah sendiri."
Wow! keren! aku ikut tepuk tangan dengan tulus waktu MC manggil om Surya naik keatas panggung untuk nerima penghargaan.
Visi pendidikannya boleh juga. Emang beda kalau punya duit banyak. Bebas mau ngapain aja. Gak kaya aku cuma bisa ngasih donasi terus harus percaya sama proyek-proyek sosial orang lain.
Orang-orang memberi selamat dalam perjalanan om Surya turun panggung sampe balik ke meja lagi. Aku berdiri dan nyalamin beliau dengan tulus, bener-bener tulus, "Selamat, ya om."
Om Surya nepuk lenganku."jangan kasih selamat. Ini kamu yang bakal lanjutin," Katanya nyerahin award dari resin transparan ke genggamanku terus lanjut nerima selamat dari rekan-rekan semeja.
Ngelanjutin, katanya? Kepalaku pusing tiba-tiba. Ngelanjutin apanya?
Begitu masuk mobil kita sama-sama menghembuskan napas lega. Lalu tertawa bareng-bareng.
"Acara kaya gini benar-benar melelahkan, ya yan." Kata om Surya setelah tawanya reda. "Yah, biar bikin capek, tapi ini penting buat networking," Lanjutnya lagi.
Aku ngangguk-ngangguk setuju. Gak ada networking, gak ada proyek, sama dengan kelaparan. "Gimana? udah siap ngelanjutin?" Om Surya kembali ngomongin soal ngelanjutin.
"Ngelanjutin apa, om?" Aku masih fokus ngeluarin mobil dari parkiran. Si om ketawa kecil sambil ngatur napas.
__ADS_1
"Ya ngelanjutin CSR perusahaan kita." setdah! gayanya si om ngomong perusahaan dia sebagai perusahaan kita. senyumin aja.
"Kalau cuma ngelanjutin, siap, om. Saya juga seneng, kalau bisa bantu orang lain."
"Hahaha!" Om Surya ketawa keras, kayanya dia senang banget. "Ya, saya tahu. kita punya value yang sama soal penggunaan uang, kan?" Aku terkejut dan memang baru tahu.
"Emang value-nya om Surya apa?" Si bapak calon mertua ketawa kecil.
"Ada tiga cara buat make duit. Pertama, abisin mumpung masih ada. Kedua, pake buat mancing lebih banyak duit. Ketiga, pake buat mancing lebih banyak lagi senyum orang lain." Aku manggut-manggut boleh juga filosofinya. "Dan kita lebih suka make duit dengan cara ketiga. Am i right?"
Mobil sudah keluar ke jalanan Jakarta. Sementara aku masih ngangguk-ngangguk kaya mainan dasboard. "Ya pasti bener, om tahu kamu juga termasuk donatur tetap buat Unicef, kan?"
"Eh? Kok om tahu?" Si om ngetawain mukaku yang pasti keliatan goblok banget.
"Kita pernah ketemu waktu gatheringnya Unicef, kamu lupa?" Aku berusaha mengingat-ingat, tapi gak ada satu pun yang nempel di memoriku. "Makanya nanti semua saham om, bakal diwarisin sama kamu."
"Ha? Eh, gimana om?" Apa aku gak salah dengar, kan?
"Kamu harus punya kuku kalau mau ngelanjutin proyek-proyek ini. Kalau gak, pasti bakal dilibas sama mereka yang fokus make duit buat mancing duit lagi." Si om Surya bicara sangat serius.
"Ntar dulu, om. Semua saham om bakal diwarisin buat saya?" Tanyaku masih bingung.
Om Surya ngangguk dengan yakin. "Ya, semua. lima puluh persen saham perusahaan bakal jadi milik kamu. Atas nama kamu," Jawabnya mantap dan sukses membuatku gelagapan.
__ADS_1
Yang bener aja! Kerongkonganku jadi kering tiba-tiba. Butuh mendehem dulu supaya bisa lancar ngomong lagi.
bersambung...