Istriku salah arah

Istriku salah arah
akan memberikan kenangan terindah


__ADS_3

Pagi-pagi tanjung Priok udah dipenuhi orang-orang yang akan ikut berlibur merayakan pernikahan kami. Meski buat aku sama Nesya ini semacam permainan rumah-rumahan yang di mainkan ketika kecil, tapi buat para undangan, ini adalah liburan gratis yang wajib dimanfaatkan sebaik-baiknya.


Kabarnya ada dua ribu orang yang akan menjadi penumpang di kapal ini. Semua karyawan angkasa group, mulai dari dewa direksi hingga cleaning servis tumplek tumpah ruah disini. Aku dapat kamar di dek 10a bersama seluruh pemegang saham, keluarga besan, dan dewan direksi.


"Mimpi apa kamu bisa nikah sama anak pak Surya, yan?" Ucap papa masih takjub dengan fasilitas yang kami dapatkan.


Papaku cuma salah satu direktur di anak perusahaan di angkasa group. Kalau bukan karena di acara seperti ini, keluarga kami pasti hanya akan dapat fasilitas dibawah yang kami nikmati saat ini.


Kalo ingat semua itu. Aku cuma bisa kasih senyum aja. "Mimpi buruk kayanya pa."


"Hush!" Lenganku dapat tepukan halus dari mama. "Dapat nikmat itu bersyukur. malah bilang mimpi buruk."


Gak tahu, dah. Ini bahkan terlalu rumit buat otakku yang terlalu simpel.


Kamarku disebut kamar pengantin. Posisinya paling ujung di dek. Begitu masuk, mata langsung dimanjakan dengan cahaya matahari yang melimpah ruah berkat jendela besar di dua sisinya.


Pemandangan dari balkon juga sangat menyegarkan. Lautan terlihat hingga batas cakrawala. Mudah-mudahan nanti ada lumba-lumba atau paus beratraksi di hamparan samudera.


Nesya datang sekitar sepuluh menit setelah aku masuk kamar. Dia membawa satu ransel besar untuk rencana tiga hari liburan. Tentu saja, petugas parter yang mengangkatnya kesini.


"Udah siap?" Tanyanya berbasa-basi sambil sembarangan melempar topi pantai ke atas nakas. Kemudian menghempaskan diri seenaknya ke atas ranjang.


Dia sama sekali gak peduli dengan jantungku yang blingsatan lihat badannya yang cuma pakai kemeja putih nyaris transparan dan celana pendek warna biru muda. Kulit putih dari keempat anggota badannya terpapar bebas tepat dibawah hidungku. Itu belum terhitung aroma parfum yang menguar, memabukkan ujung-ujung syaraf penciuman siapa saja yang dekat dengannya.


Seolah itu semua belum cukup, dia malah meregangkan badan dengan menarik tangan jauh-jauh ke atas kepala. Area perutnya tersingkap sedikit, memperlihatkan kulit putih mulus tanpa cela.


"Woii!" seruku sambil melempar bantal ke arahnya. "No love, no s**s. Tapi kalau kamu terus-terusan ngegodain kaya gini, jangan salahkan kalo aku melanggar perjanjian," Ucapku sengit.


Dia gelagapan menghindarkan bantal dari muka dan balik melempar ke badanku.


"Heh! yang ngegodain siapa? Aku cuma tiduran di tempat tidurku sendiri. Kamu aja yang omes, terus aku yang salah?"


Aku balikin bantal yang dia lempar. "Seenggaknya jangan pakai baju yang terlalu seksi di depanku."


Bantal dilempar balik lagi. "Kaya gini dibilang terlalu seksi? Hello! tolong ya, otaknya disapu , ya mas. Kayaknya udah lama gak dibersihin dah!"


Cih! apa dia gak sadar kalau pakaian dalamnya membayang dari balik kemeja?


Aku balas ngelempar bantal lagi. Dia gak mau kalah. Empat bantal yang ada diatas kasur bergantian jadi senjata hingga terdengar ketukan pintu. Dua orang dari butik dan seorang penata rias telah berdiri di depan pintu, siap melakukan make over.


mereka tertegun ketika melihat ranjang berantakan. Apalagi ditambah Nesya dengan santainya merapikan rambut yang awut-awutan akibat perang bantal.


"Maaf, ya mas. Jadi mengganggu. soalnya jam sepuluh semua harus sudah siap." Si penata rias terdengar canggung berbasa-basi.


"Nyantai aja, mbak," Nesya menjawab cepat, "Kita cuma sedikit perang-perangan aja tadi."

__ADS_1


Hahaha, nice respons!


Akad nikah dilaksanakan di masjid kapal. Lebih tepatnya disebut aula besar berkarpet merah. Arah kiblat bisa berubah sewaktu-waktu, hingga tak ada mihrab dan garis penanda saf di sini. Hanya sebuah kompas besar di langit-langit dan satu poster tentang tutorial penggunaannya di dinding.


Pembatas antara area laki-laki dan perempuan pun tidak dipasang permanen karena alasan yang sama. Jadi untuk keperluan acara akad nikah ini, para perempuan duduk di bagian limbung kiri dekat pintu masuk sementara para lelaki di arahkan untuk duduk di area sebelah kanan menjauhi pintu masuk.


Sementara aku, ibarat sajian makan siang, berada di tengah-tengah ruangan. Om Surya tepat berada dihadapan, hanya terpisah sebuah meja kecil. Pak penghulu dan para saksi mengambil bagian lain di sekeliling meja.


Untung masjid ini ber-AC. Kalo gak. Pasti udah kegerahan dari tadi. Tambahan lagi, leher jasku putih ini terasa mulai mencekik.


Sekarang, di depan penghulu, tiba-tiba pernikahan abal-abal ini terasa agak serius. Semua seolah begitu menekan. Otakku mulai mikirin cara-cara terbaik buat kabur atau nyebur ke laut aja.


Tapi gak bisa 'titip pak Surya, ya.' kata-kata dokter Ahmad nusuk-nusuk kepalaku lagi.


'*Saya udah berhasil memilihkan seorang imam untuk memandu perjalanan hidup Nesya*' Harapan om Surya mengaduk-aduk isi kepalaku.


'Yah, mungkin ini bisa jadi jalan buatku terbebas dari ayah' Impian Nesya meremas jantungku.


Sedangkan yang aku inginkan cuma receh saja, ialah bikin si lindar nangis Bombay udah bohongin aku sampai dasar hati.


Di belakang, ibu-ibu berceloteh berisik seperti sayap lebah. Sesekali terdengar suara tawa singkat lalu celoteh lagi. Namun semua langsung hening begitu MC mengucap salam.


Acara dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku masih sibuk nenangin detak jantung yang menggila. Sampai pembaca saritiwalah membacakan terjemahannya.


Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya...


Tapi bukannya segala aktivitas tergantung niat? kalau niatnya pura-pura, apa berarti semua yang ada di sini ikutan jadi bohongan?


....dan (peliharalah) hubungan silaturahmi..


Huh! silahturahmi?


Silahturahmi apa namanya kalau di bikin atas dasar asas kemanfaatan? Kebohongan dan kepura-puraan dalam pecintraan. Silahturahmi yang di dasari saling memanfaatkan.


Om Surya memanfaatkan aku ngamanin asetnya. Nesya manfaatin pernikahan ini untuk pelarian dari kekangan ayahnya. Dan aku memanfaatkan Nesya untuk balas dendam sama si lintah darat.


Tapi dilihat dari sisi manapun, tetap aku yang kalah. Nesya tinggal terima beres, bukan dia yang bakal mengucapkan akad nikah. Om Surya gak akan rugi apa pun. Seenggaknya dia gak bakal mati dalam keadaan bangkrut.


"Mas," panggilan plus colekan dokter Ahmad yang duduk sebagai saksi di ujung meja menyadarkan ku dari lamunan.


Baru sadar kalau tangan om Surya udah menggantung nunggu disambut buat salaman denganku.


This is it! makin gemetar aku. Ruangan ber-AC makin panas. Kenapa cuma laki-laki yang ngucapin akad nikah? Padahal yang nikah berdua. Ini gak adil.


"Saudara Zian Prasetyo bin Arifin putra Prasetyo." Om Surya memulai prosesi ijab kabul dengan suara seraknya yang nyaris tak terdengar.

__ADS_1


"Siap, om!" Balasku pelan.


Terdengar suara cekikikan hadirin. Salah ngomong kayanya aku. Gak seharusnya memanggil om.


"Saya nikahkan kamu dengan anak perempuan saya. Cahya Nesya Larasati purnama bin Surya Hartono dengan mas kawin dua ratus lima puluh gram emas batangan, Tunai!"


Ini kedengaran kaya beneran! emang beneran!


Tapi ini cuma bohongan! Emang bohongan!


"Mas!" Suara dokter Ahmad ngagetin aku lagi.


Hadirin tergelak. Seorang panitia menyodorkan beberapa lembar tisu melalui dokter Ahmad. Dia menggunakannya buat ngelap jidatku, kaya yang dilakukan perawat pada dokter di ruang bedah.


Orang-orang makin keras tertawa. Dasar penonton. Mereka gak tahu gimana perasaanku. Cuma bisa ketawa, terus ngerasa jadi paling hebat sedunia.


"Siap, mas Zian" Penghulu bertanya lagi padaku. aku ngangguk. Gak tahu lagi apa difinisi siap. Siap nikah atau siap dimanfaatkan oleh orang-orang yang saat ini berada di sekitar.


Om Surya mengulangi kalimat ijabnya. sekarang langsung aku jawab "Saya terima nikah dan kawinnya Cahya Nesya Larasati purnama dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"


Dan di sambut seruan. "saahh!!" dari para saksi. Doa dipanjatkan. Badanku limbung. Rasanya kaya melayang. Menyatu dengan udara.


Baru bisa menginjak bumi lagi waktu aroma hangat yang menggoda masuk ke ruang penciuman. Nesya mengambil tempat duduk di sisi dengan seulas senyum pahit yang menyakiti napas.


Tiba-tiba aku jadi ngerasa jahat banget. Ini memang bukan pernikahan yang kami inginkan. Bukan yang Nesya inginkan atau pun aku inginkan.


Dan seketika, keinginan balas dendam itu sirna, si lindar itu masa lalu, harusnya gak nambah penyakit dengan membawanya jadi urusan masa depan.


Qku belum bisa maafin si lindar. Tapi gak adil bikin orang lain ikut menderita karena sesuatu yang harusnya udah berlalu. Harusnya Nesya gak ikut menderita.


Dia bilang ingin menjadikan ini jalan untuk lepas dari ayah yang mengekangnya. Tapi gak ada sedikit pun rasa bahagia terpancar dari matanya. Tetap saja, sangat menyakitkan. Dan paling menyakitkan adalah melihat orang lain tersakiti ketika aku sebenarnya bisa menghindarkannya dari rasa sakit itu.


Panitia membawakan nampan berisi cincin kawin. Kami saling memasangkan di jari manis masing-masing.


Tangan Nesya terasa sangat dingin. Seolah angin musim dingin dari kutub Utara membelit tubuhnya seperti selimut. Aku genggam tangannya untuk menghangatkan.


Bibirnya mengulas senyum. Sejenak, kemuraman sirna dari tatapannya.


Oke, aku mungkin gak bisa ngasih cinta. Tapi seenggaknya, sampe dia lulus aku bisa memberikan kebahagiaan buat Nesya.


Untuk sementara, selama masa perjanjian kami. Masa pernikahan sandiwara kami. aku akan memberikan kenangan terindah untuknya.


****oke, permirsah. Sekarang saya sudah sah menjadi seorang suami. Dan dari sinilah kehidupan baruku di mulai. Gimana kah kisah hidup gue selanjutnya? Apa saya akan bertahan dengan pernikahan ini? Atau saya akan menemukan cinta sejati gue nantinya****?


****penasaran****??

__ADS_1


****Kalau gitu pantengin terus ya, seminggu insyaallah saya akan nongol tiga atau empat kali****.


****wasalam****..


__ADS_2