
Kamar Siska ada di dek tujuh, bersama para manajer lain. Dia mengaku tak punya kunci untuk mengambil data di server, namun setidaknya punya akses melewati gate pertama.
"Gila! Emang ada berapa gate?" Ujar Sodik tak habis pikir ketika dimintai tolong via telpon. "Kayaknya kalau aku berhasil, lu musti ganti gate keeper, nih," Lanjutnya jumawa.
Berlima kita berkumpul di kamar Siska. ruangan berukuran 2x5 meter itu terasa agak sesak. Aku duduk berdua sama Nesya di sofa bed.
Sedangkan Siska duduk di tepi ranjang sembari menyenderkan kepala di pundak suaminya. Pemandangan yang agak aneh buatku. seumur-umur, belum pernah lihat dia gelendotan segitu manja sama cowok. Bahkan waktu dulu masih Pacaran, perasaan aku yang sering ndusel-ndusel dan gelendotan. Mungkin itu sebabnya dia memutuskan buat putus. Dia butuh cowok buat digelendotin, bukan sebaliknya.
Sodik duduk di meja rias yang sudah di kosongkan hingga muat satu laptop lima belas inci milik Siska. Kali ini si hacker benar-benar berniat liburan. Tak satu pun peralatan digital berisi kerjaan yang dibawa. Akibatnya beberapa software harus diunduh dulu dari Drive di cloud.
Mulanya ia berhasil menginstal spyware, tapi ketahuan. Untung pengacak IP address sudah lebih dulu di aktifkan hingga selanjutnya mereka bertarung dengan waktu membobol dengan cara konvensional.
Siska kemudian mengambil alih, membuka laman hingga tinggal satu password yang harus di bongkar. Kita hanya punya waktu tiga puluh detik agar laman tidak tertutup dan Kembali seperti awal lagi.
"Tiga belas digit," Deru Sodik ,"Ada yang punya ide?"
Aku maju kesamping Sodik. "Siapa yang punya akses kesini?"
"Mertua lu pasti punya akses kesini. jangan-jangan malah dia juga yang bikin password-nya," Sodik menjawab cepat.
"Ultah pak Surya?" Siska melontarkan ide.
"Gak mungkin, itu terlalu gampang ditebak," Idenya aku tolak.
"Ultah anaknya?" Siska berkata lirih sambil melirik Nesya.
"Om Surya terlalu pintar buat naro tanggal ulang tahun sebagai pin," Aku berkilah dengan argumen. "Desuatu yang penting," kata-kata ini buat Nesya, "Yang penting buat kalian."
Nesya berdiri ragu. "Moonlight," ucapnya lirih.
"Moonlight?" bisa jadi, ini adalah nama anaknya, Cahya Nesya Larasati purnama. "Cobain Moonlight." Ini kata buat Sodik.
"Ini angka semua, bro!"
"Enam..." Nesya maju ke dekat laptop, berdiri pas di sampingku. "Enol..Enol..Enam..Enam.. Empat.. Empat..Satu..Satu.. Sembilan..Tiga..Tiga.. Delapan." Lanjutnya.
Sodik mengetik-nya satu persatu. dan.."Yes! Masuk! Mau ambil yang mana? Cepetan!"
Tos dulu sama Sodik. "Rekaman CCTV tadi malam, setelah jam dua belas, di area outbond."
__ADS_1
Sodik menggerakkan jemarinya cepat dan langsung menemukan video yang dicari. "Ada tiga, yang mana?"
Siska berdiri, memeriksa file yang terpampang dilayar.
Nesya mematung, matanya berkaca-kaca. aku rangkul pundaknya, tapi dia malah berbalik dan keluar.
"Nesya!" refleks aku ngikutin-nya. "Eh, Siska, tolong lanjutin, ya?" Aku mendelegasikan tugas dulu sebelum nutup pintu dari luar.
Di luar, Nesya bersandar di dinding samping pintu. Mengatur napas sambil tengadah menghadap langit-langit rendah.
"Kenapa?"
"Gak apa-apa." Dia menyusut air di ujung matanya.
Terserahlah. Kalau gak mau ngomong, gak masalah.
"Masuk lagi?" dia menggeleng. "Lihat laut?"
Dia menggigit bibir. Air mengenang lagi di pelupuk mata. "Menurutmu, kenapa ayah pakai Moonlight jadi pin?"
Jiah! Meneketehe!
"Ayah kan benci sama aku," Keluhnya lirih di antara Isak.
Hadeh! Ini anak drama banget dari pagi. Aku rangkul kepalanya, Isak pun tumpah di pundak.
"Ayahmu sayang banget sama kamu. Mungkin rasa sayangnya terlalu besar, sampai kamu gak bisa lihat. Karena kamu melihatnya dari dekat. Karena hati kalian sesungguhnya sangat dekat."
Guncangan tubuh Nesya makin keras. Aku harus mendekap lebih erat agar badannya tak terkulai jatuh. Leherku jadi basah dan hangat karena dibanjiri air matanya.
Kenapa cewek-cewek gampang banget nangis? capek tahu, nemenin nangis. Rasanya energi juga ikut terkuras. beneran, mending nemenin makan daripada nemenin nangis.
Adegan nangis-nangis terpaksa kepotong karena hapeku bunyi. Ada telpon dari dokter Ahmad.
"Pak Surya collapse. Saya otewe ke helipad." Hanya itu yang diucapkannya setelah mengucap salam. Kemudian hanya bunyi Tut Tut memenuhi ruang pendengaran.
"Kenapa?" Nesya bertanya dalam nada cemas. aku seret tangannya, setengah berlari menuju evelator. "Siapa yang nelpon barusan?" Nesya bertanya dengan terengah-engah.
Pikiran kalut, bersilang sengkarut seperti benang kusut. Aku gak sanggup jawab. Di kepalaku berbagai kemungkinan hadir silih berganti. Tapi kata collapse tak mungkin berarti baik-baik saja.
__ADS_1
"Tolong lift-nya!" Aku teriak sama cewek berseragam hitam putih yang baru saja masuk evelator. Cewek itu menahan pintu lift. Cih! si cowok jadi-jadian! Seumur-umur gak bakal rela minta tolong apa pun sama dia. Tapi apa mau dikata, hidup emang gila. Musuh kita hari ini mungkin jadi teman keesokannya.
Iya, segila itu kadang.
Si cowok jadi-jadian itu menatap Nesya lembut. Hanya sebentar, karena begitu masuk lift, aku langsung kekepin dia dalam rangkulan.
"Aku minta maaf soal semalam," Dia ngomong dengan suara yang segitu rendah. "Harusnya aku percaya sama kamu."
Aku lirik Nesya. Digigitnya ujung bibir dengan mata berkaca-kaca.
"Maafin aku," Si manusia jadi-jadian itu ngomong lagi. "Aku di kuasai cemburu," Kata si brengsek lagi, "Padahal kita punya tujuan yang lebih besar dari itu."
Busyet emang ni cowok setengah Mateng. Terpaksa aku bogem aja mukanya!
Nesya berteriak dalam keterkejutan. "Ziaaan?" Suaranya lirih meminta penjelasan.
Si cowok jadi-jadian terhuyung di pojokan. Darah merah mengalir dari lubang hidung. Aku keluarin kartu nama dari dompet. "Kalo lu butuh ganti rugi, telpon aku langsung!" Kartu nama dilempar sampai mantul di pipinya.
Pintu evelator berdenting ketika tiba di dek lima belas. Deru baling-baling helikopter menyambut kami begitu keluar ke area kolam renang.
"Ayaaaahhh!" Nesya berseru tak percaya begitu menyadari lambang palang merah di badan helikopter. Secepat kilat dia berlari menuju tangga. Evelator penumpang memang hanya sampai area kolam renang. cuma lift dari klinik yang sampai ke helipad. Jadi dari sini ada dua tangga yang harus dinaiki. Pertama ke area outbond, lalu baru naik lagi ke area helipad.
Nesya melompat tangga dengan lincah, sementara aku agak kepayahan ngikutin dia dari belakang. Jelas banget butuh olahraga buat nambah stamina. Kalau kaya gini, Baru kerasa dah beda usia kita emang jauh banget.
Dokter Ahmad berdiri cukup jauh dari pendaratan. Dia sudah siap dengan mengenakan kacamata Aviator. Nesya menguncang-guncang tubuh om Surya. mulutnya terbuka lebar, namun suaranya tenggelam oleh deru baling-baling helikopter yang sedang mendarat.
Angin yang tersapu oleh baling-baling membuat kelopak mata tak kuat membuka. aku berdiri membelakangi helikopter dan berbisik di telinga dokter Ahmad.
"Gimana kondisi om Surya, dok?" dia tak menjawab. Aku gak bisa mengira-ngira ekspresinya dibalik kacamata gelap itu.
"Mas Zian belum buka chat saya, ya?"
Chat? Mana sempat buka chat?
Helikopter telah sempurna mendarat. Dokter Ahmad membisikkan nama rumah sakit sebelum mendorong brangkar om Surya untuk di masukkan ke dalam helikopter.
Nesya mengikuti sambil menangis keras. Aku tarik badannya sembari menenangkan. "Kita ikutin lewat jalan darat."
Gosh! kenapa hidup aku makin aneh gini?
__ADS_1