Istriku salah arah

Istriku salah arah
Tak peduli dia bercahaya atau tidak


__ADS_3

Hari ini targetku cuma mempelajari seluk beluk perusahaan. Setelah itu cabut buat latihan singkat di dojang punya senior yang memilih berprofesi jadi pelatih taekwondo.


Sudah lama banget tidak melemaskan otot-otot, badan auto kaku-kaku diajak latihan kibon dongjak doang. Untung masih rutin lari keliling komplek tiap hari, jadi gak terlalu parah kakunya.


Seniorku yang sekarang sudah jadi saboeumnim sampai geleng-geleng kepala.


"Ke mana aje, lu!"


Aku hanya membalasnya dengan nyengir. Mau gimana lagi. Terakhir latihan taekwondo kayanya waktu jaman kuliah, berarti sekitar delapan tahun lalu. Tua banget ya aku.


Biar badan gak kaget, sore ini aku latihan ringan doang, sekadar penyegaran. Terus dilanjut ke rumahnya Sodik di perbatasan Bekasi-Jakarta, biar gak terlalu jauh besok ke sasana tinju yang di sharelock cowok jadi-jadian tadi. Sekalian ngambil data video asli kemarin dari server.


Sebagai hacker, Sodik keukeuh cuma deliver data penting secara offline, gak lewat internet. Soalnya, secanggih apa pun end to end encrypton, selama seliweran di dunia Maya, tetap ada celah yang bisa dimasukin atau dibajak.


Aku dan Sodik ngobrol di teras sembari makan martabak yang kubeli sebelum sampai di rumahnya.


"Eh, ada nak Zian." Sapa seorang wanita paruh baya yang baru saja datang. "Kapan nyampenya?"


"Belum lama Mak." ucapku sambil berdiri mencium tangan wanita paruh baya itu. "Emak apa kabar?"


"Emak baik nak." Jawabnya sambil menepuk pundakku. "Oya, istri kamu mana? Maaf ya, kemarin emak gak bisa ikut Sodik untuk ke acara nikahan kamu." lanjutnya.


"Hehe, gak apa-apa Mak. Istri Zian lagi lagi di rumah sakit, jagain papanya."


"Oh, mertua kamu sakit? Sakit apa?"


"Kanker Mak."


"Astaghfirullah hal adzim." Ucap emaknya si Sodik penuh prihatin.


"Mak dari mana?" Aku mengalihkan obrolan.


"Mak dari pengajian." jawabnya, aku balas dengan Manggut-manggut. "Lain kali bawa istri kamu kesini ya, Emak juga pengen kenal."


"Iya Mak, kapan-kapan Zian bawa kesini. Tapi Zian gak bisa janji ya Mak." Memang gak bisa janji. Karena belum tentu bisa bawa Nesya kesini.


"Zian udah nikah, kamu kapan?" Emak berucap kepada anaknya yang sedari tadi duduk santai di kursi teras. "Emak udah pengen nimang cucu lho."


Sodik menghela nafasnya. "Iya Mak, Doain aja secepatnya." Jawab Sodik lirih.


"Itu terus jawabanmu. Bosan Emak dengernya." Aku menahan tawa. Sodik hanya bisa menggaruk kepalanya. "Emak kedalam dulu ya Zian, mau ganti pakaian." Lanjut Emak menatapku.


"Eh, iya Mak." Lalu emaknya si Sodik berjalan masuk kedalam rumah.


"Gua heran kenapa orang-orang pengen banget punya Bayi!" Keluh Sodik sambil nyomot sepotong martabak.


"Hmm..." Aku jadi ingat Fatih yang pipinya gembil merah merona. "Lu udah pernah gendong bayi?" tanyaku pada Sodik.


"Belum lah, mau gendong bayi siapa?" Sahabatku menjawab sigap.

__ADS_1


Aku manggut-manggut meledek dalam hati sambil ngunyah martabak. Pantes saja dia nanya gitu, soalnya belum pernah merasakan sensasinya menggendong bayi.


"Gaya lu! Kaya yang pernah gendong bayi aja!" Sodik melemparku dengan plastik bungkus martabak yang diuntel-untel jadi bola kecil.


Aku refleks menangkisnya pakai lengan. "Lo musti cobain dulu gendong bayi, biar paham rasanya, hahaha!" balasku seraya tertawa.


"Halah! Lu paham juga dari mana? Mau membuat bayi sama siapa? Mending gua, biar belum nikah tapi bisa membuat. Ya minimal pacar gue normal lah, hehehe."


Kampret! Aku balikin buntelan plastik bungkus yang tadi dia lempar dan ternyata telak mengenai jidatnya.


"Bro! Udah lu ceraikan aja tuh cewek. Bening juga buat apa kalau belok? Cewek lesbi gak ada gunanya buat kita para cowok!"


Emang iya, sih. Tak ada salahnya apa yang disampaikan Sodik. "Tunggu aja tanggal mainnya, Bro. Entah kapan. Mungkin tahun depan, atau kalau bisa lebih cepet."


"Lu tahu?" Rona muka Sodik langsung berubah serius, suaranya dia buat rendah hampir bisik-bisik.


"Apaan?" tanyaku ikut penasaran.


"Siska lagi ada masalah sama suaminya."


"Hah? Masalah apa?" tanyaku terkejut. Sedikit tidak percaya karena kemarin dia terlihat begitu mesra dan romantis dengan suaminya. Bahkan sampai gelendotan segala di depanku.


Sodik ngangkat bahu. "Kayanya dia curiga si Safik selingkuh."


"Hah? Anak alim gitu bisa selingkuh?"


Alis Sodik terangkat mengiyakan. "Ya gak tahu. Yang jelas Siska curiga gitum. Makanya dia minta aku nyadap WA-nya Safik buat ngebuktiin."


"Cih! Kalau nikah lagi gak bilang-bilang apa bedanya dengan selingkuh?"


"Beda, Bro! Kalau selingkuh jelas gak halal. Kalau nikah, ya udah, mau gimana lagi?"


Si Sodik gak terima. "Tetap, sama aja kaya selingkuh, Bro!"


"Ya gak-lah! Nikah lagi itu gak butuh persetujuan istri pertama. Nikahnya tetap sah, biarpun gak ngasih tahu sama istri pertama."


"Aku gak ngomongin soal sah gak sah. Tapi gimana adabnya. Seenggaknya kasih tahu-lah. Istri itu kan belahan jiwa. Gimana caranya membuat belahan jiwa baru, terus belahan jiwa yang lama gak dikasih tahu?"


Penjelasan Sodik membuat aku ngakak. "Itu konsep lu, Bro. Aku ngomongin dalam konteks ajaran Islam yang aku tahu, yang aku yakin, diimani juga sama si Safik."


Obrolan kami soal Safik berhenti sampai di situ. Selanjutnya kita sama-sama masuk kedalam rumah buat tidur. Bedanya si Sodik masih ada kerjaan katanya. Jadi aku masuk ke kamar tamu dan merebahkan tubuh.


Sejujurnya aku mendadak ingat Nesya kalau sedang tiduran sendiri gini. Lagi ngapain tuh anak? Telpon gak ya? Gak usah! Paling lagi teleponan sama cowok jadi-jadian. Awas aja, besok aku buat bonyok mukanya tuh si lesbi lelakinya.


Atau mending aku gangguin aja ya, supaya gak lanjut paparannya? Hahaha! Tapi kalau soal telpon, kayanya enakan nelpon Aisyah, suaranya membuat adem. Kalau nelpon Nesya entar malah kena semprot karena gangguin dia pacaran sama cowok jadi-jadian, hahaha.


Akhirnya aku telepon Nesya. Suara Aisyah emang membuat adem, tapi ngobrol sama Nesya membuat hidup lebih berwarna. Ngakak sendiri mikir kaya gini. Bilang aja gak punya alasan nelpon akhwat berjilbab gede itu, hahaha.


"Halo?" Suara dari seberang sana agak cempreng. Kayanya Nesya lagi pilek atau abis nangis?

__ADS_1


"Hai, lagi ngapain?"


"Lagi nahan diri supaya gak nelepon kamu, eh malah kamu yang telepon. Apa kita bisa telepati?"


Lah? Ini anak emang perlu dikasih Gombal Award. Jago banget ngegombalin hatiku.


"Bilang aja pengen nelepon cowok jadi-jadianmu, tapi gak diangkat-angkat, hahaha," balasku.


"Udah. Tadi udah VC-an malah."


"Terus ngapain butuh nelepon aku?" Gak ada jawaban. Hanya desah napasnya seperti berembus di telinga. "Halo? Nesya?" Udah tidur kayanya.


"Aku gak bisa tidur, meluk Zizil aja gak cukup malam ini. Aku pengen denger suaramu juga, Yan."


"Hah, Zizil?" Dia terkikik geli.


"Zian kecil, jadi namanya Zizil."


"Jangan bilang itu nama boneka beruang ya?" Suara kikiknya makin terdengar kegelian.


"Iya, kemarin aku bisa tidur sama Zizil. Tapi sekarang aku pengen denger suaramu," Nesya merengek manja.


Dasar anak ini. "Sekarang udah denger suaraku. Apa udah bisa tidur?"


"Hmm, gak tahu. Kamu jangan tutup telepon, ya. Aku mau tidur."


Lah? Terus aku musti ngapain? Megangin hape sampai tangan kepanasan?


"Bacain aku cerita, dong!" Nesya meminta dengan suara memelas.


Aku cuma bisa narik nafas. Sebenarnya, inilah yang terjadi. Nesya sedang rindu ayahnya. Om Surya dulu yang setiap malam membacakan cerita menjelang tidurnya.


"Oke. Pada suatu hari, di kerajaan bulan, Putri cahaya purnama sedang terserang penyakit aneh.."


"Apa itu?"


"Ssst, dengerin cerita gak pake nanya. Merem aja!"


"Oke, aku merem.."


"Sudah beberapa hari ini Putri yang cantik itu tidak bisa tidur." Terdengar suara gelak tertahan di seberang sana.


"Ih, kamu nyeritain aku!"


"Ssst! Dengerin cerita gak pake nanya. Merem aja!" Aku bisik-bisik, pura-pura marah.


"Iya, aku merem..."


Aku lanjut cerita Putri cahaya dan pangeran bumi dengan suara yang makin lama makin dikecilkan sampai cuman buka tutup mulut doang. Nesya akhirnya tidur, buktinya dia gak protes biar pun aku berhenti ngomong agak lama.

__ADS_1


"Selamat tidur, Nesya." Sekarang aku juga udah siap buat tidur.


Dari lubang angin, purnama tak lagi bulat sempurna. Secuil bagiannya telah kehilangan cahaya matahari. Tapi bumi tetap meletakkannya di langit. Tak peduli dia bercahaya atau tidak.


__ADS_2