
Setelah bersekoci demi sampai di pantai, kami pun harus berkendara dua puluh menit untuk sampai ke rumah sakit. Untung sempat minta nomor kantor dream travel cabang Banyuwangi buat pinjam mobil.
Sepuluh menit pertama dihabiskan Nesya dengan memandang ke luar jendela. Paling bosan kalau nyetir hening-heningan gini. Capeknya jadi berasa Lima kali lipat.
"Kamu marah karena aku tonjok si cowok jadi-jadian itu?" Gak ada jawaban. kepalanya masih aja disandarkan di kaca jendela. "Atau karena ayahmu?" gak juga ada jawaban. Dari bangku driver, mukanya gak kelihat jelas.
Aaargh! gak konsen nyetir kaya gini. lihat jalan sambil lirik-lirik Nesya. Aku nyaris putus asa.
"Please, nes. Say something. I can't see your face clearly." Terdengar Nesya menghembuskan nafas lemah.
"Aku belum sempat ngomong apa pun sama ayah," Katanya dalam suara serak. "Gimana kalo aku gak punya kesempatan lagi?" Sekarang terdengar seperti keluhan putus asa.
"Dokter Ahmad akan lakukan yang terbaik." Itu kalimat paling bagus yang masih bisa dipikirkan.
Terdengar Nesya mengingsut ingus ke hidung. Aku harus fokus ke jalanan. apa boleh buat, untuk tangisan kali ini, gak ada yang bisa aku tawarkan.
* * * * *
Om Surya baru aja di pindahkan ke ruang ICU ketika kami sampai di rumah sakit. Dokter Ahmad menyambut dengan muka lelah tapi tetap berusaha untuk menguatkan.
Nesya tergopoh-gopoh menghampiri. Air matanya udah kering dari wajahnya meski sembab di mata tak bisa disamarkan. "Ayah kenapa, dok?" Tanyanya dengan nada tergesa-gesa.
Dokter Ahmad tersenyum tipis. "Alhamdulillah, sekarang, sudah stabil, meski masih koma. Sepertinya otaknya sempat kekurangan oksigen beberapa waktu. Kita beri stimulus terbaik, koma biasanya hanya berlangsung beberapa jam. Jadi dua puluh empat jam ini waktu kritisnya."
"Maksudnya?" Suara Nesya terdengar panik sekali.
Dokter Ahmad menghela napas. "Semoga pak Surya gak lama-lama komanya." Ucap dokter Ahmad.
Nesya segera memburu ke kamar sang ayah. Aku mau ngikutin tapi ditahan oleh dokter Ahmad.
"Bisa kita bicara?" suara sang dokter menekan. Kayaknya gak ada pilihan lain. Lagipula, Nesya pasti membutuhkan waktu khusus berdua dengan ayahnya.
Dokter Ahmad mengajakku ke lantai dasar, tempat berbagai gerai makanan. Menawarkan beragam alternatif sajian pengisi perut. Kami masuk ke salah satu kedai bakso yang menawarkan tempat duduk nyaman ala cafe. Tempat makan ini baru buka ketika pak dokter melangkahkan kaki masuk. Untung saja bakso urat andalan kedai ini sudah siap untuk disajikan.
"Sudah baca chat saya tadi pagi?" Dokter Ahmad membuka percakapan begitu kami duduk menghadap jendela kaca.
__ADS_1
Dapat pertanyaan kaya gitu, tanganku refleks ngambil hape di kantong. "Maaf, belum sempat, dok." Aku buka aplikasi massengger dan cari pesan dokter Ahmad.
Ternyata emang ada pesan yang sudah diterima pukul delapan lebih sepuluh menit. Rasanya ini bersamaan dengan waktu ngobrol sama om Surya. "Tolong jaga stabilitas emosi pak Surya." Begitu isinya. Kepalaku mendadak puyeng, keinget ekspresi om Surya waktu berdebat hebat sama anaknya.
"Jadi kondisi om Surya hari ini dampak dari kondisi emosionalnya dok?" Tanyaku. Dokter Ahmad gak langsung jawab.
Tapi akhirnya dia bilang, "Bisa jadi. Mas Zian ngobrolin apa sama beliau tadi pagi?" Lanjutnya bertanya.
Bukan obrolan sama aku yang jadi masalah. Obrolan dengan Nesya yang bikin emosi memuncak.
"Ya sudahlah." Kata dokter Ahmad. Kepalaku jadi makin nyut-nyutan migrain kambuh otomatis. "Ya kita fokus buat ke depannya," Pak dokter melanjutkan. " Saya masih sangat berharap pak Surya bisa segera sadar. Semoga dalam beberapa hari ini." ucapan pak dokter berhenti disini. Matanya menatapku dalam, kaya lagi mengukur-ku. Gak tahu apa yang dia ukur.
Dua mangkuk bakso datang dibawa pelayan. Aroma micin bercampur daging menguar, menguasai syaraf. Beneran enak banget baunya. Bikin auto ngences kalau gak cepet-cepet menutup mulut.
"Mas Zian tahu, kan, kenapa dapat hadiah dua puluh lima persen saham itu?" Ah, itu lagi. Hadiah yang terasa seperti musibah.
Dokter Ahmad menarik nafas dalam-dalam. "Tadinya ditawarkan pada saya." Lah? Ternyata. "Tapi saya gak mau. Berat. Saya gak ngerti bisnis, dan gak ngerasa cocok di bidang bisnis. Perusahaan bisa hancur kalau saya yang pegang. Dan kalau perusahaan sebesar angkasa group hancur, ribuan karyawan yang akan kena dampaknya. Berarti ribuan keluarga juga yang bakal menderita."
Aku menusuk bakso urat di mangkuk pakai garpu. Pak dokter benar juga. Jadi salah satu orang yang punya kuasa tertinggi dalam pengambilan kebijakan di perusahaan berarti memegang amanah atas kehidupan ribuan orang yang menanggung keluarga masing-masing. Bukan urusan mudah.
Sialan!
"Saya gak ngerti itung-itungan bisnis, yang saya tahu, orang-orang disana membutuhkan klinik itu. Kita gak cuman melakukan tindakan kuratif tapi juga preventif dengan penyuluhan-penyuluhan melalui sekolah," Dokter Ahmad lanjut bercerita, "Dua lembaga ini, sekolah dan klinik, ngebantu banget ngikutin kualitas hidup orang-orang disana." Dia menyeruput jeruk hangat pelan-pelan. "Saya gak tahu kaya gimana di lokasi lain. Kabarnya ada tiga di Papua dan dua di Kalimantan. Tapi, kayanya sama aja. Mungkin beda tipis."
Kepalaku jadi makin puyeng. Untung baksonya enak, lumayanlah buat bikin hidup lebih nikmat.
"Jadi, saya benar-benar berharap pada mas Zian. Dari cerita pak Surya, saya percaya, mas Zian adalah orang yang tepat untuk melanjutkan impian ini."
Aaargh! ini mengesalkan.
"Dokter tahu Nesya udah punya pacar?" Pak dokter sangat terkejut hingga ia mengurungkan niat menyiapkan sesendok pertama ke dalam mulut. "Hehe. Gak tahu, ya?" Iya iyalah. Aib banget itu. Mana mungkin om Surya cerita kalau anaknya lesbian.
"Iya, saya sama sekali gak tahu. Selama jadi dokter pribadi, saya gak pernah lihat mbak Nesya sama cowok." Dokter Ahmad lalu menyuap potongan bakso beserta bihun masih dalam pose tertegun tak percaya.
Ketawain aja. Ya iyalah, pacarnya cewek, dok! Emang nasibku yang sial sampai langit ketujuh.
__ADS_1
"Nah, sekarang dokter udah tahu." dokter Ahmad mengunyah baksonya perlahan. Kedua alisnya hampir bertaut, bikin mukanya kelihatan konyol.
Salah! Yang konyol itu aku. Mau aja dijodohin karena mengira noting to lose, tahu ceweknya cakep setara Dewi aphrodite. Padahal, mau setara tujuh kali aphrodite juga percuma kalau ternyata lesbian. cih!
"Jadi sekarang gimana?" Tanya dokter Ahmad terdengar bersimpati.
"Statusnya istri saya, tapi hatinya milik orang lain. Menurut dokter gimana?"
"Tapi mas Zian, kan gimana pun tetap suaminya. Di hadapan Allah atau di mata negara, mas Zian suami sahnya mbak Nesya. Siapa pun dia di luar sana, statusnya cuma pacar."
"Terus kalau saya suaminya kenapa? Saya punya hak buat memperkosa dia, gitu?" Tanyaku ada sedikit nada kesal.
Paling kesel sama para lelaki yang mengira ketika merasa jadi suami, maka berhak melakukan apa pun tanpa memperdulikan perasaan istrinya. Padahal dia menikahi seorang perempuan, bukan boneka yang suka-suka mau diapain juga.
Dokter Ahmad kaya yang kehabisan kata-kata. Matanya menatap kosong taman di sebrang kedai ini. "Harusnya, mbak Nesya juga paham kalau dia udah jadi istri mas Zian. Dan cowok di luar sana, siapa pun dia, gak punya arti apa-apa lagi dalam hidupnya.
"Harusnya, ya dok." Aku menimpali sinis. Ya harusnya itu berarti idealnya. Tapi Nesya bukan cewek ideal. Dia cuma cewek lesbian.
"Sebenarnya pengen ngajuin cerai saat ini juga..."
"Jangan!" Dokter Ahmad memotong cepat.
CK! iya, aku tahu. Gak segampang itu. Sekarang banyak hal yang musti di pertimbangkan. Biar pun teriak sekencang-kencangnya bahwa ini pernikahanku, suka-suka aku mau dibawa kemana. Tetap aja, akan ada banyak yang mungkin terluka kalau perceraian menjadi jalan yang diambil saat ini.
Nesya gak akan dapat dividen lagi tahun ini dan dia belum siap untuk itu. Anak manja itu harus diajarin dulu cara mempertahankan hidup, baru dilepas. rasanya aku jadi penjagal kehidupan kalau ngebiarin itu cewek terlunta-lunta gitu aja.
Saham yang dalam penguasaan ku sekarang juga akan jadi milik yayasan. Berarti tiga puluh lima persen dimiliki yayasan. Jika kami bercerai secepat ini, gabung sama sepuluh persen milik Nesya. Itu adalah jumlah terbesar saat ini. Situasi seperti itu rawan menghasilkan konflik kepentingan di yayasan. Semua orang tahu, uang itu manis.
Kemungkinan terburuk, yayasan yang tadinya fokus pada kegiatan sosial malah merubah jadi entitas bisnis. Ini jelas merusak keseluruhan visi dan misi yayasan.
Skenario lain, perusahaan jadi di pimpin oleh orang yang tidak paham bisnis. Akibat terburuknya adalah kebangkrutan yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja para karyawan. Seperti yang dikatakan dokter Ahmad, ribuan keluarga menjadi taruhannya.
"Eh, maaf," Lirih suara dokter Ahmad, "Saya paham, ini bukan keputusan mudah." Hah! kalau gampang, aku udah cerai dari kemarin. "Tapi, yang meletakkan mas Zian pada posisi ini adalah Allah," Katanya lagi, "Allah juga yang akan memberikan jalan keluarnya untuk mas Zian."
Yah, mudah-mudahan deh, perjalanan kedepannya baik-baik saja. Gak ada yang terluka, kecewa, kerugian maupun sakit hati bagi semua yang terlibat.
__ADS_1
Yah, mudah-mudahan. Meski kemungkinan itu cuma 0,1%.