Istriku salah arah

Istriku salah arah
kelelahan bikin ngelantur


__ADS_3

"Kok kamarnya dua?" Nesya berbisik di evelator begitu aku kasih kartu kunci kamar.


Aku diam karena males banget jawabnya. Udah jelas, ngapain sekamar sama cewek yang gak bisa diapa-apain.


Dia mulai merajuk, "Entar aku tidur sendirian, dong?" Iya iyalah. Menurut kamu?


"Emang biasanya tidur sama siapa?"


"Sama niko-lah." Ya ampun! nyesel aku nanya.


"Kalau di rumah juga tidur sendiri, kan?"


"Kalau di rumah kan banyak temennya. Ada po, Kitty, Simba.."


"Simba?"


"Boneka-bonekaku." jiah!


Pintu evelator terbuka di lantai lima. Aku keluar duluan tapi dia langsung ngerangkul tanganku gak mau ditinggal.


"Ya? alAku tidur sama kamu, ya?" suara Nesya imut banget dan matanya itu bikin aku gak bisa nolak, "Kan kita udah nikah juga." lanjutnya.


Sompret nih anak! kalau ada maunya aja ngomong udah nikah, coba kalau ada si cowok palsu disini. Mana mungkin rangkul-rangkul tanganku kaya gini.


"Terus kama satunya dibatalin, gitu?" Matanya segera berbinar kaya orang kesambet.


"Kasih aja buat dokter Ahmad. Dia menginap dimana?"


Aku angkat bahu. "Tadi katanya ke ruang dokter."


"Nah, kan kasian kalo musti tidur di rumah sakit. Lagian ini juga gak gitu jauh dari rumah sakit, ya kan?" Ampun! tatapannya itu tolong dikondisikan. Aku gak tahan pengen nabok eh nyip*k.


Akhirnya sampai juga di kamar 510. Si roomboy udah nungguin di depan pintu.


"511-nya mana?" Nesya menanyakan kamar yang aku pesan buat dia.


"Di koridor sebelah, Mbak," Mas roomboy menjawab sopan.


"Hah?" Nesya langsung menggaet tanganku. "Tuh, kan jauh," katanya dengan pandangan memelas ngeselin tingkat dewa-dewi emang.


Si mas roomboy menyela, "Ini ranselnya yang hitam apa yang merah, yang ditaruh di sini?" Aku tarik nafas panjang ngelihatin Nesya menatap penuh harap.


Alamat kehabisan stok lotion aku. "Dua-duanya aja, mas!" Nesya hampir terlonjak gembira. Spontan dia cium pipiku.


Hadeh! PHP aja terossss! sabar, ini ujian!

__ADS_1


Nesya berlari masuk dengan sumringah. Seperti biasa, selalu menghempaskan badan ke tempat tidur. Gak pake nanya-nanya, dia langsung jadi penguasa kasur.


"Minggir, aku mau tidur." Yes! capek banget hari ini. Lelah badan, letih pikiran.


"Aku juga," katanya sambil merangkak ke sampingku. Terus gak pakai malu dia langsung ngerangkul tanganku dan merem.


Gimana bisa tidur kalau gini? bisa-bisa malah bangun sendiri nanti. "Sebenarnya kamu anggap aku apa, nes?"


"Hmm?" Dia sedikit mendongak ngelihat aku.


"Kalau ada di cowok palsu itu, kamu pasti gak bakal ngerangkul-ngerangkul kaya gini kan?"


"Ya enggaklah," dia menjawab cuek, "Aku pasti bobo sama Niko, dong. Eh, namanya Niko, ya. Bukan cowok palsu!"


Suka-suka aku. Males nyebut namanya. "Kalau dia tahu kamu kaya gini sama aku, apa dia gak marah?"


"Dia gak bakal tahu, kecuali kamu kasih tahu." Seru Nesya bernada ancaman.


"Kalau aku kasih tahu?" Neysa tiba-tiba ngangkat kepalanya dan langsung menatap mataku.


"Kamu gak akan kasih tahu," ujarnya tajam.


"Kenapa?"


"Karena kamu gak mau nyakitin aku, ya kan?" Sekarang dia pakai tampang melas lagi.


"Kenapa? Aku salah?" Suara Nesya makin memelas.


Sialan! Dia pinter banget memanipulasi orang.


"Aku gak mau diginiin."


"Maksudnya diapain?"


"Kamu anggap aku apa sebenarnya?" Kekesalan mulai tumpah. "Kalau kamu anggap aku teman, bisa nggak kamu rangkul-rangkul tanganku kaya tadi di depan cewekmu itu?" Dia menggeleng. "Kalau gitu kamu punya hubungan rahasia sama aku. Sama aja kaya aku jadi selingkuhanmu. Tapi kamu kan lesbian. Dan aku masih cowok tulen. Jadi maumu apa sebenarnya?" Kekesalanku tumpah walau dengan nada yang terkontrol.


Dan seketika Nesya berkaca-kaca. Baru diomongin gitu doang udah baper. Ah, ****! Dasar cewek cengeng!


"Jadi, aku gak boleh pegang-pegang kamu lagi?" Jarinya menyusut air di ujung matanya.


Ya, gak gitu juga. Sialan! Jangan nangis lagi di depanku, Nesya!


"Aku cuma pengen tahu, biar clear dan aku gak berasumsi. Posisiku di matamu sebenarnya apa?" Tanyaku lebih halus lagi.


Eh, dia malah nangis beneran. Nutup muka sambil sesegukkan. Hadeh, ribet amat urusan sama cewek satu ini.

__ADS_1


"Sini." Ya udah, aku peluk lagi dia biar tenang dulu. Kalau gini terus, kapan istirahatnya?


Nesya menangis, sebentar. Lalu diam, bersandar di pundakku sambil ngitungin kancing polo shirt. Aku sudah malas ngomong. Capek banget rasanya. Segala kata-kata kaya mentok ke tembok.


"Apa kamu gak bisa jadi Zian aja?" Tanyanya lirih.


Hhh! Capek. Capek dengan pertanyaan. Capek dengan tingkahnya. Capek dengan semua ini. Aku lepasin tangannya dari pundak buat rapihin bantal bakal tidur. Inilah waktu yang tepat untuk rebahan.


Neysa menoleh, mata coklat mudanya langsung menantang dari atas. Rambut lurus hitam membingkai kulit putihnya yang tanpa noda. Gila! Cantik banget.


Bibir merah muda itu membuka, melontarkan kata, "apa perlu banget pakai embel-embel di belakang namamu?" Ini anak ngomong apa, sih? Males banget aku meladeninya!


Dia merangkak mendekat hingga duduk tepat di sisiku. "Apa kamu gak bisa jadi Zian aja?" Nesya mengulang pertanyaan lagi.


Pertanyaan menarik sih, tapi... "Emangnya buat kamu Zian itu apa?" Akhirnya aku memberondong dengan pertanyaan dalam nada kesal pakai banget!


Namun cewek lesbi yang aku nikahin kemarin ini diem sebentar. Lalu bicara dengan setengah rebahan bertopang kepala. "Zian adalah orang yang selalu mendukungku apapun yang terjadi. Orang yang gak pakai banyak tanya, pasti bakal langsung ngulurin tangan buat bantu aku begitu aku jatuh. Itu Zian buatku." Dia tersenyum manis sembari mainin lagi kancing polo shirt-ku.


Aku bingung, ini cewek maunya apa, ya? Mainin kancing bajuku kaya lagi minta ijin buat bukain baju. Buka aja dah! Aku ikhlas, kok!


"Kamu orangnya kaya gitu, kan?" Tanya Nesya setelah aku hanya terdiam dan meremin mata.


Jiah! Saat aku buka mata, dia pakai tatapan itu lagi. Bikin mukanya kelihatan manis sekaligus imut ngegemesin. Sialan bener! Kalau mainin kancing cuma buat godain, mending jauh-jauh, dah! Aku gak terima di PHP-in terus sama cewek.


Aku duduk, ngangkat lutut kanan, ngasih penghalang biar dia segera jauh-jauh. Tapi Neysa malah ngerangkul pundak dan bersandar di bahuku.


"Nes, itu bukan aku."


"Itu kamu, yan!"


"Bukan!" Aku cepat membantah. Mengingat gimana dia ngerangkul tangan ayahnya tadi, yakin banget, itu bukan aku. "Itu gambaran ayah ideal yang kamu pengenin! Kamu gak bisa memproyeksikan harapanmu ke aku. Jelas kamu bakal kecewa, Nes." Aku rebahan lagi. Setengah tengkurep membelakanginya. Biar dia tahu diri dan gak pegang-pegang lagi. Aku cepek, titik!


Belum sempat merem, Nesya udah ngomong lagi. "Tapi kamu bilang, kamu menerimaku gimana pun keadaanku. Iya, kan?" Cepat Akau balik dan duduk.


"Iya!" Nesya terhenyak. "Menerima, gak selalu mendukung. Aku nerima keputusanmu jadi lesbian. It's your choice anyway, selama kamu hepi, go on!" Jawabku sewot. Neysa mendelik bingung. "Tapi choice anyway. selama kamu hepi, go on!" jawabku sewot. Nesya mendelik bingung.


"Tapi aku gak mendukung tindakan lesbian kamu! seluruh mahluk berkelamin, hidup untuk bereproduksi. Dan sebagai lesbian, kamu merusak tujuan besar evolusi mahkluk hidup hingga terbentuknya kelamin."


Aku melanjutkan ceramah. Nesya mendecih sinis. Aku maju sedikit, mendekatinya hingga jarak sejengkal. "kamu tahu black widow?"


"Grup band?"


"Laba-laba." dia mengernyit. "Black widow jantan membiarkan tubuhnya habis jadi sumber protein si betina tepat setelah dia berhasil menanamkan benih ke tubuh si betina." Jarak kedua alisnya makin dekat. "Dia tahu dia akan mati, tapi tetap aja bekerja keras merayu si betina agar bersedia menerima benihnya. Dia harus membuktikan bahwa ia cukup hebat dan pantas untuk membuahi telur si betina. Setelah tugasnya selesai, dia memberikan dirinya agar si betina dapat melahirkan generasi penerus yang sehat dan kuat." Nesya seperti menahan nafas.


"Sepanjang sejarah evolusi kehidupan. Kelamin tidak ditunjukkan untuk memuaskan birahi. Kelamin adalah alat untuk mendapatkan generasi mendatang yang gemilang. Bahkan rasa nikmat dan senang yang menyertainya hanya untuk memastikan bahwa kita gak akan pernah bosan melakukan proses mengembangkan keturunan." Nesya menghembuskan nafas pelan, membuang muka, menghindari tatapanku.

__ADS_1


Aku gak mau ambil pusing. Kelelahan sudah bikin omonganku ngelantur. Sekarang benar-benar waktunya tidur. Titik!


__ADS_2