Istriku salah arah

Istriku salah arah
iya-in aja dah


__ADS_3

Tadi kepalaku udah ringan. Sekarang jadi berat lagi. Harusnya gak gini. Harusnya ada solusi yang gak perlu bikin masalah baru.


Fight or flight! Dua-duanya bikin sakit. Di depan toilet aku terhenti. Ada orang yang keluar dari toilet menuju ruangan di seberangnya. Lelaki itu jalan berjinjit dengan sepatu tak terpasang sempurna. Muka dan rambutnya basah, begitu pula ujung lengan baju yang dilinting hampir ke bahu. Dia mengangguk, meminta maaf karena hampir aja nabrak.


Di pintu seberangnya tertulis praying room diikuti kubah masjid. Lelaki tadi melepas sepatu dan meletakkannya di rak pendek yang tegak di sisi pintu. Dia membuka pintu lalu masuk tanpa menoleh lagi.


Aku dulu rajin ke masjid. Ya iyalah, tinggal di pesantren, gak sholat di masjid bisa-bisa digunduli abis. Sekarang ke masjid hanya hari Jum'at aja. Itupun karena mama merepet-repet nyuruh jumatan.


Tuhan pasti marah kalau aku terus-terusan begini. Gini-gini, aku pernah ikutan pelatihan sholat khusyu. Gila, kan? Sholat aja ada pelatihannya!


Waktu itu diajakin papa buat ngisi liburan setelah satu semester terpenjara di pesantren. Di situ kita diajarkan tips dan trik biar sholat jadi khusyuk. Pas jaman kuliah, ikutan yoga. Dan, yes! Shock banget bahwa ternyata inti dari pelatihan waktu itu sama dengan yoga. pemusatan pikiran. Akhirnya aku memutuskan buat sholat.


Laki-laki yang tadi hampir nabrak, sekarang sedang duduk bersila sambil berzikir gak putus-putus. Kepalanya nunduk banget bikin mukanya hampir gak kelihatan. Dari mulutnya keluar seruan lirih, "Allah, Allah, Allah..."


Aku bersila di sampingnya, malas balik ke kamar perawatan. Lagi gak pengen berhadapan sama Nesya dan kenyataan.


Suara ingus diingsut terdengar memenuhi ruangan. Laki-laki di samping aku memencet hidung keras-keras. Lendir di ujung jarinya kemudian disapukan ke celana.


Hadeh, salah aku apa, ya? Dari pagi ketemu orang nangis Mulu. Aku tepok pundaknya. Jelas dia kaget dan spontan noleh. Matanya sembab dan Pipinya basah.


"Ada yang bisa saya bantu, pak?" Spontan aja aku ngomong gitu.


Dia tersenyum pahit. "Makasih." Lalu membersihkan sisa air matanya dan menegakkan punggung.


Ok. Gak mau ngomong juga gak apa-apa. Terusin aja nangisnya. Dia nyenderin kepala ke dinding dan mulai ngomong.


"Istri saya sedang operasi." Aku nyimak. Siapa suruh nawarin bantuan tadi. Padahal diri sendiri lagi butuh bantuan sebenarnya. "Dan saya gak punya uang buat bayarnya."


Alamak! "Sakit apa, pak?"


"Gak sakit." Dia tersenyum pahit. "Melahirkan," ujarnya lagi.


Jiah! Gak punya duit. Gak usah punya anak, Napa? Beli k****m kan lebih murah.


Dia narik napas panjang tanpa mengalihkan pandang dari langit-langit. "Ini masih anak ketiga, harusnya bisa di-cover BPJS." Hah? Anak ketiga? Aku heran kenapa orang-orang seneng banget produksi anak. Gak mikirin gimana ngurusnya apa? "Tapi ternyata iuran BPJS saya udah tertunggak setahun sama kantor." Dia narik napas lagi.

__ADS_1


Kalau udah gini, baru nyesel! "Harusnya kalau gaji saya masih dibayar full, biaya rumah sakit gak bakal jadi masalah." Matanya berkaca-kaca, menerawang jauh menembus langit-langit. "Tapi ini udah lima bulan gak dibayar." Air matanya luber juga akhirnya. Cepat-cepat diseka dengan ditingkahi tawa miris.


Gini susahnya kalau kerja sama orang. Kalau pas dapet orang baik, ya enak banget. Kalau dapat orang gak berprikemanusiaan begini jadinya, kaya bapak ini. Berabe kan?


"Kenapa gak keluar aja, pak? Ngapain kerja sama orang gak tanggung jawab!"


Dia menghembus napas putus asa. "Saya udah ngelamar kemana-mana, pak. Belum ada yang nyangkut. Faktor usia mungkin."


Yah, aku taksir usianya sekitar empat puluhan. Umur segitu biasanya udah pada jadi manajer atau malah direktur.


"Mau buka konsultan bareng teman-teman senasib, juga butuh modal. Sekarang ini tabungan kita udah abis buat menyambung hidup.."


Oke, ini menarik. "Konsultan apa, pak?


"Saya arsitek. Paling konsultan arsitektur atau mungkin disain interior. Yah, sejenis itulah. Teman-teman udah pada mau sebenarnya. Cuma kita butuh dana awal buat mulai dulu. Yah, nyiapin dokumen dan lain-lain buat ikutan tender."


"Oke, butuh berapa?" Tanyaku antusias dan mata si bapak terbelalak.


"Apa?" Tanyanya bingung.


"Li-lima puluh juta?" Dia tergagap.


"Apakah segitu kurang untuk biaya operasi istri bapak?"


Lelaki itu menggeleng cepat. "Cukup, pak. Cukup banget."


Aku buka aplikasi internet banking. "Berapa nomor rekening bapak?"


Calon bapak tiga anak ini masih terperangah juga. "Bapak serius?" Tanyanya.


Aplikasi e-banking di hape udah terpampang jelas. "Cepetan, sebelum saya berubah pikiran nih." Dia pun buru-buru mengambil ponsel dari saku celana dan menyebutkan nomor rekeningnya. "Sip, done!"


Sebuah denting notifikasi keluar dari ponselnya. "Ya Allah! Bapak. Barakallah, bapak. Makasih, pak." Dia berucap syukur sambil mengambil tanganku buat di cium-cium.


Jiah! Risih dan geli banget dengan kondisi seperti ini! "Udahlah. Itu investasi, ya. Bukan sedekah. Bapak harus kasih saya laporan progres konsultannya tiap bulan." Aku keluarin kartu nama dari dompet. "Kirim ke email saya."

__ADS_1


"Iya, pak. Pasti. Makasih, pak. Bapak bahkan gak ngecek-ngecek latar belakang saya, tapi langsung percaya sama saya."


Oh, iya. Lupa aku dan bodo amat hehehe.


"Yah, kalau Bapak emang serius, besok pun saya udah terima laporan pertama. Tapi kalau ternyata bapak bawa lari uang saya, anggap saja saya lagi buang sial." Iya, benar. Anggap aja buang sial. Emang aku merasa sial banget akhir-akhir ini.


"Gak, pak. Bapak tenang aja. Uang bapak pasti balik lagi. Semoga Allah membalas kebaikan bapak."


"Ya udah, pak. Temuin istrinya sekarang. Lalu aja anak Bapak udah keluar sekarang."


Aku juga mau keluar. Tadi pas lagi makan bakso, room service di kapal nanyain apa barang-barang mau dikirim atau disimpan di yacht aja. Jelas aku suruh kirim ke rumah sakit, gak mungkin juga make yacht dalam keadaan begini. Sekarang mungkin barang-barangnya udah sampai parkiran.


"Ngomong-ngomong keluarga bapak dirawat disini juga?" Si bapak masih berusaha berbasa-basi sembari make sepatu.


"Yeah," aku kencengin tali sepatu biar gak lepas, "mertua saya lagi di ICU."


"Oh, semoga cepat sembuh, ya pak. Istri bapak pasti sedih banget." Aku senyumin aja. "Istri saya juga gitu soalnya. Padahal adik-adiknya banyak. Tapi tetep aja, kalau bapaknya sakit, dia yang kelimpungan."


Aku udah selesai pakai sepatu tapi si bapak kayanya masih pengen cerita. "Anak perempuan kebanyakan emang gitu pak. Saya paham betul. Keluarga saya rata-rata perempuan semua. Saya enam bersaudara saya sendiri laki-laki. Istri saya lima bersaudara, semuanya perempuan."


Si bapak juga udah selesai memasang sepatunya. Tapi masih lanjut cerita. "Makanya saya pengen banget punya anak laki-laki. Mudah-mudahan yang ketiga ini laki-laki."


"Gitu, ya pak? Saya belum pernah punya anak, pak."


"Oh, semoga cepat dapat momongan, ya pak." Asli aku pengen ngakak.


Iya-in aja, dah. 'saya nikahnya sama cewek lesbian, pak. Mana mungkin punya anak, wong cuma nikah sementara doang, lagian dia gak mau saya tiduri!' Teriakku dalam hati


"Amiiin." ya, mana tahu ada keajaiban, kita gak tau, bisa-bisa doa bapak ini di dijabah. meskipun, aku gak yakin.


**maaf ya bu-ibu, pak-bapak, bang-abang, dan kak-kakak. novel ini update-nya gak seperti janji saya waktu diawal ya, 🙏🙏


mungkin seminggu satu atau dua bab aja. soalnya novel ini gak masuk kontrak ya.


mohon di maklumi ya 🙏🙏**

__ADS_1


__ADS_2