
Nesya agak kaget waktu aku ajak ke parkiran khusus tempat motor. "Aku kira kamu bawa mobil," Katanya. Aku menahan senyum.
"Weekend, malas bawa mobil. Tua di jalan kena macet." Aku serahin helm ke dia. Biasanya si lindar yang make helm itu. Dia agak ragu ngeliat helm.
"Tenang aja, udah aku cuci kok helmnya."
"Bukan gitu," katanya lirih. "Kayaknya bajuku nggak cocok buat naik motor." Aku baru sadar dia pake rok sebetis yang emang agak lebar. Kalau naik motor, mungkin roknya jadi tersingkap semua. Udah gitu, baju yang di pake juga kemeja tanpa lengan yang, yang pasti bikin kulit cantiknya ke goreng matahari.
"Nih, pake jaketku." Aku sodori jaket yang tadi di simpan di bagasi motor. Buat melindungi kakinya, aku kasi juga celana jas hujan yang bisa dia pake di bawah roknya.
Nesya ketawa lebar. Merasa lucu dengan semua ini. "Oke," Katanya. Dan dia keliatan cantik banget ngomongin satu kata itu. bikin meleleh.
Pake motor masuk ke perumahan elit bikin satpam-satpam langsung siaga satu. Rumahnya calon istriku bener-bener gede banget. Masuk gerbang ketemu taman yang luas.
Semenit naik motor dari gerbang baru nyampe ke depan rumahnya. Heran, buat apa punya rumah Segede gini, yang tinggal cuma Nesya sama bapaknya.
"Makasih, ya." Katanya nyerahin helm. "Mampir nggak?" Tanyanya kemudian.
"Oh, dengan senang hati." Aku langsung buka helm dengan antusias.
"Eh," Dia malah megangin helmku. " Aku cuman basa-basi." Katanya tertawa lepas.
"Kirain," Aku pasang kembali helmku. "Besok berangkat ke Surabaya jam berapa?"
"Kenapa? Mau nganter?" Nesya ngejawab cepat. "Gak usah repot-repot. Paling besok di antar supir."
"Siapa yang mau nganter? aku mau ikut ke Surabaya."
"Hah?" Muka Nesya langsung berubah ekspresinya, "Ngapain? Emang kamu nggak kerja?"
"Kerja lah," santai aja jawabku, "Kerjaan bisa dimana aja,"
"Emang kamu kerja apa?" Keliatan banget dia kepo, pasti dia mikirnya aku hanya desainer abal-abal. Yang memilki penghasilan belum pasti. Gue ketawain aja yang kayak gini.
"Kamu beneran nyuruh aku cerita panjang lebar sambil duduk di atas motor kayak gini?" Dia ikut ketawa.
Shiit! ketawanya manis banget. Jadi pengen jilatin bibir merah muda itu sampe lumer.
"Ya udah, gak jadi nanya," Katanya sambil dadah-dadah "Aku masuk dulu. Kamu tahu jalan keluar, kan?" Yah, alamat gagal, dah.
"Eh, kamu belum jawab. Ke Surabaya jam berapa?" Fia cuma dadah-dadah sambil terus buka pintu rumahnya yang super gede. "Kalo kamu gak kasih tau, aku cari tahu sendiri." Dia berbalik, terus ngasih senyum sepur manis pemicu diabetes.
"Oya? Gimana caranya?"
"Apa kamu lagi nawarin aku masuk buat ngejelasin caranya?" Dia ketawa lagi dan nutup pintu.
"Dah!" Katanya melambaikan tangan.
◾◾◾◾◾
__ADS_1
Aku nggak bercanda waktu bilang bakal cari tahu sendiri dia jam berapa berangkat ke Surabaya.
Abis dari rumah Nesya aku langsung cabut, pergi kearah kantor. Padahal kantor lagi tutup karena weekend. Karena aku yang punya kantor otomatis aku memiliki kunci cadangannya.
smSesampainya di kantor aku langsung menghubungi Sodik, sahabatku dari kecil, seorang mantan hacker yang sekarang jadi game developer. Untung aja dia juga lagi santai, karena rumahnya Deket dari kantor ku suruh aja dia datang ke kantor.
"Ada apaan sih yan? Gangguin orang mau tidur siang aja. Gak penting-penting amat awas Lo, lagian kenapa gak kerumah gue aja sih," Sodik baru juga nyampe udah ngasih tampang kesalnya. Jadi ngerasa gak enak aku.
"Hehehe sori bro, gue cuma mau minta tolong nge-hack email seseorang." Muka dia langsung berubah senang mendengarnya.
"Oke, ini yang gue suka." Fia langsung duduk di depan komputer ruangan gue, kebetulan memang udah gue nyalain sebelum dia datang."Mana alamat email nya?" Tanyanya.
"Gak punya kalo itu, cuman ada nomor ponselnya."
"Itu juga bisa, berapa nomornya?" Katanya yakin, aku pun langsung sebutin nomor Nesya.
Aku hanya memperhatikan saja. Sodik mulai dari membongkar aplikasi massengger sampai akhirnya Nemu alamat email, dan bobol sudah.
"Kecil, sob! gak ada yang lebih susah?" Sombong banget dia sesumbar.
Seperti yang udah kuduga, di inbox nya ada E-tiket yang dikirim dari situs pembelian tiket online. Forward ke email sendiri, screenshot, kirim ke Nesya. Tulis caption, "Udah kubilang, aku akan cari sendiri." Tambah emoji thug life. Lalu kirim.
Sebelum nutup akunnya Nesya, satu email pemberitahuan muncul, @niko_26 membalas komentar yang di post di Instagram. Yang membuat aku penasaran.
"Bisa di buka IG-nya dik? Tanyaku pada Sodik.
"Gampang," Katanya sombong. Hanya beberapa klik saja Sodik udah masuk ke akun Instagram Nesya, Luar binasa temanku satu ini.
Yang ngeselin komentar dari @niko_26 itu, "Cemburu aku disini." Pake emoji menangis.
Balasan dari @nes_larassati bikin aku emosi, "Tenang, yank. Yang penting udah deal." Tambah emoji beberapa hati merah dan kiss. Darahku langsung mendidih, dia ngomongin soal deal-dealan kita tadi? Apa hubungannya?
Aku kepoin IG-nya anak itu. Si Sodik langsung nggak banget liat fotonya. "Anjiirr, tipe-nya cowok banget bro!" Kata Sodik sambil tergelak.
Si @niko_26 ini mukanya ala-ala bintang K-Pop. Rambut berponi, kulit muka mulus, bibir pinky. Tampang kayak gini lebih cocok disebut jantina daripada cowok sejati.
Ada beberapa postingan yang nunjukin fotonya bareng Nesya. Foto ala anak alay pacaran juga ada, cuma capture tangan lagi saling menggenggam. caption-nya "Tempat ternyaman di dunia, dalam genggamanmu."
Preet! Tapi dibales sama Nesya dengan emoji ciuman berkali-kali. Apa-apaan ini?
Foto Nesya sendiri juga ada, dia lagi ketawa sambil nunduk, gak tahu ngeliatin apa di dekat sepatu. Dibawahnya ditulisin. "No matter what people say. We can be happy in love."
Wadefak?
Sodik mulai gak enak hati. Dia ngetuk-ngetuk mouse pelan pake ujung jari. "Hmm, perlu aku acak-acak sekalian si banci ini?"
"Gak usah." Sodik nepuk pundakku sambil ngasih pijatan singkat. dia tahu, si lindar selingkuh sebulan sebelum kita nikah. Dan sekarang, ada cewek baru yang dijodohin sama aku, gilanya, ternyata Udah inrelationship.
Agrhhh!! Aku pasti keliatan kayak cowok merana sedunia. Lepas dari musibah besar, di depan malah di hadang lagi sama musibah lain. Sialan!
__ADS_1
"Thanks bro, kalo gitu kita balik." Kataku kurang bersemangat.
Setelah mematikan komputer lalu kami keluar, hari sudah sore dan kami berpisah, Sodik pulang kerumahnya, sedangkan aku langsung jalan ke arah rumah Nesya lagi.
Sebelum dia ke Surabaya besok, semua wajib clear. Kalau perlu semua rencana batal.
Nyampe di rumah Nesya hari sudah gelap, dan ternyata dia udah pergi dari tadi. Katanya berangkat sendiri naik ojol.
Aku di ijinin buat nunggu di dalam. Kebetulan om Surya lagi bersiap untuk makan malam. Emang rezeki gak kemana. Gara-gara kesal sampe ubun-ubun, aku lupa ngisi perut. Pas lagi lapar, pas pula ditawarin makan sama calon mertua. Sungguh keberuntungan tiada Tara.
"Udah saya telpon barusan, tapi gak di angkat." Kata om Surya sebelum mulai makan.
"Gak apa-apa om. Saya juga datang gak pake ngomong-ngomong dulu." Sekarang jadi tahu kenapa dia gak mau ngajak aku masuk tadi. Pasti udah punya acara Sama seseorang. Mungkin si jantina itu. Sialan!
Makan malam dirumah ini lumayan enak. Ada ikan patin dimasak asam pedas, termasuk lauk favorit. Ada banyak lagi jenis lauk yang lain seperti udang dan cumi. Ternyata penghuni rumah ini penyuka makanan seafood.
Heran, hidangan sebanyak ini siapa yang mau ngabisin coba. Penghuni rumah cuma dua orang. Tapi nggak tau juga, Ada berapa orang asisten rumah tangga disini. Yang pasti banyak kalo dilihat dari rumah Segede ini. Tapi kok nggak keliatan ya?
"Tadi jadi ketemuan sama Nesya?" Pertanyaan om Surya kaya basa-basi daripada sepi cuma denger suara sendok garpu ngetuk-ngetuk piring.
Aku nelen nasi dulu sebelum jawab "Iya om."
"glGimana? Kalian udah cocok kan?" Tanya om Surya sambil nambahin udang asem manis ke dalam piring.
"Iya," Bingung aku jawabnya. "Kita udah menyepakati beberapa hal." Akhirnya ngasih jawaban aman.
"Hmm, bagus bagus." Terus om Surya ngunyah lagi.
Aku jadi gatel mau nanya-nanya soal pacarnya Nesya "Emang Nesya gak punya pacar, om?"
Uhuk! kayaknya om Surya salah nelen sampe keselek. Dia buru-buru minum sebelum jawab "Setahu om, dia lagi nggak dekat sama cowok mana pun."
Aku manggut-manggut aja. Jelas om Surya gak pernah main Instagram. Belum tahu dia kayak gimana kelakuan anaknya
"Beda umur kalian lumayan jauh, mudah-mudahan kamu bisa bersabar ya, sama Nesya. Dia memang masih muda. manja pula. Sejak kecil semua yang dia mau pasti om turutin. Gedenya, dia jadi kayak gitu."
"Iya om,"
Om Surya narik napas dan ngabisin air mineral di gelas. Lalu lanjut ngomong lagi. "Mungkin karena dia kurang kasih sayang ibu. Ibunya meninggal waktu dia masih TK. Dan om juga sibuk, gak sempat banyak ngobrol sama dia." Si om diam sebentar disini. Mainin sendok di atas piring.
"Yah, semoga dia bisa berubah sama kamu." Maksudnya, apa nih? Aku baru aja ketemu sama dia tadi siang. Ngobrol juga baru seuprit. Isinya cuma deal-dealan doang. Terus sekarang si om Surya naro harapan setinggi langit dengan pernikahan ini. Yang benar aja! emang aku apaan?
Aku sendiri masih butuh move on dari lindar. Diselingkuhin aja sakitnya berlipat-lipat. Di tambah dia cuma manfaatin hubungan kita. Dasar setan matre!
Sekarang aku gak tahu apa maunya Nesya. Kalau soal duit, jelas bapaknya lebih kaya. Tinggal colek dikit, ratusan juta juga jatoh.
Kalo soal cinta, dia udah punya jantina yang siap disuruh ngapain aja. Yerus demi apa Nesya mau dijodohin sama aku?
Dia bisa dapetin cowok yang lebih-lebih kalau mau. Tampang kayak bidadari gitu, gak bakal ada yang nolak.
__ADS_1
*p*****using gue permirsah,, mau tidur aja ahh,, sambung di episode selanjutnya ajalah ya****...