
Jalanan gak terlalu rame malam ini. Selesai makan malam di food court rumah sakit, kami langsung balik ke hotel. Kepalaku sudah berat pakai banget. satu-satunya yang kepikir cuma tidur.
"Kamu pendiam banget deh, malam ini," Goda Nesya sambil mengulurkan tangan memijat tengkukku.
Well, Mungkin maksudnya mijit, tapi rasanya lebih mirip ngelus-elus. Apa pun, lumayan juga. Beban di kepalaku sedikit berkurang dikit.
Di u-turn, aku belokin mobil langsung ke hotel. Nesya gak ngomong-ngomong lagi sampai di kamar. Aku masuk duluan ke kamar dan langsung menguasai kasur. Bodo amat. Nesya bengong ngelihatin, secara dia gak bisa lagi seenaknya ngebanting badannya ke ranjang. Gak lama, setelah itu dia beranjak ke kamar mandi.
Tinggal aku sendirian di kasur. Sepi juga, cuma bisa meluk bantal. Kamar hotel gak pernah nyediain guling. Mungkin mereka berasumsi bahwa yang nginep di sini, memang seharusnya bawa guling hidup masing-masing.
Kasian amat yang jomblo kaya aku. Eh? Jomblo? Bukan, tapi nikah rasa jomblo, hahaha!
"Terus? Aku gak dikasih bantal?" Tahu-tahu Nesya udah duduk di depanku dengan mulut dimanyun-manyunkan. Aku menata bantal yang tadi dipeluk buat bakal tidur dia. Tapi Nesya malah ketawa geli. "Mau pakai bantal tangan aja, kaya biasa," ujarnya manja. Apanya yang kaya biasa?
Nesya tiba-tiba ngambil tangan kananku terus melipat di siku. Abis itu dengan santai sambil senyum-senyum nakal, dia membaringkan kepalanya di ceruk lipatan tanganku.
"Biasanya aku tidur kaya gini?" lanjutnya sambil ngambil tangan kiriku dan melingkarkannya ke pinggangnya. "Kaya gini," ujarnya lagi dengan senyum yang ngegemesin pakai banget.
Okay, not bad. Mukanya cuma berjarak beberapa centi dari mataku. Ada aroma baru yang menguar masuk ke rongga penciuman. Mungkin wangi krim malam atau lotion, entahlah. Tapi tetep, wangi rambutnya adalah yang terbaik. Gak bosan-bosan aku menghirup udara di ubun-ubunnya.
"Kamu kecanduan, ya?" bisiknya jail, "Dari tadi nyiumin kepalaku terus?"
"Iya. Aku lagi masukin informasi sebanyak-banyaknya."
"Informasi?"
Aku hirup lagi aroma rambut yang tersaji pas di depan hidung. Keramas tadi pagi, tapi sampai malem wanginya gak banyak berubah. Mungkin interaksi dengan keringat malah harumnya makin kuat.
Ini jadi my favorite moments of life, sekarang. Menghirup harum rambutnya bener-bener kaya masuk ke dunia lain yang menenangkan. Mungkin sekarang kita punya perasaan yang timbal balik. Nesya merasa nyaman dalam pelukanku sementara aku merasakan ketenangan saat memeluknya.
Yah, gini aja terus. Bernafas dan berbaring di dunia kita. Semua di luar lingkar lengan ini terlalu menekan dan menyesakkan.
"Informasi apa?" Nesya masih nungguin jawabanku. Hahaha, dia kepo.
__ADS_1
"Informasi tentang harum rambutmu." Dia sedikit mendongak, meminta penjelasan. "Nanti kalau kamu udah kuliah, aku bisa kangen berat sama wangi ini. Jadi sekarang mau menyimpannya rapat-rapat di memoriku, biar nanti gak kehilangan."
Dia tersenyum. "Kalau gitu peluk aku seerat yang kamu mau. Biar nanti aku gak kangen sama dekapanmu."
"Halah! Entar juga kamu tidur sama cewekmu." Tapi tetap aja aku pererat pelukan hingga badan kita hanya terpisah kain yang dipakai masing-masing.
"Tapi tanganmu lebih berisi," ujarnya lirih. Hohoho, tentu saja. Tangannya si cowok jadi-jadian jelas terlalu kecil dibanding lenganku. "Padahal dia juga rajin latihan, loh. Dia kan dari umur tiga tahun aja udah diajarin tinju."
"Wow!" Serem amat itu cowok jadi-jadian.
"Iya, bapaknya, kan punya sasana tinju." Glek! Dan dia nantangin aku tadi. Katanya tunggu kabar darinya, jangan-jangan nanti diajakin main tinju di tempat bapaknya?
Mampus aku. Mana udah lama banget gak latihan. Abis ini harus mulai siap-siap, nih. "Dia jago tinju berarti?" Giliran aku yang kepo.
"Dulu mungkin. sekarang dia lebih fokus kickboxing." Sadis! Aku belum pernah ngelawan Kickboxer.
Fik, habis ini ini aku harus ngelemesin otot lagi besok lusa, sementara malam itu, dalam keharuman rambut Nesya, aku tidur dengan tenang.
* * * * *
Secercah cahaya masuk dari jendela membuka kesadaranku. Ini bukan masjid. Ugh! Sial! Barusan aku cuma mimpi. Kenapa memoriku balik lagi ke situ? Ini ngeselin!
Nesya masih nyenyak banget tidur meluk lenganku. Kasih satu kecupan ringan di pucuk kepalanya, masih seharum semalam.
Coba dia bukan lesbi, bangun pagi disambut sensasi kaya gini bakal jadi pengalaman paling membahagiakan sedunia.
Nesya mengeliat manis dan mengubah posisinya jadi membujur kasur. Aku berdiri, membuka tirai jendela, memasukkan hangat matahari pagi.
"Kamu suka banget sih, ninggalin aku sendirian di kasur." Rajuk Nesya sambil melingkarkan lengannya di pinggangku.
Elah, ni anak ngagetin. Sebenarnya asli belok apa nggak? Entar diajakin baku tindih, malah disangka memerkosa, kan berabe.
"Hmm," dia bernapas di punggungku, "lama-lama aku jadi suka bau keringetmu." Huahahaha! Emang, bau keringet aku aja ngangenin, kok.
__ADS_1
Aku tarik tangannya supaya pindah ke depan. Sama-sama menikmati pemandangan segar pagi hari di muka jendela. Sekalian biar leluasa lagi menghirup harum rambutnya. Eh, bukan. Maksudnya biar dada yang nempel di punggungku gak bikin salah fokus.
Aku peluk dia. Dia nyender di dadaku. Gitu aja tanpa suara, gak tahu berapa lama.
"Kemarin aku jenguk bayi," ucapku yang pertama buka suara dan dia langsung berbalik.
"Gimana rasanya?" tanyanya dengan mata yang berbinar.
"Rasanya..." Aku menunda ucapanku. Dia menunggu kelanjutannya dan sorot matanya kini berbinar menahan harapan. "Rasanya jadi pengen ngajak kamu bikin bayi." Sumpah saat mengucapkan itu aku pengen ngakak. Geli dan rasanya gak mungkin!
Tapi ternyata respon Nesya gak sesuai harapan. "Tuh, kan. Pasti jadi pengen juga kan," ucapnya sambil manyun. "Tapi Niko gak mau punya anak dulu. Katanya dia belum punya penghasilan. Belum bisa membiayai satu anak."
Oh my God! Nesya dan Niko bener-bener udah gila! gayanya.
"Aku udah punya penghasilan. Bisalah, kalau cuma nambah membiayai hidup satu orang lagi," timpalku sok tak acuh, padahal sambil nahah tawa ngakak dalam hati.
Eh, malah Nesya yang ketawa. "Katanya gak mau punya anak sama lesbian?" sindirnya.
Aku pun terpaksa ikutan tertawa lepas. "Kalau kamu mau berkomitmen membangun keluarga sampai akhir, aku mau punya bayi denganmu." Aku bicara setelah kami sama-sama berhenti ketawa.
Namun Nesya kembali ketawa dan kini makin keras. "Gak. aku mau bikin keluarga sama Niko," balasnya tegas.
"Keluarga apaan? Keluarga dengan dua ibu tanpa ayah?" Nesya terdiam. "Kamu tahu gimana rasanya hidup tanpa ayah. Apa kamu mau anakmu merasakan hal yang sama?" lanjutku mulai sedikit sengit.
Mata Nesya seketika menatapku nantang dan tak terima. "Niko bisa berperan sebagai ayah!" Dia menyergah dengan tegas.
"Ck! Dia itu cewek. Mau jungkir balik kaya gimana juga, dia gak akan mungkin jalanin peran sebagai laki-laki. Kamu cuma akan membohongi diri sendiri."
"Dia jauh lebih baik dari laki-laki mana pun!" Nesya nusuk dadaku pakai ujung telunjuk. "Catet itu!" Lalu pergi gitu aja.
"Dia tetep perempuan!" Aku nyaris berteriak saking keselnya.
Nesya berbalik sedikit, lalu dengan tajam menatapku. "Karena itu dia lebih baik dari laki-laki manapun, termasuk ayah dan kamu!" balasnya ketus.
__ADS_1
Oh my dewa ubur-ubur! Ada apa dengan otak Nesya?