
Sudah cukup waktu buat aku menyendiri, kini waktunya pulang. selesaikan semua masalah. Setelah itu jalani aktivitas seperti biasa. Terus berjalan lurus kedepan, kejadian-kejadian sebelumnya jadikan sebuah pembelajaran. Syukuri dan terima dengan lapang dada apa yang sudah ditakdirkan Allah untuk kita. Terus semangat dan jadilah orang yang bermanfaat bagi orang-orang disekitar. Mudah-mudahan Allah telah menyiapkan hadiah terindah di kemudian hari.
Hari sudah mulai menggelap, dikantor yang kecil ini tinggal aku sendirian, karyawan-karyawanku yang bekerja sudah pada pulang. Ops,, salah aku nggak pernah menganggap mereka karyawan, aku menganggap mereka adalah teman seperjuangan karena ditempat ini kami sama-sama mencari rezeki.
Yang bekerja disini tidak terlalu ramai hanya enam belas orang termasuk diriku. Oh ya aku belum memberi tahu apa pekerjaanku, aku seorang arsitek ataupun desainer. Berbagai jenis pesanan yang berjenis gambar itu pekerjaan kami. hampir semua yang bekerja disini hobi menggambar.
Alhamdulillah enam tahun merintis usaha ini sekarang sudah berjalan pesat. Banyak perusahaan-perusahan besar yang menggunakan jasa kami. Sekarang sudah tidak perlu untuk promosi kantor, ataupun bidang pekerjaan kami. Seperti awal-awal merintis. Karena sudah nggak ada waktu untuk promosi, karena sekarang untuk melayani pesanan aja kami sudah keteteran.
Sebenarnya perlu menambahkan anggota baru beberapa orang, tapi karena kantor ini hanya ruko satu pintu jadi masalah luas kantor ini yang menjadi kendalanya. Sudah ada rencana mencari tempat baru, setidaknya ruko dua pintu. Dikarenakan dua bulan terakhir ini aku sibuk mengurus soal pernikahan yang batal itu, jadi ya begitu deh, belum terlaksana.
Setelah menutup pintu kantor aku bergegas menuju parkiran dimana letak motor kesayanganku berada, walau sudah sanggup membeli mobil tapi aku masih nyaman menggunakan motor, aku orangnya tidak mementingkan image, yang penting gue seneng dan nyaman udah cukup. apalagi keadaan Jakarta bagaimana, kalian tahu sendirilah, nggak perlu aku jelaskan lagi. Yang penting cepat sampe tujuan, biarpun terkena panas atau hujan. Itu nggak masalah.
Sekarang tujuanku adalah mengarah jalan pulang kerumah, saat berhenti di lampu merah samping kanan kiriku ada pasangan anak ABG sedang berpelukan mesra. ah mirisnya nasib,, jadi obat nyamuk ditengah-tengah abg pacaran, mana ceweknya meluknya mesra lagi.
Apalagi cowok disebelah kanan, melihatku seperti meremehkan, seolah dirinya sendiri di dunia ini memiliki pasangan. Belum pernah ngerasain gimana ngerasain gimana sakitnya diselingkuhi sebelum nikah, sepertiku aja. Gue sumpahin lu bakalan ngerasain apa yang gue rasain.
Kan berubah jadi jahat aku jadinya, sialan emang nasibku! Dasar lintah darat! Cantik sih cantik, tapi beracun. Gak bikin mati sih, aku tahu. Cuma bikin gatel-gatel dan menghisap darah doang.
Untung aku tahunya sebelum ijab Kabul. Coba kalau udah resepsi, mesti ke pengadilan agama lagi buat cerai, kan repot.
Yang lebih sialan lagi, cowoknya dukung-mendukung aja kalo ceweknya ada main sama aku dan dia nyantai aja kayak di pantai gitu.
"Emangnya dia beneran cinta sama lu?" Gitu kata cowoknya sehabis aku kasih bogem mentah di mukanya. "Asal lu tahu, kita cuma butuh duit lu aja buat modal, hahaha," lanjutnya, yang bikin kepala dan hatiku tambah panas, mungkin jika film-film kartun sudah keluar api di kepalaku ini.
Arghht,, aku juga goblok banget. Terlalu bucin sama si lintah darat sialan. Gak mau kehilangan dia. Aku gak mau buang waktu dan energi buat mikirin mereka lagi. Fix, ini terakhir kalinya aku main-main sama cinta. Lupakan semua yang namanya cinta.
Seenggaknya setahun bersamanya nafsu syahwat tersalurkan, anggap saja timbal balik. Udah cukup anggap saja seperti itu. Meski uangku habis dimakan mereka hingga ratusan juta. Udah ikhlasin aja mungkin itu udah rezeki mereka. Karena di setiap rezeki yang kita dapatkan ada hak orang lain disana. Orang lain yang dimaksud mungkin mereka.
Tanpa sadar kini aku sudah berada didepan rumah, setelah memarkirkan motor aku langsung bergegas menuju pintu utama, didalam rumah pasti cuma ada mama sendiri, karena di garasi cuma terparkir mobil mama, mobil papa nggak ada, pasti belum pulang dari kantor.
"Assalamualaikum" ucapku sambil membuka pintu yang memang nggak terkunci.
"ZIAN!!! MASIH INGAT RUMAH KAMU RUPANYA." aku refleks langsung menutup kedua telinga. Bukannya dapat jawaban salam. Malah dapat teriakan dari mama, kelihatan sekali memang lagi nungguin aku. Duduk di ruang tamu sambil memainkan hape.
"Nggak jawab salam dosa Lo ma, nih kok malah teriak-teriak." Aku mencoba untuk mencairkan suasana. Sambil terus berjalan kearah mama.
"Ya,, waa'laikumsalam." Jawabnya, tapi tampang garangnya nggak juga pudar. "Mama tau kamu lagi galau ya yan, tapi nggak harus nggak pulang kerumah juga." Lanjutnya, aku hanya bisa nyengir tanpa dosa.
"Meskipun kamu itu udah gede, tetap aja kami kawatir jika kamu nggak pulang kerumah, mana nggak kasih kabar lagi, hape dimatiin segala."
"Hehe maaf ma," hanya itu yang mampu aku ucapkan, sambil meraih tangannya buat kucium, lalu mencium pipinya, semoga amarahnya agak berkurang.
"Emang jika kamu menghilang seperti itu masalah akan selesai, atau tunanganmu itu bakal balik ke kamu gitu? Nggak kan?" Aku hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Iyan pulang, ini juga bermaksud ingin membahas soal ini sama mama, bahas soal pembatalan semua yang sudah kita boking itu," ucapku, mama terdiam sejenak sambil menatap wajahku.
"Ya udah, kalau gitu kamu bersihkan diri kamu dulu sana, mandi ganti pakaian. Mama kasi waktu setengah jam dari sekarang, nanti mama tunggu diruang makan."
What? Apa-apaan pake waktu segala lagi. emang aku lagi ikut perlombaan apa? Walaupun begitu aku tetap menurut langsung bergegas masuk kekamar, melaksanakan apa yang disuruh secepat mungkin. Biar semua urusan cepat selesai, jika semua udah selesai aku bisa langsung tidur, karena beberapa hari ini aku kurang tidur, yang bikin tubuh jadi lemes.
Tidak butuh waktu setengah jam, hanya lima belas menit aku udah keluar lagi dari kamar, udah menggunakan pakaian santai yang biasa aku pakai dirumah. Yang pastinya udah selesai mandi juga. Walau hanya mandi air lewat aja. Seenggaknya kan mandi. Walaupun ada beberapa ritual yang aku lewatkan, ya contohnya keramas yang masih bisa dilakukan besok pagi sebelum berangkat ke kantor. Hidup itu jangan terlalu dibikin ribet, ya nggak? Yang simpel-simpel aja.
"Cepet banget yan, mandi nggak sih kamu?" Kata mama sambil melihat tubuhku dari ujung kaki hingga kepala.
__ADS_1
"Ya mandilah, nih lihat rambut Iyan masih terlihat lembab," ucapku sambil mengacak-acak rambut, menunjukkan bahwa aku beneran mandi.
"Yaudah deh, duduk kita makan." Ucapnya, aku pun hanya nurut aja, kebetulan perutku juga lagi lapar.
"Beneran mau kamu batalin semuanya? Nggak sayang duit yang hangus itu?" Tanyanya sambil mengambilkan nasi buat aku.
"Ya mau bagaimana lagi, dilanjutkan nggak mungkin ma." Jawabku apa adanya.
"Sebenarnya mama punya ide." Ucapnya, kelihatan senang banget, ada binar bahagia dimatanya, bikin aku curiga. Aku nggak menjawab, diem aja nunggu kelanjutan ucapan mama.
"Gimana kalau semua catering, gedung, baju pengantin, dan lain-lainnya itu, gak usah di cancel. Kan sayang duitnya terbuang gitu aja. Lumayan banyak itu loh,,"
"Maksudnya gimana ma?" Aku beneran nggak ngerti maksud mama. Mama menarik kursi di depanku lalu duduk.
"Ceweknya aja yang di ganti!" Ucap mama santai tanpa beban.
"Ha? Maksudnya?" Sebenarnya mamaku masih waras kan? Tanyaku dalam hati, karena aku gak berani ngomong itu langsung ke mama. Bisa-bisa aku dilempar pake piring, makin apeslah hidupku.
"Yang jadi masalahkan ceweknya. Kalau ceweknya diganti, bereskan?" Tutur mama dengan ide gilanya dan gue asli ngakak dengernya.
"Jadi kita ambil cewek dijalan? Hy,, mau gak gantiin cewekku buat kawin sama aku? Gitu ya ma?" Tanyaku mengejek.
Mama diem, tapi matanya seolah ngasih tau kalau dia lagi gak bercanda. Kalau mama udah natap pake cara ini, mending berhenti bicara. Kebanyakan ngomong bisa-bisa malah kena semprot. Mending kalo di semprot doang, kalau sampe dibarengi dengan piring terbang kan nggak lucu.
"zian,, mama nggak bercanda ya." Mama ngomong pake nada datar yang nyeremin menurut gue. Apalagi nyebut namaku bener begitu.
"Eh, iya ma maaf." Kataku takut, lalu aku diam sambil menggigit tempe mendoan kesukaan aku. Entah kenapa makanan kesukaanku ini jadi hambar rasanya. Tiba-tiba perasaan jadi gak enak. Kayak bakal ada badai hebat habis ini.
"Tadi mama di telfon papa," nada suaranya udah seperti biasa lagi. Jadi bikin perasaan tambah gak enak, kalo udah ada sangkut pautnya sama papa. Jadi aku diam dulu, dengerin apa yang mau diceritain mama selanjutnya.
"Maksudnya gimana ma?" Tanyaku minta penjelasan. Setelah air dan nasi masuk ke perut.
"Tadi pas bossnya papa nanya soal pernikahan kamu, papa jadi cerita gitu deh, kalau kamu gak jadi nikah gara-gara ceweknya ketahuan selingkuh."
Iya, mama dan semua orang tahunya si lintah darat selingkuh. Bisa ambyar harga diriku kalau mereka tahu yang sebenarnya. Jadi aku Kembali menyendok nasi kembali ke dalam mulut sambil bertanya-tanya dalam hati. Mau kemana arah pembicaraan ini.
"Jadi dia nawarin anaknya buat kamu nikahin." Aku auto keselek jagung dari sayur asem. Buru-buru aku ambil gelas minum lagi yang airnya tinggal sedikit.
"Gimana? Gimana? Ma?" Tanyaku setelah menghabiskan segelas air minum milik mama. Mama hanya geleng-geleng melihat aku.
"Jadi pak Surya bossnya papa itu, punya anak cewek. Kenapa gak sama anak saya aja? Gitu katanya." Aku beneran gak ngerti. Masa iya segitu gampangnya mutusin soal nikah.
"Maksudnya gimana ma? Dia mau jodohin aku sama anaknya gitu?" Mama ngangguk-ngangguk sambil gigit tempe mendoan.
"ini konteksnya becanda kan ma?" Mama geleng-geleng kepala. Aku menanggapi dengan kekehan, nggak habis pikir sama jalan pikiran para orang tua itu. "Yang bener aja ma!"
"Eh, liat dulu ceweknya. Anaknya cantik banget tahu! Salsa aja kalah jauh, jauh banget malah. Kaya bumi dan awan."
"Bumi dan langit ma."
"Ah iya, sama ajalah itu." Ih ngeyelnya itu loh.
"Gak dulu deh ma, aku gak mau mikirin nikah dulu. Lagian, buat move on butuh waktu. Masih belum bisa percaya sama cewek. Sori ma,"
__ADS_1
"Kamu jangan langsung nolak gitu. Liat dulu ceweknya. Kamu pasti suka deh, mama aja suka banget." Kelihatan sekali wajahnya berseri-seri saking antusiasnya.
"Oya?" Seruku seraya memotong tempe dengan kekuatan penuh. " Emang mama udah pernah ketemu?" Lanjutku.
" Pernah dong!" Jawab mama penuh semangat, " waktu ulang tahun perusahaan tempat papa kerja itu. Kebetulan kami duduk satu meja."
Sepertinya mama aku benar-benar pengen fokus bercerita. Sendok sama garpu ditaruh manis di piring. Tangannya menyatu di depan dada dan mulailah dia berkisah.
"Anaknya itu udah cantik banget, manis banget hormat banget lagi sama orang tua. Duh,, mantu idaman pokoknya mah," Aku manggut-manggut aja, sambil menghabiskan sisa makananku di piring. "Coba waktu itu kamu ngenalin salsa dan punya rencana nikah, pasti mama duluan dah yang minta dia jadi menantu."
Aku narik napas aja. Emang mama kurang suka sama lintah darat. Mungkin gara-gara doa dia juga mungkin kami gak jadi nikah alias 'batot' batal total. "Ya udah iya, aku coba buat kenalan dulu," demi buat nyenengin mama, aku nyerah, coba untuk ngikut aja dulu. " Jika cocok sikat, kalau nggak jangan dipaksa ya." Lanjutku mencoba bernegosiasi.
"Oke," jawabnya antusias " mama yakin dah seratus persen kamu bakalan suka. Enggak akan nolak " wah yakin sekali mamaku ini. Bikin aku penasaran seperti apa bentuk perempuan itu.
"Mama ada fotonya?" Saking penasarannya aku langsung nanyain foto, gak nunggu ketemu dulu.
"Oh, ada dong, bentar." Mama ngeluarin hape dari kantong bajunya. Setelah mengusap-usap layar beberapa kali, kemudian ngasih unjuk fotonya kedepan mukaku.
Terpana,, kayaknya itu kata yang cocok buat ngejelasin kayak gimana ekspresiku saat ini. Asli, aku nggak nyangka, yang dibilang cantik itu ternyata emang beneran cantik. Kulit putih bersih. Bibir mungil merah muda sangat menggoda. Rambut hitam terurai sangat perfect. Seperti hilang rasa kecewaku beberapa hari ini melihatnya.
Tapi buru-buru aku sadar. Kamera jaman sekarang emang jahat luar biasa. Muka kayak gimana pun juga pasti bisa kelihatan bening.
"Ini bukan efek kamera lho,, maupun editan," kata mama yang udah cocok jadi cenayang. "Aslinya emang cakep begini." Tambahnya. Aku senyumin aja.
"Oya?," Kubuat wajahku seperti orang yang lagi shock. Memang sebenarnya aku memang terkejut tadi saat melihat foto itu.
"Iya,, ih gak percaya. Kan mama udah ketemu. Udah ngobrol panjang lebar. Dari belum mulai acara sampe selesai acara. Kamu sih kemaren nggak mau ikut, sibuk pacaran Mulu. Akhirnya di selingkuhi juga kan?"
Lagi-lagi aku senyumin aja. Gak usah di ingetin juga gak mungkin pernah lupa.
"Mumpung dia masih liburan disini, cepat-cepat atur waktu buat ketemu." Tutur mama yang semangat empat limanya masih berapi-api, sampe lupa piringnya masih ada makanan.
"Liburan?" Tanyaku, mama ngangguk-ngangguk.
"Biasanya dia kuliah di Surabaya. Sekarang lagi liburan. Pasti dia ada di Jakarta sekarang."
"Masih kuliah? Umur berapa dia? Beda umurnya jauh banget berarti ma?"
"Ah,, gak masalah!" Mama ngibasin tangan didepan muka. "Paling beda tujuh atau delapan tahun lah." Lanjutnya.
Wath? Delapan tahun? Untung aja udah selesai makan kalo nggak auto keselek lagi mah
"Jauh banget itu ma!" Aku agak keberatan.
"Ih, gak apa-apa kalau ceweknya yang lebih muda. Laki-laki diluar sana banyak yang nyari daun muda mah. Aneh kamu jika nolak."
Huft,, susah emang ngomong sama mama. "Kenapa kuliahnya di Surabaya nggak disini aja? Emang kuliah di fakultas mana dia ma?" Eh eh kok aku jadi kepo gini ya?? Au ah pusing,,
"Di PENS kalo nggak salah." Jawab mama.
Aku terdiam sejenak. Memikirkan apakah harus disetujui apa nggak permintaan mama ini, yang bermaksud ganti mempelai. "Kayaknya enggak deh ma." Kataku setelah berpikir beberapa menit. Sedangkan sama yang udah Mateng aja aku di kadalin. Apalagi yang masih beranjak dewasa begitu.
"Ketemu dulu aja, gak ada ruginya kan?" Sekarang mama pakai jurus tampang memelas. Jurus yang gak pernah bisa aku tangkis.
__ADS_1
"Oke, ketemu aja kan ma?" Apa boleh buat, ikuti aja kemauannya dulu. "Nanti kalau udah ketemu, mama gak bakalan maksa-maksa lagi kan? Seandainya kamu nggak ada kecocokan." Mama ngangguk-ngangguk dengan senyum paling manis sejagat raya, senyum penuh makna, aku harus waspada. Dua puluh delapan tahun hidup bareng mama, jadi aku tau bagaimana sifatnya. Yang tak pernah menyerah sampai tujuannya tercapai.