Istriku salah arah

Istriku salah arah
mantan terbaik


__ADS_3

Nesya tak bicara lagi sejak kejadian siang tadi. Mukanya kusut meski dilapisi riasan mulus tanpa cela.


"Ini pesta kita." Di dalam elevator, aku coba buka suara. "Apa kata orang-orang kalau mukamu kelipet-lipet kaya gitu?" Lanjutku.


Dia mendengus lalu langsung keluar begitu pintu lift kebuka. Punggungnya yang tanpa penutup bergerak menjauh menuju area kolam renang.


Malam ini, resepsi pernikahan dihelat pool party. Kolam renang berada di dek lima belas diubah menjadi area pesta. Lilin-lilin aroma terapi dibakar dan diapungkan di permukaan kolam. Hasilnya adalah udara hangat yang dipenuhi aroma kayu manis.


Panitia menghampiriku, bertanya apa ada lagu khusus yang ingin di dengarkan oleh kedua mempelai. Gak ada satu lagu pun mampir di otakku. Sampai aku lihat lagi muka kusut Neysa memandangi kolam sambil memegang segelas sirup merah.


"Come as you are, Nirvana," Ucapku asal.


Ada yang lebih besar dari ego ketika mengharapkan kebahagiaan orang lain. Aku marah semarah-marahnya, tapi bukan pada Nesya. Dia sendiri hanya jadi korban.


Andai boleh memilih, dia pasti lebih suka tak Pernah menikah daripada harus terjebak sama aku. Sayangnya, hidup kadang hanya memberi pilihan menderita atau tidak bahagia. Dia memilih tidak bahagia. Sementara aku bikin pilihan ketiga, membahagiakannya.


Kayaknya membahagiakan orang lain adalah jalan ninjaku. Makanya semua orang yang datang dalam hidupku selalu hadir buat ngambil manfaat doang.


Hidup macam apa ini? Apa boleh buat. Ngelihat orang lain menderita di saat aku bisa bikin dia bahagia itu lebih menyakitkan. Daripada menanggung penderitaan itu sendiri dan seorang diri.


"The next song ia especially for the bride and the grooom!" Suara vokalis menarik perhatian para undangan. sontak lampu sorot mengarah pada Neysa.


"May they live happily everafter!" cih! mana ada yang disebut bahagia selamanya. Ini bukan dunia dongeng Cinderella. Bahkan sekarang pun, aku masih gak yakin sedang bahagia.


Neysa tampak terkejut menyadari disorot lampu besar. Sekali lagi dia harus berpura-pura bahagia. Senyum palsu menghiasi bibirnya. Tatapannya mencari-cari dan aku tahu siapa yang dicari.


Sekeliling telah gelap gulita. Hanya ada kelap kelip cahaya lilin aromaterapi. Lampu sorot kedua menari-nari di antara undangan. Kemudian berhenti menyorotku. Nasib jadi seleb dadakan ya begini.


Dia tersenyum. Tangan Nesya terulur menyambutku. Musik intro membahana di seantero area kolam. Band penggiring pernikahan ini sepertinya beraliran jazz. Distorsi suara gitar ciri khas grunge lenyap sama sekali, berganti dengan lompatan-lompatan nada yang sangat jazzy. Musik yang membuat kapal auto bergoyang, kini beralih menjadi alunan irama yang cukup lembut mengiringi dansa.


"ini pasti kerjaanmu!" kata Nesya sambil mengalungkan lengan ke leherku.


Iya iyalah, siapa lagi? "Come as you are, as you were, as anything you want to be..."


"Eh?" dia menatapku, bibirnya mengurai senyum lebar. "Bukan gitu liriknya."


"Hehehe, terserah. Ini bukan liriknya, ini suara hatiku buat kamu."


Hahaha, tepuk tangan buatku yang tiba-tiba pandai merangkai kata.


"Oya?" Apapun-lah. Aku cuma mau, seenggaknya dia bisa bener-bener menikmati malam ini. Meski rasanya gak akan semenyenangkan jika ini adalah pernikahan yang sungguhan.

__ADS_1


"Terust me, i don't have a gun. i only have a heart accep you as anything you want to be." Fia tertawa. Ya seperti itu. Aku suka suara tawanya. Terdengar manis dan lepas.


"Jadi sekarang kamu Nerima aku sebagai lesbian?" Tanyanya tiba-tiba.


Aku ngangguk. "Apa ada pilihan lain?" Tanyaku lagi untuk memastikan.


Dia tertawa lagi. Yangan masih melingkar di leherku, sementara di pinggangnya ada tanganku. Siapapun akan melihat kami sebagai relationship goal abad ini. Pasangan paling serasi dan paling bahagia di muka bumi ini. ****!


"Jadi kamu ngedukung aku sama Niko, kan?"


"Gak!" Aku langsung menjawab mantap.


"Kenapa?" Wajah Nesya berubah kecewa.


"Kalian bikin jumlah populasi cewek cantik yang bisa aku kawinin berkurang." Nesya tertawa. Gosh! suara tawa itu renyah banget. Bikin pengen ******* bibir merahnya.


"Kalo gitu, kamu doain aku biar putus sama Niko, ya?" tanya Nesya lagi.


"Aku gak yakin Tuhan akan mendengar doaku."


"Bukannya tuhan pasti akan mengabulkan doa hambanya?"


Suara musik berhenti. Kami sama-sama berbalik, menghadap band dan bertepuk tangan sebagai tanda terima kasih.


Kemudian orang-orang seperti bergantian datang mengucapkan selamat. Banyak yang gak aku kenal. Ada yang mengenalkan diri sebagai kolega papa, bawahan om Surya, rekan bisnis, dan entah apa lagi.


Sodik juga datang bareng beberapa teman yang berhasil meluangkan waktu untuk ikut liburan pun ikut ngasih selamat.


"Ngomong-ngomong, temen-temenmu gak ada yang datang?" Sku bertanya pada istriku karena penasaran dengan teman-temannya.


"Gak ada. Sku gak ngundang-ngundang," jawabnya asal sambil nyomot potongan macaroni schotel yang dibawa pelayan.


"Heh, bilang aja ga punya temen." Dia menoleh tanpa berhenti mengunyah.


"Iya, kenapa?" Balasnya setelah menelan isi mulut.


Kasian amat nih anak, teman aja ga punya. Padahal masih kuliah, harusnya anak seangkatan dia bisa diangkut kesini semua.


"Aku mau cari minum," Katanya lagi melangkah menuju meja prasmanan. Di arah berlawanan, ada pelayan menantang nampan yang bergerak kearah yang sama.


Sialan! ini si jantina. Eh, salah cowok jadi-jadian lagi! buru-buru aku ngikutin Nesya. Tapi seseorang tiba-tiba nyetop langkah.

__ADS_1


"Hai," suaranya bulat penuh dan dalam, "Selamat, ya yan"


"Siska?" dalam keremangan aku berusaha menggali sosok perempuan bergaun marun di depanku yang baru saja menyapa memberikan ucapan selamat.


Dia tertawa. "kirain lupa." mana mungkin lupa sama partner praktek make k**dom untuk pertama kali.


"Kok kamu bisa disini?" Tanyaku bingung.


"Aku kerja disini," jawabnya ditingkahi tawa.


"Di golden Cruise ini?" Wadaw! ini judulnya, mantanku, karyawanku, hahaha. Udah punya seperempat persen saham angkasa group, bolehlah nyebut ini perusahaan milik sendiri. Ketawa culas dalam hati.


Dia tergelak. "Aku di dream travel-nya. Divisi IT." Ujarnya menjelaskan.


"Oh." baru sadar, tadi kan mau ngikutin Nesya biar gak deket-deket sama si cowok jadi-jadian. Fi mana dia sekarang? di meja udah gak kelihatan. Apa dibawa kabur cowok jadi-jadian? Dialan, tuh anak.


"Eh, kenalin." suara Siska mengalihkan konsentrasi lagi. Seorang lelaki menghampiri dan langsung berdiri merangkulnya, "Mas Safik, suamiku."


"Hai. selamat, ya!" lelaki itu nyodorin tangan buat salaman. "Safik." lanjutnya menyebutkan namanya.


Aku gak bisa nahan diri buat ngakak. Ini cowok yang dulu bareng sama Siska ngelanjutin S2 ke Jepang. Sekarang mereka beneran jadian. asem!


"Jadi aku diputusin gara-gara lu?" Tanyaku dalam nada canda. Safik tergelak penuh kemenangan. "Kurang ajar, lu!"


Kenapa nasib gini-gini amat, ya? Mantan terbaik, sekarang malah nikah sama cowok culun yang dulu cuma menang pintar doang. Sementara aku, diselingkuhin sebulan sebelum wedding day, dan akhirnya nikah sama lesbian.


salah aku apa?


"Hai," Nesya tiba-tiba datang entah darimana dan langsung ngerangkul tanganku.


Ngelihat wajah secantik Dewi yang dia punya, rasanya ini waktu untuk bersyukur. Gimana pun semua orang cuma tahu kalau Zian menikah dengan pewaris tunggal angkasa group yang memiliki kecantikan setara bidadari dan sekarang punya seperempat saham salah satu perusahaan terbesar di negara ini. Semua cowok pasti iri sama aku sampai langit ketujuh.


"Hai, kenalin ini temen kuliah dulu. Siska sama suaminya, Safik."


Seperti biasa, Nesya sangat pandai masuk dalam percakapan. Dia langsung terlihat akrab dengan Siska sampe aku ngerasa tersisih.


tiga bab hari ini ya..


aku cuma minta like aja, gak minta vote atau apapun itu. like aja cukup kok buat bangkitkan semangat haha..


kalo pun ada yang kasih vote sama hadiah, saya terima juga kok. saya ucapkan banyak-banyak terima kasih malahan.

__ADS_1


__ADS_2