
Cepat-cepat aku ngambil napas sepenuh paru-paru dan langsung menyelam mencari Nesya. Gamis putihnya membelit kaki hingga tak dapat bergerak. Tangannya menggapai-gapai dan gelembung dari hidungnya semakin mengecil.
Sialan! Siapa suruh terjun gak pake mikir. yang kaya gini bisa menang main catur sama om Surya? Gak percaya aku!
Aku lepas gamis dari badannya hingga dua kaki yang terbelit bisa bergerak. Dengan cepat dia mengayuh, mencari udara ke permukaan.
"Huaah! Zian! Hahaha!" Gila! Nesya ketawa! Gak sadar barusan nyaris mati? "Tengkiu! Aku tahu kamu bakal nolongin aku! Hahaha!" Ucapnya tanpa beban. enak banget dia ngomong gitu.
"Ganti baju dulu harusnya tadi..." kalimat ini gak selesai, dia keburu membekap mulutku dengan mulutnya. Butuh napas buatan mungkin dia.
Cuma sebentar, lalu, "udah, gak usah ngomel-ngomel!" Katanya kembali membusurkan badan untuk menyelam.
Aku masih gak percaya yang barusan terjadi. Bukannya dia sendiri yang bilang ciuman bibir itu sacred? Atau yang barusan gak bisa dibilang ciuman?
Oke, bukan ciuman. Berarti kalau mau nambah lagi, boleh, nih? Bukan ciuman, berarti juga bukan termasuk s**s. ye kan? ye kan?
Perahu karet datang beberapa saat setelah kami bermain air. Petugas langsung menyodorkan selimut untuk menutup tubuh Nesya yang hanya menggunakan dua potong pakaian dalam. untungnya aku masih pakai singlet dan celana pendek, gak terlihat terlalu telanjang.
Si petugas kelihatan berkali-kali ngelirik ke arah Nesya. Mungkin berharap selimut yang menutupnya tersingkap sedikit saja. Jangan mimpi! bakal aku kekepin sampai kamar.
Dikamar dia masih melepaskan tawa yang tertahan sejak naik ke atas perahu karet.
"Kamu lihat gak tadi? Kapalnya agak miring ke belakang loh," Katanya disela tawa, "Orang-orang pada lari kebelakang ngeliatin kita." Aku hanya bisa ngangkat bahu. gak perhatiin. Lebih fokus ngawasin si petugas yang jelalatan. "Tengkiu, ya!" dia merangkul ku lagi. Selimut yang bergantung di pundak terlepas seluruh tubuhnya terpapar jelas kecuali yang tertutup pakaian dalam. "Tadi itu pengalaman super banget!" Lalu dia masuk ke kamar mandi dengan begitu saja.
Gila! Dia pikir aku gay apa? Gak ngefek apa pun dikasih pemandangan kaya gitu?
tok tok tok. Aku ngetuk pintu kamar mandi. "who's there?"
"Your husband, Pengen ikutan mandi."
"Dream on!" ya, namanya juga usaha. Ditolak sudah biasa.
Namun kemudian suara ketukan asli terdengar dari pintu kamar. "Who's there?"
"Room service." Lah? Ngapain? Perasaan gak pesan apa pun. Pas di buka, kelihatan jelas mukanya si jantina menggunakan seragam hitam putih khas trainee. Yang aneh, dia pakai rok! aku melongo lihatnya.
Dia masuk tanpa disuruh dan langsung nanya dengan songong. "Mana Nesya?"
"lagi mandi," Aku ngejawab masih dalam mode bingung.
Seenaknya, dia ngegedor pintu kamar mandi. "Yoo Beb!"
__ADS_1
What? beb, katanya?
"Heh! Lo Niko, kan?"
"Iya, kenapa?"
"Lo cowoknya Nesya, kan?" aku masih susah percaya.
"Aku ceweknya, kenapa?"
ceweknya? "Maksudnya..?" aku bingung mau nanya apa lagi.
Pintu kamar mandi dibuka. Nesya muncul hanya dililit handuk dari dada hingga setengah paha. Keterkejutan terlihat nyata di wajahnya.
"Beb? aaaw! aku kangen!" Dan mereka berpelukan. lalu berciuman.
Dan aku...
Aaargh! Sialan!
"Woi!" Bentakku seraya memisahkan mereka. Enak banget pelukan, ciuman depan orang. Bahu mereka yang lengket kaya kesiram lem setan. "Ngapain Lo kesini?" Aku tendang tulang kering si jantina sampe dia terjatuh bersimpuh.
Teriakan Nesya melengking mengikuti erangan si cowok eh ralat, cewek trainee room service ini.
"Zian!" Nesya nahan lenganku biar gak lanjut nonjok. "Apa-apaan sih?"
"Dia yang apa-apaan! Ini bahkan belum sehari. Dan dia mau mengecewakan semuanya. Mana yang katanya gak masalah?" Aku tantang mata Nesya.
"Ingat, ya. Kita punya perjanjian soal pecintraan. kamu tahu ada berapa wartawan gosip di kapal ini? Kamu mau nyerahin diri buat di goreng? Begitu ada notice sesuatu gak beres disini, investigasinya kemana-mana tahu?" Sergahku.
Nesya diam. matanya masih nantangin tapi gak bisa ngelawan.
"Lu yang apa-apaan! Aku udah bilang hati sama tubuhnya punya aku! Lu pikir bisa ngerebut segampang itu?" Si jantina nyolot sambil berusaha berdiri pakai satu kaki.
"Hah? Siapa yang mau ngerebutin?" Sebenarnya kalo Nesya mau gak apa-apa juga. Tapi mana mungkin.
Aku baru tahu ternyata cowok yang di depanku ini ternyata cewek asli. Aku pikir selama ini dia itu cowok lentur. Bergaya ala-ala K-Pop Korea. Oh satu hal yang mengejutkan ternyata mereka lesbian. Ya ampun, kenyataan pahit apa ini?
"Bukannya kalian lesbian? Emangnya dia mau jadi hetero?"
Nesya melangkah cepat menengahi. Dengan memegang kedua pipi si jantina, eh ralat dia bukan jantina tapi cowok jadi-jadian. Nesya bicara, "Iya, aku gak mungkin mau sama dia. Please percaya aku beb."
__ADS_1
Cih! bucin!
"Keluar lu! Sebelum gua bikin tambah bonyok wajah lu!" Bentakku.
Si wanita aneh masih berusaha nyerang pakai tatapan mata. Aku tarik tangan Nesya biar ada ruang buat ngbuka pintu.
Cowok rasa cewek itu keluar dengan terpincang-pincang. Nesya berbalik. Ada air mengenang di matanya.
Persetan! aku gak bakal kasian.
"Kamu lagi! Emang di Surabaya ga ada cowok sama sekali? Sampai mainnya sama cewek lagi?" Aku masih belum puas menyerangnya.
Dia berbalik. Satu Galur air terlihat di pipi. sekelumit rasa tak tega menyusup di hati. Paling gak tahan aku melihat cewek nangis. Tapi matanya nyalang menatapku, mampus sama rasa kasianku.
"Gak ada cowok yang berkualitas," Nesya menjawab datar.
"Gak ada?" Jelasku gak terima.
"Iya. Ga ada! Semua cowok cuma mikirin dirinya sendiri. Mereka cuma ngelihat tubuhku. Yang mereka mau cuma badanku!" Nesya tiba-tiba meradang.
Gak ada yang bisa dibantah. ngelihat dia polosan cuma dililit handuk gini, dalam hati hanya bisa ngomong, siapa suruh cakep banget.
"Iya, kan?!" Suara Nesya udah jadi teriakan di kupingku.
"Gak." Harus jawab gak biarpun gak bisa kasih alasannya.
Dia tertawa sinis, menarik lilitan handuk hingga melorot ke lantai.
Damned! Badanku spontan panas dingin. Jantungku berdegup seperti sedang berlari dan seringai Nesya makin lebar.
"Jangan bilang kamu ga tertarik," Ejeknya memamerkan tubuh tanpa penutup seutas benang pun.
Sialan! Aku seret dia ke dinding di samping kupingnya sampai dia terjengkit merapat ke belakang.
"Iya aku tertarik. Bahkan kalau sekarang aku pakai badanmu buat memuaskan nafsuku, itu bahkan dibilang sebagai nafkah batin dari suami untuk istrinya. Lalu kamu mau apa?" Tantangku kepalang tanggung.
Sekilas, ketakutan berkilat di matanya. Tak ada napas dikeluarkan Nesya, meski jarak kami tak lagi sampai sesenti.
Dia membeku, menempel di dinding. Sementara aku masuk ke kamar mandi. Ngebalurin lotion demi mengurai ketegangan.
Sungguh fakta mengejutkan. Cantik-cantik lesbian. Cuih!
__ADS_1
Huh! Nasib kok gini-gini amat sih? Amat aja nasibnya bagus.
Lah aku??