Istriku salah arah

Istriku salah arah
cita-cita Om Surya


__ADS_3

Operasi om Surya berjalan lancar. Sekarang dia udah bisa istirahat di ruang ICU. Ngeliat kondisi beliau, tangan jadi gatel pengen nelpon Nesya. Tapi dokter Ahmad melarang.


"Pak Surya gak mau anaknya tahu. dia gak mau berbagi kesedihan," Gitu katanya.


Mau bagaimana lagi? Dalam hati ngerti banget perasaan om Surya. Untuk orang-orang tersayang, emang pengennya cuma berbagi kebahagiaan aja.


Itu sebabnya sampe sekarang gak ada yang tahu cerita sebenarnya tentang lindar. Cukup mereka tahu kalo aku diselingkuhi. Sekedar buat alasan pembatalan pernikahan.


Segitu aja udah bikin mama papa muram. Ngeliat orang-orang tersayang ikutan sedih rasanya lebih nyakitin daripada dimanfaatin sama cewek yang dicintai sepenuh jiwa.


Udah lewat tengah malam waktu aku ninggalin om Surya dengan selang-selang dan kabel buat memonitor status kehidupannya. Menurut dokter Ahmad, kemungkinan besok beliau baru sadar sepenuhnya.


"Pulang dulu aja, mas. Istirahat dulu, gak ada gunanya juga kita disini," Gitu katanya.


Pinter ngomong emang, padahal dia sendiri gak langsung pulang. Dia duduk sampe melorot di kursi ruang tunggu loby rumah sakit. Tangannya terkulai menggenggam kopi kalengan.


"Belum pulang, dok?" Basa-basi banget aku kan?


Dia tersentak, menegakkan punggung dan nyodorin sekaleng kopi. "Mau? tadi beli satu, malah keluar dua. Mesinnya error' kayaknya," Katanya menunjuk vending machine dengan ujung dagu.


Aku nerima kopi dan duduk disebelahnya. "Capek banget, ya dok?"


"Yeah. Sama sekali belum sempat tidur tadi," Ujarnya bernada curhat.


"Lah? bukannya tadi lagi tidur waktu saya telpon?"


"Eh?" Mukanya seketika disapu warna merah.


"Iya. Tadi lagi tidur." katanya disela tawa yang canggung.


Eh, bukan tidur? terus apaan? gak meleset tebakan aku ternyata. kasian dokter Ahmad jadi kentang. Hahaha!


"Hehehe. Maaf, ya dok. Jadi ganggu." Hadeh, jadi awkward gini. Pantesan hapenya ada di tangan si Dedek, biar gak ganggu mungkin.


"Hahaha, gak apa-apa," balasnya menggoyang-goyangkan kaleng kopi yang mungkin tinggal terisi separuh.


Aku buka kaleng kopi. Aroma harumnya langsung menguar, menggoda untuk di sesap.

__ADS_1


"Makasih tadi langsung ambil tindakan cepat buat menghentikan debat kusir dengan pihak manajemen," katanya tak terdengar seperti basa-basi.


Senyumin aja. Dinginnya kopi kalengan ini merambat masuk sampai ke d**a.


"Biasa aja, dok. Saya paling males ngurusin administrasi. Harusnya nyawa manusia jadi prioritas utama, bukan prosedur administrasi yang sebenarnya buat mengamankan neraca keuangan."


Dokter Ahmad ketawa kecil. "Emang bener kata pak Surya. Mas Zian bukan anak muda gila harta."


"Hahaha! bisa aja om Surya. Padahal kenal aja baru kemarin." Aku teguk kopi kalengan yang judulnya cappucino.


Ternyata rasanya lumayan buat bikin melek, biar pun masih terlalu manis.


Dokter Ahmad noleh dan natap aku lurus-lurus. Kayaknya dia gak percaya sama apa yang barusan di dengar. "Bukannya udah lama ketemu? kayaknya udah beberapa bulan lalu pak Surya cerita kalo ketemu sama anak muda yang seide sama dia soal penggunaan uang."


"Oya?" jadi ingat cerita om Surya di mobil tadi.


"Iya. Katanya kalo cewek pasti udah dilamar buat jadi istri. Berhubung cowok, dia berniat buat jadi menantu," Dokter Ahmad bercerita di akhiri tawa.


"Akhirnya kesampaian juga cita-cita pak Surya." Kata-kata dokter asli bikin ngakak.


"Cita-cita?"


"Lebay. Saya ini apalah apalah, dok." Tapi pak dokter sama sekali gak ketawa.


Dia nge-respon dengan tenang dalam nada serius. "Sejak di diagnosis kena kanker paru-paru, pak Surya tuh langsung meningkat level stresnya. Ini juga bikin terapi gak terlalu ngefek jadinya. Tapi sejak ketemu mas Zian, sepertinya beliau mulai punya gairah hidup. Udah mulai tenang menghadapi penyakit. Jadinya progres penyakitnya pun kaya tertahan."


Bisa gitu?


"Titip pak Surya, ya." Kata dokter Ahmad nepuk pundak aku,


"Prognosis penyakitnya emang gak bagus. Tapi seenggaknya kita bisa bantu beliau bahagia di akhir hidupnya."


Shock aku. Teringat soal saham-saham yang tadi di bicarain om Surya. "Emang prognosis-nya gimana, dok?"


Dokter Ahmad meneguk habis sisa kopi dalam kalengnya.


"Yah, paling bagus enam bulan. Bisa lebih cepat, bisa lebih lambat."

__ADS_1


Glek! Padahal rencana pernikahan aku sama Nesya sampe dia lulus. paling, kurang dari dua tahun. Yah, seenggaknya om Surya udah gak ada lagi ketika perceraian itu terjadi. Amanlah. Berkurang satu hati yang mungkin bakal terluka.


"Tapi yang penting bukan berapa lama kita hidup, kan? Tapi apa saja yang kita lakukan selama hidup. Lagian bisa aja, kita yang sehat ini yang duluan mati." Dokter Ahmad sedikit menggeliat, siap berangkat. "Yuk, saya duluan," Katanya menyodorkan tangan buat salaman.


"Yap. Langsung istirahat ya dok. Jangan gak tidur lagi, entar rontok badannya." Pak dokter tertawa menyembunyikan semu merah diwajah bersihnya.


"Lima kali lagi juga masih kuat ini," Dia berujar dalam canda, "Assalamualaikum."


"Waa'laikumsalam." Jawabku.


Tinggal aku sendirian ngabisin kopi. mikirin pernikahan pura-pura bersanding dengan saham betulan. Juga tentang kematian dan harapan. Dan aku, yang besok musti presentasi.


Sialan! butuh istirahat kenapa malah minum kopi.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


Setelah habis kopi kalengan aku pun memilih untuk pulang. Tubuh memang butuh istirahat ekstra, besok habis presentasi kesini lagi. Kasihan juga om Surya gak ada yang urus selama sakit, meskipun ada dokter Ahmad. Beliau juga pasti ada kepentingan lain.


Sesampainya dirumah aku gak bisa langsung masuk, sialan! bisa-bisanya aku lupa bawa kunci rumah. Terpaksa aku menggedor jendela kamar mama. Karena jika dari pintu saja kemungkinan cuma dua puluh persen mama sama papa kedengaran.


Tidak butuh waktu lama buat mengetuk jendela terdengar suara mama "Iya bentar..."


"Kok sampe dini hari gini yan? kemana aja kamu?" Tanya Mama setelah membuka pintu, masih dengan muka bantalnya.


"om Surya masuk rumah sakit ma," Jawabku malas, masuk kedalam jalan ke arah kamar.


Mata mama langsung melek sempurna mendengar ucapanku. "innalilahi, sakit apa mertua kamu yan?"


Ya elah, mertua? Belum sah kalee..


"Besok aja deh ma, Iyan jelasin ya. Capek banget nih. Besok ada presentasi." Ucapku. sambil jalan cepat kearah kamar. Kalo diladeni bisa-bisa gak istirahat aku semalaman.


"Ih, ni anak ya, bikin orang tua penasaran aja." Gerutu mama, aku cuekin aja langsung masuk ke kamar.


Tanpa buka pakaian maupun cuci kaki, aku langsung aja menghambur keatas ranjang. Meskipun habis minum kopi gak terlalu ngefek buat aku, gak butuh waktu lama sudah masuk ke alam mimpi.


semoga aja mimpi indah, bukan basah. eh, itu juga termasuk mimpi indah ya,, au ah pusing.

__ADS_1


maaf dikit aja ya 🙏🙏


__ADS_2