
Perjalanan terus berlanjut. mobil masih di jalan tol. Tapi sekarang semua terasa berbeda. Aku udah punya alasan kenapa harus melaksanakan pernikahan ini. Bukan lagi demi ngeliat mama bahagia. Udah ada tujuan sendiri yang mau dikejar. Balas dendam sama lintah darat, titik!
Seenggaknya bisa membungkam dia sama cowoknya. Pasti mereka menertawakan aku karena sudah masuk perangkapnya. Yang bisa membodoh-bodohi aku.
"Stell musik lagi, dong," Pinta Nesya. Setelah beberapa menit terjadi keheningan.
"Hahaha nagih ya? Stell sendiri dari playlist," Aku kasih hapeku ke calon istri. Atau lebih tepatnya, my partner in crime. Hah! Transaksi ini sungguh memuaskan.
Aku gak berharap ada cinta di antara kami. Buat apa? Cinta cuma bisa nyakitin hati. Kalo pun dia nanti butuh s**s, it's okay. Gak perlu cinta kalo buat baku tindih di atas ranjang.
"Ada pesan dari lintah darat," Nesya nyebutin notifikasi yang muncul di hapeku. aku ketawain aja.
"Apa katanya?"
"Sayang, kangen nih. Ketemuan, yuk!" Nesya membacakan pesan.
"Hahahaha!" amAku ketawa. Gimana gak ketawa denger pesan begitu coba. Kan lihat aja kelakuannya. udah ketahuan, masih punya muka juga buat ngirim pesan. yakin aku pasti ini cuman buat jebak aku lagi. sorry ya salsa Safitri aku nggak sebodoh itu. Tunggu aja waktunya. aku nggak bakal balas dendam kok. tapi aku akan buat dia menyesal telah menyia-nyiakan aku.
"Kangen sama orangnya apa sama kartu kreditnya?" Ya, suatu kebodohanku pernah ngasih dia kartu kredit tak terbatas waktu peringatan hari jadian yang ke enam bulan, sekaligus ngelamarnya.
Shiit! selama lima bulan dia morotin aku. Udah ratusan juta terhutang di bank. Terakhir kali dia ingin melakukan transaksi yang gak biasa. Sampe bank mengirimkan notifikasi ke ponsel. Setengah milyar buat beli perhiasan. Gila! Jelaslah aku tolak. Saat itu juga kartu kreditnya terblokir. Gak heran sekarang dia bilang kangen.
"Aku jawab gitu, ya?" Nesya mulai mengetikkan jawaban. Aku tak peduli dia mau bales apa.
"Aww! Astaga!" Nesya tak lama kemudian berseru.
"Kenapa?" aku bertanya terkejut.
Dia nunjukin jawaban dari lindar. Cewek matre itu ngirim gambarnya setengah badan cuma pake dalaman doang dengan caption 'Kangen orangnya, dong,'.
"Hahaha! Boleh juga," Ucapku
"Hajar gak, nih?" Tanya Nesya.
"Menurutmu?" Aku balik nanya.
"Serah. Kalau mau manfaatin, pake aja. Abis itu tinggalin. Atau..." Bibir Nesya mendarat di pipiku dan klik. satu foto Selfi selesai. "Tinggal tekan send." Ucapnya sambil terkekeh.
__ADS_1
Nesya nunjukin foto yang barusan di ambil. "WOW!" Aku ngelirik sekilas dan langsung terpesona dengan keahliannya mengambil gambar. Foto itu terlihat sangat nyata dan sedikit nyeselin. Disitu Nesya seolah cinta mati sama aku, hahaha.
"Menurutmu, sebagai cewek, mana yang lebih nyakitin?" Tanyaku.
"Dikirimin foto ginian," Balasnya.
"Oya? Bukan di pake terus ditinggalin?" Aku kembali mengejar ucapannya tadi. Dia ngakak.
"Karena, kalau cuma di pake terus ditinggalin, tinggal nunggu waktu aja, kamu pasti akan bertekuk lutut lagi dihadapannya." Jawaban Nesya diplomatis.
Aku manggut-manggut."Padahal sayang nih di anggurin. Dia sendiri yang nawarin," Balasku kemudian. Nesya makin nggak.
"The choic ia yours!" Ucapnya masih dengan ngakaknya.
Mikir bentar. Sayang, sebenarnya. Lumayan kan buat angetin badan. Tapi Nesya bener juga. Sadar diri, aku paling gak bisa nolak cewek.
"Oke, sekalian foto c*um bibir kalau gitu," usulku. Nesya tambah ngakak.
"Dasar, modus!" Sergahnya setelah tawanya hilang dan kini aku yang ketawa.
"Boleh, dong. Namanya juga usaha," Elakku dan emang dari kemarin penasaran sama bibirnya. Gimana kalau ngisep rokok di ganti sama ngisep aku, Hahaha!
"What? Di elektro, belajar konten sama konteks juga?" Tanyaku heran dan takjub.
"Biar kuliah di elektro, juga pernah belajar ilmu budaya dasar, tahu." Gila! jauh benar beda usia kita. Pelajaran-pelajaran jaman kuliah udah gak ada satupun yang nyantol. Kalau dipikir-pikir, pas dia lahir, aku udah kelas tiga SD. Savage!
"Gimana?" Nesya udah siap-siap tekan tombol send.
"Oke, jadiin!"
Nesya terkikik-kikik mengirim balasan.
"Aku tulis 'sorry, lagi sibuk nyetir'," Tambah Nesya.
Hahaha! kami tertawa bersama. tak lama kemudian, Nesya berseru lagi.
"Eh, dia bales lagi. Lah, katanya, ini siapa, ya?" Kembali kami terbahak bersama. Si lindar bisa nebak kalau yang nulis bukan aku.
__ADS_1
"Jawab gak?" Nesya minta persetujuan.
"Gak usah. Udah malas hubungan lagi sama dia. Bikin kambuh alergi."
"Halahhh! Alergi tapi mupeng." Lah, gimana? Pemandangan begitu, kan susah di tolak. Semua lelaki pasti mupeng lah. Eh, ralat. Kecuali yang udah belok.
"Hapus aja fotonya!" Perintahku. Takut ntar khilaf hahaha!
"Beneran, nih" Nesya tak yakin. Aku ngangguk yakin.
"Iyap!"
"Kenapa kamu gak kirim ke status kencan aja gitu, pasti dapat banyak orderan dia. Hahaha."
"Eh?" ni anak otaknya kriminal juga ternyata. Bisa-bisanya mikir se-sadis itu.
"Gak lah. Biar pun selama ini dia sama aja jual diri tapi bukan aku yang nge-beli dia. Dianya aja yang gak punya harga diri." Gak ada jawaban dari Nesya. Mobil mulai memasuki area bandara Halim Perdana Kusumah.
"Aku cari parkir dulu, ya"
"Gak usah," Nesya menyergah buru-buru, " Langsung drop of aja."
"Kalo cuma drop of, gak bisa lama-lama."
"Gak apa-apa. Langsung pulang aja." Dia buru-buru turun dan ngambil ransel di bangku belakang.
"Dah, duluan ya," Katanya sebelum nutup pintu. Dari balik kemudi, aku bisa liat Nesya berlari menyongsong seseorang. Jantina yang baru turun dari ojek online.
Aku terpaku. Ada rasa gak rela di hati tapi bodoh amat! injek gas sedalam-dalamnya. Kita udah sepakat untuk saling mengambil manfaat. Transaksi ini cukup menguntungkan aku. Soal dia dengan siapa menjalin hubungan. Sekarang atau nanti. Bukan urusanku!
Yang penting aku bisa balas dendam sama si lindar. Terus nggak di rusuhin mama lagi soal belum menikah. Jadi bisa fokus untuk nyari duit, dan bahagiakan orang-orang yang membutuhkan.
Soal cinta? Udah males mikirnya. Udah kapok. Sudah beberapa kali merasa sakit hati karena cinta. Gak tahu kenapa aku selalu apes soal asmara. Dilihat dari tubuhku gak ada yang cacat. Yah ganteng-ganteng orang Indonesia lah. Bisa dibilang diatas rata-rata malah. Bukannya mau sombong permirsah, tapi memang itulah kenyataannya.
S****egitu** aja dulu yah pemirsa,, tunggu kelanjutan di bab selanjutnya aja ya**..
tank you yang udah mau mampir. aku nggak berharap vote dari kalian kok. seenggaknya kasih like aja biar aku tambah semangat buat nulis.
__ADS_1
tapi nggak nolak juga kalo ada yang mau ng-vot aku hahaha!