Istriku salah arah

Istriku salah arah
tempat ternyaman


__ADS_3

Di tv terpampang film dokumenter tentang pola asuh paling aneh yang dialami bayi berbagai spesies udah sampai di ujung. Sekarang recap mulai dari peringkat sepuluh sampai peringkat satu.


"Ya ampun!" Seru si Nesya tiba-tiba dan itu sukses ngebuat aku kaget banget. "Bayi-bayi dari spesies apa juga, lucu-lucu, ya!" Dia ngomong gitu sambil gemas ngeremas-remas tanganku.


'tolong remas yang dibawah juga, dong nes, boleh gak?' Pintaku dalam hati.


"Eh, tahu gak sih, kemaren kan aku gendong bayi. Ya ampun, lucu banget. Mana kepalanya mungil banget lagi, kan? terus mulutnya monyong-monyong imut gitu. Ya ampun, yan. Kamu gak pengen punya bayi?"


Hey! Maksud dia apa ya? Jangan-jangan dia pengen punya bayi sama aku. Ngareepp teroooss!


"Tergantung," Jawabku sok kalem.


"Kok tergantung?" Nesya menatap mataku.


"Ya, tergantung siapa ibunya." Kalau ibunya lesbian, entar anakku di jadiin homo lagi. Cari ibu yang lurus-lurus aja, dah.


Nesya diam. lalu. "Kalau ibunya Siska, kamu pasti mau, ya?" Tanyanya dengan nada pelan.


Lah? kenapa bawa-bawa orang? "Kalau dia cerai sama Safik, mungkin," Balasku.


"Kamu cinta mati ya sama dia?" Huh! males banget ngomongin masa lalu. Aku hidup buat masa kini dan masa depan. "Kenapa kamu suka sama dia?"


"Move on, nes. Dia itu masa laluku. Mending ngomong masa depan aja deh!" Aku musti ngalihin pembicaraannya dengan secepat-cepatnya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.


"Kayanya RUPS bakal di majuin. Tadi aku ke cafe ketemuan sama pengacaranya om Surya." Lanjutku tanpa memberi jeda pada Nesya buat ngelempar aku ke masa lalu. Entar ujung-ujungnya ke si lintah darat lagi!


"Kamu ketemu om Iwan?" Tanyanya tak percaya, "Emang om Iwan gak ikut di kapal?"


"Dia harus ke Medan katanya, nonton pertandingan kualifikasi anaknya buat pekan olahraga mahasiswa apalah, aku lupa lagi." Nesya manggut-manggut.


"Udahlah. Balik ke topik." Aku noleh lurus supaya bisa lihat mukanya. "Kemungkinan pak Reno sama pak Bima bakal minta jabatan Presdir segera diganti karena Presdir yang sekarang lagi sakit."


Muka Nesya langsung berubah. Mulutnya menghembus napas lelah. "Aku pusing kalau disuruh mikir perusahaan," Ujarnya disertai mulut mecucu.


Nah, waktu yang pas buat masukin materi tanggung jawab pemegang saham. "Mau gak mau, kamu musti pikirin. Apa kamu mau perusahaan yang udah susah payah dibangun sama ayahmu hancur berantakan?" Dia diam. Termenung menatap layar televisi.


"Sebenarnya, ini jadi mirip sama kondisi ibu dulu." Heh? kita balik ngomongin masa lalu lagi? males! "Ibu tuh gak terlalu suka ngurusin perusahaan. Untungnya dia Pacaran sama tangan kanannya kakek, jadi amanlah. Yang tadinya cuma jadi juragan angkot, sekarang jadi perusahaan Travel malah punya hotel segala. Untung banget ibu dulu nikahnya sama ayah." Kayanya aku mulai bisa ngebayangin arah pembicaraan Nesya kemana.

__ADS_1


"Jadi, berhubungan kamu peduli banget sama perusahaan, ya udah, kamu aja yang ngurusin, ya?" Dia kedip-kedip manja sambil ngerangkul tanganku lagi.


"Hah! waktuku gak banyak. Begitu kita cerai, sahamku ke CSR, dan aku akan hidup dengan penghasilanku sendiri."


Nesya menoleh dan langsung menatap mataku dengan intens. "Itu perusahaan kamu. Kamu aja yang ngurus, oke?"


Sialan! kalau anaknya sendiri gak mau ngurusin perusahaan. Kenapa musti aku yang pontang-panting? Oya, lupa. Ini gak cuma soal nasib perusahaan. Ini soal nasib anak-anak di pedalaman sana. Sabar, fokus sama tujuan.


"Oke. Aku akan ngurusin perusahaan. Tapi aku butuh kamu buat mendukungku seratus persen," ucapku.


Ini buat jaga-jaga, kalau-kalau pak Reno atau pak Bima menghubunginya buat ngajak kongkalikong.


"Siap! aku serahkan padamu. Aku mau nyari kerjaan yang bisa buat nabung beli berlian."


Halah! padahal kalau dia serius ngurusin perusahaan, berlian bisa langsung beli, gak usah pakai nabung.


"Nes, are you sure?"


"What?"


Nesya narik napas panjang. "Ini lebih prinsipil dari sekedar kerja dimana. Ini soal pilihan hidup."


"Huh! soal jadi lesbian?" Dia mengangguk mantap. "Sorry, nes. Aku gak yakin kamu bahagia sama si cowok jadi-jadian itu."


"Jangan sotoy!"


"Gak!" aku tatap matanya lekat biar dia tahu kalau omonganku ini serius. "Kalau kamu merasa perlu menyembunyikan sesuatu dari dia, seperti kaya gimana hubungan kita sesungguhnya, maka sebenarnya kamu gak bahagia sama dia. Kamu hanya nyaman sesaat tetapi sesungguhnya kamu tidak bahagia." Nesya terpaku.


"Jujur ajalah, sebenarnya kamu lebih bahagia sama aku daripada sama dia, bener kan?" Aku bicara mantap dan berusaha agar terdengar meyakinkan. Padahal sebenarnya ini cuma usaha menanamkan sugesti. Yah, namanya juga usaha, gagal pun gak masalah.


Nesya terdiam beberapa saat. Sama sekali tak menjawab. Dia hanya berdiri dan mengambil espresso yang aku bawain dari cafe tadi. Matanya menerawang. Terus balik, menatapku seperti sedang mengukur jarak antara aku dan dirinya.


Jarak apa? Jarak dari mata sampai hati? hohoho.


Tangan Nesya menggoyang-goyangkan cangkir kertas bertutup warna coklat. Kopinya pasti hampir dingin sekarang. mungkin jadi terlalu pahit untuk disesap.


Aku nunggu sampai dia ngomong. Tapi gak ngomong-ngomong. Sebenarnya apa yang ada di pikiran dia ya?

__ADS_1


Akhirnya dia menenggak espressonya secara sekaligus. Wow! bukannya kopi paling enak itu dinikmati sesesap demi sesesap?


Terus dia duduk lagi di sampingku . "Semalam aku bete dan kesel banget sama Niko. Seumur-umur, belum pernah kita berantem kaya gitu. Biasanya cuma masalah mau nonton apa atau mau makan apa. Tapi semalam, rasanya berat banget."


Nesya ngelempar cangkir kertas ke keranjang sampah di bawah meja TV. Masuk! lumayan juga akurasinya.


"Aku nyaris gak bisa tidur semalam." Dia ngambil napas sebelum ngelanjutin, "Untung ada kamu, jadi aku bisa tidur."


Mata Nesya gak bohong. Tapi aku masih gak ngerti maksud omongannya. Apalagi saat dia menggigit bibir. Kayanya dia susah banget buat ngelanjutin omongannya.


"Semalam..." lanjutnya dan kembali berhenti.


Hadeh! lama amat mau ngomong aja.


"Kenapa?" Tanyaku gak sabar.


"Semalam kamu udah tidur." Jiah! gak usah diceritain juga udah tau, kaleee. "Terus aku curhat gitu, deh." huh? Dia curhat sama aku yang sudah tidur? Gak salah?


"Terus aku pegang tanganmu sambil bilang, 'peluk aku dong'." Dia menggigit lagi bibirnya


"Terus?" kok aku jadi deg-degan gini ya? diapain aku semalam?


"Terus kamu peluk aku." hah? yang bener? masa aku senurut itu? "Terus aku lupa kapan tepatnya. Ternyata aku bisa tidur dan itu rasanya nyenyak banget."


Gak sabar aku. "And the points is...?"


"Tadi siang juga gitu." dia masih ngelanjutin ceritanya. "Tadinya aku gak niat tidur. Tapi waktu aku pegang tanganmu, kamu langsung balik dan meluk aku." hah? segitunya? "dan tanpa sadar aku ketiduran." Nesya ngelirik aku sambil gigit bibirnya lagi.


Aku makin gak ngerti kemana arah pembicaraannya. Apa dia mau minta ganti rugi karena udah di ketekin?


"Dan aku jadi sadar..." Nesya berhenti lagi, berhenti lagi. Lama banget, dah


"Apa?" Tanyaku makin gak sabar.


"Ternyata tempat ternyaman di dunia adalah..." Nesya kembali terdiam dan matanya mengukur jarak lagi. "Dalam pelukanmu, yan!"


Jiaaah! duaaarr! Ampun permirsah, help me.. help me.. aku langsung ngehalu ini... Tolong!!!

__ADS_1


__ADS_2