
Asli, semua ini bikin aku gamang. Mau nanya sama siapa? Mau curhat sama siapa? Menggenggam rahasia itu menyesakkan dada, memberatkan kepala.
Di depan pintu kamar om Surya aku berhenti. Gak kuat rasanya untuk masuk. Hangat kuah bakso dalam mangkuk kertas yang di tenteng, menjalar ke kaki. Ini sudah jam makan siang dan Nesya belum makan apa pun selain roti bakar penuh mentega tadi pagi.
Aku buka pintu. Nesya duduk di samping ranjang ayahnya. Terdengar suaranya mengingsut lendir di hidung.
"Aku ceritain aja, ya yah," katanya. "Aku udah nyari e-booknya, ternyata gak ada. Tapi aku hapal banget ceritanya." Dia menarik lendir di hidung sekali lagi.
Dia menoleh. Aku kasih senyum termanis sambil nunjukin bakso dalam mangkuk kertas. Nesya menyeka air mata di pipi dan membalas dengan anggukan disertai senyum super manis. Hidungnya merah, pipinya merah, matanya juga merah. Tapi ketika semua disatukan dalam sebuah gambaran utuh, kecantikannya tetap dapat nilai sempurna.
Nesya mendehem, membersihkan tenggorokan dari lendir-lendir menggangunya. "Aku ga ingat bahasa Inggrisnya," katanya lagi masih menggenggam tangan sang ayah, "padahal ini aslinya in English, ya, yah?" Dia tertawa kecil. "Tapi aku baru tahu setelah bisa baca," lanjutnya ditingkahi tawa.
Aku taruh di atas nakas, mangkuk kertas dalam tas kresek yang tadi dipesan di kedai bakso urat. Nesya menggenggam tangan om Surya lekat ke kening. Kemudian mengecup punggung tangan itu dan memeluk lengannya penuh sayang.
Mungkin dia memang pecinta lengan. Tadi pagi aku yang digituin. Apa jangan-jangan salah pegang, dikiranya punya ayahnya gitu?
"Pada suatu malam yang temaram di dalam hutan kelam." Waw! Ternyata dia mau mendongeng. Aku ambil bangku dan duduk di depannya. Nesya tersipu ngelihat aku menyimak serius. Tapi dia tetap melanjutkan cerita.
Tupai kecil terpesona melihat benda bundar bercahaya di angkasa. 'ibu' serunya sumringah, 'apa itu?' dia menyeka hidung dengan punggung jari. Ibu tupai melihat pada benda yang ditunjuk anaknya 'oh, itu purnama.'
'purnama?'
'bulan yang terlihat bulat sempurna disebut purnama,' jelas ibu tupai. Nesya tertawa kecil, dan berhenti bercerita.
"Aku suka banget bagian ini." Matanya menerawang. "Pas bagian ini, ayah pasti bilang. 'cahaya purnama? Siapa, ya?'."
Aku jadi ikut ketawa. "Cahaya purnama? Kek kenal?" Kini Nesya yang tergelak.
"Kamu tahu?" Tanyanya.
"Aku cuma tahu satu, Nesya cahaya purnama. Apa ada yang lain?" Tawa Nesya terdengar berat. "Ayo lanjut. Terus gimana tupai kecil?"
Nesya mendehem sedikit lalu mulai melanjutkan cerita.
Tupai kecil bertanya, 'apa dia yang bikin hutan ini terang malam ini?' ibu tupai tersenyum. 'iya,' jawabnya, 'cahayanya memancar sampai ke bumi lalu terpantul dan Kembali lagi ke bulan. Terpantul lagi kembali ke bumi. Terpantul, lalu kembali ke bulan. Terpantul, lalu kembali ke bumi.'
Kami tertawa. Cara dia mengucapkan kata terpantul lucu sekali.
__ADS_1
"Bagian ini suka diulang-ulang sampai mulut ayah pegel," katanya. Rona sedih kemudian mengambang di wajah cantiknya.
"Kenapa?" Dia menekuk bibir ke dalam lalu melanjutkan cerita.
'cahaya purnama, seperti sayangnya ibu padamu, tak pernah habis dan selalu ada untukmu'
Ada air yang mengambang di pelupuk mata Nesya. "Terus ayah akan bilang, 'ayah sayang Nesya seperti cahaya purnama. Tak pernah habis dan selalu ada untukmu'." Aku jadi speechless. Jadi ini yang dimaksud Moonlight.
"Judul bukunya Moonlight. Tapi karena aku belum bisa bahasa Inggris, jadi di terjemahin langsung sama ayah." Aku manggut-manggut. "Aslinya, cuma I love you like the Moonlight." Air mata Nesya hampir menitik tapi cepat-cepat diseka-nya sebelum menyentuh pipi. Sebegitu berharganya Moonlight ternyata.
"Aku bawa bukunya kemana-mana," katanya lagi, merebahkan kepala di atas lengan sang ayah. "Kalo pengen ngobrol sama ayah, aku baca bukunya." Diserukannya kepala ke kasur. Samar isaknya terdengar.
Tolong jangan nangis lagi. Aku udah capek dari pagi ngadepin adegan nangis-nangis. Aku ikutan merebahkan kepala di samping Nesya. Rambut hitamnya terasa sejuk seperti air terjun di sela-sela jari. Dia menoleh. Aku kumpulin rambut halusnya di belakang telinga biar gak nutupin muka. Pipinya terasa lengket karena sisa air mata yang mengering. Tatapannya seolah bicara dalam bahasa yang sulit diterjemahkan.
"Aku beliin bakso tadi." Matanya membesar dalam binar. Kemudian mengangkat kepala melihat pada nakas. Aku berdiri menyiapkan bakso yang tadi memang dipisah dari kuahnya. "Nih." Kataku sambil menyodorkan bakso dan dia malah ngumpetin tangan di bawah paha.
"Suapin," pintanya manja.
"He?" Kok, jadi kebalik? Biasanya juga aku yang minta disuapin sama pacar. Ternyata setelah punya istri malah dia yang minta disuapin. Apakah ini karma? Ya sudahlah, terima aja. "Apa, sih yang nggak buat tuan putri?"
"Kurasa ayahmu juga lebih seneng lihat kamu begini daripada nangis-nangis." Wadaw! Salah ngomong aku. Senyum Nesya malah langsung hilang. Dia mengunyah bakso sambil manyun.
"Aku benar-benar meras bersalah," katanya sambil mandangin om Surya yang terhubung dengan kabel selang.
Sekarang aku yang meras bersalah. Mustinya selesaikan makan dulu baru ngobrol lagi. Aku sodorkan lagi baksonya. Tapi dia gak mau buka mulut. Malah lanjut curhat, "aku kira ayah benci sama aku." Lagi-lagi dia menggigit bibir.
Aku menghela napas. Ternyata, kasih sayangnya bisa disalah pahami seperti ini. "Makan dulu aja, ayahmu pasti gak suka kalau kamu kelaparan." Aku suapin lagi sesendok bakso plus bihun. Dia menyambut dengan senyum. Yes! Begitu aja terus.
Tiba-tiba hape di kantongku bergetar. Benar-benar gangguin. Mana dari nomor gak dikenal. Mangkuk bakso aku serahin ke Nesya supaya bisa keluar nerima telepon. Dari nomor gak dikenal bisa aja dari calon klien dengan proyek besar.
"Selamat siang, dengan Zian Prasetyo, ada yang bisa saya bantu?" Gak ada jawaban. "Halo." Masih gak ada jawaban. Lalu bunyi Tut berkali-kali tanda panggilan disudahi dari sebrang.
Huh! Yang kaya gini, nih ngeselin. Udah gangguin, malah gak ngomong apa-apa.
Neysa ngelihatin dengan pandang yang bertanya-tanya. "Siapa?"
"Tauk!" Jawabku kesel. Dan hapeku bergetar lagi. Nomor yang sama. "Selamat sore, dengan Zian Prasetyo, ada yang bisa saya bantu?" Hening. "Halo?" Bunyi Tut lagi. ini orang maunya apa, sih?
__ADS_1
"Yang tadi lagi?" Tanya Nesya.
"Hmm" kesel aku.
"Makan dulu." Dia nyumpelin sebulatan bakso pakai garpu langsung ke mulutku.
Ponsel bergetar lagi padahal mulutku masih penuh. "Sini." Nesya mengambil ponsel dan tertegun mandangin layarnya. "Halo?" Katanya ragu.
Entah apa yang terdengar di speaker. Dari matanya, aku tahu si penelepon mengucapkan sesuatu. "Hm, ya," Nesya menjawab lirih.
Siapa yang nelpon? Kenapa dari tadi diem aja, tapi pas Nesya yang angkat langsung ngomong? "Hm, ya," suaranya makin lirih.
Siapa yang telpon? Aku rebut hape dari tangan Nesya. Dia terperangah dan langsung mempererat genggaman tangannya. Gila! Ini hape aku! Kenapa malah harus rebutan gini.
Aku berdiri, dia juga juga berdiri, dan mangkuk bakso terjatuh di antara kaki kami. Kuahnya tumpah ruah hingga ke bawah tempat tidur, mengangetkan Neysa, dan mengalihkan perhatiannya. Secepat kilat, akhirnya aku berhasil ngerebut hape.
Terdengar suara dari sebrang, "halo beb?" Sialan! Si cowok jadi-jadian. Aku lihat muka Nesya ketakutan. "Bisa, ya nanti malam? Kangen banget." Eneg banget denger suaranya. Baru nyadar, ekspresi Nesya udah berubah. Kemana perginya Nesya yang tadi minta disuapin bakso? Tiba-tiba aku kangen Neysa yang itu.
"Beb" shit! Aku keluar kamar nyaris membanting pintu.
"Mau apa lu, bangsat?" Jeda sebentar sebelum kedengaran jawaban.
"Mau ngomong sama cewek gue! Mau apa lu?"
"Mau nonjokin muka lu Ampe bonyok. Kurang banyak tadi nonjoknya!"
"Huh! Coba sini kalau berani. Di atas ring. Jangan bisanya pas orang lagi gak konsen, lu ternyata kaya banci!"
Sembarangan!
"Heh! Yang banci itu elu! Sebut aja tempatnya kalau berani!"
"Tunggu wa gue!" Telpon di tutup. Kurang ajar!
Aku masuk lagi. Berhadapan dengan Nesya yang menantang dengan tatapan. Suara ventilator terdengar halus sekaligus mengiris. Ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar. Aku balik lagi keluar dan nutup pintu dari luar.
Jadi mikir, si cowok jadi-jadian dapat nomorku dari mana, ya? Aaargh! Goblok! Aku yang ngasih kartu nama sendiri tadi saat sudah kuhajar!
__ADS_1