
Abis makan malam, waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Nesya belum juga kelihatan batang hidungnya. Rasanya pengen pulang, tapi keinget besok pagi dia udah berangkat, jadi aku harus nunggu.
Butuh konfirmasi dulu sama Nesya. Kalau dia emang udah punya cowok, ngapain aku berdiri di tengah-tengah mereka.
Intinya, topik yang udah di-banned sama calon mantu idaman mama ini harus dibuka lagi. Kita wajib sama-sama clear dengan alasan masing-masing supaya bisa enak juga ngejalanin pernikahan nantinya, atau sebaliknya, menghentikan proses perjodohan sebelum mengerucut jadi perkawinan.
Untung aja om Surya ngajakin aku main catur, disaat aku udah bingung mau ngapain dirumah ini. Mau ngobrol aja, sepertinya nggak mungkin karena belum ada topik yang pas buat ngobrol panjang lebar.
Ternyata om Surya penggemar berat board game satu ini. Dia sampe punya meja khusus dari pualam yang di bikin jadi papan catur. Gila! orang kaya mah bebas!
Sementara aku udah lupa kapan terakhir kali mainin bidak di papan kotak-kotak ini.
"Kuda jalannya gak kaya gitu," Kata om Surya waktu aku lompatin satu pion pake kuda item.
"Emang kaya gimana, om? Bukannya kuda emang lompat-lompat?" Om Surya spontan ngetawain aku. Sumpah, bikin aku pengen gampar. Untung calon mertua.
Alhasil malam itu aku kalah berkali-kali, tanpa menang sekali pun. Dasar om Surya, untuk sekedar menjaga pelanggan aja nggak ada, seenggaknya ngalah aja sekali kek, biar pelanggan gak kabur.
"Tahan terus. Kamu udah banyak kemajuan sejak pertama kali main tadi. Besok kesini lagi, kita main lagi."
"Eh, iya om." dalam hati gak yakin bakal kesini lagi. Ini aja sebenarnya pengen nge-cut urusan perjodohan.
"Udah jam sepuluh,," Om Surya udah berkali-kali nguap sambil sembunyi-sembunyi.
Yah, sebagai tamu, harus paham, sekarang waktunya pamit. Besok pagi-pagi kesini lagi, buat ketemu Nesya. Pokoknya harus ketemu. Pembahasan sepenting ini nggak enak jika harus melalui sambungan telepon.
"iya, om. besok aja saya kesini lgi. sekalian nganterin Nesya ke bandara."
"Ya ya. Begitu lebih baik. Istirahat dulu aja." Om Surya nyodorin tangan buat salaman.
__ADS_1
Jadi terpaksa pamit, dah.
Di jalan pulang tidak sengaja aku melihat satu motor gede masuk ke salah satu hotel. Perempuan yang di duduk di boncengan aku sangat mengenalnya. Yang bikin kepala dan hatiku seketika memanas, jika seandainya di film kartun mungkin kepalaku sudah mengeluarkan api.
Dasar lintah darat beracun. Enak sekali dia bersenang-senang sama cowoknya, setelah memeras uangku selama ini. Sumpah baru kali ini rasanya aku nggak ikhlas memberikan sesuatu kepada orang, terutama soal uang. Biasanya aku tak pernah mempermasalahkan hal itu.
Ya, barusan yang aku lihat itu si lindar sama cowoknya masuk ke hotel. Shiit! waktu bersama gue gak pernah sampe masuk hotel. Palingan hanya di kostan aja. Mungkin dia udah keluar dari kostan elite itu. Karena selama ini aku yang bayarin kost-an dia yang mahal itu.
◾◾◾◾◾
Sampe dirumah, mama ternyata nungguin sambil nonton tv. Dia berdiri begitu aku masuk.
"Belum tidur ma?" basa-basi banget kan pertanyaan ku.
"Kok ketemu sama Nesya sampe jam segini? Ngapain aja?" Tanya mama tanpa menjawab pertanyaan aku.
"Gimana? Kamu suka kan?" Mama langsung nodong pertanyaan dari belakang.
Aku diem saja sambil ngambil minum lalu duduk menghabiskan segelas air. Kerongkongan sedari tadi terasa kering. Otak ini rasanya panas banget, melihat lindar masuk hotel bergandengan manja sama cowoknya. Belum lagi mikirin Nesya sama jantina itu.
Sumpah bikin pusing, kenapa sih perempuan-perempuan yang dekat ke aku nggak ada yang jelas? Eh ralat kecuali perempuan yang lagi bersama aku saat ini.
"Yan?"
"Hmm,"
"Mama nanya loh!" Muka mama agak di tekuk, gak terima di cuekin anaknya.
"Capek, ah ma. Pengen tidur. Besok aja kita ngobrolnya." Jawabku, lagian semuanya belum jelas, apa yang mau dibahas coba.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak suka sama dia, mama gak masalah." Tadinya aku kira mama gak bakal ngomong lagi. Ternyata salah. Aku berbalik. Ekspresi muka mama susah banget diterjemahkan. Antara sedih dan merasa bersalah.
"Jangan nerima perjodohan ini cuma karena mama," Katanya lagi. Hadeh! apalagi nih? Mama rajin banget bikin drama.
"Mama cuma gak mau aja setelah kejadian ini kamu trauma sama perempuan, dan nggak ada niat buat menikah. Umurmu udah hampir kepala tiga. Apalagi mama sama papa udah pengen nimang cucu, anak kami cuma kamu satu-satunya yan." Kepalaku jadi makin sakit. Dada rasanya sesak, padahal udah enam bulan gak ngerokok.
"Kamu harus bangkit, cari perempuan yang bener-bener cocok buat kamu. Jika perlu ikut ta'aruf aja jika kamu udah males deketin perempuan lain. Mama mendukung dan berdoa yang terbaik buat kamu." Astaga! emang ya. Kasih ibu sepanjang masa. Udah Segede gini aja masih dipikirkan sama dia.
"Nuantai aja, ma." Aku dekap erat pundak mama yang berguncang nahan tangis. "Bukannya Allah udah janji setelah kesulitan ada kemudahan-kemudahan." Preet! pinter banget gue pencitraan. Tapi gimanapun, kata-kata itu manjur bikin mama lega. Dia langsung berhenti nangisnya.
"Itu kamu tahu, setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Itu dari surat al-insyirah, kan?" Mati aku, mana aku tahu. Aku hanya dengar-dengar dari orang aja. Tapi aku ngangguk aja, jangan sampe pencitraan yang indah ini gagal total
"Sejak kapan kamu belajar Al-Qur'an lagi?" Ini baru pertanyaan sulit. Aku aja udah lupa kapan terakhir baca ayat-ayat suci itu. Maafin hamba ya Allah.."Apa semenjak di selingkuhi sama salsa kamu jadi rajin baca Qur'an lagi?" Eh kok bawa-bawa lindar? Baru aja lupa kejadian barusan. Keinget lagi kan gara-gara mama.
"Ng, nggak juga ma," Aku paling nggak bisa kalau harus berbohong bawa-bawa soal agama. Walau aku ini orang yang selalu berbuat maksiat.
"Oh, masa Allah. Alhamdulillah. Janji Allah emang bener. Setelah kesulitan ada kemudahan-kemudahan. Buktinya sekarang kamu jadi ingat Allah lagi. Makin dimudahkan untuk menerima petunjuk-petunjuk Allah. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan? Masa Allah barakallah, sayang. Mama jadi nggak kawatir lagi."
Astaga! mama, kok salah tanggap sih? Aku hanya nelen ludah. Cengengesan, nggak tega ngerusak kebahagiaan mama.
"Yaudah, sekarang kamu istirahat gih, jangan lupa berwudhu dulu, itu juga termasuk Sunnah kan?"
"Hehehe, iya ma." Serah mama dah, yang penting beliau hepi. Itu yang utama.
**ya kan permirsah??? kebahagiaan orang tua yang harus di utamain? i love emak 😘😘
Okelah kita langsung bab selanjutnya,, oke??
Okelah masa nggak. hahaha**,,
__ADS_1