
Anget.
Hembusan udara di pundak.
Harum.
Pernah cium harum ini sebelumnya.
Kapan?
Semalam.
Waktu Nesya nangis di pelukan.
Nesya.
Harum rambut Nesya.
Astaga! Buru-buru aku buka mata. Nesya meluk tangan, sementara kakinya menyilang di atas kakiku. Dia kira lagi meluk guling apa?
Kabur apa nikmatin aja?
Nikmatin aja. Aku ketawa jahat dalam hati. Nikmati kulit selembut mentega. Harum shampo yang tertinggal di rambut. Embusan napas yang menghangatkan.
Damned!
Dia melek. Cuma sebentar. Kayanya belum terlalu sadar. setelah menggeliat sedikit lalu mengubah posisi jadi telentang dan tidur lagi. sial! musti kabur sebelum dia benar-benar bangun.
Neysa bangun waktu aku selesai mandi dan lain-lain. gila ni cewek. lagi berantakan gini aja masih cakep.
"jam berapa sekarang?" tanyanya dalam suara serak seksi khas bangun tidur.
aku nyalain layar hape.
"lapan. mandi, gih. aku udah reserved satu meja di captain's room."
meski seluruh penghuni dek ini mendapatkan akses makan gratis sepuasnya di semua restoran yang ada di kapal, tetap saja harus melakukan reservasi agar tidak terhalang antrian.
dia melenguh malas dan kembali meringkuk memeluk selimut.
satu notifikasi muncul di ponsel. dari Siska. sebuah video dengan caption, "yang lagi viral di anak IT sepagian ini."
"malas, aku belum serapan," balasku cepat terus lanjut ngambil baju dari koper.
"woi! bangun!" Nesya gelagapan karena guncang tepian ranjang yang aku tendang.
"masih ngantuk tahuk!" dia ngelempar bantal kesal.
dasar ni anak. ngajakin perang bantal lagi? sebuah notifikasi dari Siska masuk.
__ADS_1
"lihat sebelum sarapan, biar gak eneg."
jadi kepo aku download juga videonya. ternyata hasil rekaman CCTV. setting-nya bikin jantung berdegup kencang. ini area outbond yang ada di dek teratas. seorang perempuan dengan seragam pelayan magang berjalan mondar-mandir sambil bersedekap. tak lama kemudian muncul perempuan lain dengan jas kebesaran, setengah berlari menghampirinya. sampai disini tak terlalu bermasalah. adegan yang terjadi selanjutnya melesatkan darahku hingga ke ubun-ubun.
"woi!" aku banting hape ke bantal yang di pakai Nesya. "lihat tu!"
"apaan, sih?" dia berbalik memunggungi. aku tendang lagi tepian ranjang.
"ngapain aja semalam sama si cowok jadi-jadian?" Neysa terdiam.
"semua terekam CCTV, maaymunaaahh!" teriakku gusar.
dia berbalik mengambil hape dan mulai menonton video. tangan kirinya mengusap dahi panik.
"puas sekarang? kalau sampai dapat sama wartawan, abis kamu di goreng. gak cuma kamu, reputasi angkasa group bisa langsung drop. tahu sendiri kaya gimana netijen zaman nooww!" aku menekankan suaraku karena sebenarnya aku juga panik.
"aaargh!" dia membanting hape ke lantai hingga berderai jadi tiga bagian.
"kamu sih masih gak mau nurut kataku? padahal apa susahnya nunggu seminggu aja. sekarang gimana kamu mau memperbaiki semua ini? hah?" teriakku makin kalap.
*****
Nesya bergeming di depan pintu, menyunging senyum canggung ngajakin sarapan. gak mungkin datang kesini cuma buat ngajak makan. udah dibilang tadi, cukup telpon, pasti datang.
"mau masuk?" aku buka pintu lebar, memberi ruang buat dia masuk.
ragu-ragu Nesya melangkahkan kaki kedalam kamar. hanya selangkah. om Surya menatapnya, menuntut langkah kedua.
di tepi tempat tidur, badannya agak aku dorong biar duduk. dia duduk dengan kedua kaki rapat dan tangan saling menggenggam diatas paha.
apa-apaan, nih anak. berhadapan sama bapak sendiri segitu formalnya.
"ayah sakit?" suaranya nyaris tak terdengar.
"kamu lihat sendiri," jawab om Surya dalam suara datar.
hening...
pegel lihat interaksi bapak sama anak ini, jadi ikutan duduk di pinggir ranjang, tepat di belakang punggung Nesya. aku masukin jari ke genggaman tangannya. terdengar embusan napas pelan bersamaan dengan terbukanya genggaman jemari.
"kenapa ayah gak cerita?" Neysa kembali berkata lirih.
"apa ada bedanya buat kamu?" ketus sekali om Surya membalas.
hadeh! padahal aku tahu dia sayang banget sama Neysa, tapi kenapa yang keluar malah sikap seperti ini. apa maunya si bapak ini?
genggaman tangan Neysa terasa semakin erat di jari-jari.
"gak, gak ada bedanya. sejak dulu pun gak ada bedanya."
__ADS_1
hah? apa-apaan dua orang ini?
"Oya, Neysa kemarin cerita kalau dia pernah ngalahin om Surya main catur." aku coba mengalihkan pembicaraan yang sangat kaku dan tegang antara ayah dan anak semata wayangnya.
daripada memusatkan diri pada emosi negatif yang merusak, lebih baik mengingat kebahagiaan bersama. tapi om Surya bukan orang yang gampang disetir.
dia kembali berbicara hal yang mengesalkan. "gimana kabarnya perempuan itu?" tanyanya kesal.
Nesya mempererat genggaman tangannya. jariku rasanya mau patah.
"aku berantem sama dia. puas?"
om Surya menyeringai. ya dia puas. terlihat sekali dari sinar matanya.
"tapi aku gak akan ninggalin dia!"
sekarang waktunya aku untuk ngebales remasan tangan Nesya. lebar telapak-nya gak seberapa dibanding telapak tanganku. dia melawan, tapi sia-sia, kekuatannya tak seberapa. hati-hati bicara makanya, nes!
"kamu mau masuk neraka? kamu mau dapat murka Allah? sudah seberapa tebal kulitmu sampai sanggup melawannya?" om Surya melanjutkan ucapannya dengan berapi-api.
mulut Nesya sudah membuka untuk membantah. tapi aku rangkul perutnya agar berhenti bicara.
"manusia diciptakan berpasang-pasangan, Neysa. dan yang namanya berpasangan, pasti berbeda, gak mungkin sama. begitu caranya kita hidup saling menyempurnakan." om Surya melanjutkan ceramahnya.
Nesya menghempaskan tanganku dari perut dan genggamannya.
"hidupku sempurna ketika bersama Niko. aku gak butuh apa-apa lagi ketika bersamanya."
om Surya tertawa sinis. "bagus! pergi saja bersamanya dan tinggalkan semua yang berhubungan dengan ayahmu!"
Nesya mendengus lalu berbalik keluar kamar.
jadi nyesel bawa tu anak masuk. aku lihat mata om Surya berkilat menahan marah.
"saya tahu, om sayang banget sama Nesya. tapi kenapa di depan dia, yang om tunjukkan kemarahan?"
aku tinggalin om Surya sendiri di kamar. Nesya udah berdiri di depan lift, menunggu kotak besi itu naik dari dek tujuh.
"kenapa kamu suruh aku masuk tadi?" katanya gusar.
"karena itu yang kamu harapkan."
dia menoleh. dari ujung matanya bisa kelihatan tatapannya yang berusaha menusukku. biarin. bodo amat, aku sudah gak peduli dengan amarahnya.
suara dentingan menandai pintu evelator yang terbuka. di dalam box besi ini sudah berdiri seseorang yang menyalakan api dendam. si cowok jadi-jadian bersandar di pojokan sambil main hape. dia terkesiap, tapi tak berkata apa-apa. hanya matanya menatap Neysa penuh harap.
aku rangkul pinggang Nesya. sengaja menetapkan batasan dengan si cewek berseragam trainee itu. mereka berpandangan, hanya sebentar karena setelah itu aku sengaja pasang badan sebagai penghalang.
TBC...
__ADS_1
gantungin gak apa-apa yaa hahaha!