Istriku salah arah

Istriku salah arah
terus, aku jadi penjahatnya, gitu?


__ADS_3

Setelah berhasil melewati belantara macet yang sangat menjengkelkan, akhirnya aku nyampe juga di rumah. Di dalam rumah sepi. Mungkin mama sama papa lagi nge-date, mumpung masih mampu.


Aku langsung berjalan ke kamar. Menghidupkan laptop yang memang sudah nangkring di atas ranjang. Ingin mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda. Aku memang sudah biasa jika mengerjakan pekerjaan dirumah. Jika memang sudah terlalu penting aku baru kerja di kantor.


Maklum kan gue bosnya hahaha!


Entah kenapa pikiranku masih ke Nesya sama cowoknya, pasangan yang aneh menurut filing-ku. Mending kirim chat ke Nesya, selagi masih ingat ke dia.


"Aku tahu kamu punya cowok. Apa dia juga tahu soal deal-dealan kita?" Kirim beserta screenshot akun si jantina. Kebetulan kemarin kuambil waktu di kantor bersama sodik itu.


Centang dua. Chat-nya masih masuk. Padahal harusnya udah boarding. Mungkin pesawatnya delay.


Langsung di balas pake telpon. Hahaha! dari semalam, dia baru baca chat aku. "Kok kamu bisa dapat E-tiket aku?" Aku nahan ngakak sambil tiduran.


"Kan aku dah bilang, mau cari tahu sendiri." Jawabku sambil senyum-senyum dan hape nempel ditelinga tanpa aku pegang. Karena posisi miring.


"Kamu dapat dari mana?" Suara Nesya terdengar sewot banget.


"Dari email lah."


"Maksudnya?"


Aku jawab santuy, masih nahan ketawa. "Ganti semua password-mu. Bikin beda password tiap akun medsos. Password-mu terlalu gampang. Cuma nama di bikin pake rumus alay."


Tak ada jawaban. lalu dia menggeram. "Kamu sudah keluar batas, Zian!"


"Oya?" tanyaku gak terima, "Dimana batasan hacker?" Dia diam lagi.


"Akunku itu wilayah pribadiku. Kamu gak punya hak ngotak-ngatik." Huh! siapa suruh sembunyi-sembunyi.


"Berapa kali aku tanya baik-baik jam berapa kamu berangkat ke Surabaya? Apa kamu jawab? Padahal aku cuman nanya jam!"


"Itu karena aku gak mau kamu tahu!" Suaranya mulai tinggi


Oke, cukup sampai disini. Kalau dilanjutkan hanya akan merusak transaksi yang sudah cukup memuaskan.


"Fine! Aku minta maaf." Pungkasku. berantem sama cewek memang wajib minta maaf duluan. "Balik ke topik. Apa cowokmu tahu soal semua deal kita? Aku gak mau kena getahnya karena dia cemburu ngeliat pencitraan kita nanti." Tanyaku kemudian.


Suara decakan-nya terdengar memenuhi di kupingku. Di latar belakang, announcer menginformasikan agar penumpang pesawat air-asia menuju Surabaya bersiap untuk boarding.


"Iya, pacarku tahu semuanya. Dan dia gak keberatan," Balasnya masih dengan nada emosi.


Wow! Sungguh pacar yang sangat pengertian.


"Ok, salam buat pacarmu."

__ADS_1


"Salam balik, katanya."


"Hah? Dia dengar omongan kita?"


Nesya tertawa geli. "Aku berbagi earphone sama dia."


What?


"Kenalin, ini Niko," katanya lagi. "Hai, Zian." Sekarang kedengaran suara yang lain. masih suara cewek, cuma jauh lebih rendah. Ternyata gak cuma mukanya kayak cewek. suaranya pun kaya cewek.


"Hai, Niko," Balasku. jujur saja saat ini aku benar-benar awkward banget, gak tahu mau ngomong apa.


"Bro, gue bakal jadi suami cewek lu, sampe dia lulus. Mohon kerjasamanya, ya!"


Mereka berdua ketawa. "Jangan macam-macam aja, lu. Tubuh sama hatinya punya gue."


Ya, emang! aku kan cuma dapat statusnya doang, sebagai suami. Tapi begitu di omongin kaya gini, kenapa aku jadi gak rela ya?


"Ike, tenang aja. Ya udah gitu aja. Gua tutup." Jawabku. Langsung memutuskan sambungan telepon, gak nunggu jawaban mereka.


◾◾◾◾◾


Besoknya om Surya nelpon. Nyuruh aku datang kerumahnya. Mau ngomongin soal wedding party yang rencananya bakal di gelar di salah satu hotel bintang lima di Jakarta. Yang jelas om Surya sekalian ngajak main catur. Dan lagi-lagi aku gak dikasih menang.


"Kita ganti aja venue-nya di kapal pesiar gimana?" Tanya om Surya.


"Nanti semua dana yang sudah kamu keluarkan, saya ganti!" Lanjutnya. Ya iyalah, cuman recehan buat om Surya. Biarpun ratusan juta juga.


"Ya, dimana pun tempatnya gak masalah buat saya," Jawabku santai. Dalam hati sih ngomong, mau di kolong jembatan, kek. Di atap gedung, kek. Tetap aja, ini cuma sebuah pecintraan.


Tapi gak begitu buat Nesya. Malamnya dia nelpon sambil mencak-mencak.


"Kok kamu mau aja, sih di atur-atur gitu sama ayah? Aku kira kamu cowok yang punya harga diri. Gak tahunya cuma cowok matre gak berkepribadian!" Bentak Nesya di seberang sana.


"What?" tanyaku. Enak banget dia ngatain aku begitu. Belum juga ngucap salam.


"Soal venue," katanya, "Kenapa diganti?"


"Ya," aku menjawab santuy, "Kan lebih enak party di kapal pesiar daripada di hotel melulu, bosen!" Dia berdecak. Kedengaran banget lagi super duper kesel.


"Suruh balikin ke hotel aja," Pintanya.


"Emang kenapa?" Nesya ngembusin napas kenceng di speaker hape


"Aku udah pesan kamar lain di hotel itu."

__ADS_1


"Buat apa?" Sebagai pengantin, dia udah dapet fasilitas kamar disana. Gak masuk akal malah pesan satu lagi.


"Ya buat aku sama Niko, dong. Emangnya aku mau malam pertama sama kamu?" Hhh? nikahnya sama aku, malam pertamanya sama yang lain? Ini fakta ter-ngakak sepanjang musim ini atau ter-miris? Nasib jadi suami status doang ya begini ini.


"Gak bisa! Itu bakal merusak pecintraan kita. Katanya cowok kamu gak masalah dengan pernikahan pura-pura ini? Ya udah, sabar aja. Entar juga kamu aku balikin lagi ke dia." Tegasku.


Suara nafas Nesya kesembur-sembur di speaker ponsel. "Kalau pake kapal pesiar, gak semua orang bebas masuk nanti." Nesya menurunkan intonasi suaranya dan aku masih menyimak. "Yang masuk cuma yang punya undangan. Undangan fisik, loh. teman-teman kamu bakalan terbatas yang bisa masuk. Undangannya pasti terbatas juga. Gak mungkin banyak-banyak kalo nggak mau kapalnya karam. Emang kamu gak apa-apa gak bisa ngundang-ngundang di pesta pernikahan sendiri?" Nesya ngomong dengan kecepatan mendekati cahaya disertai Guntur dan petir.


"Gak masalah." Aku menjawab santai. " Lagian ini juga cuman nikah-nikahan doang. Bakal cerai juga nantinya. Kalo teman-temanku butuh hadir, bisa minta tolong Sodik bikin live streaming."


Gak ada respon dari Nesya. Aku ngelirik laptop. Kerjaan desain logo baru aja mau di mulai. Gara-gara nge-gap si lintah darat Minggu lalu, jadi gak fokus bekerja. Bisa aja aku kasih kerjaan ini sama yang lain. Tetapi karena memang sudah tugas bagian aku, ya harus tanggung jawablah. Lagian Mereka sudah ada kerjaan bagian masing-masing.


Beberapa sudah terselesaikan. Ini tinggal tiga lagi yang masih ngantri. Penghasilan bulan ini bisa menyentuh rekor tertinggi selama jadi desainer.


Thanks to lintah darat, kau telah membuatku bersemangat dengan rasa sakit hati yang telah kamu goreskan! hahaha.


"Lagian, kenapa cowok kamu harus datang? Kalian udah saling percaya kan?" Suaraku seperti diseret ketika bicara.


"Ayah ganti venue biar Niko gak bisa datang. Ayah gak suka banget sama dia," balasnya. "Makanya dia maksa aku nikah sama kamu. Kalo gak mau, semua sahamku akan di donasikan ke program CSR perusahaannya. Aku gak bakal dapat penghasilan lagi. Padahal aku belum kerja, Niko juga belum kerja."


'Huh! dasar cewek manja!' umpatku.


"Tahun ini dia lulus. Abis itu mau langsung kerja. Begitu dia punya duit yang cukup, kita bakal hidup bersama." CK! bucin! dia gak sadar lagi di manfaatin. Cowok kaya gitu udah jelas gak punya nyali. Berani macarin anak orang, berarti berani ngongkosinnya juga, woii!


Tiba-tiba jadi kasian sama Nesya. Sini, sama aku! gak usah nunggu nanti, sekarang juga aku bawa kabur. "Kalau gitu suruh dia cari duit yang banyak dulu, baru ngatur-ngatur hidup orang."


"Kamu jahat!" kok, jadi aku?


"Kalau dia emang bener serius sama kamu, ya udah suruh lamar aja langsung. Kayanya om Surya orangnya fair, kok. Gak mungkin nolak karena gak punya duit. Lagian duit bisa di cari, asal mau aja."


"Kamu gak ngerti masalahnya!" Suara Nesya lirih.


"Apa yang aku gak ngerti?"


"AAh, udah deh!" Sambungan dan telpon diputus.


Terus, sekarang aku jadi penjahatnya, gitu?


To****long** kasih Jawaban permirsah..


pusing gue,


kenapa sih? setiap bab gue dibikin pusing mulu dah**?


woii penulis yang bener bikin cerita dong, gue pemeran utama disini kok apes Mulu dah.

__ADS_1


ah males gua..


Othor: yang sabar, lebih baik lu ke kamar mandi, cuci muka, cuci tangan. udah itu tidur ya. mudah-mudahan mimpi indah. seenggaknya hidup lu ada indahnya, walaupun hanya sekedar mimpi hahaha!


__ADS_2