Istriku salah arah

Istriku salah arah
yes! I Miss Siska


__ADS_3

Suara notifikasi ponsel terdengar nyaring. Nesya mengambil gawai dari kantong celana. Sebaris pesan dari lovely wifey tampak di di layar, "Babe?"


****! aku rampas hapenya lalu berbisik langsung di telinganya, "Jangan berhubungan lagi sama dia di kapal ini!"


Dia membalas dengan serangan tatapan mata. aku gak takut.


"Aku bantu kamu nge-hapus jejak digital CCTV, tapi jangan pernah lagi berhubungan sama dia selama di kapal ini!" Aku lanjutkan bisikan di kupingnya.


Tatapan Nesya melembut. Dengan cepat dia merampas hape dari tanganku lalu sigap membuka aplikasi messenger.


Aku rebut balik hapenya. Langsung blokir kontak dan hapus nomor meski tangannya menggapai-gapai berusaha meraih ponsel yang sengaja aku pegang tinggi-tinggi.


Dia mendecak marah, menatap dengan murka. Dentingan evelator terdengar lagi. Pintunya membuka di dek delapan, tujuan kami. Aku rangkul pinggangnya keluar.


"Gak berhubungan maksudnya bukan cuma berhubung badan," Masih ngasih bisikan di kupingnya. "Tapi semua jenis komunikasi sama dia. Ngerti kamu?" Aku mulai sedikit menaikkan kadar intimidasiku, demi kebaikannya.


Dia mendengus kesal. Aku tahu, Nesya bukan tipe orang yang suka di perintah. Tapi untuk kali ini, dia wajib nurut. Kasus CCTV semalam jadi pelajaran biar gak sembarangan bertingkah selama di kapal. Bukankah gak lama lagi? Hanya sampai siang nanti, karena hari ini adalah jadwal untuk say goodbye sama kapal dan pindah ke yacht pribadi.


Captain's room adalah restoran besar dengan pemandangan laut lepas. Interiornya dibuat dengan tema ruang navigasi kapal. Para pelayan pun berpakaian kelasi dengan topi khas yang punya penampakan kaya mangkok kebalik.


Aku pesan meja untuk delapan orang, tapi yang tersisa hanya dua orang, mama sama papa. Om, Tante, dan dua anaknya udah jalan-jalan duluan, siap-siap buat keliling Surabaya.


"Lama banget, sih kalian," Sambut mama pura-pura merajuk ketika kami sudah sampai di meja.


Neysa mencium tangan mama dan papa lalu menjawab dengan tenang. "Iya, tadi ada sedikit acara dulu pagi-pagi."


"Ehem ehem, pengantin baru ada acara apa nih?" Mama ngelirik penuh arti.


"Rahasia, dong ma," Nesya mengedip genit lalu mereka terkikik seperti dua sahabat sedang menertawakan seseorang di sebrang meja.


Aku sama papa cuma saling melempar pandang sambil mengangkat alis pasrah.


Mama kelihatan bahagia sekali. Mungkin dia menemukan seorang anak perempuan yang lama dirindukannya dalam diri Nesya.


Entah bagaimana perasaannya kalau tahu menantu kesayangan ini ternyata adalah seorang lesbian.


Saat itu terjadi, kira-kira mama akan membela anaknya atau menantunya? atau malah menangis sesegukkan karena udah ngejodohin anaknya sama lesbian.


Pusing aku mikirnya. mending ngambil sarapan di meja prasmanan. "Aku mau ambil salad buah. Kamu mau di ambilin sekalian?"


"Aku mau roti bakar, dong sayang," Balas Nesya sedikit manja.

__ADS_1


Jiah? Sayang? Kenapa jadi mules akunya denger kalimat itu?


"Mentega-nya banyakin, yah. Biar enak." Pintanya lagi masih dalam nada manja. Tapi kenapa aku ngerasa lagi dikerjain sama dia? f*ck!


Aku kembali ke meja dengan menenteng makanan. Tangan kanan berisi sepiring roti bakar yang menguarkan aroma harum mentega nan menggoda. Sementara di kiri semangkuk penuh salad buah bertoping plain yoghurt.


Nesya menerima pesanannya dengan senyum menggoda disertai dua kata sakti, "Makasih, sayang."


Makin eneg ngdenger Neysa pakai sayang-sayangan. apalagi inget message dari cowok jadi-jadian tadi, yaks!


Mereka masih senyum-senyum tanpa sepatah katapun melirik aku. Apalagi Neysa, tatapannya aneh.


"Apa? Akhirnya aku gak tahan buat gak nanya.


"Gak..." Dua orang perempuan beda usia itu kompak menggeleng.


Lalu dengan santainya mama merobek roti bakar di piring Neysa dan melahapnya dengan anggun.


Astaga! sudah sedekat itu mereka. Aku gak tahu harus bahagia atau gusar.


Akhirnya papa yang angkat bicara, "Tadi mama cerita kalau pipimu cukup tebal buat di cubit."


Secepat kilat, mama membantah. "Gak! mama gak bilang gitu, kok."


"Iya," Neysa mengajukan bantuan. "Tadi mama cuma cerita kalau kamu tuh suka banget nyolek-nyolek mentega, keju, better. Makanya sempat melar." Lalu mereka terkikik.


kurang asem! apa perlu aku lempar yoghurt sama ni anak?


Tapi, ngelihat mama bahagia, semua rasa kesal jadi sirna. Kayanya Neysa udah melengkapi kehidupan perempuan yang paling aku sayangi sedunia ini.


Lalu, cukupkah itu semua buat bikin aku bertahan? Lebih tepatnya mempertahankan seorang istri yang ternyata memiliki orientasi seksual yang mengenaskan bagiku?


I don't know?


* * * * *


Mama sama papa kembali ke kamar duluan. Mereka sadar bahwa sepasang pengantin baru ini akan melanjutkan perjalanan dengan yacht pribadi.


Yeah, perjalanan hanimun-hanimunan. gak kebayang gimana bakal ngejalaninnya. Mungkin akan diwarnai dengan berantem soal arah, atau yang penting ke tengah laut aja dua hari, terus pulang-pulang gosong.


"Yan, gimana kamu mau ngapusin jejak digital CCTV?" Nih, Neysa udah muncul aslinya..mana tadi yang sayang-sayang? pret!

__ADS_1


"Entar tanyain Siska." Aku ambil hape dari kantong dan langsung telpon Siska. Sebagai manajer di divisi IT, kali aja dia pegang kunci buat masuk server dream travel. Kalo gak, nanti suruh Sodik ngebobol lagi.


Nesya menggosok-gosok jari jempol dan telunjuk untuk membersihkan sisa remah roti.


"Siska itu lebih dari teman, kan?" tanyanya lugas sambil meneguk jus jeruk.


Nada dering terdengar nyaring di telinga, tapi tak juga di angkat sampai terhenti sendiri.


"Iya, kan?" Desak Neysa lagi.


"Iya, kenapa?" Jawabku tak acuh sambil telpon Siska sekali lagi.


Neysa mengulum senyum samar. "Gak apa-apa. Konfirmasi aja. Soalnya kamu kelihatan cemburu banget sama suaminya itu."


Glek! untung gak lagi ngunyah apapun. kalo gak, bisa-bisa keselek aku.


"Sok tahu!"


Dia tergelak. "Mukamu kaya open book, samua bisa kebaca, hahaha."


"Iya, aku emang gak pinter tipu-tipu kaya kamu."


Dia menoleh, memangku dagu dengan tangan. "Itu sebabnya kamu gak bisa menang main catur sama ayah."


CK! gak diangkat lagi sama Siska.


Neysa tertawa kecil. "Kamu nyari alasan biar bisa ketemu lagi, ya?" Ledeknya tajam.


Aku lanjut makan salad buah yang tinggal beberapa potong apel lagi. Males nanggepin kaya ginian. Jelas Siska udah nikah, udah gak bisa di ganggu gugat. Dan dia kayanya dedicated banget sama Safik, suaminya.


Iya, rasanya iri. Mungkin jealous juga. Harusnya aku yang ada di posisi cowok culun itu.


Hhh! cowok culun yang gak ada culun-culunnya lagi. Mungkin jadian sama Siska bikin dia jadi lelaki dewasa. Sama kaya aku dulu.


Yes! i Miss Siska


Tapi masa lalu udah berlalu. Kalau musti balik lagi ke masa ketika memutuskan untuk berpisah. Kayanya keputusan yang bakal diambil gak akan berubah. Aku pasti bakal tetap putus dari dia.


Getar ponsel beresonansi dengan mangkuk salad. Layar menampilkan nama Siska. Dia nelpon balik!


Yes! Rasanya kaya ditelpon pacar yang lagi LDRan di hutan susah sinyal.

__ADS_1


__ADS_2