Istriku salah arah

Istriku salah arah
Amal jariyah


__ADS_3

Pagi itu, sambil sarapan di restoran hotel, Dokter Ahmad mengajak berdiskusi tentang terapi yang disarankan untuk Om Surya. Setelah berkonsultasi dengan dokter onkologi yang merawat di Jakarta, dia menyarankan kriopterapi dikombinasikan dengan kemoradioterapi.


"Memang hanya untuk menambah harapan hidup. Soal kesembuhan, probabilitasnya kecil sekali," ucapnya lirih.


Tapi yang jadi masalah, justru Om Surya menolak semua jenis terapi. Dia memilih untuk fokus mempersiapkan diri untuk menghadap Allah. Ini seperti membiarkan diri sendiri mati pelan-pelan. Konyol!


"Ya, lagi pula memang udah gak ada lagi yang bisa dilakukan, kan?" Nesya menimpali pasrah.


"Ada!" Aku gak setuju, "Bukannya tadi dokter Ahmad sudah nyaranin dua jenis terapi dikombinasi?"


"Tapi itu cuma nambah waktu, apa gunanya?" Nesya mengajukan argumen.


"Bukannya itu yang kita lakukan setiap saat?" Dokter Ahmad melipat tangan di dada, menunggu kelanjutan kata-kataku.


"Maksudnya?" Nesya bertanya gak sabar.


"Emangnya kamu tahu berapa banyak waktu yang kamu punya? Lagi serapan enak-enak gini, bisa aja kamu keselek terus mati. Yang kita jalani ini cuma tambahan waktu setiap saat," ucapku perlahan.


Gak ada balasan lagi dari Dokter Ahmad maupun Nesya. Dua-duanya diam, gak tahu apa yang mereka pikirkan. Nah, kan bener yang aku katakan? setidaknya itu menurutku, memang itu yang terjadi setiap manusia. It's all about extra time!


Sialannya, aku kaya dipaksa balik lagi dan lagi ke masa lalu. Asli ini bikin dada sesek dan kepala berat. Malam itu aku kabur dari pesantren. Ijinnya ke toilet, aslinya mlipir ke masjid. Naik ke teras lantai dua lanjut ke atap pakai tangganya tukang bangunan. Di situ, aku memejamkan mata lalu terjun bebas.


Aku kira bisa mati dengan cara itu, ternyata malah menimpa ustadz yang kebetulan lewat. Badannya remuk ketimpa bodiku yang Segede gaban. Lupa berapa tulang yang harus diperbaiki karena patah dan retak. Sementara aku cuma pusing doang ditambah kaget karena masih hidup dan jelas-jelas bernafas.


Orang-orang bilang, Untung badanku tebel, lumayan buat bemper. Dan untung juga badannya Pak ustadz gak tipis juga, jadi cuma patah-patah sama retak doang tulangnya. Tapi masa kaya gitu dibilang untung? Pak ustadz sampai harus bedrest berminggu-minggu karena badannya gak bisa digerakkan.


Asli, waktu itu aku merasa bersalah banget. Sambil nangis-nangis aku minta maaf sama beliau. Pak ustadz cuma cengengesan sambil bilang, "Mungkin itu sebabnya Allah bimbing ana buat ke masjid tadi, supaya ana bisa nolongin Antum."


Aku makin kejer waktu itu. Buat apa coba Allah nolongin hidupku dengan mengorbankan Pak ustadz? Ini gak adil. Kenapa orang yang gak bersalah malah dibikin menderita?

__ADS_1


Terus dengan santainya Pak Ustadz ngomong. "Antum masih muda. Masih banyak yang bisa Antum lakukan untuk menjadi penolong agama Allah. Jangan sia-siakan kesempatan ini."


Akhirnya aku mati-matian, berdarah-darah bertahan di penjara suci sejak malam itu. Biar badan penuh memar, tiap hari kena gampar, aku terima semua. Demi apa? Demi ngurangin rasa bersalah. Demi semua yang bernama dosa dan pahala.


Untung akhirnya insaf. Sekarang bisa manfaatin waktu dengan lebih berguna. Buat membantu kehidupan orang lain. Gimana pun, aku tetap ngerasa, hidup ini cuma soal extra time dari waktu ke waktu. berbuat baik bisa kapan dan dimana saja, bukan hanya di penjara suci.


"Ada banyak hal yang bisa dilakukan Om Surya jika beliau dapat tambahan waktu. Bayangkan soal kebijakan-kebijakan perusahaan yang bisa ditetapkan, berapa banyak yang bisa terbantu. Menurutku, extra time ini layak diperjuangkan." Aku menambahkan argumenku biar semakin kuat.


"Tapi percuma kalau sisa waktu hanya digunakan untuk terapi," bantah Nesya, "Mendingan dipakai buat nambah pahala."


Salah, logikanya salah besar kalau diterapkan pada umat Nabi Muhammad SAW.


"Nesya, kita semua pasti mati. Semua amalan akan terputus begitu kita mati. Kamu tahu apa yang akan terus mengalir pahalanya meski kita mati?" Nesya menautkan alisnya gak ngerti. "Amal jariyah!" Jiah, keluar kan aslinya aku? Alhamdulillah sisa stok pelajaran jaman dulu masih nempel.


"Jadi kalau mau nambah pahala, harusnya harus nambah amal jariyah, Bukannya narik diri terus beribadah sendiri. Amalan kaya gitu akan berakhir begitu hidup selesai."


"Amal jariyah apaan?" Nesya balik nanya.


"Amal jariyah itu semua yang kita lakukan demi orang lain. Selama orang itu mendapat manfaat dari apa yang kita lakukan, maka selama itu juga pahalanya ngalir buat kita."


Nesya Manggut-manggut. "Kaya bangun masjid, gitu? Selama ada yang sholat di situ, kita pahalanya, gitu?"


"Nah! Pinter!" Seruku bahagia.


"Sorry, kamu salah," Cibir Nesya, "Aku tuh jenius."


Dasar! "Iya, aku minder banget dengan kejeniusanmu," Balasku dan Nesya langsung tersipu-sipu.


Kalian bisa bayangin gak, cewek jenius tersipu-sipu. Ya gitu deh bikin gemes tujuh lapis langit dan bumi, coy!

__ADS_1


* * * * *


Dokter Ahmad akhirnya berusaha membujuk Om Surya lagi. Dia sepakat dengan argumen dariku, kehidupan pimpinan Angkasa Group itu layak diperjuangkan. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk banyak orang yang menikmati manfaat dari perusahaan ini.


Aku sama Nesya nunggu di luar. Berdiri bersisian, memandang kota Banyuwangi dari jendela besar di ujung koridor. Baru jam sepuluh pagi, tapi di luar sinar matahari tampak panas sekali. Bahkan kaca jendela pun hangat saat disentuh.


Nesya bersedekap, menerawang jauh menembus kaca. Matanya tak mengarah ke mana-mana dan wajahnya terlihat lelah.


"Kamu pendiam banget pagi ini?" Sekarang giliran aku yang mijit tengkuknya.


Nesya merem melek keenakan. Ciiah dia baru tahu kehebatan jari-jariku.


"Apa itu sebabnya ayah keukeuh mempertahankan project CSR biarpun make dana yang terlalu banyak sampai kita gak bisa nyimpen buat cadangan darurat?" Tanya Nesya lirih sambil sedikit meringis menahan pijatanku yang sesungguhnya sangat lembut.


"Bisa jadi." Aku gak bisa jawab terlalu panjang dan memang hanya itu jawaban yang aman.


Nesya menyandarkan kepalanya di pundakku. Napasnya berembus pelan kaya yang lagi berusaha melepaskan beban.


"Menurutmu.." Katanya lagi, "Apa sebaiknya aku bantuin ayah ngurusin perusahaannya, ya?"


Ya ampun! Akhirnya anak ini sadar. "Yes!" Aku menjawab dengan semangat dan tanpa mikir lagi.


Kepala Nesya tiba-tiba tegak lagi karena aku ngubah posisiku jadi lurus menghadapnya dan dengan lembut mencengkeram kedua pundaknya.


"Nes, Itu ide yang bagus banget,! Aku akan bilang sama Om Surya, biar surat kuasa dialihkan ke kamu aja!" Iyes! ini namanya anugerah.


Dokter Ahmad tiba-tiba udah berdiri di Deket kami. Dari mukanya bisa ditebak kalau dia tidak berhasil meyakinkan Om Surya. Ah, sialan!


"Coba saya yang ngomong," Kata Nesya tiba-tiba.

__ADS_1


Nesya langsung jalan begitu aja dan masuk ke kamar Om Surya, meninggalkan aku dan dokter Ahmad yang hanya bisa saling pandang.


__ADS_2