
Aku tak menghitung berapa lama tepatnya Nesya ngobrol dengan ayahnya di kamar. Yang jelas, cukuplah buat menyelesaikan satu transaksi di marketplaceku.
Setelah sekian lama, Nesya muncul dengan langkah gontai. Lihat ekspresinya, aku mengira argumennya dimentahin juga oleh Om Surya. Ternyata salah, cewek manja ini berhasil ngebujuk ayahnya. Dokter Ahmad seneng pakai banget dan langsung masuk ke kamar Om Surya, mungkin untuk nyusun rencana detail terapinya.
Aku bingung. Harusnya Nesya seneng udah berhasil ngebujuk buat ngelanjutin terapi. Tapi kenapa dia malah kelihatan jauh lebih kusut daripada sebelum masuk tadi.
"Kamu gak apa-apa?" Aku akhirnya bertanya juga karena gak kuat dengan jiwaku yang akhir-akhir ini tingkat kekepoannya meningkat tajam.
Nesya tak menjawab dan tiba-tiba menangis sambil melukku dengan sangat kenceng. Lah? Aku makin bingung kan? Apalagi denger Nesya yang sesegukkan di dada. Aku benar-benar gak tahu mesti melakukan apa? Akhirnya aku cuma balik meluknya dan membiarkan dia menghabiskan sisa air matanya.
* * * * *
Siang itu juga diputuskan Om Surya dibawa ke Jakarta. Rumah sakit tempat dokter onkologinya praktik punya fasilitas yang lebih lengkap. Dokter Ahmad yang mengurus semuanya. Mulai dari administrasi rumah sakit sampai mengatur kedatangan jet pribadi ke band.
Di mobil menuju hotel, baru Nesya berani ngomong. "Aku disuruh putus," katanya.
"Putus?"
Dia menangis lagi, kali ini sambil marah-marah. "Ayah baru mau ngelanjutin terapi kalau aku janji bakal putus sama Niko."
Ya ampun! Keputusan buruk. Aku juga gak suka dia sama cowok jadi-jadian itu, tapi gak gini juga caranya. Hubungan yang menghadapi banyak tantangan malah bakal makin kuat ikatannya. Aaargh! Kapan Om Surya akan sadar sih?
Kaki Nesya menghentak badan mobil keras banget. "Padahal aku sudah nawarin buat bantu-bantu ngurusin perusahaan. Tapi katanya itu gak penting, udah ada Zian. Ngeselin banget, tahu gak sih?"
Iya tahu. Aku juga kesel. Kalau gini, kerjaanku bakal terbengkalai gara-gara harus ngurusin sesuatu yang sama sekali tidak aku sukai.
"Aku harus gimana, Yan? Bantuin aku, dong!" Nesya merengek dengan suara memelas.
"Meneketehe. Aku ada di sisi Om Surya soal ini."
"Ih, kamu jahat." Dia mukul-mukul lenganku.
"Woi! Aku lagi nyetir." Pukulannya gak sakit, cuma agak mengacaukan konsentrasiku.
Bukannya berhenti, dia malah goyang-goyangin badanku. "Kamu harus bantuin aku! Katanya kamu mau ngedukung aku!"
__ADS_1
Hadeh! Mana U-turn udah di depan mata. "Diam, gak? Di depan harus belok masuk hotel. Kamu mau kita nabrak?"
Syukur dia mau berhenti. Mukanya masih manyun waktu masuk ke dalam hotel. Di lobby, Mbak-mbak resepsionis mengabarkan bahwa ada kiriman untuk ibu Nesya.
Mendengar sebutan ibu, muka yang udah ketekuk seribu itu jadi makin kusut. Kirain dia bisa sedikit senyum begitu tahu apa kirimannya. Ternyata malah shock dan sedikit ketakutan.
"Buang aja, Mbak!" gitu katanya.
Lah? Enak banget main buang sembarangan!
"Nesya!" Aku ambil boneka beruang Segede gaban yang masih rapi terbungkus plastik transparan. Terus ngejar dia yang dengan santainya jalan ke evelator.
"Nes, lihat dulu, dong, siapa yang ngirimnya!" seruku.
"Halah! Paling cowok sok imut yang lagi pengen pedekate!" sentaknya.
Hadeh! Susah ya kalau jadi orang kalau cantiknya berlebihan. Meskipun begitu boneka itu tetap aku bawa sampai ke kamar.
Sebenarnya ke hotel buat mengemasi barang-barang saja. karena malam ini kami akan langsung berangkat ke Jakarta.
* * * * *
Aku mengambil hape yang lagi bergetar di dalam kantong celana. Ternyata chat dari cowok jadi-jadian. Dia mengirimkan sharelock tempat dimana akan dilaksanakan duel besok.
Selesai membalas 'oke,' ke cowok jadi-jadian, masuk satu lagi dari nomor tak dikenal.
"assalamu'alaikum, Pak Zian. Perkenalkan, saya Supriyanto. Bapak menginvestasikan uang lima puluh juta untuk perusahaan yang mau saya dirikan."
Oh, Bapaknya si Fatih ternyata.
"Alhamdulillah, pagi ini PT. Sinar jaya telah didaftarkan ke notaris. Pengurusan hingga jadi akta-nya kemungkinan membutuhkan waktu tiga bulan. Biayanya sampai dapat surat ijin usaha jasa konstruksi sekitar empat puluh juta."
Wah, gak cukup nih duitnya. Belum sempat aku membalas, tiba-tiba masuk satu pesan lagi.
"Alhamdulillah, sudah tertutupi, insya Allah dengan proyek pertama kita."
__ADS_1
Lah? Akta notaris belum jadi, proyek udah ada?
"Pembangunan masjid buat pesantren di Jombang."
Gubrak! Proyek pertamanya ternyata membuat masjid. Semesta atau Tuhan yang lagi bercanda denganku?
Pak Supri gak kelihatan lagi typing, jadi aku segera mengetik untuk membalasnya. "syukurlah. tapi ini proyek bener, kan? Bukan abal-abal?"
Sejujurnya aku sedikit ragu karena PT saja belum didirikan secara resmi, kok udah dapat proyek? Bagaimana dengan surat perjanjian kerja samanya?
"Insya Allah bener, Pak. Yang ngasih proyek langsung ustadz pimpinan pesantrennya sendiri."
Oke Baiklah. Aku sedikit lega. Lagian aku sendiri gak berharap apa pun dari perusahaan yang didirikan pak Supriyanto. Toh niat awalku bukan investasi, hanya merasa kasihan saja kalau sampai dia dibohongi. Maklum zaman sekarang apapun bisa jadi sumber kebohongan dan manipulasi. Bahkan dengan mengatas-namakan Syariah atau berkedok agama sekalipun. Sayangnya lagi, orang-orang sangat mudah percaya jika modus operandi penipuan itu mengandalkan embel-embel agama.
"Ini ustadz yang biasa ngisi kajian di masjid perumahan. Kemarin saya mau minta beliau ngisi tausyiah buat acara aqiqahannya Fatih. Ngobrol-ngobrol, terus dia nawarin buat megang proyek masjid di pesantrennya. Alhamdulillah, berkah silaturahmi."
Saat aku kembali mengetikkan balasan, Pak Supri lebih dulu melanjutkan chat-nya.
"Karena ini proyek pertama, dan buat bangun masjid pula, kami sepakat mematok tarif di bawah standar. Yang penting cukup buat nutupin biaya hidup dan biaya operasional. Anggap saja proyek chairty, untuk menolong agama Allah. Semoga dengan begini, perusahaan kita pun ditolong oleh Allah."
Menolong agama Allah, menjadi penolong agama Allah, frase itu bergaung di ruang memoriku. Selanjutnya muncul sebuah foto dengan caption.
"saya dan teman-teman kemarin setelah merumuskan PT. sinar jaya."
Di situ, tampak pak Ahmad dengan tiga orang lelaki lain sedang duduk melingkari sebuah meja persegi. Di atas meja kertas-kertas, bolpoin, hape, juga piring dan gelas kosong.
"Oya, aqiqahan Fatih akan dilaksanakan pekan depan. Jika bapak ada waktu, kami sangat mengharapkan kehadiran bapak di rumah."
Diikuti dengan sebuah link lokasi yang langsung membawa ke G-Maps.
"Saya gak bisa janji, harus lihat jadwal dulu." Balasku dengan cara menolak halus.
Ya kali mau ke Banyuwangi cuma buat aqiqahan doang. Tapi kalau ingat kaya gimana rasanya ngegendong bayi, kayanya cukup keren juga kalau sekalian jalan-jalan ke sana.
Ah, jadi kangen Fatih. Bayi gemesin yang aku sendiri memberikan nama. Huh! Memberikan nama buat bayi orang, Bayi sendiri entah kapan. Hilalnya aja belum kelihatan. Nasib-nasib.
__ADS_1