Istriku salah arah

Istriku salah arah
pengen jadi cucu Sultan aja


__ADS_3

Aku telpon orang yang tadi nelpon nanyain soal ransel-ransel di kamar. Untung tadi udah beres packing sebelum sarapan. Jadi semua ransel tinggal angkat.


Sekarang juga om Surya dirawat disini. Jadi gak perlu ngabisin waktu tiga hari di tengah laut sama cewek lesbian. Bakal mati gaya kalau bener-bener terpaksa berlayar.


"Udah sampai di rumah sakit katanya, mas," begitu jawaban dari sana.


"Lah? Kok gak ngabarin saya?"


"Katanya udah ngabarin mbak Nesya." Kok bisa?


Begitu sampai parkiran, semua pertanyaan langsung terjawab. Petugas room service yang nganterin ransel ternyata cowok jadi-jadian. Sialan banget, tuh anak. Pengen aku pites sekarang juga.


Tiba-tiba hape bergetar. Dari Nesya. "Halo, kamu dimana? Ini ada yang nganterin ransel kita. Mau aku taruh di mobil aja. Kunci mobilnya sama kamu, kan?" Aku tekan tombol pembuka kunci. Nesya terkejut dan menoleh ke belakang. Si cowok jadi-jadian menyeringai penuh kemenangan.


"Baguslah, kamu udah datang. Tolong urus ranselnya, ya." Terus Nesya seenaknya berbalik dan pergi sama pasangan lesbinya.


Ini bener-bener gak bisa diterima. Dikira aku kacung apa? Si room service itu yang kacung! "Mau kemana?" Teriakku sambil narik tangan Nesya.


"Apaan, sih?" Sentak Nesya seraya berusaha melepaskan tangannya dari genggamanku. Tapi tanganku terlalu kuat.


"Kakaknya Niko ada disini. Aku cuma mau ikut jenguk aja." Jawab Nesya.


"Ok, kalau gitu aku ikut," balasku.


Nesya berdecak kesal. "Apaan, sih?"


"Kamu yang apaan, sih?" Aku berbisik sinis di telinganya. "Apa kata ayahmu kalau tahu kamu masih juga berhubungan sama si cowok jadi-jadian itu?"

__ADS_1


"Terus? Kamu jadi perpanjangan tangan ayah, gitu?" Dia hentakkan tangannya dengan keras. "Oya, namanya Niko, bukan cowok jadi-jadian!"


Shit! Aku bukan perpanjangan tangan siapa pun!


Kenapa aku gak rela lihat Nesya jalan berdua ngerangkul lengannya si cowok palsu itu? Mestinya aku sadar dan itu hal yang wajar karena sesama cewek. Tapi aku ingin dia cuma ngerangkul tanganku. Bukan orang lain. Kenapa aku jadi egois, begini?


Suara pintu bagasi mobil kebanting bikin auto noleh ke belakang. "Sudah, pak," si bapak yang bantu masukin barang ngasih tau dengan sopan.


"Makasih, pak. Langsung balik ke kapal?" Aku basa-basi sama si bapak.


"Gak, pak. Saya langsung balik kantor aja. Tugas saya cuma ngantar ini aja." Dia mengangguk sopan dan berlalu.


Aku yang bingung. Berarti si cowok aspal tadi balik sendiri ke kapal? Apa dia niat gak balik lagi? Kalau begini bisa lama mereka berduaan.


Aku masuk ke mobil langsung buka aplikasi buat booking hotel terdekat. Sebenarnya bisa aja telpon hotel milik angkasa group, tapi bakal bikin tambah capek butuh pecintraan lagi. Kebetulan dekat rumah sakit ini ada hotel yang lumayan bagus. Bolehlah check-in di sini.


Sekarang telpon Nesya. "Aku capek. Mau istirahat di hotel. Mau ikut gak?"


Emang aku pikirin? "Cuma butuh waktu tiga menit ke parkiran. Aku tunggu dua kali putaran musik. Kalau gak datang, aku langsung ke hotel." Tutup telpon lalu stell musik. Langsung ke playlist dan memutar it's my life.


Lagu pertama yang bikin Nesya melepas topengnya. Kangen banget denger dia ketawa lagi seperti waktu itu. Headbanging bareng, nyanyi bareng. Gak ada cewekku yang setulus itu menikmati lagu kesukaanku.


Lagu selanjutnya di playlist. Nirvana, come as you are. It's our song, i akuss. Bikin aku membenamkan kepal di atas setir. Iya, emang udah janji nerima dia seutuhnya. Baik buruknya. Manis pahitnya. Cinta bencinya. Tapi ngelihat dia sama cowok jadi-jadian, aku gak terima! Gak bisa ikhlas karena sesak dadaku ngebayangin mereka berdua. Lagi ngapain katanya? Gendong bayi?


Cuih! Sampai mati juga mereka gak bakal bisa ngasih satu bayi pun.


Suara pintu mobil dibuka lumayan ngagetin. Neysa masuk dan langsung duduk. Aku siap-siap ngelepas rem tangan, tiba-tiba si cowok palsu masukin kepala dan langsung nyosor tanpa peringatan. Biar pun kaget, tapi Nesya ngebales ciuman itu gak kalah semangatnya.

__ADS_1


Sialan! Gak ada tempat lain buat ciuman apa? Gak cuma bibir yang aktif, tangannya juga ikutan gercep main di dada. Kurang ajar! Akau lepasin rem tangan dan nyalain mobil. Biarin aja dua cewek itu kaget sambil ngos-ngosan. Perseneling langsung masuk gigi mundur, gak pakai ngomong langsung injak gas.


Si cowok jadi-jadian buru-buru mundur dan banting pintu. Nesya berujar kesal dengan nada tinggi, "apaan, sih?"


"Kamu yang apaan, sih? Barusan nangis-nangis karena belum sempat ngomong apa-apa sama ayahmu, sekarang malah ngelakuin hal yang dibenci sama ayahmu. Anak macam apa kamu, Nesya?" Bentakku gak mau kalah.


"Lah, apa hubungannya? Karena aku sayang sama ayahku, terus gak boleh mencintai cewekku?" Balasnya tak mau kalah.


CK! "Kamu tahu kenapa ayahmu sampai koma sekarang?"


"Karena otaknya kekurangan oksigen. Kenapa?" Jawabnya masih dalam kemarahan.


"Kenapa sampai kekurangan oksigen? Kamu lihat sendiri kan tadi pagi hidungnya tersambung ke tabung oksigen? Harusnya pasokan oksigen bisa tercukupi, kan?" Semua kekesalanku tumpah dalam kalimat.


Nesya diam.


"Karena omongan tadi pagi, sadar gak?" Nesya masih diam. "Karena kamu bilang dia sempurna buatmu. Itu nyakitin banget, tahu?" Embusan napasnya terdengar keras.


Hhh! Aku gak bakat marah-marah dan ngomel-ngomel. Jadi gak tega lihat dia sekarang.


"Kamu tahu yang paling bikin ayahmu kawatir menghadapi kematian?" Nesya masih gak jawab. "Dia kawatir gimana kondisi kamu, kawatir apa kamu akan tetap beriman atau enggak." Sekarang kedengaran dia mengingsut ingus.


Hadeh! What day is it today? Oh, it's cryday!


"Tadinya aku pikir ini cuma soal biasa aja. Yah, biasalah, namanya orang tua. Tapi setelah tahu siapa pacar kamu, baru aku paham, kenapa om Surya kawatir banget." Ingus yang ditarik masuk kedalam hidung makin banyak. Suaranya makin keras dan terdengar bergumpal-gumpal.


"Tujuan anda ada di sebelah kanan." Suara bulat mbak google bikin aku refleks nengok ke kanan. Pas bagian di depan u-turn, gedung hotel yang dituju berdiri megah.

__ADS_1


Di lobby drop off, seorang concierge langsung datang menyambut. "Selamat siang, Mbak," sapanya membukakan pintu untuk Nesya. Aku bukain bagasi dan roomboy yang bertugas segera mengambil ransel dengan cekatan.


Hari ini aku pengen jadi cucu Sultan aja, dilayani seoptimal mungkin. Aku serahkan kunci mobil ke concierge, minta dia ngurus vallet parking. Terus ke resepsionis minta kunci kamar.


__ADS_2