Istriku salah arah

Istriku salah arah
semua pada nyebelin.


__ADS_3

Aku benar-benar ngikik ketawa. bingung mau ngasih respon apa dan gimana dengan pernyataan Nesya.


"Kok kamu malah ngetawain aku, sih?" Nesya mulai merajuk.


"Terus aku musti gimana? nangis gitu?" aku balik nanya sama dia. Kalau yang ngomongnya cewek lurus-lurus aja, udah aku ajakin baku tindih di kasur ini. Lah ini? dia sukanya sama kue serabi lagi. Pisang aku malah di anggurin dari kemarin, bahkan bisa jadi sampai setahun ke depan. Iya kan?


Tatapan Nesya seketika berubah seperti seseorang yang ngelihat monster berbadan singa berkepala ular, berekor sapi, bergigi tonggos dan entah kengerian apa lagi yang dia rasakan saat menatapku.


"Ini nakutin banget, tahu!" Sergahnya sambil mendecih.


"Nakutin?" Aku bertanya serasa gak sadar yang aku tanyakan. Sama sekali gak ngerti dengan kata 'nakutin' takut sama apa? sama perasaannya sendiri? atau sama sasaran perasaannya? Hmmm. Dunia mulai oleng, Jendral!


Nesya menarik tanganku seperti seseorang yang sedang meminta tolong. Tapi apanya yang mau di tolong.


"Yan, aku gak lagi jatuh cinta, kan?" Tanya Nesya dengan suara yang seperti mau nangis.


Busyet! Maksud dia apa coba? Tapi ngelihat mukanya yang melas, jujur aku jadi timbul rasa iba dan kasihan yang tak terhingga. Bahasaku udah kaya kasih ibu ya, tak terhingga sepanjang masa, ciaaah!


"Ya, menurut kamu gimana?" Aku balik nanya dan pura-pura kalem, sok dewasa sok jaim.


"Aku gak tahu." Nesya mengalihkan pandangannya pada layar televisi yang Menayangkan film dokumenter tentang lumba-lumba.


Narator acara tersebut menceritakan bahwa lumba-lumba adalah spesies mahkluk hidup yang memanfaatkan se ex sebagai sarana rekreasi dan hiburan. Selain manusia tentu saja. Wow! apa ikan lumba-lumba ada juga yang homo atau lesbi?


"Emang jatuh cinta itu seperti apa sih sebenarnya?" Nesya kembali bertanya lirih nyaris tak kedengaran sama aku.


Mata dia fokus menatap layar, tapi bukan lumba-lumba berkejaran yang di lihatnya. Entah kemana perhatiannya terarah. Yang pasti aku merasakan matanya, hatinya, mulutnya dan pikirannya lagi gak nyambung.

__ADS_1


"Emang kamu sama si cowok jadi-jadian itu gak pake acara jatuh cinta, Nes?" Tanyaku sedikit lembut. Dan tentu saja masih tidak mau menyebut nama cewek aneh yang mengaku pacarnya istriku ini.


Nesya lagi-lagi menoleh ke arahku dan langsung menghujamkan tatapan tajamnya. "Namanya Niko!" ketusnya sangat kesel.


"Serah dah, aku males tahu namanya!" balasku tak kalah ketus


Dia menggigit bibirnya lagi. Heran, kenapa dia suka banget gigit bibir? Sini aku aja yang gigit, sambil peluk juga gak apa-apa. Aku rela asal kamu rela aja, Nes.


"Ya.." suaranya ragu. "Aku kira gitu," Lanjutnya masih ambigu.


"Kamu kira apa?" Aku bener-bener ambigu.


Nesya tak langsung menjawab. Dia narik napas cepat hingga dadanya membusung dipenuhi udara, lalu di lepaskan dengan kecepatan yang hampir sama.


"Waktu kamu bilang bahwa aku lebih bahagia sama kamu daripada sama dia.." ucapnya namun segera berhenti lagi. Matanya masih tetap menatapku dan mengukur jarak lagi. Dia masih ragu kayanya, tapi akhirnya melanjutkan bicaranya. "Entah kenapa, aku ngerasa apa yang kamu ucapkan itu benar," lanjutnya lirih.


Baaanng Masadi ampun! Ini maksudnya apa lagi, one stop closer, bang! dia nyaman sama gue, baaang!


"Kenapa gak masuk akal?" Tanyaku dengan otak yang keleyengan.


"Karena seharusnya aku ngerasa lebih bahagia sama dia daripada sama kamu. Dia itu perfect banget buatku, kaya stop kontak ketemu colokannya gitu deh?" Ucapnya.


Oh my God! dia bilang kaya colokan sama stop kontak? Bukannya kalian itu stop kontak dua-duanya? Gimana mau colokannya woii?


Aku harus bersabar. Kata-kataku harus ditata dan segera aku menarik napas halus sebelum bicara. "Kenapa kamu merasa gak mungkin lebih bahagia sama aku?" Tanyaku sekedar menyelidik. karena mungkin aku juga ragu pada diriku sendiri, apakah mungkin bisa bahagia berumah tangga dengan istri yang tidak mencintaiku?


"Karena kamu cowok! Cowok itu mahkluk paling nyebelin sedunia, egois, gak bermanfaat. Dunia ini akan jauh lebih baik kalau gak ada cowok." Nesya menjawab dengan cepat hingga dia tak sadar, mana mungkin ada dia di dunia ini kalau gak ada om Surya, dan om Surya itu cowok loh? ini bener-bener ngajak perang.

__ADS_1


"Ini omongan dari cewek yang barusan pengen punya bayi kan? Kamu gimana mau punya bayi kalau di dunia ini gak ada cowok, Nes?" Tanyaku seraya mengernyitkan dahi.


"Heh, buat hidup itu cuma butuh kromosom X gak butuh kromosom Y, gak apa-apa, kan. Tetap bisa hidup. Tapi kalau gak ada kromosom X, gak ada janin yang bisa hidup. So, gak ada cowok, gak masalah."


Nesya tetap dengan pendiriannya. Oh my God, mie instan jenis apa yang sudah dia makan bersama cowok jadi-jadian itu?


"Terus kalian mau membelah diri, gitu?" tMTanyaku lagi seraya mencibir.


"Hahaha, aku yakin nanti pasti ada jalannya. Mungkin semacam kloning atau apalah. Perempuan punya semua support system' yang dibutuhkan untuk melahirkan bayi." Dia menyeringai sinis.


"Kalian kaum lesbi itu sama dengan penghianat proses panjang evolusi. Mau berkembang biak pake cara vegetatif? di cangkok? Usaha perbaikan keturunan hanya dapat dilakukan melalui cara generatif, tahu? Kenikah dam melahirkan!" Sergahku sedikit nyolot.


Perdebatan tak kunjung usai. Namun Neysa tetap bertahan dengan pendiriannya hingga aku males sendiri untuk melanjutkannya. Beruntung saja ada telpon masuk dari dokter Ahmad. Aku segera mengangkatnya.


"Ya, halo dok." Jawabku. Mendengar aku menyebut dok, Nesya langsung memandangku dengan raut wajah yang kawatir.


"assalamualaikum, mas Zian." Astaga! lupa lagi, lupa lagi.


"Hehehe, maaf dok. Waa'laikumsalam." Jawabku merasa gak enak hati plus malu, karena keseringan lupa masalah menyambut telpon darinya.


"saya lagi gak ganggu kan, mas?" tanyanya. Menurutku ini bukan pertanyaan. Lebih tepatnya meledek. Nyebelin juga ternyata ni dokter. Gak Nesya, gak dokter Ahmad. Semuanya pada nyebelin, hari ini.


"Gak dok, gak Sama sekali." Jawabku sedikit nyolot. Sebel aku. "Emang, ada apa dok?" lanjutku bertanya.


"ini, saya mau ngabarin, kalau pak Surya baru saja siuman." Jawabnya.


"Alhamdulillah, syukurlah dok. Kalau begitu kami langsung segera bergegas kesana." Jawabku.

__ADS_1


Setelah sambungan terputus, aku dan Nesya pun segera bergegas menuju rumah sakit. Nesya terlihat sangat bahagia, mendengar bahwa ayahnya sudah sadar dari komanya.


bersambung..


__ADS_2