
Pesta berlangsung meriah hingga hampir tengah malam akhirnya aku bisa ketemu sama anak songong yang bilangin aku ulatan. Datang hanya berdua sama umi-nya.
Nesya berjongkok hingga dapat menatap mata si anak kriwil cantik, Nesya bertanya, "Adek siapa namanya?"
"Aisyah aunty." Jawab si bocah kriwil.
"iiiih jangan aunty, panggil kakak aja ya," Nesya gak terima dipanggil aunty.
"Iya aun.. eh kakak." Ih gemesnya. Jadi pengen punya anak. Tapi, sama siapa?
"Aisyah umurnya berapa?" Tanya Neysa lagi. Ternyata Nesya sosok penyayang anak kecil juga. Tapi kalo pacarnya seperti itu, gimana mau punya anak kecil? Hadeh!
"Umul Aisyah empat kakak cantik." Jawabnya sambil mengangkat empat jarinya.
Aku sama umi-nya si kriwil hanya memperhatikan saja interaksi kedua perempuan beda usia itu. "Fokter Ahmad gak ikut, mbak?" Tanyaku pada umi-nya si kriwil.
"Iya, nemenin pak Surya tadi. Mungkin kecapean, kondisinya jadi agak ngedrop." umi-nya si kriwil menjawab dengan nada sedih. Pantas saja, tadi siang pun om Surya sudah terdengar serak dan putus-putus.
Nesya berdiri untuk ikut dalam pembicaraan orang dewasa. "Ayah sakit?" Tanyanya dengan nada khawatir.
Istri dokter Ahmad ngelirik minta bantuanku. Dia pasti sudah di wanti-wanti supaya gak ngasih tahu apapun perihal penyakit om Surya pada Neysa.
"Biasalah, namanya juga orang tua." Aku gamit tangan Nesya biar dia gak tanya-tanya lagi. Terus pamit sama istri dokter Ahmad.
Area kolam mulai sepi. Rasanya udah capek pasang muka senyum semalaman. Nesya ngikutin dengan bahagia. Kayaknya dia juga udah ga sabaran untuk menghempaskan dirinya ke atas kasur.
Di dalam lift baru sadar, cctv ada dimana-mana. Bahkan di ruang sempit tertutup begini pun kamera pengintai itu mengawasi.
Nesya bersandar di dinding sambil menghembuskan nafas. Aku tarik tangannya sambil menunjuk kamera dengan dagu. Dia tertawa dalam lelah, lalu menyandarkan kepala ke pundakku.
"Yeah, ayo kita bikin pecintraan terbaik malam ini," Ucapku sambil merangkul pinggang Nesya sehalus mungkin. Pecintraan ini harusnya bisa jadi menyenangkan andai saja dia bukan lesbian. Tapi sekarang, semua terasa hambar.
Sebuah dentingan menjadi penanda bahwa pintu evelator akan terbuka. Kami jalan bergandengan tangan keluar lift di dek sepuluh A. "Aku mau jenguk om Surya dulu. kamu duluan aja ke kamar," Ketika ngasih kartu kunci kamar pada Nesya.
Cewek itu bergeming, agak mendongak menatap mataku. "Sakit apa ayah?" tanyanya.
Hhh! harus dijawab, nih?
"Kenapa kayanya semua orang tahu ayah sakit kecuali aku?" Nesya merajuk dengan kesal.
"Mau ikut?" Aku nanya biar gak perlu masuk dalam lingkaran ngambeknya.
Nesya masih bergeming.
Aku udah capek. Pengen nyelesein semua urusan malam ini supaya bisa tidur dengan tenang sampai besok pagi.
"Oke!" dia menjawab dan langsung melangkah menuju kamar om Surya.
__ADS_1
Di depan kamar om Surya, kami bertemu dokter Ahmad yang baru saja menutup pintu. Wajahnya terlihat lelah dan wajahnya tampak sedih. Dia menatap Neysa agak bingung, namun kemudian mengangguk untuk pamit sambil memberitahukan.
"Pak Surya baru aja tidur. Baiknya gak usah di ganggu dulu, biar istirahatnya sempurna."
"Ayah sakit apa, dok?" Nesya bertanya tak sabar. Bukannya jawab langsung, dokter Ahmad malah ngelihatin aku.
Asem! kenapa kayanya semua tergantung aku? "Oke, makasih, dok. besok aja saya kesini lagi." Aku langsung pamit sambil nyodorin tangan buat salaman.
"Ya, sama-sama," Balas dokter Ahmad lalu menepuk pundakku.
"Bentar, dok.." aku gamit tangan Nesya sebelum dia selesai ngomong.
Dokter Ahmad menjawab dengan anggukan kemudian pamit. Nesya meremas tanganku gemas. "Kamu tahu ayah sakit apa?" Tanyanya penasaran.
Aku balas meremasnya dengan lembut. "Apa itu penting buatmu?"
Sambil mendecak Nesya menghempaskan tanganku dengan kasar. Lalu dengan gerakan menghentak, dia melangkah menuju kamar.
Aku harus berjalan cepat agar dapat menjajarkan diri lagi. Astaga! dia sedang mengigit bibir, menahan tangis. "Sini." Aku arahin kepalanya ke pundakku. "Kalau mau nangis disini aja," Tawarku.
Mula-mula gak ada suara. Perlahan kemudian terdengar isaknya di antara bahu yang berguncang. Dia membalas rangkulanku dengan sangat erat. "Aku benci ayah! Benci!" Dia memukul-mukul punggungku. Gak sakit, karena tangisnya terdengar perih. "Tapi kenapa kayanya cuma aku yang gak tahu soal sakitnya?" suara Nesya meradang "Kenapa?! Kenapa!"
Raungan Nesya terdengar bergema di koridor sempit itu. Seiring air mata yang membanjir, tubuhnya pun makin lemas dalam lingkar tanganku. Hampir aja dia melorot kalau ga ditahan dengan kekuatanku.
Tangisnya terhenti tak lama kemudian, menyisakan secuil Isak yang mengiris hati. "Kenapa dia milih ngasih tau kamu? padahal kalian kan baru aja ketemu. Kenapa?" Tanyanya lirih bikin aku gak enak hati.
"Aku juga gak sengaja tahu..." Akhirnya aku malah menyampaikan pembelaan.
"Gak sengaja?" tanyanya lirih. Aku rangkul pinggangnya untuk melanjutkan langkah ke kamar. "Maksudnya gak sengaja?" Nesya mendesak tak sabar.
"Kamu beneran mau dengar ceritanya?" tanyaku. Nesya ngangguk yakin.
Dikamar, aku ceritain semuanya. Nesya duduk di tepi tempat tidur, menyimak dengan konsentrasi penuh.
Om Surya pasti gak bakal suka Nesya tahu penyakit yang dia derita. Tapi, bagaimana pun, gadis ini wajib tahu. Akan ada banyak hal yang perlu disiapkan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Termasuk kemungkinan terburuk.
"Ayah kanker paru-paru?" dia balik bertanya tak percaya. "Rumor itu benar, ya?"
Dering telpon memutus pembicaraan kami. Nesya bergegas ke meja rias, tempat ponselnya berada. "Iya otewe," hanya itu yang dikatakan setelah panggilan diterima. Kemudian cepat-cepat dia berganti pakaian seenaknya di depan mata.
"Woi! gak bisa ganti baju di kamar mandi apa?" Teriakku.
"Ah, ribet. Lagian cuma ada kamu disini." jawabnya enteng.
What? dia kira aku apa? "heh! yang homo itu kalian. Aku seratus persen hetero, tahu!"
"Ya udah, gak usah lihat. Susah amat." Huh! seenaknya aja!
__ADS_1
Oke, kalau itu maunya, aku jabanin! Mumpung dikasih pemandangan bagus, mana boleh di sia-siain.
Nesya mengganti gaun pengantin dengan kaus ketat tanpa lengan berleher rendah. Sebagai bawahan, dia mengenakan celana tiga perempat yang cukup pas membelit kakinya. Secepat kita ia membersihkan wajah dari sisa-sisa riasan dan air mata. Lalu memoles bedak beserta lipstik tipis-tipis.
"Jangan bilang, kamu mau pacaran!" ujarku. Dia tersenyum melalui pantulan cermin. "Kamu beneran mau ketemu sama si cowok jadi-jadian itu?" Tanyaku kepalang tanggung.
Masih melalui pantulan cermin, Nesya menghujamkan tatapannya ke dadaku. "Niko, namanya Niko. Dan dia bukan cowok jadi-jadian tapi cewek asli!" satu pembelaan tajam dilontarkannya. Ini pembelaan yang bener-bener nyeselin.
"Kamu lagi waras, kan? tahu sendiri cctv di mana-mana. Kamu mau ketangkep kamera lagi pacaran, sama cewek lagi.?"
"Aku akan hati-hati," Katanya, kali ini langsung menoleh biar kita berhadapan.
Aku berdiri, menghalangi langkahnya mengambil alas kaki di rak sepatu. "Jangan!"
Dia mendecak kesal "Apa, sih?"
"Tunggu sampai balik ke Surabaya. Aku gak akan ganggu kalian disana. Tapi disini, kapal ini penuh wartawan gosip, nes!"
"Hhh! nyeselin banget, sih! minggir!" Bentaknya.
"Gak!" Sergahku.
Dia menantang dengan tatapan mata. hanya sesaat. Kemudian ekspresinya berubah memelas. "Aku butuh ketemu dia. Hari ini melelahkan banget. Aku butuh ketemu dia, yan. Plisss?"
Gila! Anak ini bener-bener aktris.
Sialan! aku susah nolak cewek kalau udah gini. Tapi mengingat gimana tadi ketika baru aja ketemu, nglepasin anak ini ketemuan sama si cowok jadi-jadian mungkin bakal nyusahin nantinya.
"Kamu butuh dia buat apa? Aku bisa gantiin dia malam ini."
Nesya mendecih. "Dia gak tergantikan!" dengan keras mendorongku ke dinding lalu membuka rak sepatu
Dasar kepala batu. "Ketemuan dimana?"
"Area outbond. Gak bakal ada orang disana tengah malam gini," Katanya sambil memasukkan kaki kanan kedalam sneakersnya.
Aku lepas jas dan sampirkan ke bahunya. "Pakai, nih!" dia menatap bingung. " Area outbond daerah paling tinggi di kapal ini. Angin disana pasti kenceng banget. Jangan sampai kamu masuk berita dengan headline pewaris angkasa group masuk angin di malam pertama."
Dia ketawa. "Makasih." Katanya sambil membuka pintu kamar.
"Balik sini sebelum subuh. Jangan sampai ada yang lihat kalian keluar kamar yang sama besok pagi." Aku cabut kartu kunci buat dia bawa. Seluruh lampu dikamar padam seketika.
"Jadi gelap, dong."
"Aku mau tidur, gak butuh lampu." Yang penting pendingin ruangan tetap nyala karena menggunakan AC central.
"Terserah." Dia mengambil kartu dan menutup pintu dari luar.
__ADS_1
Tinggal aku sendirian..
Malam pertama dalam imajinasiku gak pernah se-sepi ini. Kalau realita seindah imajinasi, jangan-jangan ini adalah dunia komik.