Istriku salah arah

Istriku salah arah
matahari yang dimanfaatkan bulan


__ADS_3

Koridor ruang perawatan Om Surya super lengang. Langkah kakiku bergaung di tiap sudut ruangan. Dari jendela kecil di pintu, terlihat Nesya sedang ngobrol santai dengan ayahnya. Wajah orang tua tampak takzim menyimak perkataan Putri kesayangannya.


Syukurlah, mereka akhirnya bisa berada di jalur yang sama. Tak lagi bersebrangan seperti tadi pagi.


Aku segera beranjak dari muka pintu, gak enak kalau sampai mengganggu ayah dan anak yang sedang reunian. Hidup memang gak bisa ditebak. Tadi pagi masih bermusuhan, bisa jadi siang atau sorenya jadi sahabat yang sangat akrab.


Fi ujung koridor ada sebuah jendela besar menggantikan padatnya dinding. Pemandangan dari sana mengingatkan bahwa kita berada di lantai lima. Lampu-lampu tampak seperti kunang-kunang bertengger di dedaunan. di langit ada purnama yang menggantung sendirian.


Ingatanku melayang pada kenangan yang sengaja aku lupakan. Satu episode panjang kehidupanku yang sangat memuakkan. Sialnya, satu per satu kenangan itu muncul lagi tak tertahankan. Membuat sekujur tubuhku lemes dan akhirnya harus duduk bersila supaya tidak sampai jatuh terjengkang.


Malam ini, mirip sekali dengan Malam-malam itu yang dinanti setiap bulannya. Purnama di langit dan pemandangan kota di bawah. Bedanya, saat itu lampu-lampu kecil yang terlihat berasal dari ceruk kota Bogor.


Kala itu aku duduk di lantai dua masjid, sendirian. Sengaja kabur dari hiruk pikuk suara hafalan dan muroja'ah teman-temanku di pesantren.


Bulan purnama akan terbit sedikit demi sedikit. Warnanya berangsur mulai dari merah, merah muda, hingga jadi putih.


Aku duduk bersila di situ, menanti tiap fase perubahan yang tak jelas batasnya. Di tanganku ada sebuah mushaf untuk menghafal. Tapi sekarang, tanganku kosong dan semua hafalan ilmu agama itu seakan hilang menguap dari hati dan kepalaku.


Bukan, bukan hilang. Memang sengaja aku hilangkan karena mengingatnya seperti membuka luka lama. Ya aku pernah terluka sangat parah saat berada di sana dan kini aku menolak untuk terluka lagi.


"Hai!" Suara Nesya tiba-tiba Mengejutkanku dan membuyarkan lamunan, lalu kembali membawaku pada kesadaran saat ini.


Nesya duduk di samping. Kulit putihnya bercahaya kena pantulan sinar bulan. Warna merah menghiasi pucuk hidungnya yang mungkin terlalu sering dikepit untuk menghentikan aliran lendir saat dia menangis tadi.


"Ngapain?" tanyanya, "Kok gak masuk? Cuma ngintip aja?" Nesya menepuk pundakku.


Oalah, ternyata aku ketahuan. Ya sudah aku balas aja dengan cengengesan.


"Dicariin ayah, tuh," Lanjutnya seraya mendongak menatap purnama.


Aku berdiri hendak meninggalkan Nesya yang menghadap jendela. Tapi tangan halusnya sigap menahan lenganku.


"Kamu nangis?" dia menyelidik, wajahnya dia dekatkan dengan wajahku dan langsung menuju mata.


"Gak!" balasku seraya melepaskan tangannya dengan sekali hentak. Sialan! kenapa dia bisa lihat aku meneteskan air mata? Aku segera mengusap mukaku dengan kedua tangan. Aku tak ingin Om Surya melihat air mataku.


* * * * *


"Apa kabar, Om?" aku duduk di bangku yang di duduki Nesya.


Om Surya diam sejenak. "Kamu masih panggil saya, Om?" Tanyanya dengan suara yang masih parau.


Ah, males banget aku ngejawabnya. sorry, jujur saja saat ini aku masih menilai dia jauh dari Citra seorang ayah.


"Terima kasih," katanya lagi tanpa menunggu jawabanku. "Saya belum pernah melihat Nesya sebahagia hari ini." Om Surya menatapku dengan intens dan aku membalasnya dengan senyum aja. Orang tua ini sepertinya masih belum sadar apa yang sebenarnya terjadi.


"Saya gak melakukan apa-apa, Om." timpalku.


Om Surya tersenyum tipis. "Saya bisa lihat, Nesya lebih bahagia setelah nikah sama kamu."


Oh God! nikah? rasanya aku kepengen ngakak setiap kali mendengar kata itu.


"Yang bikin dia bahagia bukan saya, Om."

__ADS_1


"Siapa lagi?" Om Surya menjawab cepat. Ada kecemasan dalam suaranya.


"Pasti ayahnya!" jawabku mantap. Dahi Om Surya makin mengerut. "Nesya baru sadar, ternyata ayahnya gak pernah lupain dia. Ternyata ayahnya gak pernah berhenti menyayangi dia."


Om Surya termenung beberapa saat dan matanya menerawang jauh. "Saya kira, kalau Om Surya mau dia ninggalin ceweknya itu, inilah saat yang tepat dan harus Om lakukan."


"Apa?"


"Om harus terus menjadi ayahnya." Orang tua itu terdiam. Keheningan menyelimuti kamar inap, hanya suara ventilator menghembuskan oksigen yang jadi peningkah pendengaran kami.


Rasanya, satu tugasku sudah selesai. Nesya sekarang ngerasain lagi kasih sayang ayahnya. Om Surya juga udah bisa ngomong santai dengan anaknya. ayah dan anak kini telah menjadi satu ikatan dan sepertinya mulai sejalan.


"Saya gak paham, Yan. Apa hubungannya menjadi ayah dengan berhenti jadi lesbian?" Om Surya menatap mataku dengan sangat dalam.


Apa mungkin karena Om Surya sudah tua, dia gak bisa ngelihat sesuatu yang sudah gamblang banget terpampang di depan matanya?


"Saya gak yakin dia benar-benar jatuh cinta sama cowok jadi-jadian itu. Maksudnya, semacam cinta seorang kekasih," Ucapku lagi.


Om Surya mengernyitkan dahinya lagi. Matanya menatapku dalam, berusaha mencerna kalimat yang barusan di dengarnya.


"Saya kira, dia hanya merindukan perlindungan dan kenyamanan dari seorang ayah." Lanjutku tanpa peduli Om Surya yang sepertinya masih belum paham.


Om Surya menghela nafas, lalu membuang muka dan menatap dinding. Sebuah lukisan naturalis menjadi titik fokus pemandangannya. d******i warna kuning di sana sangat menyegarkan. Seorang perempuan dewasa terlukis sedang berlari mengandeng tangan balita. Mereka tampak sedang tertawa bahagia, menularkan senyuman ke bibir Om Surya.


"Saya gak tahu gimana harus menghadapi Nesya." Om Surya bicara tanpa mengalihkan pandangan dari lukisan ibu dan anak yang berlarian di antara rerimbunan bunga matahari itu.


"Saya terlalu terpaku pada hari itu. Tak bisa bergerak dan terus menyesali keputusan yang saya ambil dulu."


"Dia menelepon saya waktu itu, minta di jemput. Tapi saya menyuruhnya naik taksi." Om Surya melanjutkan ucapannya setelah menarik selang dari hidungnya agar dapat mengeluarkan air yang memenuhi rongga pernapasannya. "Saya lebih memilih menyelesaikan permainan dengan Nesya. Karena waktu itu lagi seru-serunya." Om Surya menggeleng, menekan matanya, menghentikan genangan air di pelupuknya.


Aku segera menyodorkan sekotak tisu yang bertengger di atas nakas. Om Surya menyeka sisa air mata dan hidungnya. Permainan catur kala itu pasti seru banget sampai dia gak mau menjedanya, istrinya lagi minta jemput malah disuruh naik taksi.


Berarti Nesya bener, ayahnya memang gak mau ngalah waktu itu. Beliau bener-bener di kalahkan oleh Nesya. Gila! bapak-bapak di kalahin sama anak TK?


"Mungkin ceritanya bakal beda kalau saya waktu itu menjemput ibunya Nesya." Om Surya kembali menancapkan masa lalunya yang sampai detik ini masih dia sesali.


Menyesali keputusan-keputusan yang telah diambilnya dengan sadar. Aku gak nyangka, susahnya Om Surya move on dari masa lalu, bisa sampai merusak kehidupan anaknya yang sangat dia sayangi.


"Iya, Om. Bisa jadi ceritanya malah jadi makin menyedihkan. Nesya hidup sebagai anak yatim piatu sebelum berhasil menang dari ayahnya." Aku menimpalinya sekedar mengurangi rasa dan beban bersalah dalam diri Om Surya.


Om Surya menoleh dan tertegun.


"Banyak alternatif cerita yang bisa dipilih dengan mengeksekusi keputusan berbeda. Tapi keputusan yang diambil, gak bisa dibatalkan. Kita harus melayari konsekuensinya hingga akhir."


Aku lanjutkan bicara dan ini lebih mirip ngomong sama diriku sendiri. Ya, semua hal yang terjadi sejak sebulan lalu bener-bener seperti rentetan konsekuensi dari keputusan beruntun yang telah aku ambil secara gegabah.


Aku harus move on. Meski berdarah-darah, sebelum penyesalan ini akan merusak diriku sendiri. Masih banyak yang harus aku kerjakan di depan sana.


Om Surya tersenyum. "Alhamdulillah," Ucapnya lirih namun wajahnya terlihat rileks dan cerah. "Saya benar-benar bisa tenang sekarang."


What? aku gak habis pikir. Maksudnya apa coba dia bicara begitu?


"Nesya udah berada di tangan yang tepat. kamu pasti bisa membimbingnya ke jalan yang benar." Om Surya melanjutkan omongan setelah memasang kembali selang ke hidungnya.

__ADS_1


Ya ampun! lagi-lagi soal ini. Rasanya aku ingin membanting semua realita di mukanya. 'pernikahan ini hanya akan berlangsung sampai Nesya lulus, Om!' teriakku dalam hati, geram!


"Heru pasti juga udah menyerahkan surat kuasa, kan?" tanya Om Surya sambil tersenyum dan menatapku.


Aku belum sempat cerita soal itu. Tahu dari mana Om Surya? "Ya," jawabku singkat dan lemas.


Om Surya manggut-manggut. "Heru memang gercep sekali. Saya udah bilang, kalau saya berhalangan sementara atau tetap, langsung serahkan surat kuasa itu sama kamu."


Hadeh! Dadaku jadi sesak. "Sekarang Om Surya udah sadar lagi, maka saya serahkan kembali..."


"Kangan!" Dengan suara parau Om Surya menyela secepat kilat. "Yan, saya mau fokus pada mempersiapkan pertemuan dengan yang maha kuasa. Masih banyak yang harus saya persiapkan. Saya titipkan perusahaan juga Nesya sama kamu."


Dan tenggorokan tiba-tiba jadi kering.


* * * * *


Nesya masih duduk, memeluk lututnya di depan jendela besar. Kepalanya mendongak, menantang cahaya bulan yang menyirami dunia dengan santunnya.


Aia menoleh sedikit waktu aku sudah berdiri di sampingnya. "Purnama-nya cantik, ya?" Aku mengeluarkan pertanyaan yang ambigu. Karena maksudnya adalah Nesya cahaya purnama yang cantik itu.


Nesya tertawa geli. "Purnama yang di langit maksudnya," Ucapnya seraya tersenyum.


Eh? apa otak kita tersambung dengan bluetooth? ni kedua kalinya dia bisa baca pikiranku.


"Kok diem aja, sih?" Tanyanya sambil mengulurkan tangannya minta ditarik agar bisa berdiri.


Nesya berdiri, tersenyum dengan bibir merah muda. Cahaya bulan yang memantul di kulit putihnya membuat dia tampak seperti bidadari dalam kilau malam. Kata-kata kemudian mengalun dari mulutnya.


"Kamu kenapa, sih?" tanyanya heran. Gak tahu, pikiranku makin penuh sekarang. Pengen menyublin aja rasanya. Menyatu dengan udara lalu menghilang tanpa jejak.


Purnama masih bertengger di langit. lingkar putih di sekelilingnya seperti perisai cahaya yang melindungi.


"Iya, purnama di langit itu sangat cantik," jawabku.


Nesya kembali tergelak dengan suaranya yang sedikit serak. "Karena kita ngelihatnya dari jauh. Padahal kalau dari Deket, bulan itu kering, gersang, penuh bopeng."


Dan untuk ucapannya yang satu ini, mau gak mau aku setuju. "Tapi yang paling bertanggung jawab bikin purnama kelihatan cantik banget adalah matahari. gak ada matahari, gak ada cahayanya. Dan bulan cuma jadi bongkahan batu yang melayang-layang di angkasa."


Nesya tertawa sinis. "Apa matahari tahu kalau dia cuma dimanfaatin saja sama bulan?"


"Yeah. Gak mungkin dia gak tahu."


Nesya menoleh, tapi aku cuekin. saat ini purnama yang ada di langit Banyuwangi lebih menarik dari purnama yang ada di sisiku.


"Tapi buat matahari, lebih baik dia dimanfaatkan bulan daripada hanya menjadi bola gas pengelana di alam semesta," Ucapku kalem.


Hari ini kayanya aku kuwalat. Semua kalimat yang aku ucapkan serasa mantul balik ke diri sendiri. Ya aku adalah Zian, sang matahari yang dimanfaatkan Nesya Larasati cahaya purnama.


* * * * *


meskipun penontonnya lebih banyak jari-jari tangan dan kaki otor. tapi otor tetap update cerita ini sampai selesai. mungkin sebulan lagi akan selesai.


saya ucapkan terimakasih bagi kalian yang udah membaca ceritaku ini.😘

__ADS_1


__ADS_2