Istriku salah arah

Istriku salah arah
apa dia tenggelam?


__ADS_3

Pecintraan itu melelahkan. Berpura-pura bahagia itu melelahkan. bahkan senyum pun membuat pipi pegal-pegal.


Akhirnya aku sama Nesya dapat kesempatan buat balik ke kamar. Alasannya pengantin baru butuh istirahat, nanti malam masih ada pesta besar. Gak bohong, nanti malam memang ada resepsi pernikahan bertajuk pesta kembang api dia area kolam renang umum.


Nesya langsung menghempaskan diri ke kasur begitu tiba di kamar. Mungkin baginya ini semacam ritual selamat datang kembali ke kamar.


Aku melepaskan jasko putih dan menggantungkannya di lemari bersama peci berwarna senada. Segala peristiwa sejak pagi ini membombardir kepalku sampai otak terus menguap lewat lubang telinga.


"Delamat, ya," ujar Nesya tanpa mengubah posisi telentang di atas ranjang, "Sekarang kamu punya kekuatan yang setara sama ayah di RUPS."


"RUPS?"


Nesya duduk dan beranjak ke meja rias. "Rapat umum pemegang saham," Jawabnya sambil melepas satu persatu jarum yang menempel di kerudungnya.


Dia masih mengenakan pakaian hasil rancangan si lindar. Meski tidak resmi mengenakan hijab dalam kesehariannya, namun cewek matre itu bersikeras menggunakan gamis dan kerudung untuk akad nikah. Sekarang, kedua potong pakaian hasil karyanya dikenakan oleh Nesya. Pengantinku.


Ketika akan melepas Tiara yang menempel di ubun-ubun, jemari lentiknya kesulitan menemukan peniti di ujung logam tipis itu. Aku batalin membuka ritsleting celana panjang dan beralih ngebantu Nesya melepas mutiaranya.


Satu peniti berhasil aku lepaskan. "kapan RUPS-nya?" Aku nanya-nanya daripada bengong.


Nesya menatap dari pantulan cermin dihadapannya. "Bulan depan." Suaranya lembut dan manis seperti eskrim.


Cepat banget. Pernikahan ini sepertinya gak akan mudah.


"Aku gak butuh duit ayahmu." Peniti terakhir berhasil dilepaskannya.


"Aku juga gak butuh duitmu."


Mutiara dan peniti aku taruh di atas meja rias.


"Penghasilanku lebih dari cukup kalau mau hidup enak di Indonesia." Aku tantang tatapan matanya di cermin. "Gak usah kawatir. Nanti semua aku kembaliin lagi sama kamu." Pungkasku.


Aku balik ke depan lemari buat ngelepas celana panjang dan menggantinya dengan celana pendek. Segala kejadian hari ini udah cukup menyesakkan, saatnya berganti pakaian longgar yang melegakan.


Dia lanjut melepas kerudung. Tiba-tiba gerakan tangannya terhenti. "Spa ayah mau jadiin kamu Presdir?" Tanyanya sambil menoleh penuh ke arahku.


"Hah?" Sumpah aku kaget sekaget-kagetnya persis seperti orang kesetrum.


"RUPS bulan depan katanya bakalan ngebahas lengsernya ayah. Pak Reno sama pak Bima udah mulai lobby-lobby aku buat minta suara. Kayaknya mereka mau majuin pak Reno jadi Presdir." Sinar mata Nesya kelihatan berkilat-kilat ketika menjelaskan ini.


Sepertinya om Surya salah karena telah meremehkan anak gadisnya untuk urusan bisnis.


"Terus, kamu sepakat dengan mereka?"


Nesya mengedikkan bahu. "Aku malas ngurusin perusahaan," Katanya sambil melanjutkan mencabut jarum terakhir di kerudungnya.


Lalu tiba-tiba dia memukul meja rias dengan keempat ujung jari. "i knew it!" serunya antara gembira dan kesal, "damned!"


"Kenapa?"


"Ayah mau membidik dua sasaran dengan pernikahan ini. ngancurin hubunganku sama Niko. Sekalian dapatin kamu jadi penerusnya. Dasar!"


Asli, aku gak ngerti. "Maksudnya?"


"Ayah udah berkali-kali beda pendapat soal menjalankan perusahaan sama pak Reno. Kelihatan banget pak Reno mau ambil alih perusahaan. Apalagi sekarang gosipnya ayah lagi sakit berat. Kalau gosip itu benar, jangan sampai perusahaan keteteran karena pemimpin utamanya sakit." Mata Nesya berkilat-kilat seperti sinar mata ayahnya saat berhasil menebak langkahku dalam permainan catur.


"Tapi ada satu pertanyaan besar," katanya lagi, "Kenapa harus kamu?" Nesya menatapku lebih intens.

__ADS_1


Aku narik napas panjang. Nesya terlihat berkali-kali lipat lebih cantik ketika ia berbicara cerdas seperti barusan.


"Aku tahu," Jawabku santai.


"Tahu apa?" Nesya mengejar.


"Aku tahu alasannya."


"Apa?" binar matanya nggemesin, bikin pengen nyiumin satu persatu. Wait! jangan mulai ngebayangin yang iya-iya. mendingan kabur ke balkon. No love no s*x, perjanjian terkonyol abad ini.


Aku segera kabur tak membalas pertanyaannya karena takut lama-lama tergoda kecantikannya dan terpancing ucapannya.


Angin laut menghantam wajahku begitu pintu dibuka. Beban pikiran yang tadi menggelayut seolah ikut terbang entah kemana.


Nesya mengikutiku sambil menjinjing gamis putihnya. Angin memainkan rok, juga helaian rambut yang sudah terlepas dari ikatan. Binar matanya masih memancarkan keingintahuan. Seolah berkelip-kelip menandakan bahwa prosesor otaknya sedang bekerja keras.


"Apa alasannya?" dia masih mengejar.


Aku diamkan saja. Gak ingin menjawab, lagian tak ada gunanya juga ngejawab.


"Kamu pernah menang main catur lawan ayahmu?" Aku mengalihkan pembicaraan, karena gak mau menjawab kepenasarannya.


Binar matanya seketika pudar. dia tertegun. "Pernah," jawabnya perlahan nyaris tak terdengar dan perlahan-lahan pula dia memutar tubuhnya, melangkah menuju birai balkon.


Disana Nesya menyandarkan perutnya. angin laut memaksa kelopak matanya menyipit. Susah payah ia menantang samudera di hadapannya. "Satu kali." Dia berkata lagi terus terdiam beberapa saat. "Terus gak pernah menang lagi," Lanjutnya dengan suara yang makin lemah.


Ada nada sedih disana. Nada yang bikin aku ragu untuk lanjut bertanya. Tapi udah terlanjur kepo jadi tetap aja nanya.


"kapan?" dia menunduk, menyembunyikan tawa pahit.


"waktu TK."


"Eh, enak aja! Ayah tuh gak pernah ngalah, biarpun dengan anak sendiri."


"Gak mungkin! Aku aja udah main dua kali sama om Surya. main tiga set, kalah semua. masa bisa di kalahin sama anak TK."


"Gak usah minder hanya aku jenius. hahaha!" Nesya tertawa jahat. Huh! Sombong!


"Ibu gak sempet tahu kalau aku akhirnya berhasil ngalahin ayah." Mata Nesya menerawang jauh hingga batas horizontal.


"Kenapa?"


"Malam itu, ibu gak pulang." Suaranya lirih dihempas angin. "Besoknya baru ibu pulang." Air mata Nesya tiba-tiba mengenang di pelupuk matanya, "Pulang sudah menjadi jenazah," Lanjutnya lirih.


Glek! pantes saja, cerita kemenangan ini membangkitkan kesedihan mendalam.


Nesya menghela napas panjang, kemudian menoleh seraya tersenyum. "Pinter, ya ngalihin pembicaraan," katanya dalam kerling jenaka.


Awan putih tipis berlapis-lapis di langit boy. Perasaan aku jadi gak enak karena udah membawa Neysa pada kenangan lama yang mungkin sudah susah payah dikuburnya dalam-dalam.


"Sorry." Ucapku pelan.


"Yah, itu masa lalu." Dia membungkuk, menumpangkan dagu pada bilah birai balkon. "Sejak itu, aku hampir gak pernah ngobrol lagi sama ayah."


"Kenapa?" Ups, kebiasaan nanya kenapa, hampir setiap waktu.


Nesya menoleh dengan sedikit mendongak. Bikin aku ngerasa kaya objek penelitian yang sedang diamatinya.

__ADS_1


Nesya ketawa kecil. Bukan karena geli, karena yang terdengar justru kepahitan. "Ayah sibuk. Aku gak boleh deket-deket."


Aku manggut-manggut, nahan lidah biar gak tanya kenapa? Ganti pertanyaan mungkin bisa jadi lebih baik.


"Kehilangan istri bikin om Surya sibuk kerja, mungkin ya?" Aku berusaha santai. Sejujurnya jadi merasa relate banget. Aku melakukan itu setelah mutusin si lindar. Untungnya antara aku dan si lindar belum sampai ada anak yang perlu diperhatikan.


Neysa ketawa lagi, lebih pahit dari sebelumnya. "Ayah sibuk ngerokok," katanya "Aku gak boleh deket-deket kalau ayah lagi ngerokok. Sialnya, ayah ngerokok gak berhenti-henti setiap waktu."


Aku bengong. Akhirnya ngerti, kenapa om Surya kena kanker paru-paru sekarang.


"Itu sebabnya kamu jadi perokok juga sekarang?" tanyaku.


Nesya tersenyum sambil menegakkan punggungnya. "Aku gak sedangkal itu, yan." katanya santai.


"Dangkal?" Jarak dari tempat kami berada hingga permukaan laut terlihat jauh sekali.


Buih-buih akibat irisan haluan pada muka samudera tampak bekejaran, bergulung-gulung menyatu lagi dengan lautan.


"Menurutmu, berapa dalamnya laut ini?" Tanyaku entah mengapa bertanya demikian.


"Nah!" Nesya berseru mengejutkanku. "Masih berusaha berkelit, ya?" dia menyodorkan jarinya berbentuk pistol, menusuk langsung ke pinggangku.


"Heii!" aku paling gak tahan di gelitikin. Dan sekarang dia tahu kelemahanku yang satu itu.


Nesya kini menusuk-nusuk dengan penuh semangat sementara aku kelimpungan menghindari serangan pistol paling cantik sejagat raya.


"Heh! woi!" Aku pegang tangannya, tapi dia malah pake mulut.


Mau menghindar kemana lagi? udah di pojok banget. Apa nyerah sekalian? gak dosa ini. Tapi itu akan menodai perjanjian. Aku gak mau dibilang pembohong hanya karena melanggar kata-kataku sendiri. Jadi alihin perhatian lagi.


"Pernah bungkee jumping?" Dia berhenti menyasar perut dan pinggangku dengan mulutnya.


"Bungkee jumping? Hahaha." Aku tahu dia suka petualangan.


"Berani lompat dari sini? Gak pake tali?"


"Itu free jumping namanya."


"Whatever. Berani, gak?" Mata Nesya berbinar lagi. Kali ini terlihat sangat nakal sekaligus seksi.


"Siapa takut?" Dia bersiap menaiki birai balkon.


"Bentar." aku tahan tangannya. Ini orang gak sabaran banget. "Kita siapin pelampung dulu." Aku ambil hape buat nelpon dokter Ahmad. "Halo, dokter. Tolong, ada yang terjun dari dek sepuluh A."


Nesya menutup mulutnya, menahan kikik yang mendesak keluar. Begitu sambungan telepon dimatikan, dia langsung melompat ke laut. Roknya berkibar hingga menutupi kepalanya.


Dasar cewek gak pake mikir. Bakal bahaya berenang pakai baju gamis gitu. Aku melompat ketika dia belum menyentuh muka laut. Gravitasi menarik badan cepat. Langsung melesat entah berapa meter di bawah laut.


Air asin terasa hangat membasahi pori-pori kulit. Waktu sampai di permukaan. Nesya sama sekali gak kelihatan. Harusnya dia udah ada disini dari tadi.


"Nesya!" aku mulai panik. apa dia gak berenang? apa dia tenggelam?


TBC..


hari ini dua bab ya..


semoga kalian suka.

__ADS_1


tapi besok gak janji update ya..🤣🙏


__ADS_2