
"Karena Putri Amora menyukai Panglima, Tuan"
Mata Filips membulat lebar
"Yang benar saja, manusia mana yang suka kepada..."
perkataan Filips menggantung saat melihat tatapan membunuh Alfonso.
"Ekhem, lanjutkan" ucap Filips.
"Karena Putri menyukai Tuan, jadi Putri Amora tidak menyukai wanita yang bersama Tuan saat ini. Putri ingin sekali mencelakainya, tetapi istri Tuan tidak pernah keluar dari kediaman.
Karena itulah Puteri membuat kekacauan ini karena ia berfikir pasti kaisar akan menyuruh Tuan untuk menyelesaikannya, sehingga Tuan akan meninggalkan Nona sendirian."
Alfonso terdiam. Ia telah menyimpulkan semuanya kecuali satu. Siapa yang menyelamatkan Sophia.
"Saya hanya mengetahui sampai disitu Tuan, saya tidak bertemu dengan Puteri Amora sejak pulang dari perbatasan"
Alfonso beralih pergi tanpa mengatakan apapun.
"Tuan, kau mau aku apakan pelayan itu? apa kita bunuh saja?" Tanya Filips mengejar Alfonso
"Kau kirim dia ke markas, Tenaganya akan sangat membantu. Tetapi kau beri ancaman dahulu agar dia tau jiwa dan raganya milik siapa" Titah Alfonso seraya melangkah. Ia teringat bahwa tadi ia berjanji kepada Sophia untuk makan siang bersama
---
"Tuan!! Kau datang? Aku kira kau tak akan datang, seperti biasanya" sambut Sophia girang dengan senyuman cerah menyambut kepulangan Alfonso
Alfonso menghangat kala ada seseorang yang menunggu kepulangannya.
"Hmm, Mari kita makan" ucap Alfonso berlalu mendahului Sophia yang setia mengekor dibelakangnya.
__ADS_1
Dengan senyuman indah itu, Sophia mengambilkan makanan untuk Alfonso.
Saat Alfonso hendak memakan makanannya, netranya melirik Sophia yang berdiri disampingnya
"Kau tidak makan?" Tanya Alfonso
"Aku boleh duduk bersamamu lagi? Benarkah? Tadi pagi Tuan sudah mengizinkan aku sarapan bersamamu, Aku tidak mau serakah Tuan, Hehe Tuan makanlah, Aku tidak ingin mengganggu"
"Duduk. Mulai saat ini hingga seterusnya kau harus makan disaat aku makan" Titah Alfonso
"Apa itu aturan baru untukku Tuan? Bagaimana peraturan yang sebelumnya? Tuan tidak mengizinkanku dekat dekat" lirih Sophia. Ntahlah polos atau bodoh beda tipis bukan?ðŸ˜
"Tidak ada peraturan. Semua aturan yang kuucapkan kepadamu kuhapuskan kecuali bebas keluar rumah"
"Siap panglima!!" ucap Sophia semangat seraya duduk dihadapan Alfonso dan mereka memulai menyantap makanan dalam hening.
Sesekali Alfonso melirik Sophia. Sophia memiliki cara makan yang unik. Pipi itu membulat saat Sophia mengunyah. Sangat menggemaskan.
"Apa kaisar juga mengundangku? Bagaimana jika aku tidak dikasih masuk nanti" lirih Sophia.
"Kau datang bersamaku, tidak ada alasan mereka melarang mu, aku ingin menunjukkan sesuatu hal, supaya kau tidak perlu takut lagi"
"Baiklah, Apa yang harus kupersiapkan Tuan?"
"Tidak ada, kita akan berangkat sebelum waktu makan malam"
---
"Tuan, ayo berangkat" ucap Sophia yang telah selesai bersiap siap
Alfonso yang berada di ruang santai mendongak dan melihat Sophia. Netranya menyendu.
__ADS_1
Sophia hanya mengenakan pakaian polos yang biasa digunakannya di kediaman. Sangat sederhana.
Alfonso menyadari bahwa ia sangat tidak perduli kepada Sophia. Tetapi tidak sedikitpun Sophia mengeluh.
Jika Alfonso berdampingan bersama Sophia, Akan tampak perbedaan kasta yang sangat jauh.
Alfonso berdiri melangkah menuju kamarnya, mengambil mantel mahal yang panjang dengan motif abstrak yang sangat elegan.
Alfonso menghampiri Sophia dan memakaikan mantel itu kepada gadis manis ini.
"Diluar dingin, besok kita beli perlengkapan mu" Ucap Alfonso.
Dengan ukuran mungil Sophia, mantel Alfonso itu menjulur sampai melewati betis nya.
Alfonso menggandeng tangan Sophia menuju istana.
Sepanjang jalan, Orang orang yang melewati mereka hanya melirik terkagum
"Apakah ini wanita kumuh yang waktu itu menikahi Panglima? Sekarang terlihat sangat cantik"
"Wah panglima terlihat lebih tampan saat menggandeng wanita, Saat sendiri dia sangat mengerikan"
"Bagaimana bisa nona menjadi menggemaskan begitu, Aku ingin memeluknya"
"Mereka pasangan yang cocok"
"Panglima terlihat bahagia, begitupun dengan Nona, Semoga penguasa selalu melindungi mereka"
bisik bisik itu terdengar jelas di telinga Alfonso yang mengeratkan genggaman tangannya.
Dia mengamini semua perkataan kecuali suara halus yang mengatakan ingin memeluk Sophia. Ada rasa panas didalam hatinya.
__ADS_1
...****************...