IT HURTS MR. COMMANDER!!

IT HURTS MR. COMMANDER!!
CH 49. DIMANA KAU SAYANG


__ADS_3

Pintu berderit terbuka. Empat kaki memasuki rumah yang sangat sederhana ini


"Suuuttttt diamlah kakak, ibuku pasti sudah tidur" bisik Anak perempuan itu.


Sophia diam mengikuti langkah perlahan gadis kecil pemberani ini


"Kakak, tidur disini saja ya. Aku tidak ada kamar yang lain. Biasanya aku tidur bersama ibu" Bisiknya.


Sophia hanya tersenyum menganggukkan kepala.


Anak itu tersenyum pergi menuju pembaringannya bersama ibunya.


Sophia memandangi langit langit rumah


Tidak ada alas, maupun selimut, Sophia merebahkan diri di lantai kayu keras dan dingin ini.


"Tidak jauh beda dengan kursi kesayanganku" pikir Sophia mencoba memejamkan mata.


Tetapi sebuah pikiran mengganggunya.


"Apa Tuan susah makan tadi? Kenapa aku tidak memasak dulu sebelum pergi" pikir Sophia. Ia bahkan memikirkan orang lain disaat hatinya terluka.


Lama Sophia berpikir hingga rasa kantung menyerangnya dan tersayu memejamkan mata.


***


"Dimana kau sayang" cemas Alfonso mengusap keras wajahnya telah berkeliling di setiap sudut Kerajaan.


Filips yang ikut serta mencari Sophia juga merasakan kepanikan dari Alfonso.


Alfonso bertanya kepada setiap pelayan dan prajurit tetapi tidak ada yang melihat


Sampai pada tempat terakhir yaitu gerbang kerajaan.


Alfonso dengan lesu bertanya


"Apa kau melihat wanita dengan ukuran segini berambut panjang dengan pakaian pelayan?" tanya Alfonso


"Ia Tuan, ia keluar sejak tadi dan belum kembali" Ucap mereka membuat Alfonso tidak bisa menghirup udara dengan benar. Jantungnya berdetak keras.


Apa aku akan kehilangannya pikir Alfonso kalut mulai membayangkan hal yang tidak tidak.


Tanpa berpikir beberapa kali, Alfonso bergegas mengambil kuda kesayangannya dan keluar gerbang diikuti oleh Filips.

__ADS_1


Alfonso dan Filips menyusuri setiap jalan maupun gang pemukiman. Sepi, tidak ada aktivitas apapun kecuali beberapa prajurit yang berjaga.


Alfonso telah bertanya tetapi tidak ada yang mengetahuinya.


Alfonso kalut. Pikirannya mulai tidak tenang. Ia menyesal.


"Bagaimana aku bisa lupa Sophia pernah memiliki trauma karena ku" batin Alfonso gelisah memacu kuda menyusuri jalan.


Netra tajam nya melihat ke Kanan dan ke kiri berharap menemukan si jelita nya.


***


Pagi hari menyingsing. Tidur Sophia terusik mendengar ada suara perdebatan. Netra sayunya bergerak membuka mata perlahan


"Jika dia seorang buronan kerajaan, kita bisa dibunuh oleh panglima karena membantunya!" bentak Ibu dari seorang anak yang menolong Sophia malam itu.


"Maafkan aku ibu, tetapi kakak itu kasihan tidak memiliki tempat tinggal" bela suara belia itu


"Kita bahkan susah untuk mencari makan. Bagaimana kau bisa membawanya kesini" repet ibunya.


Sophia termenung. Ia bangkit dan mendekati kamar tempat ibu dan anak itu berdebat.


"Nyonya, Saya akan pergi. Jangan marahi anak anda. Saya tidak ada niat untuk menetap Nyonya. Saya hanya mencari tempat berlindung hanya untuk malam tadi. Terimakasih memberi saya tempat kepada saya. Terimakasih. Saya pergi dulu" ucap Sophia berjalan keluar.


"Kakak sebentar, tunggu aku"


Sophia berhenti melihat anak itu berlari kearahnya membawa beberapa gulungan ranting kayu.


"Ayo kak, kita menjual ini kepada saudagar kaya" ucap Anak tersebut menggandeng tangan Sophia


"Hey ibu mu tidak marah? pulanglah" ucap Sophia merasa tidak enak


"Tidak apa ayolah. Aku ajarkan cara menghasilkan uang"


Sophia mengikuti langkah kecil itu.


"sebelumnya kita cari dulu ranting kayu yang bertebaran di hutan kak, kita kumpulkan baru kita jual. Saudagar kaya tidak memiliki waktu untuk mencari kayu bakar, Mereka sibuk berdagang. Jadi mereka hanya akan membeli saja" jelas Anak tersebut


Sophia mengangguk mengerti.


Mereka mengetuk pintu rumah salah satu penduduk dengan bangunan yang elok yang berarti sang empunya memiliki ekonomi yang bagus.


Beberapa saat mengetuk, Seseorang wanita paruh baya membuka pintu

__ADS_1


"Nyonya kami menjual kayu bakar. Apakah nyonya sedang membutuhkan kayu bakar?" tanya Anak tersebut


"Ah ya kebetulan sekali aku membutuhkan kayu bakar untuk memasak. Kayu bakar ku hampir habis"


Selesai melakukan transaksi, Mereka beralih menuju rumah yang lain


"Cobalah kakak, saat ini kau yang berbicara" ucap anak tersebut


Sophia mengangguk mengetuk pintu dan mengatakan apa pun yang dikatakan anak tersebut.


Begitulah hingga kayu bakar mereka habis.


"Kakak, ini bawalah uang ini. Bagian ini untukku dan ini untukmu. Aku rasa kau sudah bisa pulang kak. Aku akan membeli makan untuk ibuku. Ikutilah jalan setapak ini. Sampai jumpa" ucap anak tersebut meninggalkan Sophia di hutan


Sophia memandangi uang pertama hasil jerih payahnya. Senyumnya terukir sendu menggambarkan ketulusan yang tiada henti.


Hati yang bersih seperti ini bagaimana bisa ada orang yang masih membencinya.


Sophia tersenyum melangkah mengikuti jalan yang diucapkan oleh Anak tersebut.


Sophia mengitari jalanan setapak hutan. Saat berada di tengah hutan, Sophia mendengar suara air.


Ia melihat sekeliling. Tempat ini tidak asing.


Ia berbalik mengikuti suara aliran alir dan menemukan sungai. Sungai yang sama dengan sungai tempatnya bertemu dengan Alfonso.


Matahari siang yang sangat terik memancing Sophia mendekati air sungai tersebut. Ia berjongkok meminum air.


"Ah sangat segar"


Sophia melihat sekeliling. Tidak ada orang disini.


Sophia duduk memainkan kakinya di pinggir sungai membasahi kulit nya dingin


Ia kembali melihat uangnya dan tersenyum


"Paman, lihatlah aku mencari uangku sendiri" batinnya


Netranya kembali memandangi sekeliling


"Apa paman pernah kesini? kemarilah jemput aku paman, Aku tidak tau jalan pulang" Batin Sophia melamun sendu


"Sofi" lirih seseorang dengan air mata menetes.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2