
Sesampainya di pasar dengan menunggangi salah satu kuda kerajaan, Alfonso mengajak Sophia untuk makan di salah satu restoran kalangan atas yang menyajikan berbagai olahan daging.
Pasangan yang memakai mantel dan penutup wajah itu tampak berjalan menuju tempat makan privasi, dimana, hanya mereka berdua yang berada didalam untuk menjaga identitas mereka.
Walaupun telah membawa Sophia keluar, tetap saja kebebasan itu tidak Sophia dapatkan.
Sepanjang perjalanan Sophia hanya terdiam hanya menjawab Alfonso seadanya.
Ia masih takut Alfonso akan marah jika mengetahui bahwa wanita itu bukan ibunya. Sophia juga tidak terlalu berani mengatakannya
"Masih marah hmm?" Tanya Alfonso seraya mengusap kepala Sophia yang berada disampingnya, setelah duduk mendapatkan ruangan dan makanan.
Makanan yang lezat ini tampak tidak menarik Dimata Sophia.
Melihat kesenyapan Sophia, Alfonso hanya beranggapan jika Sophia masih marah akibat kelakuannya di kediaman tadi.
Sophia menggeleng tertunduk
"Ada apa? apa kau merasa tidak nyaman?" tanya Alfonso
Mendengar itu Sophia langsung mengangguk. Ia melanjutkan kebohongannya.
"Iya Tuan, aku tidak nyaman, aku mau pulang saja" lirih Sophia
"Maafkan aku, aku ada di sampingmu, jangan merasa tidak percaya diri Sayang" bujuk Alfonso menganggap Sophia tidak percaya diri seperti biasanya jika dibawa keluar.
"Aku ingin pulang" lirih Sophia ingin menangis. Sophia ketakutan saat ini.
Ia yakin pasti banyak yang mengenalinya mengingat saat Alfonso membawanya, Semua pandangan tertuju kepadanya. Ketakutan itu membuat Sophia tidak sadar bahwa sebelum pergi Alfonso memakaikan penyamaran kepadanya.
Alfonso menghembuskan nafas
"Huh baiklah, kita akan pulang setelah makan hm? Aku sudah sangat lapar sayang, istriku tidak memberikan aku makan siang tadi" ucap Alfonso ingin menghibur Sophia
Sophia yang masih berada di dalam lamunannya tentu saja tidak menanggapi Alfonso.
"ada apa dengannya" batin Alfonso merasa Sophia memiliki beberapa trauma.
"Sayang, ini sangat enak, cobalah" ucap Alfonso mengarahkan potongan daging didepan bibir ranum Sophia
__ADS_1
Sophia tidak menanggapi dan masih terlarut dalam lamunannya.
Merasa kesabarannya akan habis, Alfonso mengembuskan nafas kasar meneguk air dingin menjernikan pikirannya.
Dengan spontan, Alfonso menyusupkan tangannya diantara kaki dan pinggang Sophia, mengangkat Sophia ke pangkuannya.
Sophia terkejut. Menatap Netra Alfonso yang menajam
"Sofi, kesabaranku tidak sebanyak itu. Kau tau sendiri apa pekerjaanku bukan? aku berusaha membuatmu senang dan membuatmu nyaman. Tetapi apa ini, kau mengabaikan ku?" ucap Alfonso mendingin.
Melihat pancaran emosi di mata Alfonso, membuat Sophia bergetar. Ia mulai membayangkan perlakuan Alfonso pada saat awal menikah. Apakah ia akan mendapatkan itu lagi
"Jawab aku Sophia!!" Titah Alfonso menaikkan suara.
Sophia yang memang dalam keadaan tertekan terdiam gemetar menundukkan pandangan seperti keadaan awal menikah dengan air mata yang mulai berjatuhan mengenai Tangan Alfonso.
Melihat Sophia yang kembali ketakutan, Alfonso memejamkan mata. Mulai mengontrol emosinya.
Tangan Alfonso terangkat ingin menghapus air mata Sophia.
Tetapi Sophia yang sedang dalam lamunan pasca menikah itu langsung refleks mengangkat tangan melindungi wajahnya.
"Ternyata aku salah satu penyebab traumanya" Batin Alfonso pilu.
Lama Alfonso terdiam membiarkan Sophia agar sedikit tenang.
Melihat getaran tangan itu tidak sehebat tadi, Alfonso menggenggam lembut tangan Sophia yang menutup wajahnya.
"Sayang, apa yang kau takutkan hmm? bukankah aku sudah menyayangimu? tidak mungkin aku memukulmu" bujuk Alfonso dengan penuh kesabaran.
Sophia mendongak menatap wajah Alfonso
"Tuan, maafkan aku" tangis Sophia pilu
"Jangan meminta maaf, tidak ada yang akan terjadi Sofi, baiklah kita langsung pulang setelah ini, tidak ada yang akan menatap jahat kepadamu, Lihat bukankah kita membawa penutup wajah kita" Ucap Alfonso memeluk tubuh mungil dipangkuan nya.
Mendengar itu Sophia sedikit lega. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Alfonso.
Kekurangan kasih sayang sedari kecil membuat keduanya sangat bergantung satu sama lain.
__ADS_1
Keharuan itu berhenti kala Perut Sophia bergemuruh mengeluarkan bunyi.
Alfonso tertawa.
"Otak mu dan perutmu tidak sejalan sayang" ucap Alfonso dengan tawa kecil menghiasi
Sophia malu dengan wajah memerah semakin menyembunyikan wajahnya di celah leher tegas Alfonso
"Tuan jangan begitu, aku malu" cicit Sophia
"Sofi, kita makan dulu, nanti lanjutkan amarahmu" ucap Alfonso ringan.
Alfonso lega setidaknya Sophia mulai menjawab nya.
Sophia ingin berdiri menuju tempat duduk nya semula
Tentu saja Alfonso menahan pinggang ramping Sophia.
"Ini hukuman buatmu, karena membuat suamimu kelaparan menunggu istri cengengnya menuntaskan amarahnya"
"Bagaimana Tuan bisa makan kalau begini?" tanya Sophia
"Kau meragukanku? bahkan aku bisa menyelesaikan banyak pekerjaan dalam satu waktu hanya dengan kedua tanganku Sofi, aku bahkan bisa menyuapmu saat ini" ucap Alfonso
"Ah tidak Tuan, aku bisa makan sendiri" jawab Sophia gelagapan
"Aku tidak menerima bantahan" jawab Alfonso dengan satu tangan mengambil potongan daging dan tangan lainnya menahan punggung Sophia aman agar si ceroboh nya tidak terjatuh.
Makan siang itu berlangsung hangat dengan Alfonso menyuap istri kecilnya dengan candaan candaan kepolosan Sophia
Walaupun awalnya suasana menghitam, tetapi Alfonso dengan dewasa mengembalikan rona dalam suasana makan siang mereka.
---
Alfonso dan Sophia beralih pulang. Alfonso merasa masih ada kejanggalan dalam diri Sophia.
Alfonso berpikir akan bertanya dan berbicara lagi kepada Sophia sebelum tidur.
Dengan satu tangan memegang tali kekang, dan satu tangan melingkar di perut Sophia. Kuda berpacu cepat melintasi jalanan pasar.
__ADS_1