
Selesai membereskan segalanya. Keesokan harinya Alfonso dan Bibi Ma pergi menuju pedalaman hutan ke pinggiran sungai. Tempat Sophia pernah mempunyai mimpi ingin tinggal disini
Tentu saja bibi Ma tidak akan membiarkan Alfonso pergi dengan perasaan dan pikiran yang masih kacau seorang diri.
Bisa bisa pria tampan ini menjadi gila hidup di hutan sendiri dengan bayangan istrinya.
Bibi Ma juga merasa tidak Sudi untuk tinggal lebih lama di dalam kerajaan.
Karena sejatinya, Kaisar memberi tugas khusus kepadanya hanya mengawasi Alfonso dari Alfonso kecil hingga dewasa walaupun dilakukan bibi Ma dengan cara sembunyi sembunyi karena kala itu hubungan keduanya belum membaik.
Untuk apa dia tinggal di kerajaan lagi jika tugas lama yang diberikan kaisar telah meninggalkan kerajaan.
Setelah menunggangi kuda beberapa lama, Mereka tiba di kediaman Alfonso
Bibi Ma mendongak melihat megahnya rumah dari kayu ini di tengah hutan
Rumah ini sangat mewah untuk ukuran rata rata ekonomi di kerajaan mereka.
Terbukti Alfonso menikmati penghasilan yang diberikan oleh kaisar dahulu.
Kaisar sangat menyayangi Alfonso.
"mereka membangun sesuai instruksi ku" batin Alfonso melangkah membuka pintu
Alfonso menelusuri rumah barunya.
Ia berencana akan menghabiskan waktunya untuk melukis wajah Sophia yang masih terasa segar di dalam ingatannya
"Aku pikir itu akan cocok digantung disini" batin Alfonso melihat lihat segala penjuru
"Nak, istirahatlah, biar bibi yang merapikan barang barang ini semua" ucap bibi Ma dibelakang Alfonso
"Tidak bibi, aku yang akan membereskan itu semua. Itu adalah barang barang kesayangan istriku.
Lebih baik bibi saja yang beristirahat. Kamar bibi ada di sebelah sana" ucap Alfonso melihat wanita paruh baya keriput ini terlihat sedikit lelah.
Bibi Ma mengangguk dan menepuk bahu Alfonso.
"Jangan pikirkan hal hal yang buruk yaa, Panggil bibi jika membutuhkan bantuan" ucap bibi ma berlalu
.
.
.
Perlahan lahan, Alfonso mulai mengambil dan menyusun barang barang dari kereta kudanya.
__ADS_1
Ia menata segalanya sendiri. Setiap hiasan maupun penerangan milik Sophia, Alfonso akan memandanginya terlebih dahulu.
"Apa kau sudah senang disana?" batin Alfonso berbicara.
"Datanglah ke dalam mimpiku sekali sekali. Aku tau kau pasti marah kepadaku. Tetapi, aku harap kau datang walaupun nantinya kau akan marah marah" gumam Alfonso tersenyum kecil mengingat repetan Sophia dulu.
Alfonso memasuki kamar utama nya, menyusun pakaian pakaian Sophia dengan rapi di rak rak yang telah disediakan.
"Aku pikir aku telah gila berbicara sendiri Sophia. Tetapi itulah yang membuatku tetap Waras. Hanya dengan menganggapmu masih berada di dekatku. Jika aku menerima kenyataan kau telah meninggalkan aku, aku rasa aku akan lebih gila lagi" gumam Alfonso sambil menyusun barang barangnya.
***
Setelah membersihkan diri, Alfonso keluar kamar disaat langit sudah gelap.
Ia melihat wanita tua ini sedang memasak makan malam di dapur
"Kemari lah nak, kita makan malam dulu"
Alfonso duduk dan menilik. Dahulu makanan yang sangat ia sukai adalah makanan yang dimasak oleh Sophia. Ia jadi menyesal di detik detik terakhir Sophia, tidak ia habiskan dengan berbuat baik kepadanya
Sekarang, ingin rasa nya Alfonso memakan makanan yang ia abaikan dulu.
"Jadi apa rencanamu kedepannya nak? Bibi pikir kau masih mempunyai penghasilan dari kerajaan kan? walaupun kau sudah tidak bekerja di kerajaan lagi. Setiap petinggi kerajaan yang berhenti terhormat tetap diberi pesagon" ucap bibi Ma sembari memakan makanannya
"Bibi pikir aku keluar dengan terhormat? Tidak bibi. Aku membunuh tetua kerajaan" jawab Alfonso
"Sudahlah bibi. Apa bibi takut kita kelaparan? Uang upah penghasilan yang diberikan Kaisar selama ini masih sangat banyak bibi. Aku akan mulai berkebun disini sebagai aktivitasku. Jangan tanya apa rencanaku selanjutnya bibi. Saat ini aku juga tidak tau. Yang aku mau hanya ingin menghabiskan waktuku disini. Merenungi segala dosaku, sampai istriku datang menjemputku" jawab Alfonso tegas
Bibi ma memandangi Alfonso lekat.
Umur pria ini masih dibilang muda. Tetapi apa boleh buat, kasih sayangnya kepada Sophia lebih besar dari kasih sayangnya kepada dirinya sendiri.
"Nak apa kau mau mendengar cerita bibi?"
"Apa itu bi?"
"Malam sebelum nona di hakimi, bibi mendengar diskusi dari permaisuri. Yang mengatakan akan membunuh Nona sesuai peraturan kerajaan..
Bibi sangat terkejut. Jadi bibi berlari kerumah filips berharap filips dapat menghentikan mu, dan menyelamatkan Sophia"
Alfonso berhenti mengunyah makanannya. Ia mendongak berfokus kepada bibi Ma
"Filips juga sangat terkejut mendengar itu. Jadi filips menyuruh bibi untuk membuat
racun yang lain yang tidak membunuh nona Sophia"
"Bibi!! jadi yang diminum istriku waktu itu...." sela alfonso
__ADS_1
Bibi ma menggeleng
"Nona tidak sempat meminum racikan bibi. Bibi sedang meracik saat itu. Saat Sophia sudah diberi penghakiman. Sophia meminum racun sungguhan" ucap bibi Ma sendu
Alfonso kembali muram. Air mata perlahan membasahi pipinya kembali
"aku memang bodoh bibi. Aku diperdaya oleh mereka" ucap Alfonso sendu
"Apa kau tau nak? Filips menghilang kemana sejak sehari sebelum penghakiman itu?" tanya bibi ma
Alfonso tentu saja menggeleng
"Dia meninggalkan aku bibi. Sebelumnya kami sempat bertengkar. Aku tidak mendengarkan omongannya. Aku sangat menyesal bibi" lirih Alfonso membiarkan tetesan air mata itu mengalir di pipinya
"Kau tau nak, mengapa kaisar sangat mempertahankan Sophia? karena kaisar memiliki firasat bahwa Sophia memiliki hubungan darah dengan Stephanus. Ayahnya stephano. Binaran mata Sophia persis seperti Stephanus dan stephano. Bukan hanya itu, Wajah Sophia juga sangat mirip dengan ibunya. Rati Sevia.
Itulah yang membuat kaisar menikahkan mu dengan Sophia. Ia merasa kan hal itu. Dia tidak berani memperlakukan Sophia secara istimewa karena ayah mertua nya dan kekaisaran yang dimilikinya sangat bermusuhan dengan Stephanus.
Eroslah yang akan menjadi ancaman bagi Sophia. Tetapi semuanya masih rancu. Itu semua hanya prediksi dari kaisar saja.
Bibi menceritakan hal itu kepada filips malam itu. Hingga pagi pagi buta, Filips keluar memacu kudanya menuju kerajaan milik stephano.
Ia ingin membawa stephano ke hadapanmu dan mengakui bahwa Sophia adalah adiknya.
Sophia tidak memiliki hubungan darah dengan para penghianat itu" ucap bibi Ma menjelaskan
Mendengar itu Alfonso tersentak terkejut.
Alfonso mematung. Jantungnya bertabu kencang didalam. Rasa sesak ini semakin menjadi jadi.
"Sophia bukan anak penghianat itu, apa yang telah kulakukan? sayangku. Kau sama sekali tidak bersalah. Sophiaku tidak bersalah. Sekarang dia pergi karena ulahku.
Sophia bukan anak mereka. Sophiaa" pikiran Alfonso menjadi kacau.
Kesadarannya menipis. Ia tidak mendengar teriakan bibi Ma yang meraung memanggil namanya. Ia telah tergeletak di lantai.
Bibi Ma panik meracau.
Ia tidak tau harus meminta pertolongan siapa dengan kediaman di dalam hutan seperti ini.
Bibi Ma menyesal menceritakan hal ini disaat keadaan hati dan mental Alfonso belum siap.
mata Alfonso terbuka sayu. Air mata itu mengalir bebas. Nafasnya semakin susah ia gapai.
"Sophia bukan anak penghianat itu, Sophia bukan keturunan mereka" bisikan bisikan mengerikan itu berdengung di telinga Alfonso.
...****************...
__ADS_1