IT HURTS MR. COMMANDER!!

IT HURTS MR. COMMANDER!!
MENYUSUL SOPHIA


__ADS_3

Alfonso melangkahkan kakinya menuju dapur tempat kesukaan Alfonso.


"Jika aku tau kisah kita sesingkat ini, masakan pertamamu tidak akan pernah kulewatkan" lirih Alfonso mengingat awal pernikahan, ia tidak pernah menyentuh masakan Sophia


Alfonso beralih pergi melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Tempat ia dan Sophia berbagi segalanya


tangannya gemetar meraih pengait pintu


Ia menghembuskan nafas membuka kamar.


Hawa dingin menerpa wajahnya, Kegelapan menyambutnya


Alfonso membawa masuk penerangannya menelisik dinding dinding kamar


Ia mengernyit melihat jendela kamar yang tidak seperti biasanya


Jendela kamar tampak di tutupi oleh beberapa kain.


Alfonso kembali mengayunkan penerangan seadanya


dan


DEGGG!!!


Ia melihat siluet tangan menjuntai di tempat tidurnya


Alfonso mendekat dengan kaki gemetar


mendekatkan penerangannya menuju tempat tidur.


DUARRR


Jantungnya bertalu kencang ingin terlepas dari tempatnya


Wanita yang ia cari selama ini, wanita nya, dunianya, terbaring, terbujur kaku di atas pembaringan ini


wajahnya pucat membiru. Tidak ada Rona kehidupan


Jari telunjuk Alfonso gemetar meraba pipi mulus pujaan hatinya


Alfonso menangis. Dengan spontan ia memeluk Sophia.


Ia memeluk raga suci ini


Ia tidak ingat kapan terakhir kali memeluk tubuh rapuh ini


Bahkan saat ritual kematian Sophia waktu itu, ia hanya memandang jalannya penghakiman Sophia dari atas.


Ia memeluk ringkih tubuh istrinya erat erat. Tangisannya meraung melihat sang istri begitu mengenaskan


Seperti tulang yang dibalut oleh kulit. Kini kesayangannya terlihat sangat kurus dan menyedihkan


Tidak ada yang bisa menjabarkan rasa sesal dan sedihnya


"Sayanggg, maafkan aku, aku mohon maafkan akuuu" Raung Alfonso

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku sayang, aku mohon jangaaannnn, ayo hukum aku dengan cara lain, ayo lah sayang buka matamu" Isak Alfonso bercampur dengan tangisannya


Bukan ini yang ia mau


ia menemukan pujaan hatinya tetapi bukan dengan keadaan seperti ini


"Aku membangun rumah kita sayang, jauh dari orang orang jahat, Semua orang menunggumu, ayahmu masih hidup, kakak mu juga, aku mohon sayang jangan begini hmm" ucap Alfonso mengecup pucuk kepala Sofinya dengan sayang


Dingin kulit ini menusuk hingga ketulang Alfonso yang memeluk erat Sofi nya berharap bisa memberi kehangatan


Dikecupnya bibir kering membiru Sophia. Alfonso memejamkan mata, ini sangat menyiksanya


Dingin bibir kering Sophia mengiris iris hatinya. Kerinduan nya yg membuncah masih belum terbalaskan


"sayang, buka matamu hmm? buka sekali saja, aku mohon sayang. Katakan aku harus melakukan apa untukmu? katakan sayang" ucap Alfonso dengan tangisan yang tidak berhenti


"Lihatlah, aku memelukmu erat. Kau menginginkan pelukan ini bukan? Kau bertanya kepadaku apakah kau bisa memelukku bukan? ini sayang lihatlah, aku memelukmu" Isak Alfonso membayangkan masa lalu. Sophia yang mengiba kasih sayang pria ini.


Bahkan hanya untuk mendapat pelukan hangatnya, Sophia harus mengemis mencari perhatian pria ini


"Kita makan malam hmm? kau sudah memasak? ayo kita makan sayang, aku akan memakannya aku janji" lanjut Alfonso kacau mengingat terakhir kali sebelum penghakiman Sophia, ia menghentikan bahan makanan yang menyebabkan Sophia kelaparan


Alfonso mengingat Sophia menyembunyikan beberapa roti karena rasa takutnya kepada suaminya sendiri.


Alfonso tersentak.


Ia mengingat perkataan tabib waktu itu


Tangan gemetar Alfonso bergerak perlahan untuk menyentuh perut Sophia


DEGG


"Apa kau juga merasa kelaparan dan tersiksa saat itu? Apa itu sangat sakit sehingga kau membawa ibumu juga pergi jauh dariku?" lirih Alfonso terisak


Alfonso mengingat Sophia yang sering muntah muntah dulu


"Aku menyiksa ibumu sebelum dia pergi, dan kau juga menyiksanya? Dia sangat tersiksa waktu itu. Perutnya sering sakit dan dia selalu muntah, Kau menambah rasa sakitnya juga?" Tanya Alfonso sembari mengelus perut Sophia dengan sayang


Alfonso kembali mengangkat tangannya dari perut Sophia dan mengelus kepala Sophia menatap wajah tenang ini lekat lekat


"Aku ikut sayang, aku akan menyusulmu. Kita tinggal disana bersama anak kita hmm?" ucap Alfonso kalut.


Ia kembali mengecup seluruh inci dari wajah Sophia.


Tidak ada yang berubah. Rasa sayang nya tidak berubah maupun berkurang sedikitpun.


Alfonso mengelus pipi dingin itu kembali.


Melihat kenyataan di depan matanya bahwa Sofi nya memang sudah tiada, membuat Alfonso gelap mata.


Ia tidak ingin kembali dalam kesendirian dan kesunyian itu lagi tanpa Sofinya. Hidupnya yang sangat menyedihkan akan tambah menyedihkan ditambah kenangannya bersama istrinya.


"Bukankah takdir sangat lucu sayang? Dia mempertemukan kita, kita yang sama sama membutuhkan, kita yang saling bergantung satu sama lain, tetapi takdir memisahkan kita juga" lirih Alfonso memeluk sayang istri nya


"Hidup kita sudah sangat mengerikan. Ayahku yang memberi kasih sayangnya dan membesarkan anak orang lain, disaat anaknya hidup dengan mencuri makanan seperti pengemis

__ADS_1


Disaat ayahku kembali, ayahku tidak mendengarkan ucapanku. Aku sudah mengatakan sayang, aku tidak mencelakai stephano. Tetapi tidak ada yang mempercayaiku.


Wanita yang dibawa ayah mengusirku, dan tidak ada pembelaan dari ayahku, hahahaha


Ia tinggal dirumah dan dikamar tempat ibuku dulu beristirahat tetapi ia mengusir anak pemilik rumah itu.


Aku tidak seperti yang dikatakan orang orang sayang, Aku berperilaku seperti itu karena aku takut. Aku sendiri, jadi aku membentengi diriku dan menciptakan pandangan buruk orang lain kepadaku.


Jika kau mendengar dari atas sana beberapa orang mengatakan aku pembunuh, itu benar sayang, Itu benar. Tetapi aku melakukan itu bukan karena keinginanku, percaya lah.


Kau datang kepadaku, memberi warna dengan sikap anehmu, tetapi mengapa kau cepat sekali diambil dariku? bahkan aku belum meminta maaf kepadamu.


Kau tau sayang? aku telah berhenti dari posisiku sebagai panglima agung. Kerajaan sangat menyeramkan. Bukankah aku sama saja seperti seorang budak waktu itu?


Aku memang bodoh tidak memiliki pendirian sehingga kau menjadi korban. Maaf hmm? maafkan aku. Aku ingin menebus segalanya.


Kita akan bersama sayang, aku menyusul mu. Kita akan bahagia bersama anak kita disana.


Sebentar ya" ucap Alfonso panjang lebar menceritakan segala kegundahan hatinya yang merasa hidupnya memang benar benar tidak adil


Alfonso membaringkan Sophia dengan sangat perlahan seolah olah Sophia barang yang rapuh


Alfonso beranjak, berdiri disamping ranjang. Perlahan, ia mengeluarkan belati kecilnya dari dalam saku miliknya


Ia memandang belati itu dengan miris. Nyatanya ia yang kalah. Keangkuhannya, keegoisannya, segalanya hilang di hadapan pujaan hatinya ini


Netra tajam itu melihat Sophia yang terbaring damai. Ia tersenyum tipis


Perlahan, ia mendekatkan belati itu dan


SRREKKKK


Belati itu menembus dadanya. Ia menusuk jantungnya sendiri


Dahi Alfonso mengernyit. Hal ini sangat sakit.


Padahal, saat peperangan, sudah berapa pedang yang tertancap di badannya, mengapa hanya sebuah belati sangat menyakitkan baginya?


Tidak, bukan belati itu yang menyakitkan tetapi perasaannya lah yang menyiksanya.


Alfonso menusuk belati lebih dalam. Darah mulai keluar dari mulutnya.


Tanpa mencabut belati itu, Alfonso tertatih kembali ke pembaringan.


Mata sayu nya yang hampir terpejam menatap sayang sophianya.


Perlahan ia mendekatkan diri nya kepada Sophia, dan memiringkan tubuhnya


Satu tangannya bergerak melingkar di perut Sophia


"Terimakasih segalanya, terimakasih. Tunggu aku, Aku mencintai mu" lirih Alfonso dengan perlahan lahan mata tajam itu memejam.


Tiada yang mengetahui ujung dari kisah pasutri ini.


Mereka terpejam damai beristirahat meninggalkan keserakahan bumi dengan pelukan hangat sang suami.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2