IT HURTS MR. COMMANDER!!

IT HURTS MR. COMMANDER!!
NONA HAMIL


__ADS_3

Beberapa hari setelah pencerahan dari Filips, Alfonso memulihkan tubuhnya dibantu oleh Bibi Ma dan Filips temannya yang setia, Alfonso bergerak menuju kerajaan x


"Bagaimana bisa Stephano adikku menjadi kakak istriku juga. Ini sedikit mengejutkan. Bagaimana bisa dunia menjadi se sempit ini. Pantas saja aku merasa tidak asing dengan binaran mata istriku Filips" ucap Alfonso diperjalanan mereka.


Filips hanya diam menyimak seraya memperhatikan wajah pimpinannya lekat. Masih terdapat pancaran wajah yang lesu dan pucat pada Alfonso.


"Aku masih bingung Filips. Bagaimana bisa Sophia diasuh oleh penghianat penghianat itu. Bukankah pada cerita ayah, Sophia dibawa oleh keluarga kerajaan Eros? aku sangat tidak mengerti" lanjut Alfonso


"Ada beberapa kemungkinan Tuan, untuk saat ini mungkin kita harus fokus kepada nona dahulu. Untuk asal usul nona, aku pikir kita bisa bertanya pada bibi pengasuh Amora. Dia sudah lebih lama berada di dalam kekaisaran" jelas Filips.


"Kerahkan anggota kita untuk mengawasi permaisuri Filips. Aku tidak mau Permaisuri yang pertama menemukan istriku sebelum kita." tegas alfonso


.


.


.


Setelah memakan waktu beberapa saat, Filips dan Alfonso tiba di kediaman Amora beberapa waktu belakangan ini.


Keduanya disambut oleh penghuni kediaman serta Stephano yang memang sebelumnya sudah mendapat kabar akan kedatangan Alfonso.


"Bagaimana kabarmu kak? apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Stephano menyambut langkah Alfonso


"Kau tentu tau bagaimana kabarku bukan? Aku tidak akan pernah merasa lebih baik sebelum aku menemukan istriku" ucap Alfonso


"masuklah kak, kemari berbicaralah kepada tabib kerajaan. Aku pikir kau berhak mengetahui keadaan Fia" ucap Stephano menggiring Alfonso memasuki rumah


Amora hanya bisa menunduk terdiam mengeratkan tangannya kepada Stephano.


Ia tidak berani mengangkat kepala. Kesalahannya dahulu membuatnya kehilangan muka dihadapan Alfonso.


"Aku bahkan belum meminta maaf kepada keduanya" lirih Amora pelan


Stephano yang mendengar lirihan itu hanya bisa mengelus tangan indah Amora yang terpatri di lengannya.


"Jika segalanya telah normal kembali, aku akan menemanimu meminta maaf" bisik Stephano


.


.


.

__ADS_1


"duduklah Panglima" ucap Tabib kerajaan x melihat Alfonso memasuki kamar tempat Sophia beristirahat dahulu


"Katakan" ucap Alfonso singkat


"Pertama saya ingin meminta maaf dahulu Tuan, kelalaian saya menjaga Puteri Sophia sehingga Nona pergi menghilang" ucap Tabib kerajaan mengawali penjelasannya


Alfonso hanya terdiam membiarkan tabib melanjutkan ucapannya


"Saat Yang Mulia Stephano membawa Puteri Sophia, Keadaannya sudah sangat parah Panglima. Puteri Sophia dan Amora sama sama meminum racun yang sama. Tetapi keadaan Nona Sophia lebih parah saat dibawa kemari Tuan"


Kening Alfonso berkerut


"Apa maksudmu? bahkan Amora yang lebih lama dibawa kepadamu. Ia sempat menjalankan ritual kematian dalam waktu yang lama dan juga penguburan. Amora memakan waktu yang lebih lama dari pada istriku" ucap Alfonso


Tabib menghembuskan nafasnya


"Maaf Panglima tetapi keadaan tubuh Puteri Sophia dan Amora berbeda. Saat saya memeriksa keadaan Puteri Sophia, racun yang ia minum telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Tetapi bukan itu yang menjadi pembeda, Puteri..."


BRAKKK!!


"Katakan dengan jelas!!! mengapa kau berbelit Belit begini? apa aku harus memotong lidahmu dahulu?" tanya Alfonso menggebu tebu


"Puteri Sophia dalam keadaan hamil Tuan" cicit Tabib perlahan


Alfonso terkejut mematung. Istrinya hamil?


"Ada janin di dalam rahim Puteri Sophia saat Yang Mulia membawanya. Tetapi, janinnya sudah tiada akibat racun tersebut Panglima, itulah yang memperparah keadaan Puteri. Bahkan saat Puteri menghilang, Saya masih belum berhasil mengeluarkan janin tersebut Panglima. Maafkan saya" ucap Tabib beralih berlutut bersujud dihadapan Alfonso.


Alfonso mematung. Air matanya menetes perlahan


"Jadi.. jadi saat aku menyiksanya waktu itu, ia sedang mengandung anakku? Aku tidak memberi nya makan, Aku membiarkannya tidur diluar, Aku memukul dan membentaknya? saat dia sedang mengandung anakku?" batin Alfonso


Pikirannya berputar putar. Kejadian yang sempat berdamai di kepalanya kembali memutar


Dadanya kembali di himpit batu yang besar. Air mata tidak berhenti menetes. Ia mengabaikan sujud permohonan maaf dari Tabib.


"Dia sangat kurus dan pucat, dia menahan beban di dalam tubuhnya yang kecil itu? dia muntah muntah saat itu. Apa janin itu menyiksanya juga? Penguasa, dia wanita yang baik, mengapa dunia sangat kejam kepada istriku" batin Alfonso menangis pilu.


Ia menutup wajahnya. Tangis tersedu sedunya menggema hingga keluar rumah.


serigala dingin itu sedang menangisi kemalangan istrinya.


Membayangkan istrinya sedang hamil dan membayangkan penyiksaan nya kembali membuatnya gila.

__ADS_1


Mendengar tangisan itu, Stephano terburu buru memasuki kamar tempat Alfonso dan tabib berbincang


"Kakak, ada apa? kak sadarlah" ucap Stephano menepuk bahu Alfonso.


"Istriku Stephano, istriku!!!" teriak Alfonso.


Filips yang memasuki kamar juga terhenyak. Pasti sudah terjadi sesuatu. Ia hanya berharap keadaan Tuannya tidak kembali seperti dahulu.


Ia memapah Tabib kembali duduk


Filips berpikir harus segera menyelesaikan segala penjelasan ini agar ia bisa segera membawa Tuannya kembali


"Lanjutkan Tabib" ucap Filips berusaha untuk tidak perduli tangisan Tuannya yang memilukan.


"Maafkan saya Tuan. Racun yang telah diminum oleh Puteri Sophia, akan menyebar kembali Tuan. Pengobatan dan terapi harus rutin dilakukan. Pada waktu yang lalu, keadaan Puteri sudah sedikit membaik. Akan tetapi, dengan menghilangnya Puteri Sophia, maka pengobatan dan terapi tidak akan bisa dilakukan.


Racun akan kembali menyebar. Racun perlahan lahan akan merebut dan melumpuhkan segala kemampuan Puteri Sophia.


Penglihatan, kemampuan nya berjalan, berbicara, mendengar, dan segalanya akan lumpuh akibat racun itu Tuan.


Racun itu akan berbahaya dalam jangka waktu yang panjang. Racun yang diminum oleh Puteri Sophia akan memakan saraf nya secara perlahan lahan.


Ditambah dengan jasad janin yang ada di tubuh Puteri, janin itu akan menjadi penyakit yang berbahaya yang mengancam keselamatan Puteri Sophia Tuan."


Filips terhenyak. Janin? jadi ini yang membuat tuannya histeris


Alfonso dan Filips membatu. Kenyataan ini sangat mengerikan.


Tangis Alfonso semakin mengeras di pelukan Stephano.


Nyawa istrinya dalam bahaya. Istrinya yang malang. istrinya yang ceria di setiap keadaan apapun. Senyuman itu menutup luka yang menganga akibat ulahnya sendiri.


"Maafkan aku Tuan, kita harus secepatnya menemukan Puteri. Tidak hanya fisik, tetapi keadaan mental Puteri juga sangat buruk. Puteri sangat ketakutan pada saat kepergiaannya saat itu. Saya khawatir, Jika Puteri melukai dirinya sendiri"


"Filips kau dengar Filips? aku menghancurkan istriku sendiri. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Tetapi, kebodohanku menghancurkan mental dan fisik wanita belia itu. Dia seharusnya bersekolah, bermain dengan teman sebayanya, tetapi aku menghancurkan masa muda nya. Tetapi dia tidak pernah mengeluh. Wanita hebat ku tidak mengeluh Filips. Cari dia, aku mohon cari dia, Aku ingin bersujud di kakinya Filips. Aku akan menyiksa diriku sendiri jika itu bisa membuatnya pulih" ucap Alfonso meraung.


Tabib, Stephano dan Filips hanya bisa menunduk. Mereka menyelami penderitaan Sophia saat hidup bersama Alfonso.


Stephano merasa marah kepada Alfonso. Tetapi mendengar penjelasan dan apa yang dialami Alfonso dulu, membuat Stephano tidak bisa menyalahkan Alfonso saja.


"Kakak, prajuritku telah menyebar. Mereka sedang mencari Fia. Apa kau tidak ingin berusaha mencari istri mu juga? Ikatan batin kalian tidak terkalahkan bukan? kau yang mengetahui kebiasaan istrimu. Ayo bangkitlah. Jangan merenung dan menyalahkan dirimu sendiri. Temukan Sophia sebagai pengganti rasa bersalahmu" ucap Stephano


...****************...

__ADS_1


__ADS_2