IT HURTS MR. COMMANDER!!

IT HURTS MR. COMMANDER!!
CH 82. SEMAKIN TIDAK TERKENDALI


__ADS_3

Alfonso terbangun di tengah malam.


Ia terkejut segalanya gelap gulita. Ia mengingat ingat apa yang ia lakukan tadi siang.


Ah ya, dia tertidur di kursi Sophia.


Perlahan lahan sembari menajamkan matanya, Alfonso berjalan menuju titik penerangan Sophia seperti biasanya


ia menghidupkan beberapa penerangan.


Ruangan kembali terang. Tetapi tetap saja Alfonso merasa ruangan ini sangat gelap.


Merasa lapar, Alfonso pergi ke dapur berharap masih ada makanan disana.


Tetapi nihil.


Ia mengingat bahwa ia menghentikan pelayan penghantar makanan saat itu


"Kau akan mati kelaparan!!!" bentakan Alfonso waktu itu kepada Sophia, kembali terngiang di kepala Alfonso.


Dengan lesu, Alfonso kembali duduk di kursi Sophia.


"Apa kau menahan lapar seperti ini juga beberapa hari ini?" lirih Alfonso bertanya pada kursi Sophia


"Bagaimana aku bisa tidak menyadari perlakuanku sangat keterlaluan kepadamu Sofi" batin Alfonso mulai mengembun kembali.


Alfonso tidak sengaja melihat beberapa bungkusan dibawah kolong rak hiasan di depannya


Alfonso berdiri merendahkan badannya dan meraih bungkusan itu


Alfonso membuka dan melihat ada beberapa roti tawar tanpa selai apapun disini


"Kau bahkan menyembunyikan ini? Kau ketakutan hmm?" tanya Alfonso memandangi roti yang ia pegang


"Jadi beberapa hari ini kau hanya memakan ini? Apa kau muntah muntah karena itu?" gumam Alfonso mengambil satu roti dan memakannya.


Air matanya tidak pernah berhenti.


Mengucur bebas seakan memiliki banyak persediaan air mata.


Alfonso kembali menangis


Bukan seperti ini yang ia mau. Dibayangannya dulu, kepergian Sophia akan membawa rasa lega dalam dirinya


Ini yang datang hanyalah rasa kosong, hampa dan menyakitkan


Alfonso menyandarkan dirinya bersandar pada rak dibelakangnya.


Menumpu satu kakinya.


"Sofi, maafkan aku!" akhirnya kata itu keluar sendiri dari mulutnya.


"Ini sangat sakit sayang, aku tidak bisa bernafas" tangis Alfonso semakin kencang


"Kemarilah, aku mohon, peluk aku. Aku lelah" lirih Alfonso kembali mengatakan kata kata Sophia yang dulu sempat ia abaikan

__ADS_1


"Filips benar, kau tidak tau apa apa dalam penghianatan itu" kacau Alfonso yang baru menyadari segalanya disaat sophianya telah pergi.


Tidak ada jalan kembali lagi kecuali Alfonso menyusulnya


"Hector, kau sudah bertemu dengan istriku? Dia sangat malang bukan? Dia semakin kurus hector, tolong rawat dia. Aku akan menyusul sebentar lagi" gumam Alfonso yang semakin lari dari cara berpikirnya.


Alfonso berdiri kembali membuka bungkusan itu


Ia memeluk mantel rajut Sophia dan memakai miliknya sendiri.


Ia kembali menelisik bungkusan satu per satu.


"Bagaimana bisa aku meragukanmu dengan kebaikanmu seperti ini" Isak Alfonso memeluk mantel kecil itu


"Aku telah buta sayang, aku buta. Aku yang bersalah. Maafkan aku maafkan aku" Isak Alfonso tersendat menarik nafasnya.


Segala penyesalan kembali mendatanginya.


Semuanya terlambat. Tiada jalan Sophia untuk merangkul dan memeluknya.


Hiduplah dengan kekosongan dan kesesatanmu Alfonso😔


***


Beberapa hari telah berlalu.


Tiada yang berubah dari kerajaan kecuali Alfonso yang tidak pernah keluar dari rumahnya.


Segala pekerjaan dan kewajiban kerajaan ia abaikan.


Pikirannya semakin tidak terkendali.


Ia sering meracau tidak jelas. Kehilangan seseorang yang selalu ada didepan matanya membuat nya kehilangan kewarasannya


"Harusnya aku tidak memukulnya, pasti disana dia juga merasa kesakitan. Hector jika kau melihat lebam di punggungnya, tolong obati hector" gumam Alfonso dengan pandangan kosong kedepan


Beginilah Alfonso sehari hari.


Bergumam tidak jelas dengan nama Sophia setiap detiknya


"Kakinya, juga hector. Dia pasti merasa sakit disana bukan? Kaki kecil itu terluka. Cukup kau ambil air dingin dan tahan di kakinya hector. Sambil di urut sedikit yaa" gumam Alfonso


"Hector istriku sering demam tanpa alasan. Jika dia demam biasanya aku akan memeluknya. Kau tidak boleh memeluknya hector. Cukup basahi juga kain dengan air dingin dan tempelkan di dahinya yaaa" racau Alfonso meneteskan air mata yang tiada habisnya ini.


Siapapun yang melihat ini pasti tidak akan percaya Alfonso sekacau ini


Beberapa kali prajurit sudah memanggil Alfonso menghadap kepada permaisuri, tetapi Alfonso tidak pernah menghadiri panggilan itu.


"Sayang, jika ku pikir pikir, memiliki rumah di pinggir sungai tidak buruk. Kita kesana hm? Kau mau tinggal bersamaku disana? Kau senang bukan?" tanya Alfonso kepada mantel hangat Sophia yang selalu ia peluk belakangan ini


"Kita akan pindah sayang, Kita akan pindah. Sebentar ya, aku akan menyuruh dan membayar beberapa teknisi kerajaan dan pengrajin agar membuat rumah kita di pinggir sungai." ucap Alfonso berdiri tetapi sedetik kemudian ia menggeleng


"Tidak sayang, kita jangan berurusan kepada kerajaan dulu. Mereka sangat jahat kepadamu bukan? mereka menyakitimu kan sayang?" ucap Alfonso mengelus mantel Sophia


"Baiklah aku akan membayar pekerja bangunan di pasar saja. Tunggu sebentar disini hmm? aku akan segera menemani dan memelukmu kembali" racau Alfonso seperti orang linglung merebahkan mantel Sophia diatas kursi yang belakangan ini menjadi pembaringan Alfonso.

__ADS_1


Alfonso berlari tergesa gesa menuju kandang kudanya dan memacu kencang.


Ia tidak mau membuat Sophia terlalu lama menunggu.


.


.


.


"Aku tidak mau tau, kalian harus menyelesaikan itu dalam waktu lima hari.


Bawa pekerjamu sebanyak banyaknya.


Bangun sesuai arahanku. Jika ada kesalahan, kepalamu akan menjadi hiasan rumahku nanti." ancam Alfonso. Untunglah di hadapan orang orang ia tidak bersikap konyol.


Bisa mati berdiri orang orang nanti jika menyaksikan perubahan Alfonso.


.


.


.


Alfonso tergesa gesa memasuki rumahnya kembali


"Sayang.. Aku terlalu lama? mereka akan menyiapkan rumah kita dalam lima hari sayang. Kita tunggu sebentar yaa, itu tidak akan lama. Kita bersembunyi disini dulu.


Permaisuri licik itu tidak akan bisa menemukan kita. Tenang saja. Jangan takut" racau Alfonso kembali memeluk mantel Sophia.


tok..tok..tok


Kembali suara ketukan terdengar diluar


Entah apa yang ada di pikiran Alfonso, Alfonso berlari membawa mantel Sophia ke dalam kamarnya.


"Sayang ada yang datang. Kau tidur bersembunyi disini dulu yaa, aku akan menghabisi mereka. Jangan takut kau tidak akan diambil oleh mereka" ucap Alfonso melangkah tegas memasang wajah nya datar seperti biasa membuka pintu


"Panglima, Permaisuri memanggil anda. Banyak pekerjaan yang menumpuk di kerajaan Panglima" ucap prajurit yang beberapa hari ini selalu bolak balik memanggil Alfonso


"Kau tidak ada kerjaan lain HAAA!! Katakan kepada mereka urus pekerjaan itu sendiri. JANGAN MENGGANGGUKU DASAR PAYAH!!" bentak Alfonso.


Lutut prajurit itu melemas.


Sontak saja ia menunduk dan berjalan cepat menjauhi serigala yang semakin tempramen itu.


Ia tidak menyalahkan panglimanya karena ia juga merasa terpukul saat menyaksikan penghakiman Sophia waktu itu


Apalagi suaminya sendiri sudah pasti akan beribu kali lebih terpukul.


***


BRAKK!!


"ada apa dengan panglima itu? Kita harus menekannya kembali" ucap Permaisuri yang mendapat laporan dari prajurit yang dia untuk kembali memanggil Alfonso.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2