
Setiap hari setelah mengantar suaminya sampai di pintu rumah untuk mengerjakan berbagai tanggung jawab nya, Sophia menjalankan kesehariannya.
Membersihkan rumah, mencuci, memasak tetap Sophia kerjakan dengan sepenuh hati.
Kegiatan tambahannya yang menjadi kegiatan favorit nya belakangan ini adalah menyulam dan merajut.
Ia mencoba berbagai macam model pakaian untuk Alfonso
Mulai dari mantel hangat, pakaian, penutup kepala, sarung tangan, dan masih banyak lagi.
Sophia ingin mencoba semuanya.
Tidak ada pikiran negatif apapun yang muncul dalam pikirannya kepada suaminya.
Ia dengan senang hati menjalani hari harinya tanpa mengetahui kematian mutlak ada di depan matanya.
Tok..tok..tok..
ia mendengar pintu di ketuk. Ia merasa ini pasti bukan suaminya.
Suaminya akan masuk begitu saja.
Sophia beranjak membuka pintu.
"Bibiii!!! bibi datang? Ayo masuk bibi" ajak Sophia
"Nak apa kabar? kau terlihat semakin cantik" ucap bibi ma mengelus kepala Sophia sayang
"Bibi lihat lah bibi, aku telah menyelesaikan banyak rajutan bibi" ucap Sophia
"Sayang!! ini banyak sekali. Kau ingin berjualan hm?" goda bibi Ma
"is bibi, bukan bibi, ini untuk suamiku!!!" seru Sophia bersemangat
"Suamimu sangat beruntung mendapatkan cintamu yang begitu besar hm? bagaimana kabar suamimu nak? pasti ia terpukul akan kepergian kaisar" ucap bibi ma
Sophia tersentak
"bibi ternyata itu bibi, beberapa waktu belakangan ini, Suamiku sedikit tempramen. Aku bingung ada apa, ternyata karena masih belum menerima kepergian kaisar" ucap Sophia
"Ada apa? apa Alfonso memukulmu?" tanya Ma mendingin mendengar kata tempramen Alfonso.
Sophia gelagapan. Ia ingin memberitahu tetapi ia takut ia akan di pisahkan dengan Alfonso suaminya.
"Tidak apa apa bibi, suamiku hanya sedikit memasang wajah datar saja. hanya itu, bibi tidak perlu khawatir." ucap Sophia berbohong
"Baiklah jika ada apa apa beritahu bibi saja ya"
"emm bibi, aku tidak bisa keluar rumah, apa bibi bisa membelikan aku bahan rajut lebih banyak lagi bibi? Ini sudah hampir habis" lirih sophia merasa tidak enak
"Sophia ini saja sudah banyak, untuk apa semua itu hm?"
"Aku ingin membuat untuk bibi, untuk filips, untuk ayah dan ibu, untuk pelayan yang selalu mengantar bahan makanan, untuk banyak orang yang baik kepada Suamiku, aku ingin memberi mereka hadiah" girang Sophia
__ADS_1
Siapa yang tidak tersentuh akan ini. Hati murni ini yang bahkan tidak pernah menyakiti siapapun. Mengapa selalu disakiti oleh orang orang?
"Apa bibi tau? saat aku pernah kabur dari rumah, ada anak kecil yang memberiku tumpangan bibi, aku juga ingin memberinya dan ibunya hadiah juga nanti. Apa bibi bisa membeli nya bibi? Aku masih menyimpan uang suamiku dulu bibi" pinta Sophia memohon
Bibi Ma mengelus kepala Sophia sayang
"Iya nak, nanti bibi akan membelikan mu bahan rajut yang banyak. Kau senang melakukan ini hm? tanya bibi Ma sendu. Entah mengapa ia merasa aura Sophia berbeda
"Aku senang bibi Ma. Hanya ini yang bisa kuberikan kepada banyak orang. Aku tidak tau melakukan apapun. Bahkan hanya untuk menulis namaku saja aku tidak tau bibi." sendu Sophia
"Hey kau bisa meminta kepada suamimu untuk mengajarkanmu bukan? Suamimu sangat pintar nak"
"Benarkah bibi? apa bisa seperti itu? apa suamiku tidak akan marah?" tanya Sophia
"Apa Alfonso pernah memarahimu? bibi pikir Alfonso sangat menyayangimu. Cobalah nak, berbicaralah pada Alfonso"
.
.
.
Sepulang bibi Ma dari rumahnya, setelah bercerita banyak hal, Alfonso memasuki rumah.
Tanpa aba aba, Alfonso menarik rambut Sophia kuat. Kegiatan memasaknya terhenti
"Apa yang dilakukan bibi Ma disini ha? kau mengadu yang bukan bukan? Kau mengadu kan?!!!" bentak Alfonso
"SUDAH KUKATAKAN JANGAN MEMANGGIL PANGGILAN ITU BODOH!!!" teriak Alfonso
"Tu..tuan.. bibi ma hanya menyerahkan tas mu yang tertinggal di kerajaan x tuan" cicit Sophia memegang kepalanya yang seakan mau lepas.
"Bukankah sudah kubilang jangan menarik perhatian siapapun? Beraninya kau mengundang dia masuk kerumah" bentak Alfonso
Ya, senja tadi alfonso telah pulang kerumah. Melihat ada sepatu wanita di pintu rumah, Alfonso mengurungkan niatnya.
Ia beralih duduk bersandar di pohon sebelah rumahnya.
menunggu siapa tamu lancang Sophia.
"Maafkan aku, aku tidak akan membiarkan siapapun lagi masuk tuan, lepaskan rambutku ini sakit" lirih Sophia menangis
Alfonso menghempaskan kepala Sophia
"Jika kau berani macam macam, aku akan membunuhmu" ancam Alfonso membuat Sophia mematung
"Apa tuan senang jika membunuhku? maka lakukanlah tuan" ucap Sophia mengembun membalikkan badan menghadap sang suami.
"aku akan melakukannya nanti. Tidak sekarang. Tunggu kematianmu. Berdoalah aku membunuhmu dengan cara yang cepat. Sehingga kau tidak merasakan kematian yang menyakitkan. Persiapkan dirimu" ucap Alfonso kejam pergi menuju kamarnya
"dia akan membunuhku? dia tidak menyayangiku lagi ternyata. Hah, baiklah paman tunggu aku datang yaaa" batin Sophia pasrah seraya menghapus air mata nya
Seperti biasa. Sophia memakan sendiri masakannya.
__ADS_1
Alfonso yang dulu sudah benar benar kembali.
Setelah bersiap ingin tidur, Sophia mengeluarkan bahan rajutannya.
Mendengar makian suaminya yang mengatakan akan membunuhnya membuat Sophia tidak tenang. Ia gelisah.
"Aku harus cepat cepat menyelesaikan ini. Dia bisa membunuhku kapan saja." ucap Sophia
Sophia memutuskan tidak akan tidur agar rajutannya cepat selesai.
"Mereka semua sudah sangat baik kepadaku. Di saat kepergianku nanti semoga mereka menyukai hadiahku" lirih Sophia menahan kantuknya menggerakkan tangannya lihai.
" Ah bagaimana nanti mereka tau bahwa ini mempunyai pemilik yang berbeda beda. Aku akan meminta Suamiku untuk mengajariku besok" ucap Sophia
***
Pagi menyingsing, mata hitam Sophia melingkari netra indah sayu itu.
Ia tidak tidur semalaman. Ia telah menyelesaikan pakaian untuk Alfonso.
Sangat banyak.
"Hah selesai, tinggal menunggu bahan dari bibi Ma, dan aku akan mulai mengerjakannya" ucap Sophia dengan semangat.
Alfonso keluar kamar dengan menggunakan seragam lengkapnya. Ia memiliki tugas hari ini untuk meratakan bangunan liar di dalam hutan
Sophia terkejut melihat alfonso sudah bersiap sepagi ini
"Gawat!! aku belum memasak apapun" batin Sophia
"Tuan!! Tuan!! kau mau kemana sepagi ini? kau tidak sarapan? ah sebentar aku pikir aku mempunyai roti di dalam laci" ucap Sophia berlari
Sophia membongkar laci demi laci.
Ia membawa roti ditangannya tergopoh gopoh berlari.
Tetapi ia tidak menemukan suaminya. Suaminya sudah pergi.
Sophia lesu.
"Bagaimana ini? aku bahkan belum mengatakan permintaanku"
"Bagaimana aku bisa mengetahui huruf mana yang dipakai dalam nama mereka? bagaimana aku akan merajut nama mereka nanti? Apa jika menunggu tuan pulang aku masih diberi kesempatan hidup? Bagaimana jika tuan langsung membunuhku malam ini juga" lirih Sophia kebingungan.
"Setidaknya biarkan aku membuat sesuatu dulu untuk filips" sendu Sophia mengingat filipslah yang selalu ada bagaimana pun kondisi Alfonso.
tok..tok.. tok...
...****************...
Like comment yaa
susah bener 😏
__ADS_1