
Alfonso menyerah menyusuri pedalaman dan pinggiran kota. Mengabaikan tidur dan asupannya, Alfonso terus mencari Sophia hingga berganti hari. Tidak menemukan di pedalaman, Ia dan Filips berpencar dengan filips menyisir hutan.
beberapa lama menyisir hutan, Alfonso terhenti di tempat ia pertama bertemu Sophia.
Alfonso turun dari kuda meraba tanah bekas Sophia menabrak nya dan terjatuh waktu itu.
"Kumohon pulanglah, Maafkan aku" lirih Alfonso memejamkan mata meresapi apakah masih ada bekas Sophia disini.
Ia sangat merindukan celoteh riang si jelita itu.
Ia teringat dengan sungai. Ia juga memiliki momen dengan Sophia di sungai itu
Semakin mendekati sungai, Alfonso melihat ada punggung seorang wanita sedang memainkan air dengan kaki dan tangannya.
Alfonso melangkah memperhatikan. Pakaian ini, Rambut ini, dan ukuran tubuh ini semuanya mirip seperti istrinya
"Sofi" lirih Alfonso dengan jantung berdetak kencang
Sofi yang merasa ada seseorang yang menyebut namanya membalikkan tubuh melihat kebelakang
Netranya melotot. Sophia terkejut. Lama Sophia memandangi Alfonso yang juga memandanginya. Sophia tidak punya keberanian lagi mendekati Alfonso melompat ke gendongan Alfonso setiap Alfonso pulang ke rumah.
Sophia meremas kuat uang uang kuno di tangannya. "Apa dia masih marah kepadaku?" pikir Sophia
Alfonso mendekat perlahan, berjongkok menyesuaikan tinggi tubuh Sophia
Netra mereka terkunci
Alfonso memperhatikan Sophia lekat. Hatinya merasa teriris. "Bagaimana aku bisa mengabaikan makhluk suci ini" pikir Alfonso
Tangan Alfonso bergerak terangkat mengelus kepala Sophia hangat
"Dari mana sayang? hmm?" lembutnya tersenyum mengembun menatap dalam mata Sophia.
Sophia tidak menjawab mengulurkan tangannya yang berisi uang ke hadapan Alfonso
"Apa ini?" tanya Alfonso
"Ini uang Tuan. Aku mencari uang semalam" cicit Sophia perlahan
"Mencari uang? kenapa? aku sudah memiliki uang yang banyak sayang" tanya Alfonso dengan dahi berkerut.
"Jangan usir aku" lirih Sophia sendu memutus pandangan menatap kebawah seperti sebelumnya.
Alfonso heran ingin berbicara tetapi Sophia terlebih dahulu melanjutkan ucapannya.
"Aku akan bayar Tuan, untuk tinggal. Walaupun nanti nona cerdas yang lain datang, aku tidak ingin pergi" geleng Sophia
Alfonso terdiam menelaah. Alfonso menyambung tali kusut di kepalanya. Ia telah menemukan alasan Sophia kabur malam itu.
Ia sangat menyesal memperlakukan Sophia begitu buruk hanya karena kecewa dengan nya.
Suaminya pulang perjalanan dari kerajaan X, sudah pasti Sophia merasa rindu, akan tetapi sepulangnya Alfonso, Ia malah mengabaikan Sophia tanpa memberi penjelasan kepada hati sensitif itu.
__ADS_1
menyingkirkan tangan Sophia yang menggantung diudara menjulur memberi uang kepada Alfonso.
Alfonso terduduk dari jongkoknya, menyilangkan kaki, menarik Sophia, menggendong dalam pelukannya.
"Sayang kau tau? Aku hampir gila mencarimu kesana kemari" Ucap Alfonso menyandarkan kepala mungil ini ke dada nya.
Alfonso memejamkan mata. Menetralkan jantungnya yang sempat bertalu kencang membayangkan Sophia meninggalkannya selamanya. Memeluk erat tubuh mungil ini
Sophia terdiam mendengar kata kata yang keluar dari mulut suaminya.
"Jangan pergi begitu saja" lirih Alfonso
Sophia mendongak memperhatikan netra sendu Alfonso
"Tuan tidak marah lagi?" Tanya Sophia memindai wajah tampan suaminya
Hati Alfonso semakin sakit mendengar suara indah itu
"Aku tidak pernah marah sayang. Saat itu aku lelah. Ya, aku lelah. Aku hanya ingin membersihkan diri dahulu baru bercerita dan memelukmu" Jelas Alfonso memberi pengertian.
Hal yang membuat ia marah kemarin tidak ia ceritakan dulu.
"Benarkah?" Tanya Sophia menelisik binaran alfonso.
"Ya. Jangan pergi lagi hmm?" Tanya Alfonso merapikan rambut yang berantakan tidak terikat atau tersisir rapi seperti biasanya.
Sophia mengangguk. Mereka terdiam beberapa saat.
Sophia mengangguk
"Aku pikir Tuan adalah pencuri saat itu" cicit Sophia mengenang pertemuan mereka.
Alfonso tersenyum tipis mengeratkan pelukannya.
"Kenapa kau ketempat ini lagi hmm?" tanya Alfonso
"Aku suka tempat ini Tuan, sangat sejuk dan damai. Aku ingin mempunyai rumah disini jika nanti aku sudah mempunyai uang yang banyak" lirih Sophia.
Alfonso terdiam menelisik.
Banyak hal yang ingin Alfonso tanyakan tetapi tidak saat ini. Saat sudah berada di rumah dan keadaan Sophia telah membaik, Alfonso akan menanyakan segalanya.
"Kita pulang ya?" tanya Alfonso yang dijawab anggukan kepala Sophia.
Alfonso berdiri menurunkan Pujaan hati dari gendongannya, menuntun Sophia menuju kuda kesayangan
***
Selesai makan dan membereskan tubuh mereka, Sophia dan Alfonso berbaring beristirahat dari kelelahan pikiran maupun fisik mereka.
Alfonso memeluk erat Sophia menaikkan selimut menghangatkan tubuh molek ini, menutupi tubuh polos mereka berdua.
Alfonso dan Sophia baru saja melepaskan kerinduan mereka. Alfonso tentu saja tidak dapat menahan saat membantu Sophia membersihkan tubuhnya, menyia nyiakan harta Karun yang sempat hilang beberapa saat ini.
__ADS_1
Sophia merebahkan kepalanya di tempat kesukaannya. Membiarkan jarinya menari nari diatas dada kekar sang suami. Menggambar abstrak tidak jelas seperti biasanya.
"Sayang, apa saja yang kau lakukan bersama bibi Ma?" tanya Alfonso setelah nafas nya normal.
"Tidak ada Tuan, aku hanya berbelanja ke pasar, dan membuat pakaian. Itu saja" jelas Sophia
"Sayang! jangan memanggil Tuan. Kembali ke panggilanmu sebelumnya" titah Alfonso
Alfonso terdiam memikirkan jawaban Sophia tadi. Ke Pasar? Makhluk yang sedang ia peluk ini tidak menyukai keramaian. Mengapa bibi Ma mengajaknya kesana? Di pasar pasti terjadi sesuatu. Pikir Alfonso.
"Mengapa memakai baju pelayan jika begitu? Aku tidak suka sayang" gerutuan Alfonso seraya mengelus punggung bebas Sophia yang tengkurap diatasnya dengan inti masih menyatu seperti biasa.
"Aku pikir jika memakai pakaian pelayan, Tidak akan terlalu menarik perhatian" jawab Sophia
"Pakaian apapun yang kau pakai akan menarik perhatian. Huh siapa yang menyuruhmu memiliki wajah menggemaskan begini hmm?" Tanya Alfonso mencubit gemas pipi Sophia.
Sophia hanya bisa terkekeh geli
"Sofi, malam itu dimana kau tidur hmm? Apa kau tidur di sungai?" tanya Alfonso penasaran
"Tidak sayang, ada anak kecil yang membawaku kerumahnya. Dia juga yang mengajarkan aku menjual kayu bakar kepada warga yang kaya" jelas Sophia semangat mendongak menatap Alfonso
"APAA? MENJUAL KAYU BAKAR?" Alfonso terkejut.
"Apa yang kau lakukan sayang? Huh kau melukai harga diri suamimu ini" lanjut Alfonso menggerutu
Sophia tersenyum melihat Wajah Alfonso yang berubah ubah.
Sophia spontan mengecup bibir merah itu. Sophia kembali menjadi Sophia yang tidak tertebak, dan semaunya saja.
"Sayang jangan memancingku lagi" ucap Alfonso menekan pinggul Sophia memperdalam tekanannya.
Sophia mendesis
"Ssstttt, tetapi anak itu baik sayang, ia membiarkan ku tinggal dirumahnya walaupun ibunya tidak suka" ucap Sophia merem melek dengan kelakuan Alfonso kembali bergerak sangat perlahan.
"Huh, tidak ada yang baik seperti itu sayang. Aakhhh Sofi, jangan merapatkan kakimu. Jika dia hhhhh baik, pasti mereka memberimu ssssttt makan" Racau Alfonso tidak jelas.
"Mereka juga kesulitan mencari makanan sayang" Ucap Sophia.
"Aku ingin mengunjungi mereka nanti, memberi makanan yang banyak" ucap Sophia menggelap tidak fokus.
"Yahhhh, nanti aku akan menemanimu. Kita tuntaskan ini sekali lagi" Ucap Alfonso bersemangat membalikkan Tubuh Sophia dibawah Kungkungan kekar ini.
Alfonso tersenyum lega disela kesenangannya. Cintanya tidak meninggalkannya.
...***************...
(Masih konflik kecil aja Alfonso udah panikan begitu. Bagaimana dengan Konflik besar nanti🗿 mungkin Alfonso menggila)
Like dan vote yaa
semoga terhiburrr🌻🌻
__ADS_1