
Alfonso dengan spontan mencengkram kuat lengan gadis belia itu
"Tu..tuan sakit" ringisnya
"Katakan dimana!!! dimana istriku!!!" teriak Alfonso
"Tuan kau menyakitinya" ucap filips
"Itu Sophia filips. Anak ini menemukan Sophia" ucap filips dengan air mata menetes
"tuan tenanglah dulu. Hey nak, apa kau tau kemana kakak cantikmu pergi?" tanya filips dengan hati hati
"kalian mencarinya juga? Apa kakak itu seorang penjahat?" tanya nya
"tidak, dia orang baik, dan orang jahat berusaha membunuhnya seperti yang mereka lakukan kepada ibumu" ucap filips berhati hati
gadis itu menggeleng
"Aku tidak tau kakak itu pergi kemana" lesu nya
"Bolehkah kau tunjukkan dimana rumahmu? aku pikir jika kau mengatakan kakak cantikmu sedang sakit, maka ia tidak akan pergi jauh bukan?" tanya filips lembut.
anak manis itu mengangguk menggenggam tangan filips dan menuntunnya keluar.
mereka mengikuti langkah kaki anak tersebut
Sebelum mencapai pintu keluar, anak itu memandangi pintu belakang tempat Alfonso mengubur ibunya.
"Ada apa? maafkan kami hmm?" tanya filips
"Terimakasih tuan, memberikan tempat peristirahatan yang terhormat bagi ibuku, setidaknya kalian tidak membuang jasad ibuku begitu saja" ucapnya bijak
Filips tertegun
"kau tidak sedih lagi?"
anak itu menggeleng
"Ibu sudah lama tersiksa karena penyakitnya, sekarang ibu tidak sakit lagi" ucapnya gamblang
"Ayo tuan"
"Ekhemm apa rumahmu jauh dari sini?" tanya Alfonso setelah menenangkan diri, menyusul filips dan anak manis itu
Ia mengangguk
"ayo kita berkuda saja" ucap Alfonso mengangkat anak itu menuju kuda filips
"Mengapa kau tidak mengangkatnya bersamamu?" tanya filips
"Hanya Sophia yang bisa dekat denganku" ucap Alfonso dingin menaiki kudanya
Sepanjang perjalanan, hanya suara langkah kaki kuda yang terdengar
Filips memulai komunikasi dengan anak manis ini.
"Siapa namamu? kau belum mengatakannya kepada kami bukan?" tanya filips menatap pucuk kepala anak didepannya
"Hera Tuan, namaku Hera" ucap nya sopan
"Mengapa kau mau ikut bersama kami begitu saja? kau tidak takut kami bisa saja membahayakan mu" ucap filips merasa anak ini terlalu berani pergi dengan orang orang asing seperti mereka.
Hera menggeleng
__ADS_1
"Tidak Tuan, aku tau kalian orang baik. Kalian membantu ibuku. Lagi pula, aku tidak memiliki siapapun lagi" ucap Hera dengan nada riang tidak ada intonasi kesedihan sama sekali
Filips tertegun. Anak ini memiliki hati bersih sebersih nona nya
"Berapa lama kau disekap didalam bersama ibumu? apa mereka tidak memberi makanan?" tanya filips
"aku tidak tau Tuan sudah berapa lama, mereka memberi makan melalui celah udara, sebelumnya ada pintu masuk di dalam tetapi mereka menutupnya dengan rapat" jelas Hera
"Tuan, aku laparr" ucapnya menolehkan kepala ke belakang dan mengeluarkan cengirannya
Filips tersenyum. Ternyata anak anak juga tidak terlalu buruk
"ini makan lah, Aku menyimpan buah ini" ucap filips memberikan buah yang ia simpan sebagai bekal perjalanan
Alfonso mendelik mendengar percakapan dan interaksi selayaknya manusia normal itu. Interaksi ini terasa asing baginya.
Apa lagi yang direncanakan filips. Semoga saja anak itu tidak membuat kesalahan. Atau filips akan mengeluarkan isi perutnya.
"Tuan kita sudah sampai. Ini rumahku. Aku sering menyelinap bermain dirumah tempat paman itu menculik kami. Dirumah itu biasanya banyak makanan tetapi beberapa waktu terakhir rumah itu sangat kotor dan kosong" ucap Hera Sembari melangkah menuju rumah tua nya bersama ibunya
Filips dan Alfonso meneliti rumah dan pekarangan dengan detail.
"Menurutmu kemana Sophia pergi filips?" tanya Alfonso
"Apa kita berpencar saja tuan?" tanya filips.
"ya aku pikir itu..."
"Ayo Tuan kita pergi" potong Hera menghampiri keduanya
Filips mengernyitkan dahi. Anak ini datang dengan membawa bungkusan
"apa itu?" tanya filips
"Hey!!! siapa..siapa yang mengatakan begitu, aku aku tidak berbicara begitu dasar rubah kecil" ucap filips gugup
Mendengar itu, Hera tertunduk sendu. Kemana lagi ia akan pergi
"Baiklah permisi" ucap nya beralih masuk kedalam rumahnya.
"Tuan, apa..apa dia menangis? apa aku menyakiti hatinya? Tuan" ucap filips meneror Alfonso dengan pertanyaan
"sejak kapan kau perduli dengan perasaan wanita filips? Kini Kau tau bukan bagaimana rasanya dan paniknya aku saat Sofi marah kepadaku? cih anak itu akan tumbuh besar menjadi gadis yang merepotkan" ucap Alfonso berlalu menaiki kudanya dan pergi ke arah barat dari kediaman Hera.
Mendengar itu, filips mengacak acak rambutnya
"Haiisssss, apa dia kutinggal saja? tapi dia masih anak anak, bagaimana jika jikaa.. argghhh sudah lah" ucap filips memasuki rumah dan melihat Hera meringkuk diatas ranjang lusuh ibunya
"Hey kau menangis? baiklah baiklah ayo ikut bersamaku. Kita mencari nonaku" ucap filips
"Benarkah? yeayyy ayo tuan" lompat Hera kegirangan memantik rasa kesal filips
*
*
*
Sepanjang jalan, Alfonso mengedarkan mata tajamnya kesegala penjuru
Ia memangut mangut
"bagaimana bisa aku melupakan tempat ini, kekaisaran ini? Karena kekecewaan ku kepada permaisuri, aku melewatkan tempat ini sebagai tempat pencarianku" ucap Alfonso
__ADS_1
DEGG
Satu hal tiba tiba terlintas dibenaknya
Bagaimana jika Sophia mencari jalan pulang?
"Rumah itu, rumah kenangan ku bersama Sophia, apa Sophia pulang kesana?" tanya Alfonso pada dirinya sendiri
Bagaimana bisa ia lupa pada tempat tempat itu
rumah itu, rumah yang sudah sangat lama tidak Alfonso datangi.
Alfonso memutar balik kuda kesayangan nya berpacu sangat cepat melewati hutan. Entah mengapa ia memiliki firasat yang sangat kuat
akan tetapi ia sangat berharap Sophia tidak ada disana
"Sayang aku mohon jangan disana, mengapa kesana? Disana sangat berbahaya" panik Alfonso.
Ia menyesal melewatkan pencarian di kekaisaran
Lama Alfonso berperang dengan dirinya sendiri selama di perjalanan
Langit sudah mulai gelap, Alfonso melihat gerbang istana semakin mendekat.
Beberapa prajurit menghentikan langkah Alfonso
"menyingkir atau akan ku tebas kepalamu" ucap Alfonso
"P..ppaanglimaaa" teriak prajurit itu
"Kau kembali? aku mohon panglima tetaplah disini, kami sangat membutuhkanmu" mohon mereka
"aku tidak memiliki banyak waktu, menyingkir" tegas Alfonso
Gerbang dibuka, dan Alfonso bergegas memasuki istana dan menuju rumah nya.
langkah kaki Tegap menapak di tanah subur Kekaisaran.
Ia menelisik rumah lama nya yang ternyata sudah sangat tidak terawat.
Alfonso mengetuk pintu beberapa kali tetapi tidak ada reaksi apapun dari dalam
Alfonso membuka pintu perlahan.
Ia memindai segala penjuru rumah yang gelap
abu terasa sangat menusuk penciumannya
mustahil jika ada orang yang tinggal disini.
Sepertinya itu hanya perasaannya saja.
Alfonso meraba dinding dimana biasanya Sophia meletakkan penerangan
ctasss
Alfonso menghidupkan penerangan memindai segala sudut rumah. Tetapi tidak ada apapun disini
Datang kesini merupakan pilihan yang buruk bagi Alfonso
Kenangan kenangan kembali memenuhi otaknya.
Ia memejamkan mata meresapi segala kenangan nya dan Sophia di tempat ini.
__ADS_1
...****************...