
seharusnya aku sadar dia sudah ada yang punya
berulang kali aku mengatakan pada hatiku bahwa hatinya sudah dimiliki
tapi hatiku menolak, bahkan cintaku bertambah dan bertambah setiap saat
otakku mengatakan pergilah, tapi hatiku masih singgah
tak pantas aku bertingkah seperti anak kecil
ah, harusnya tadi aku tidak pergi
apa dia tau kalau lagu itu aku nyanyikan untuknya?
karin segera menghentikan taxi dan segera masuk. tidak tau harus kemana, kalau pulang ke rumah Aksa mama Erin akan menjejalnya dengan banyak pertanyaan. dia butuh ketenangan.
karin berhenti di sebuah taman kota. banyak orang berlalu lalang, tampak dari mereka berpasangan, ada yang sedang tertawa bersama teman dan keluarga mereka.
"Karin tunggu!" merasa namanya dipanggil karin menghentikan langkahnya dan berbalik
"Kak Ramon?". Ramon mengatur nafasnya.
Tadi saat dia hendak memarkir mobilnya, dia tidak sengaja melihat karin keluar dari cafe sambil menangis dan menghentikan taxi. ramon akhirnya berinisiatif mengikuti karin.
"kakak kenapa disini?".
"aku tadi tidak sengaja melihatmu menangis dan menghentikan taxi didepan cafe jadi aku mengikutimu". Ramon menghampiri karin yang berjalan menuju bangku taman
"kenapa menangis hm?".
"tidak apa-apa kak". karin memainkan kuku jarinya, lalu tersenyum mengingat betapa konyolnya dia menangis hanya karena cemburu
"katakanlah padaku, aku siap mendengarkannya", Ramon memasang wajah konyolnya agar Karin tertawa.
"hahaha wajahmu lucu sekali kak", karin tertawa melihat Ramon memonyongkan bibirnya
"jangan nangis dong, gini kan lebih cantik".
"kak Ramon ngapain emangnya tadi ke cafe?".
"mau memastikan sesuatu".
"apa sudah?"
"belum. tadi aku kan langsung ngejar kamu".
Karin merasa bersalah tapi kenapa Ramon harus mengikutinya. mereka tidak sedekat itu.
"apa masalah cinta?", Ramon meneliti wajah Karin sepertinya tebakannya benar. dia hanya tersenyum
"kenapa? apa pacarmu berselingkuh?"
"tidak, aku belum punya pacar". jawab Karin tersenyum kecut
"lalu?"
"aku mencintainya, tapi dia sudah punya pacar". tawa ramon pecah
__ADS_1
"apa di dunia ini hanya ada satu pria?", karin tercengang karena ramon malah tertawa disaat dirinya sedang merasa sedih
"ini tidak semudah yang kakak ucapkan. memang banyak pria di dunia ini, bahkan disekitar ku. aku mencoba menahan perasaanku karena aku tau dia memiliki kekasih. tapi apa? semakin aku mencoba semakin aku mencari kesibukan, bayang-bayangnya semakin ada. tidak adil bukan? dia bahkan tidak tau perasaanku, sedangkan aku yang mati-matian melupakannya justru perasaanku makin berkembang". tangis karin pecah, keluar sudah unek-unek yang dia pendam sendiri.
"ma'af aku tidak tau kalau ucapanku menyakitimu", Ramon mendekat dan menepuk punggung karin yang bergetar karena tangisnya.
"ma'af juga karena aku melampiaskan kekesalanku kepadamu kak".
"tidak masalah, selama kamu tidak menangis lagi. kamu tau ingusmu itu merusak kecantikan wajahmu", Karin dengan cepat membersihkan hidungnya.
"ish kak ramon, jujur banget sih".
******************
"rik, udah ketemu?".
"udah, dia lagi di taman kota".
"ngapain?"
"lagi makan ice cream. kayaknya sekarang lo kalah saing lagi".
"maksud lo?".
Riko mengambil ponselnya dan memberikan foto yang dikirimkan anak buahnya. terlihat karin duduk di bangku taman memegang ice cream dengan seorang pria berjas yang duduk disampingnya.
Aksa mendekatkan foto tersebut. berkali-kali memutar ponsel Riko.
"ck, ngapain juga lo puter-puter, diputer gimanapun orang yang di foto ini juga gak bakal berubah. sini, kasian ponsel gue pusing entar"
"Ramon?". Aksa mengeraskan rahangnya
"lo aja heran apalagi gue. gue pergi dulu". Aksa mengambil kontak mobilnya bergegas keluar apartemennya dan melajukan mobilnya ke taman kota.
Aksa mencari karin di bangku taman. terlihat karin dan ramon yang sedang berbicara dan sesekali suara tawa mereka terdengar sampai ke telinganya.
"karin, sudah malam. ayo pulang!" karin menghentikan tawanya dan memastikan bahwa yang didepannya adalah Aksa
"om ngapain?"
"aku mau jemput kamu, ayo pulang!". Aksa berbicara dengan nada tidak ingin dibantah sedangkan karin melirik ramon yang tersenyum kepadanya.
"pulanglah!", Ramon berdiri dilihatnya Aksa yang meliriknya dengan tatapan tajam.
hawa dingin yang karin rasakan, bukan karena cuaca malam ini tapi karena dua pria didepannya yang seakan siap saling menghunus pedang mereka.
"kak ramon aku duluan", ramon mengangguk dan karin tersenyum sambil berjalan ke arah mobil Aksa.
sesampainya di mobil Aksa hanya ada keheningan yang melanda dua anak manusia itu. Aksa bingung harus mulai darimana dia berbicara sedangkan karin yang masih merasa sangat malu dengan kejadian beberapa jam lalu di cafe memilih diam.
"kamu sudah makan?" Aksa melirik karin dengan sudut matanya
"sudah",
"kenapa tadi kamu bersama ramon?"
"kenapa?" karin heran kenapa Aksa malah bertanya tentang ramon apa dia tidak penasaran kenapa tadi dirinya berlari keluar dari cafe
__ADS_1
"kenapa dia bisa bersamamu?"
"kami gak sengaja bertemu".
"apa yang dia bicarakan?"
"om kenapa kepo banget sama kak ramon?", karin mulai kesala karena Aksa dari tadi mencecarnya dengan pertanyaan tentang Ramon
"ck, kamu memanggilnya dengan sebutan kakak, kenapa memanggilku dengan sebutan om?"
"karena.. karena", karin jadi bingung sendiri kenapa dia memanggil Aksa dengan sebutan om sedangkan Aksa dan Ramon seperti seumuran
"karena apa? apa aku terlihat tua?"
"hahahah apa om mengakui kalau om memang tua?" karin tertawa
"bahkan umur kami sama". Aksa kesal karena karin mengatakan dirinya tua secara tidak langsung.
"lalu om mau aku memanggil apa? bapak?", karin tertawa lagi
"lupakan. kamu benar-benar sudah makan?".
Aksa mengingat tadi karin langsung pergi dari cafe dalam keadaan menangis.
"sebenarnya belum". Aksa langsung menepikan mobilnya kearah restoran yang dilihatnya
karin berdecak kagum melihat restoran dimana dirinya berada saat ini. nuansa gold dan marun membuat kesan glamour tampak sangat jelas.
Aksa menarik kursi untuk karin dan menyuruhnya untuk duduk.
"ayo duduk"
"terimakasih om".
'astaga bisa gak sih jangan panggil aku om!' batin Aksa
terlihat pelayan berjalan kearah mereka membawa daftar menu. karin yang mulai terbiasa berada ditengah keluarga Hudaverdi tidak lagi heran dengan harga makanan yang berada di daftar menu itu.
Aksa menatap intens wajah karin, matanya sedikit sembab karena tadi menangis
'karin, kenapa kamu memendam perasaanmu? kalau memang kamu memiliki perasaan padaku aku mohon bertahanlah sebentar, aku masih sedikit trauma dengan masa laluku tapi aku akan berusaha membuka hatiku untukmu'
"om, kenapa bengong?".
"jangan dekat lagi dengan Ramon!"
"kenapa? dia baik", karin mencebik
'kenapa dia dikelilingi banyak pria, Akhdan si cecunguk itu dan sekarang ramon. dan semua dia bilang baik'
"kamu belum lama mengenalnya. jadi jangan membantah ucapanku". Karin menatap intens mata Aksa
"apa om cemburu?" Aksa melihat mata karin
beberapa detik mereka saling menatap, Aksa mendengus kesal.
"kalau kamu memang kamu menyukaiku, menurutlah." karin membulatkan matanya
__ADS_1
"dan bertahanlah sebentar saja!" Aksa melanjutkan