Jangan Panggil Aku Om!

Jangan Panggil Aku Om!
Apa Kamu Pantas?


__ADS_3

pintu kamar mandi terbuka, aksa keluar dengan balutan handuk yang melilit menutupi bagian bawah tubuhnya, rambut yang basah dan berantakan namun membuatnya terlihat lebih sexy, badan atletis dengan bulu-bulu halus di dadanya membuat kesan cool dan macho.


"abang!!!." karin refleks menutup matanya, turun dari kasur aksa dan keluar dari kamar aksa. sedangkan aksa hanya terkekeh melihat tingkah laku karin, dia lupa kalau karin masih ada di kamarnya.


aksa turun kebawah menggunakan baju santainya dan pergi ke ruang kerja papanya.


"pa...." pak arya yang sedang menghubungi rekan bisnisnya segera menghentikan panggilannya.


"tumben, ada apa?."


sudah lama sekali, entah sudah berapa tahun dia tidak pernah terlibat perbincangan hangat dengan pak arya. meskipun berbicara, mungkin hanya seperlunya saja dan tidak lain menyangkut pekerjaan.


"aku ingin melamar karin." ucap aksa to the point.


pak arya menatap aksa tak yakin. walaupun dalam hatinya dia sangat senang.


"kenapa kamu ingin melamarnya?."


"aku mencintai karin pa."


"apa kamu pantas?." tanya pak arya dingin, aksa langsung mengkerutkan keningnya.


"maksud papa?."


"apa menurutmu, kamu pantas menjadi pendamping hidup karin?."


"aku..."


"melamar, lalu kemudian menikah. bukan hal yang sederhana sa, menikah artinya kamu dan semua yang ada pada dirimu seutuhnya milik istrimu, lahir dan batin."


"dalam berumah tangga, kamu tidak bisa seenaknya saja. nantinya, sebagai kepala keluarga, kamu harus bisa membimbing istrimu. rumah tangga seperti apa yang akan kamu bangun, keluarga seperti apa yang akan kamu bina?"


"apa kamu sudah selesai dengan semua wanitamu?."


"maksud papa?."


"berapa wanita yang sudah kamu kencani?."


"pa.. aku memang sering bergonta ganti pacar, tapi aku masih p*rjaka pa." pak arya langsung menatap sinis aksa.


"sumpah, apa papa tidak percaya?."


"kalaupun papa tidak percaya, bagaimana kamu membuktikannya. dasar edan!."


"papa setuju kan kalau aku melamar karin?."


"papa setuju, tapi apa karin tidak rugi mendapat calon suami seperti kamu? kamu memang seorang CEO, tapi ingat! kamu itu mantan playboy sa, sedangkan dia." aksa mengerti arah pembicaraan papanya.

__ADS_1


"semua orang punya masa lalu pa, aku tidak akan hidup di masa itu. aku sudah berubah, aku sudah lelah dengan hidupku yang entah apa tujuannya. tapi sejak aku tau, sejak aku sadar kalau aku mencintai karin, aku tau tujuan hidupku. aku bersyukur karena dia mau menerimaku..."


"tapi bagaimana dengan ayahnya?." potong pak arya. aksa terdiam, mengingat ucapan mamanya kalau pak santoso merupakan sosok yang tegas dan sedikit galak.


"aku akan berusaha meluluhkan hati calon mertuaku." dengan sekuat tenaga pak arya menahan tawanya agar tidak pecah. demi keseriusan aksa agar tidak menyia-nyiakan karin.


"bagus, kamu memang keturunan hudaverdi. papa dulu juga harus bersusuah payah untuk meraih hati kakekmu. tidak peduli sekaya apa papa, tidak memandang seberapa besar perusahaan keluarga papa, dan betapa tampannya wajah papamu ini. kakekmu tidak peduli itu, yang ia inginkan hanya seorang pria yang mampu melindungi gadis kecilnya, tidak pernah menyakitinya dan mencintainya sepenuh hati."


"papa yakin, hal itu juga yang dirasakan ayah karin. melepas seorang putri yang selama ini dijaga dan disayanginya sepenuh hati, kepada pria asing yang tiba-tiba saja datang. kalau kamu serius, satu permohonan papa."


"jangan pernah menyakitinya sa, sehebat apapun kalian bertengkar, seberat apapun masalah kalian. selesaikan dengan kepala dingin. kamu anak yang penuh pertimbangan, jadi papa yakin apapun yang kamu pilih, sudah kamu pikirkan matang-matang."


aksa berdiri dan memeluk pak arya.


"terimakasih sudah mendidik ku dengan sangat baik pa."


"berjuanglah! jangan menyerah, santoso memang sedikit sensitif kalau menyangkut anak gadisnya. tapi dia sangat baik."


"kalau begitu, aku pamit untuk pergi ke jogja pa."


"hari ini?." pak arya heran melihat aksa yang mengangguk yakin.


"apa perlu papa antar?."


"tidak, aku tidak mau calon mertuaku menerimaku karena papa. aku akan berusaha sendiri."


"bagus," pak arya menepuk bahu aksa.


"hahaha, kelihatannya saja galak. santai saja, berangkat sana! apa kamu mau membawa jet pribadi?." pertanyaan pak arya berhasil membuat aksa menggeleng tak percaya. apa papanya berpikir kalau dia datang ke jogja untuk pamer? aksa malah takut calon mertuanya itu ilfeel.


"pa!." aksa meninggikan suaranya


"lalu apa kamu mau naik bus?." pak arya terkekeh


"aku bawa mobil sendiri,"


"tanpa sopir?." aksa mengangguk


"oke. hati-hati."


aksa ber'tos' ria dengan papanya, seperginya aksa. pak arya segera menghubungi pak santoso, teman sekaligus calon besannya.


tok


tok


tok

__ADS_1


"sayang,,, kamu sudah siap?."


"tunggu sebentar!." karin keluar dari kamarnya dan melihat aksa yang tersenyum penuh arti kepadanya.


"kenapa gitu banget senyumnya? lagi happy?."


"em, happy karena bentar lagi mau ketemu camer. ayo bantu aku packing." aksa menarik tangan karin menuju kamarnya yang hanya berjarak dua langkah.


"abang mau bawa apa aja?." karin mengambil tas yang sudah aksa sediakan.


"kira-kira camer sukanya cowok yang kayak gimana?." aksa memandangi pakaian yang berjejer di lemari besarnya.


karin menarik aksa untuk duduk di tepi kasur.


"abang, aku gak suka kalo abang berubah hanya karena mau dapet perhatian ayah. jadi diri abang sendiri. seburuk apapun abang, aku akan tetep sayang." aksa menyentuh lembut pipi karin, betapa beruntungnya seorang seperti dia mencintai seorang gadis seperti karin.


"sayang, jujur aku nervous. ini lebih mendebarkan dari waktu aku sidang tesis."


"abang, ayah itu orang baik walaupun sedikit galak."


"aku takut, karena tingkah ku di masa lalu ayahmu tidak mengizinkan pria sepertiku menikahimu." mereka saling bertatap, saling mengutkan dan saling mendukung satu sama lain.


"ayo kita berangkat!." karin mengabaikan ucapan aksa karena dia sendiri juga tidak tau bagaimana respon ayahnya nanti. karin masuk ke walk in closet dan mengambil pakaian aksa sembarangan lalu memasukkannya ke dalam tas.


"bi ijah, mama mana?."


"ibu dan bapak lagi keluar tuan."


"gimana bang?." tanya karin,


"ga papa tadi aku udah pamit kok." karin mengangguk


"neng sama tuan mau kemana? mau liburan?."


bi ijah bertanya saat melihat tas besar di tangan karin.


"mau ketemu calon mertua bi, doa'in ya bi." bi ijah tersenyum, bi ijah yang sudah bekerja puluhan tahun memang sudah menganggap aksa sebagai anaknya sendiri, merawatnya dengan tulus sejak dia masih bayi.


"okey dokey tuan muda. semoga cepet halalin neng." goda bi ijah membuat pipi karin merona.


"cie... yang pipinya udah semerah tomat." aksa mencubit gemas kedua pipi karin.


"abang, malu ih diliatin bi ijah."


"ngapain malu, bi ijah udah kayak orang tua aku sendiri, iya kan bi?."


"iya neng, gak usah malu kalo sama bibi mah."

__ADS_1


"bi, aku serius! aku nervous takut di tolak sama ayah dia." ucap aksa sambil melirik karin.


"tenang aja tuan, kalo ditolak tinggal kawin lari aja!." bi ijah nyengir kuda. membuat aksa dan karin saling melempar pandangan tak percaya.


__ADS_2