Jangan Panggil Aku Om!

Jangan Panggil Aku Om!
Menemui Bakal Calon Mertua


__ADS_3


(hobi om Aksa yang suka banget gandeng tangan Karin, sambil ngelus ngelus manjahhhhh..πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…. skip)


setelah menempuh perjalanan kurang lebih delapan jam, jam enam pagi aksa dan karin sampai di kota Yogyakarta atau yang lebih sering disebut Jogja, mendapat berbagai macam julukan seperti kota gudeg, kota pelajar, kota perjuangan dan kota pariwisata.


Jogja disebut juga kota budaya, seni budaya yang asli dan indah, selalu terdapat di dalam lingkungan istana raja dan di daerah-daerah sekitarnya. Sebagai bekas suatu kerajaan besar, maka Yogyakarta memiliki kesenian dan kebudayaan yang tinggi dan bahkan merupakan pusat serta sumber seni budaya Jawa.


Peninggalan seni-budaya ini masih dapat disaksikan terpahat di monumen-monumen peninggalan sejarah seperti candi-candi, istana, dan tempat-tempat lain yang masih berkaitan dengan kehidupan istana. Sebagian lain tersimpan di museum-museum budaya. Disamping itu kehidupan seni budaya di Yogyakarta tampak dalam kehidupan sehari-hari.


Sepanjang hidupnya Aksa tidak pernah menginjakkan kakinya ke tanah jogja. namun dari cerita yang sering dia dengar, kota jogja memang sangat indah dan masyarakatnya juga terkenal ramah.


"abang, kita ke malioboro dulu yuk!." semenjak sampai di jogja, karin menjadi google maps prribadi aksa. menunjukkan arah ke kanan, ke kiri bahkan tadi dia sempatnya mengajak aksa melewati jalan semut karena macet.


dari kejauhan aksa melihat tugu jogja yang artinya tempat tujuan mereka sudah dekat. mata karin makin berbinar saat melihat andong dan becak berlalu lalang didepannya.


"abang, ayo kita naik itu." karin menunjuk andong yang memuat sekitar empat orang do depannya.


"ayo!."


"kamu senang?." tanya aksa yang sedari tadi melihat senyum terukir di bibir mungil karin.


"tentu, aku sangat merindukan kota kelahiranku ini." aksa terus saja mendengarkan ocehan ocehan karin yang terdengar begitu menyenangkan di telinganya.


ah, bahagianya. kenapa tidak dari dulu saja ketemunya.


"abang lihat itu!." karin menunjuk salah satu warung soto yang dilewati andong.


"soto sampah?." aksa mengernyitkan alisnya


"Eits, jangan buru-buruΒ ilfeelΒ dengan namanya, ya? Soto Sampah adalah salah satu warung soto yang lumayan terkenal disini. Meski namanya sedikit aneh, tapi rasa sotonya... Juara! abang harus nyobain, pasti ketagihan."


"enggeh den (iya tuan) warung itu sudah buka sejak 1970," ucap pak kusir, membantu karin menjelaskan kepada Aksa


"abang mau tau kenapa disebut soto sampah?."


"kenapa? maksud ku kenapa harus sampah? gak ada nama yang lebih bagus?." tanya aksa yang memang sejak tadi penasaran kenapa bisa disebut soto sampah, pertama kali yang ada dalam pikiran sebagian pembeli bisa jadi adalah sesuatu yang kotor dan berantakan.


"soto ini dijuluki sebagai Soto Sampah karena penuhnya piring dengan aneka isian seperti bihun, taoge, tomat, daging, dan lain sebagainya." aksa hanya mengangguk mengerti.


Terletak di sebelah timur Keraton Yogyakarta dan punya harga yang super miring, nggak heran banyak yang menaruh minat di warung ini.Β 


setelah puas berkeliling, karin menarik tangan aksa untuk mengahampiri penjual beberapa makanan khas jogja. ada meniran, kue kipo, jadah tempe, jadah manten, semar mendem dan banyak lagi.


"sayang."


"shut! jajanan disini enak semua, abang belum pernah makan jajanan kayak gini kan?."


"tapi....." aksa hendak memperingatkan karin kalau jajanan disini bisa saja tidak higenis.


"aaaaa...." satu klepon masuk kedalam mulut aksa.


"bagaimana?." karin melihat ekspresi aksa yang biasa saja.


"em,,, ada gula merahnya sayang." binar wajah aksa setelah merasakan makanan berbahan beras ketan itu begitu menggemaskan di mata karin

__ADS_1


"enak kan?."


"enak." aksa mengacungkan dua jempol


mereka memilih beberapa makanan kesukaan ayah dan ibu karin. di pasar Malioboro ini, du jantung kota jogja, banyak sekali penjual ramah yang menawarkan dagangan mereka.


karin memutuskan untuk sarapan di soto sampah terlebih dahulu sebelum pulang.


"sayang, kita foto dulu." rasanya memang tidak afdol kalau ke jogja belum berpose di sekitar plang 'jl.Malioboro'


"abang, ayo pulang! mataharinya mulai terik."


pulang? astaga kenapa aku bisa lupa kalau aku kesini bukan untuk berlibur tapi untuk menemui calon mertuaku. eh, calon juga belum ding!


"sayang, masih jauh?."


"deket, di gang depan itu belok kanan."


keringat dingin mulai membasahi pelipis aksa, pacuan jantungnya beraksi semakin cepat dari biasanya.


"abang kenapa?."


"aku nervous."


"astaga, santai aja. bapak gak mungkin makan abang."


"kalau aku ditolak gimana?."


"tau ah, kata bi ijah kita disuruh kawin lari. apa gak capek kawin sambil lari?." karin terkekeh mencoba menghibur aksa yang terelihat tegang.


rumah besar yang terlihat asri juga sepi itu, aksa tidak melihat seorangpun berlalu lalang disana.


"ibu...." karin memeluk ibunya yang sedang menyirami koleksi tanamannya.


"eh anak ibu, kok gak bilang kalo mau dateng?."


"iya,,, sengaja mau kasi surprise."


"pulang sendiri?."


"gak.. aku sama abang." karin menunjuk aksa yang menundukkan kepalanya menyapa ibu Rita.


"kamu anak pak arya? wah,,, sudah besar ya sekarang."


"iya tante." aksa menyalami calon mertuanya itu, ralat! bakal calon mertua.


"bapak mana bu?."


"bapak masih ke desa, tapi sebentar lagi sampai." bu rita kembali menyirami tanaman-tanamannya


"tante sedang apa?."


"panggil saja ibu, ibu dan mama kamu berteman dari dulu. terimakasih sudah mengantar karin sampai kesini."


"tentu bu, karin adalah pacar saya." ucap aksa menunduk malu. ibu rita menoleh ke arah karin mencoba bertanya kebenarannya.

__ADS_1


"hehehe,,, iya bu, aku sama abang pacaran. abang kesini pengen ketemu bapak."


"wah... berarti bener rin, karena kamu suka bangun kesiangan jodohnya jadi...." karin segera menghampiri ibunya dan mengisyaratkan agar diam.


"nak aksa, ayo masuk."


"ibu selesaikan dulu pekerjaan ibu, saya akan menunggu disini. ini bunga apa bu?." aksa mencoba mengakrabkan diri dengan bu rita, setidaknya kalau bakal calon mertuanya galak, dia bisa meminta bantuan ibu karin.


"itu namanya anthurium andraeanum atau biasa disebut bunga flamingo, yang ini blue star fem, yang ini chinese money plant, yang itu bunny ear cactus, yang itu monstera dan yang ini janda bolong."


"janda bolong?." tanya aksa mengulangi.


saat mereka sedang asyik berbincang, terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah karin.


"itu bapak."


glek!


aksa melihat pria seumuran ayahnya turun dari pintu pengemudi, pria yang sama tingginya seperti pak arya, berbadan tinggi tegap dengan rambut tertata rapi.


aksa menyapa dengan menundukkan kepalanya dan tersenyum. pak santoso membalasnya dengan senyum dan masuk ke dalam rumahnya.


"ayo masuk nak, bapak sudah datang." mama rita menyusul pak santoso masuk.


"ayo!." karin juga hendak masuk kedalam rumahnya.


"sayang." aksa menahan tangan karin


"kenapa?."


"aku.."


"abang takut?." aksa menggeleng


"lalu?."


"aku kebelet pipis." karin tepok jidat


.


.


.


JANGAN LUPA LIKE, COMMENT DAN VOTE πŸ’œ


.


.



πŸ‘†πŸ‘†πŸ‘†πŸ‘†


salah satu hasil potret mereka di Malioboro!!πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹

__ADS_1


__ADS_2