Jangan Panggil Aku Om!

Jangan Panggil Aku Om!
Rencana Magang


__ADS_3

"rin, tugas lo udah?". Jessi duduk disamping


"udah".


"oh ya, bentar lagi kita kan kerja praktek dan magang. lo mau magang dimana?"


"entar gue tanya papa Arya dulu".


"oke. kalo boleh gue ikut lo deh. bilang sama pak arya buat rekomendasiin nama kita biar bisa magang di perusahaannya".


"oke!". karin segera mengambil ponsel genggamnya dan mengirim pesan kepada pak Arya, mengatakan bahwa dia akan ke perusahaan setelah pulang kuliah.


Hudaverdi Company


"nyet, gimana perkembangan clara?".


"tadi malam anak buah gue ngikutin dia, sepertinya dia lagi nyari target baru lagi".


"kita harus nemuin rekaman itu."


"lo bener. tapi lo kan tau wanita ular itu punya banyak ide licik. lo inget waktu itu salah satu anak buah gue pura pura jadi orang kaya buat deketin dia. bukannya berhasil deketin dia, malah anak buah gue dibuat pusing, setelah dia minta transfer duit 10 juta".


"terus?"


"jadi setelah mengirim uang itu, si clara langsung ngeblok semua akses anak buah gue itu. menurut gue, dia itu tau cowok yang benaran kaya sama yang pura pura sok kaya".


"jadi rencana lo selanjutnya apaan?"


Riko membisikkan rencananya, aksa beberapa kali merubah ekspresi wajahnya. terkejut, bingung, marah begitu terus bergonta ganti.


"ngeri gue sama ide gila lo" aksa mendorong Riko


"hahhhaha... itu trik jitu bro, kita harus mencobanya". riko menepuk paha Aksa


"lo aja deh". jawab aksa


"kenapa gue? dia tau kalo gue ini sepupu sekaligus asisten lo, gak masuk akal kalo gue yang deketin dia".


"cari ide lain!".


"oh ya bentar lagi kita ada meeting sama perusahaan pacar lo".


"pacar gue?", tanya Aksa


"astaga! beneran buaya lo ya. lo lupa kalo si Angel itu masih berstatus pacar lo? dan bentar lagi kita ada meeting sama perusahaan dia", Aksa memijit keningnya yang mulai sedikit pening. karena keisengannya mengiyakan ajakan perempuan untuk berkencan dengannya ternyata sedikit membuat kepalanya pusing.


"gue harus memperjelas hubungan gue sama dia".


"lo mau mutusin dia?".


"ide bagus".


"gue nanyak bukan ngasih ide".


"sama aja".


"gimana kalo dia nangis kejer? lo kan tau dia anak papi banget, bisa bisa lo diaduin sama bokapnya".

__ADS_1


"lo pikir gue anak kecil yang takut sama bokapnya?".


"terserah lo".


Aksa masih sibuk mengecek email yang masuk, tanpa sadar perempuan berbadan mungil sedari tadi duduk didepan kursi kebesarannya.


"sayang... aku kangen". angel mengerjapkan matanya sok imut, berharap aksa akan berdiri memeluknya.


"angel? kapan kamu masuk?"


"kamu terlalu serius dengan pekerjaanmu sayang sampai tidak sadar sedari tadi aku sudah duduk manis disini".Aksa memutar bola matanya jengah


"kenapa kamu kemari?".


"hei, tidak salah kan aku datang kemari? ini perusahaan kekasihku, lagipula kita sudah lama sekali tidak bertemu. apa kamu tidak merindukanku sayang?", Angel menarik ujung dasi Aksa.


"hentikan ngel, ini di kantor. aku akan memperjelas hubungan kita. aku...."


tiba tiba pintu ruangan aksa terbuka. Riko datang, awalnya ingin mengabari bahwa meeting sebentar lagi akan segera dimulai. tapi sepertinya sepasang kekasih itu sedang membicarakan hal serius.


"ada apa rik?"


"ma'af saya tidak tau kalau ternyata ada nona angel disini, lima menit lagi meeting akan segera dimulai tuan".


"oke. ayo kita kesana". Aksa keluar ruangan, meninggalkan angel yang tetap tidak beranjak dari duduknya.


"ih, kenapa aku ditinggal sih". angel segera menyusul mereka ke ruang meeting.


Di tempat lain Karin menghentikan taxi untuk menemui pak arya di Hudaverdi Company. tidak biasanya pak arya ada disana, pak arya akan berada disana jika memiliki kepentingan saja. seperti saat ini misalnya, dia berada disana karena meeting pemegang saham.


"Hudaverdi Company pak". sepanjang perjalanan karin melihat kemacetan kota Jakarta. papan reklame berbejejer rapi, papan reklame dengan peringatan dilarang merokok paling banyak dilihatnya.


"SUKSES MEMBANGUN KARIR DI MASA MUDA"


dan penyajinya adalah seseorang yang ia kenal


setelah sampai di perusahaan, karin sudah ditunggu oleh shinta sekretaris Aksa.


"nona karin?".


"eh?"


"saya shinta, pak arya meminta saya untuk menemani nona. mari silahkan". dengan sopan shinta memberikan akses masuk kepada karin


"nona, tuan masih ada di ruang meeting. nona mau menunggu di ruangan saya atau?"


"apa boleh berkeliling? dan jangan panggil saya nona, panggil saja karin".


"tentu. ayo saya antar". shinta menunjukkan beberapa ruang karyawan, menjelaskan beberapa devisi yang ada di perusahaan dan bagian pekerjaan mereka.


"kak shinta, kenapa dari tadi aku melihat banyak anggrek merah?"


"oh, itu karena tuan Aksa sangat menyukainya".


karin mengangguk tanpa bertanya panjang


"ayo kita kembali ke ruangan saya, sepertinya pak arya sudah selesai meeting".

__ADS_1


"pa, apa sudah selesai meeting?", karin menyalami tangan pak arya


"sudah rin, ada yang ingin kamu bicarakan?" karin mengangguk


"sebentar lagi karin akan praktek kerja dan magang, sebenarnya karin bisa mengajukan tempat magang yang karin inginkan. tapi akan lebih baik kalau perusahaan itu yang merekomendasikan nama peserta magang ke kampus. jadi..."


"oke. papa akan mengirimkan surat resmi ke kampusmu agar kamu bisa magang di perusahaan ini".


"bener pa?", karin sangat bahagia pasalnya dia tidak perlu susah susah mencari perusahaan untuk tempatnya magang.


"as you wish putriku". pak arya tersenyum hangat.


'semoga kamu dan Aksa bisa semakin dekat'


"kamu sudah makan siang?",


"belum pa."


"papa akan menyuruh shinta untuk membelikanmu makan siang. tunggulah di ruangan Aksa".


"baik pa".


shinta mengantarkan karin ke ruang kerja Aksa, setelah itu dia pamit untuk membeli makan siang.


lagi lagi karin berdecak kagum dengan interior ruang kerja Aksa. lebih luas dan lebih klasik dari yang pernah dilihatnya di rumah.


"seleranya memang tinggi. kenapa dia sangat menyukai anggrek merah?", karin menyentuh anggrek merah yang ada di meja Aksa


'klik'


terdengar seseorang menutup pintu membuat karin langsung menoleh.


"siapa?" tanyanya kepada karin


"saya karin". karin tersenyum


"apa yang kamu lakukan di ruang kerja pacarku?".


"pacar?", karin bertanya dengan intonasi tidak percaya.


"iya. aku pacar Aksa, pemilik perusahaan ini".


'degh'


'pacar yang mana lagi? bukankah pacarnya clara?'


"dan siapa yang mengijinkanmu masuk sembarangan terlebih ini adalah ruang CEO", Angel mengejek


"ma'af, saya akan keluar nona". karin malas berdebat dengan wanita yang lebih pendek darinya itu.


"eits, enak aja langsung mau pergi. apa kamu yakin tidak mengambil sesuatu? sinikan dulu tasmu biar aku periksa".


"ma'af nona angel yang terhormat, apa nona pikir saya kemari untuk mencuri? apa tampang saya seperti pencuri? tolong jaga sopan santun anda nona, anda bahkan tidak mengenal saya". karin berbicara dengan nada tinggi


pintu terbuka, terlihat Riko membukan pintu untuk Aksa.


"sayang...." angel menghambur memeluk Aksa, aksa yang terlihat kaget hanya diam mematung. bukan kaget karena pelukan mendadak Angel tapi kaget karena matanya beradu pandang dengan mata karin.

__ADS_1


"karin?"


__ADS_2