Jangan Panggil Aku Om!

Jangan Panggil Aku Om!
Kabar Buruk


__ADS_3

"halo kak riko."


"dimana suamimu?."


karin melihat suaminya yang masih tertidur lelap memeluk tubuh mungilnya.


"abang masih tidur."


"siapa?." aksa mendongak, namun kedua tangan kekarnya tetap berada di perut karin.


"kak riko."


"tolong berikan ponselnya!."


"ada apa nyet? pagi pagi udah ganggu orang tidur aja."


kesempatan ini, karin gunakan untuk melepaskan tangan aksa dari tubuhnya. sepertinya telepon riko sangat penting, karinpun beranjak untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.


❤❤❤


"tumben bangun pagi?."


"kan emang biasanya bangun pagi bu,"


"dulu kalo gak kurang lima menit berangkat ke sekolah kamu gak bakalan bangun."


"sekarang kan beda bu, sudah punya husband." seringai karin


"sok inggris. tadi pagi pagi sekali akdhan kemari."


"ada keperluan apa bu?."


"katanya si akdhan keterima di perusahaan suamimu, di bagian apa ya katanya tadi, ibu lupa. mar.. mar.. mar apa ya?."


"markonah." jawab karin menahan tawa


"mar..."


"marketing?."


"aaa iya, di bagian marketing. bagian apa itu rin?."


"ibu masak gak tau, bapak kan juga punya usaha. bagian marketing itu bagian pemasaran."


"oooh, hebat ya rin si akdhan."


"dia kan emang hebat juga pinter bu, ulet dan gigih."


"ish, jangan muji pria lain, nanti suamimu marah."


"ibu duluan yang muji dia, kenapa malah nyalahin aku bu."


❤❤❤


"lo sama karin?."


"dia barusan turun nyiapin sarapan kayaknya. lo kenapa nelpon pagi banget?."


"gue ada dua kabar buat lo, kabar baik dan kabar buruk. lo mau denger yang mana?."


"bisa gak gue denger kabar baiknya aja? gak usah ada kabar buruk."


"bisa, tapi apa lo gak penasaran sama kabar buruknya?."


mendengus kesal, aksa duduk bersila di atas kasur, dan mengubah panggilan suara riko ke panggilan video.


"ya ampun buaya, kerjaan lo tidur doang di rumah mertua?." aksa enggan menjawab unfaedah riko langsung mengawinkan kedua alisnya.


"sa, ada kabar baik."


"apaan?."


"kemaren mantan lo datang kesini." riko pura pura tersenyum, karena ingin tau reaksi aksa.

__ADS_1


"mantan? clara?."


"bukan."


"siapa?."


"coba sebutin mantan lo!."


"ogah. gak inget gue."


"mantan terindah lo."


"lo bosen idup? lama bener ngomongnya, kalo lo ngomong gak penting lagi gue matiin."


"yaelah gitu aja ngambek, jasmine kemaren kesini."


"oh,"


"oh?." tanya riko mengulang ucapan aksa.


"terus gue kudu ngapain? loncat loncat kayak kodok?."


"ck, gak seru lo!."


"gue udah nyangka kalo lambat atau cepat dia bakal dateng lagi. gue udah nyiapin mental gue, gue juga udah bilang sama karin." riko mengernyit tak mengerti dengan ucapan sepupunya. meskipun jauh dalam hati riko sangat senang ternyata aksa terpengaruh sedikitpun dengan kedatangan jasmine.


"respon bini lo gimana?."


"biasa aja tuh."


"masak biasa aja, gak cemburu gitu?."


"gak deh kayaknya."


"apa karin gak cinta sama lo?." riko sengaja mengompori aksa


"maksud lo?."


"katanya, kalo dia cinta sama kita. dia bakal marah kalo ada cewek lain deketin kita, terlebih itu mantan. kayak lo, kalo akdhan deketin karin lo marah kan?."


"betul, padahal si akdhan bukan mantan karin. dia cuman suka sama karin, bahkan mereka belum pernah pacaran dan lo cemburu kalo dia deketin bini lo."


aksa menimang nimang ucapan riko, benar juga kenapa karin malah biasa aja waktu tau kalau jasmine datang ke kantornya? apa karin tidak benar benar mencintai aksa?


"halo..." riko memanggil aksa, namun tak kunjung ada jawaban.


"main matiin aja ni anak, padahal gue belum ngomong sampe ke intinya."


❤❤❤


aksa menuruni tangga, hanya menggunakan kaos polos putih dan boxer hitam. cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah, seolah menyentrong aksa bak model yang sedang berjalan.


"rin, suamimu kayak model ya?."


"jangan ngomong gitu depan abang bu, entar malah ke pedean." bu rita dan karin terkekeh


bu rita pergi ke taman menyusul pak santoso yang sedang membaca koran, kebiasaan suaminya yang begitu sederhana tapi sangat menyejukkan. pak santoso tipe suami yang sangat menyayangi keluarganya. tidak dipungkiri kalau kedua putrinya yang menjadikannya panutan.


"sayang, masak apa?."


"abang geli." karin berusaha melepaskan pelukan aksa, tapi jangan heran selagi aksa masih belum mau membuka pelukannya, karin akan tetap dipeluknya.


"ibu kemana?."


"itu." karin menunjuk kedua orang tuanya yang terlihat sedang asyik bergurau. pemandangan yang selalu membuat hati karin tenang dan senang.


"bapak sama ibu romantis ya."


"em, aku pengen kayak mereka." aksa tersenyum dan semakin memeluk erat tubuh mungil istrinya.


"tentu, mari kita menua bersama. memiliki keluarga kecil yang sederhana dan bahagia."


"abang tau gak kenapa aku kagum sama bapak?."

__ADS_1


"kenapa?."


"bapak selalu menghargai ibu, tidak pernah membentak ibu. kalau ibu salah bapak gak pernah marahin ibu didepan anak anaknya, palingan negor aja, selembut mungkin."


"apa kamu ingin suamimu ini bersikap romantis seperti bapak?."


"no, aku sekedar bercerita. aku kan udah bilang kalo aku lebih suka abang apadanya. pernah tuh si bapak mau berangkat kerja, gak sampe lima menit balik lagi."


"kenapa? ada yang ketinggalan?."


"em, bapak lupa minum kopi yang udah disiapin sama ibu. so sweet kan bapak." karin nyengir kuda.


"sweet banget, nanti aku belajar sama bapak."


"belajar apa?." tanya karin melongo


"ada deh." aksa mengerlingkan matanya sedangkan karin hanya menatapnya jengah karena mencium aura kemesuman suaminya itu.


"hem"


"eh ibu." aksa reflek melepaskan pelukannya


"sudah masak rin?."


"iya bu, sebentar karin siapin dulu. abang, bawain ikannya ke meja makan."


"siap sayang."


setelah mereka berempat makan, pak santoso melihat ke arah aksa kemudian beralih kepada putrinya sendiri.


"kalian kapan balik ke jakarta?."


"mungkin lusa pak." jawab aksa


"apa tidak masalah perusahaan kamu tinggal terlalu lama?."


"tidak pak, disana ada riko dan kak kinan. jadi.... aw." aksa menghentikan ucapannya saat karin mencubit pahanya. karin seperti tau arah pembiacaraan suaminya yang kadang terlalu vulgar.


"kenapa sa?."


"gak papa bu." aksa melirik karin yang sedang menatap tajam kearahnya.


"setelah ini, kamu akan tetap kuliah dan bekerja atau akan fokus mengurus rumah tanggamu rin?."


"aku terserah abang pak, kalau abang ngizinin ya lanjut, kalo gak ya jadi IRT aja."


"tidak pak, saya terserah karin. saya tidak mau mengekangnya. dia juga berhak menggapai cita citanya. selagi dia bisa mengurus suaminya sambil kuliah dan bekerja saya tidak akan melarangnya."


"uluh uluh abang so sweet."


"terimakasih sa karena kamu memberikan kesempatan untuk karin. karin ingat, kamu harus bisa menyeimbangkan urusan urusan kamu, jangan sampai lalai apalagi dalam mengurus rumah tangga."


"iya pak. abang coba makan ini!." karin memberikan udang krispi kepada aksa, dengan senang hati aksa menerimanya.


"wah, berarti nanti akhdan satu kantor dong sama karin." ucap bu rita sumringah


"uhhhuuuuk uhuuuuuk." hampir saja satu ekor udang krispi masuk ke tenggorokan aksa.


akdhan? apa ini kabar buruk yang riko bilang tadi? shit!


.


.


.


.


haii para readers setia..


ma'af ya beberapa hari terakhir othor gak update karena deadline pendataan KK dari BKKBN dan SDGS yang membutuhkan banyak tenaga hehehe (alay dikit)


tapi alhamdulillah sudah selesai, dan insyaAllah mulai update lagi.

__ADS_1


terimakasih buat yang kangen sama om Aksa..💜😅


__ADS_2