
setelah berdebat dengan mamah dedeh, karin segera naik ke atas kamarnya. dilihatnya, aksa sudah bergumul membungkus dirinya dengan selimut persis seperti kepongpong.
untung dia tidur, udahlah mending gak usah dibangunin aja sekalian. karinpun membersihkan dirinya ke kamar mandi.
apa dia tetap tidur? batin karin. sebenarnya sekarang karin begitu gerogi karena malam ini adalah malam pertamanya. untungnya, posisi suaminya masih tidur sama seperti tadi.
karinpun akan mengganti pakaiannya, lalu dia teringat kemarin malam mama mertuanya memberikan paper bag dan memintanya untuk digunakan saat malam pertama.
lama mencari, ternyata paper bag tadi ada di belakang pintu kamar karin. sedikit penasaran, karin membukanya.
"astaga!." karin langsung membungkam mulutnya. tapi matanya masih saja melotot melihat jala ikan berwarna pink di tangannya.
note : pakai ini saat malam pertamamu, jangan menolak! membahagiakan suami adalah ibadah.
karin menelan salivanya saat pesan dari mama mertuanya seperti perintah yang tidak bisa dilanggar. karin melirik ke arah kasur, suaminya terlihat masih tetap seperti kepongpong dan akhirnya dia memutuskan untuk memakai jala ikan tersebut.
pakai ajalah, toh abang udah tidur.
dengan sangat pelan karin naik ke atas kasur, namun pergerakannya sama sekali tidak mengganggu suaminya.
mungkin dia kecapean, sudahlah aku juga capek pengen tidur.
"sayang...." suara khas seksi aksa terdengar begitu merdu di telinga karin, suara yang mampu membuat bulu-bulu halus di tubuh karin meremang.
"a..abang belum tidur?."
"bagaimana aku bisa tidur? malam ini malam pertama kita, dan akan menjadi malam panjang untuk kita." aksa masih tetap memeluk karin dari belakang, karena lampu kamar mati, mereka berdua tidak bisa melihat satu sama lain.
klik! aksa menghidupkan lampu kecil di nakas samping tempat tidur karin, lampu kecil dengan cahaya kuning membuat aksa bisa melihat jelas wajah karin yang mulai memerah.
"kamu begitu cantik sayang, terimakasih sudah menerimaku menjadi suamimu." ucapan aksa membuat karin tersenyum malu malu. dengan lembut aksa mencoba menurunkan selimut yang menutupi tubuh istrinya, tapi karin memeganginya dengan erat.
"kenapa?." tanya aksa heran
"jangan!."
"apa kamu belum siap?." karin menggeleng
"aku, hanya malu."
"kenapa?." aksa yang mulai curiga, kembali menarik selimut karin, namun lagi-lagi gagal karena karin tetap memegangnya erat.
"sayang..." aksa mulai menciumi kening karin, lalu ke pipi kanan dan kirinya. lama menatap manik cokelat karin, aksa mencium bagian telinga karin, dan turun ke lehernya, menghis*p kecil leher putih jenjang karin. karin memegang pundak aksa karena merasa geli. dengan cepat aksa menarik selimutnya.
pemandangan indah di depan matanya, membuat aksa menatap karin intens. karin mulai gelapan menyilangkan kedua tangannya, tapi dengan cepat aksa menariknya.
"pakaian haram ini..."
__ADS_1
"pakaian haram?," tanya karin tak percaya suaminya menyebut jala ikan ini pakaian haram
"kamu tau sayang? pakaian haram ini, adalah pakaian favorite para suami..." aksa membungkam mulut karin dengan bibirnya, mulai me**matnya dengan lembut, karin membalasnya, me**mat lembut bibir tipis seksi milik suaminya, kegiatan mereka tak berlangsung lama saat aksa mulai menjelajahi ceruk leher karin.
"abang...." lenguhan karin terdengar sangat indah saat kedua tangan aksa mulai bermain di gunung kembar karin, benda kenyal yang pas digenggamannya. dengan nafsu yang sudah berada di ujung tanduk, aksa merobek jala ikan pink itu. terpampang tubuh polos karin, meskipun remang tapi dengan jelas aksa dapat melihat kemolekan tubuh istrinya.
dengan gagah tubuh polos aksa mengungkung karin, bibirnya ******* bibir mungil karin sedangkan tangannya masih aktif meremas gunung kembar karin.
walaupun ini pengalaman pertama aksa, dia berusaha untuk membuat malam panjang mereka berkesan. aksa hanya membaca beberapa artikel tentang berhubungan saat malam pertama, selebihnya dia mengikuti instingnya.
salah satu tangan aksa mulai turun ke bawah, memainkan milik karin dengan lihai, karin yang pertama kali merasakannya hanya mampu menahan geli.
"enak?."
"abang..." karin merasa malu, kenapa hal seperti itu bahkan aksa tanyakan, bisakah suaminya itu melanjutkan saja kegiatannya. aksa tersenyum mendapati istrinya menikmati aksinya.
aksa memainkan satu telunjuknya sampai daerah kem***an karin basah.
"abang... kebelet pipis."
"jangan ditahan sayang...."
"tapi aku gak tahan, pengen pipis." aksa malah mempercepat gerakan telunjuknya.
"abang.. ah." karin terlihat menggeliat sampai membusungkan dadanya. aksa kembali ******* bibir karin agar istrinya rileks.
"iya." dengan tersengal sengal karin menjawab aksapun tersenyum bahagia.
"tahan sayang, mungkin awalnya akan sakit, kamu rileks saja jangan tegang." karin mengangguk, namun dia kaget saat kepala pusaka aksa berusaha masuk kedalam miliknya.
kenapa sangat sempit dan sulit?
"aaa.. abang sakit!."
"gigit saja punggungku!." tidak mungkin aksa mencopot miliknya, karena dia masih berusaha menembus dinding pertahanan karin. karin mencengkram erat bahu suaminya.
"abang!!!!." karin sedikit berteriak, tapi aksa justru menekan lebih dalam pusakanya. aksa mempercepat gerakannya, membuat erangan erangan eksotis keluar dari mulut karin. peluh menetes saling membasahi tubuh mereka berdua.
"abang, aku kebelet pipis lagi."
"keluarkan saja!."
"abang... aku.. sudah.. tidak... tahan." karinpun membusungkan dadanya kembali saat mendapat jack pot untuk kedua kalinya. aksa terus memompa, urat urat di lengan kekarnya juga sudah terlihat menyembul saking kuatnya menahan tubuhnya.
"karin... aku sangat mencintaimu." karin merasakan sesuatu masuk kedalam miliknya, aksa menjatuhkan tubuhnya sesaat setelah mencapai klimaks.
"sayang.. sekali lagi ya."
__ADS_1
"abang, masih perih."
"kamu diam saja, biar aku saja yang melakukannya." karin hanya pasrah saat aksa melakukannya lagi. meskipun karin tidak melakukan apapun, tetap saja aksa bisa bisa memuaskannya. memberikannya kenikmatan menuju nirwana.
lebih satu jam aksa melakukannya, membuat karin sedikit kualahan.
"abang, aku lapar."
"baiklah, kamu tunggu saja disini. aku akan ke bawah sebentar."
"aaa.. abang."
"ada apa?." tanya aksa saat akan memakai kaosnya.
"ini...."
"itu darah keperawananmu sayang, terimakasih sudah menjaganya untukku." pipi karin tentu saja langsung bersemu merah saat aksa memujinya.
"tunggu sebentar, aku akan segera kembali."
tak lama aksa kembali dengan nampan berisi semangkuk mie kuah.
"emmm, kayaknya enak."
"kamu mau nasi?."
"gak, ini aja udah cukup. abang gak makan?."
"gak, takut ngantuk "
"emang gak laper?."
"laper, udah kamu makan yang banyak biar ada energi." karin hanya mengiyakan dengan mengangguk tanpa tau arah pembicaraan suaminya.
sruuuuuttttt
karin meneguk kuah yang tersisa. aksa hanya terkekeh geli melihat tingkah menggemaskan istrinya.
"apa senikmat itu?."
"em, makasih ya abang udah mau direpotin."
"tidak masalah, kalau kamu merepotkanku karena aku akan meminta imbalannya. aku akan kebawah dulu. jangan tidur, ok."
"emang abang mau minta imbalan apa?."
"itu." aksa tersenyum mesum sedangkan karin hanya melongo saat tau maksud suaminya.
__ADS_1
"apa???? emang paha abang gak sakit??."