Jangan Panggil Aku Om!

Jangan Panggil Aku Om!
Aku mencintaimu...


__ADS_3

"karena aku.. mencintaimu." aksa menatap lekat ke dalam manik cokelat karin, menatapnya penuh kelembutan.


aksa paham, mungkin ini terlalu cepat untuk karin. mengingat saat aksa tahu tentang perasaan karin, aksa memilih untuk tidak mengutarakan perasaannya sendiri. harusnya waktu itu dia sudah menyadari perasaannya namun ia meminta karin menunggunya. sungguh bodoh!


karin terlihat kebingungan sambil meremas ujung bajunya dan menundukkan kepalanya menatap lantai marmer dibawah kakinya, bukankah harusnya dia senang? bukan kah ini yang selalu dia inginkan? aksa menyatakan perasaannya, tapi kenapa karin malah takut.


aksa menggenggam tangan karin, mengelus lembut jemari lentiknya, dan mengeratkan genggamannya ke dalam sela jemarinya. karin semakin gelagapan tidak tahu harus bersikap bagaimana, tapi aksa makin tersenyum lembut.


"mungkin ini mengagetkanmu, tapi aku harap aku tidak terlambat mengutarakan perasaanku." aksa bingung harus berbicara apalagi, ini pengalaman pertamanya. meskipun karin bukan cinta pertamanya, juga bukan pacar pertamanya, namun karin adalah wanita pertama yang mendapat ungkapan cinta aksa.


"kalau kamu masih ragu, aku beri kamu waktu untuk merenungkan semua ini. jujur, ini pertama kalinya aku menyatakan perasaanku pada seorang wanita." aksa menunduk, sungguh debaran jantungnya mulai tak terkontrol. karin mengangkat wajahnya, mencoba menatap mata aksa mencari kebohongan didalamnya, tapi dia tidak menemukannya. aksa tidak berbohong!


"kamu memang bukan yang pertama, bukan cinta pertamaku, juga bukan kekasih pertamaku, aku memang beberapa kali pacaran, tapi aku tidak pernah menyatakan perasaanku pada mereka, mereka lah menyatakan perasaannya padaku. saat itu, saat kau bilang menyukaiku, aku harusnya mengatakan bahwa aku juga menyukaimu tapi aku masih ragu dengan perasaanku sendiri. ma'afkan aku...."


karin mencerna semua yang aksa katakan, mencoba merangkai berbagai puzzle ingatannya tentang alexa dan clara. mereka memang menyukai aksa, tapi karin bisa melihat aksa tidak membalas perasaan mereka.


"kenapa diam saja, hm?." aksa mengangkat dagu karin hingga pandangan mereka bertemu


"om, aku..."


"apa kamu ragu?."tanya aksa, karin menggeleng


"apa kamu takut?." karin menatap aksa dan mengangguk.


"apa yang kamu takutkan?." aksa mengubah posisi duduknya di samping karin.


"aku takut, karena aku tidak sepadan dengan om. awalnya aku memang menyukai om tanpa alasan apapun, namun entah kenapa saat om menyatakan perasaan om barusan aku jadi takut."


"apa yang tidak sepadan?."


"om sudah dewasa sedangkan aku masih seperti anak kecil dan lihat mantan mantan om, mereka semua dilihat dari sudut manapun, mereka lebih baik dariku." gumam karin


"jadi kamu minder?." aksa membenarkan rambut karin yang sedikit berantakan.


"em," karin mengangguk pelan


"harusnya aku yang minder, aku sudah tua dan kamu masih sangat muda. kamu cantik, kamu selalu bersikap dewasa, kamu tidak pernah memandang orang lain dari hartanya."


"ish, om itu belum tua, tapi de-wa-sa." ejek karin


"hahaha aku sudah tua. umurku sudah 30 tahun." tawa aksa menggelegar sampai air mata mengalir dari sudut matanya.

__ADS_1


"ya, dan jarak umur kita sepuluh tahun." karin menunjukkan kesepuluh jarinya


"rin...." aksa memanggil karin lembut


"om kenapa sih jangan manggil aku kayak gitu!."


"kenapa?." tanya aksa heran


"geli tau." karin bergedik karena di telinganya terdengar begitu sensual.


"terus kamu mau aku panggil apa? sayang, honey?."


"om apaan sih, aku belum nerima om."


"iya iya... biarkan aku membuktikan perasaanku padamu. yang pasti aku senang bisa mengungkapkan perasaanku" aksa berucap serius


"kalo gitu aku ke ruanganku dulu." karin segera keluar dari ruangan aksa. sesampainya di ruangannya, karin mencak mencak kegirangan. memegangi kedua pipinya yang mungkin saat ini sudah semerah tomat.


"rin, lo sehat?." tanya rio heran melihat karin yang baru saja masuk ke ruangan sambil senyum senyum gak jelas.


"keliatannya?." cuek karin


"sakit apanya? gue sehat gini." jawab karin sambil menunjukkan kedua tangannya seperti samson betawi.


"sakit jiwa lo, tadi mondar mandir gak jelas waktu mau keluar, eh waktu balik malah mencak mencak sambil ketawa sendiri. kalo bukan sakit jiwa apaan?." rio meledek karin tanpa ampun.


"berisik lo." karin segera duduk dan mencoba fokus dengan berkas diatas mejanya. membolak balikkan kertas, membaca berkas, tapi pikirannya melayang entah kemana. bayangan saat aksa menyatakan cinta kembali mendarat dipikirannya. karin tidak tahan menekan perasaannya.


"rin, sumpah gue takut liat lo senyum senyum sendiri, lo kesambet setan apaan sih?." karin melipat kedua bibirnya agar tidak begitu terlihat bahwa saat ini ia sedang bahagia karena cinta.


"io, ke pantry yuk gue haus." ajak karin mengalihkan pembicaraan.


"oke. gue juga mulai ngantuk." riopun berdiri mengikuti karin.


"lo mau minum apa?." tanya karin saat mereka sudah sampai di pantry.


"kopi anget aja deh." karin mengangguk. saat ia sedang membuat kopi, terlihat seseorang berdiri di sampingnya. wangi parfum ini, seperti tidak asing. karinpun menoleh dan betapa kagetnya saat ia melihat aksa tengah berdiri membuat kopi di sampingnya.


"sedang apa sayang?." bisik aksa, kalau bukan karena aksa memeganginya, karin hampir saja menjatuhkan gelas di tangannya.


"pa-pak apa yang bapak lakukan disini?."

__ADS_1


"membuat kopi." aksa tersenyum menggoda.


"bukannya ada kak shinta?."


"em, harusnya shinta yang membuatnya. tapi tadi saat aku melewati ruangan kekasihku, aku tidak sengaja melihatnya keluar bersama teman prianya." entah kenapa kata kekasihku mampu membuat hati karin bergetar.


ah, pasti pipiku sudah memerah seperti tomat. karin semakin menundukkan kepalanya.


diam beberapa saat sambil menunggu air panas, tatapan aksa tidak beralih sama sekali. memandangan wajah cantik karin yang saat ini membuat dirinya menggila.


"io ini kopimu." karin membuat dua gelas kopi dan memberikan segelas kopi untuk rio. rio mengangguk tersenyum dan mengambil kopi dari tangan karin, walau asap masih sedikit mengepul rio dengan cepat meniupnya.


"hentikan!." suara aksa mengagetkan rio yang tengah meminum kopinya.


"keluarkan kopi itu dari mulutmu!." rio dan karin melongo saling pandang. tidak mungkin rio mengeluarkan kopi yang saat ini tengah berada di dalam mulutnya.


"kalau tidak, aku akan memecatmu!."


'byuuuuuur' Rio langsung menyemburkan kopinya ke dalam gelas


"io, jorok banget sih."


"biarin, daripada gue dipecat." karin menatap tajam kearah aksa.


"kamu keluar!." ucap aksa melirik rio, rio segera melangkah keluar ruangan.


"sayang, kamu kenapa bikinin dia kopi?." tanya aksa setelah rio keluar meninggalkan aksa dan karin.


"emang kenap om? dia temen seruangan aku."


"gak boleh, aku gak suka kamu bikin kopi pria lain." aksa pura pura merajuk


"uluh uluh... merajuk nih ceritanya."


"aku serius."


"iya iya, tadi yang terakhir. aku gak bakal bikinin dia kopi lagi."


"nah gitu dong, love you sayang." aksa mengacak rambut karin sambil membawa kopi keluar pantry


"om!!!!!!!!". aksa tertawa melihat karin yang terlihat kesal.

__ADS_1


__ADS_2